
"Lho.. dimana anak itu?"
Moa celingak-celinguk dengan dua botol minuman di tangannya, ia mencari-cari keberadaan Densha namun tidak ada di sekitaran pantai. Moa meletakkan minumannya di atas pasir, ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel lalu mencoba menghubungi Densha.
"Ck! Tidak di angkat.. kemana sih?"
Pria itu berjalan menyusuri bibir pantai dan berteriak memanggil Densha, namun Densha tetap tidak di temukan. Karena panik Moa memutuskan untuk menghubungi Isabella, bibi Densha.
"Mo.. Moa? Itu kau?" Sapa suara lembut di belakang Moa.
"Mmm.." Moa menoleh ke belakang mencari sumber suara yang memanggilnya.
"Mod?? Kenapa kau disini?"
"Aku tidak sengaja lewat jalan di depan itu dan.." suara Mod terhenti, ia mencoba mengalihkan pandangan ke tempat lain.
"Dan???"
"Dan aku melihatmu" pipi Mod bersemu merah, ia memberanikan diri untuk menatap Moa.
Aku benar-benar sudah gila! Jelas sekali Moa menyukai Jennie, kenapa aku malah berdiri disini? - Mod.
"Oh.. Umm.. jika kau tidak keberatan mau membantuku mencari Densha?"
"Densha?? Kenapa?"
"Yahh, awalnya kami hanya mencari Fuu tapi sekarang.. aku juga kehilangan anak itu! Benar-benar merepotkan!!"
"Astaga! Fuu hilang??"
"Sebenarnya bukan hilang, Fuu pergi"
"PERGI??"
"Pelan kan suaramu!" Pinta Moa setengah berbisik.
"Uhm, Oke.. aku akan membantu" Mod berjalan melewati Moa untuk mencari Densha di sisi yang berbeda.
"Hei?!"
"Ya?"
"Anu.. tetaplah di sampingku" wajah Moa memerah menahan malu.
"Eh? Kenapa?"
"Aku sudah kehilangan jejak Densha, kalau kau berniat membantuku.. tetaplah di sampingku, aku tidak ingin di buat repot dengan kehilanganmu juga"
Moa.. - Mod.
Astaga! Jantungku.. kenapa berdegup sekencang ini? - Mod menepuk-nepuk kedua pipinya dengan gemas.
"Kau kenapa?"
"Ah tidak-tidak!!" Mod menggelengkan kepala dengan cepat.
"Ayo!"
"Ba.. baik" Mod berlari kecil menghampiri Moa, ia berjalan beriringan dengan Moa. Sementara Moa masih mencoba menelpon Isabella.
"Kenapa Isabella tidak mengangkat telepon?!"
"Isabella??"
"Ah! Anu aku mencoba menghubungi bibi Densha" Moa menunjuk ke arah ponselnya.
"Umm.. bibi Densha yang sering muncul di TV itu? Aku ingin sekali bertemu dengannya"
"Eh? Bertemu nenek sihir ini? Kenapa?"
"Aku fans berat Isabella"
"Apa?! Fans??"
"Ya.. begitulah" Mod menganggukkan kepala pelan.
Gadis ini benar-benar sudah tidak waras! Menggemari Isabella si speaker aktif itu?! - Moa.
"Kau akan terkejut jika bertemu dengan dia"
"Kenapa?"
"Dia berbeda dengan yang di TV"
"Kau sering bertemu dengannya?"
"Um, bagaimana ya? Ayahku dan ayah Densha adalah teman sejak lama. Karena orang tua kami berteman dekat, aku jadi sering bertemu Densha dan keluarganya dari kecil. Tapi aku tidak begitu mengingat wajah kedua orang tua Densha"
"Rumor yang beredar, tuan Mikaelson dan istrinya meninggal namun jasad keduanya tidak di temukan"
"Itu benar.." wajah Moa berubah menjadi sedih, ia merasa iba pada Densha yang tidak bisa mengunjungi makam kedua orangtuanya setiap tahun.
"Astaga! Apa Densha baik-baik saja dengan hal itu?" Mod menutup mulutnya dengan kedua tangan, ia tidak percaya bahwa ternyata rumor itu benar.
"Kau bisa melihatnya sendiri kan? Dia baik-baik saja tuh!"
Walaupun dari luar terlihat baik-baik saja, aku yakin sebenarnya dia tidak baik-baik saja.. - Moa.
"Benar, Densha kuat sekali" puji Mod dan tersenyum lebar.
~
Angin laut berhembus cukup kencang, mengombang-ambingkan sebuah kapal kecil di tengah laut. Di dalam kapal kecil itu di tempati dua orang bertubuh besar yang di sewa Jennie untuk melakukan penculikan terhadap Densha, tentu saja Jennie juga ikut berada di dalam kapal itu untuk mengawasi sepupunya yang saat ini sedang tidak sadarkan diri.
Ya Tuhan! Apa yang terjadi? Leherku sakit sekali.. - Densha
Densha membuka matanya perlahan-lahan, ia merasakan nyeri di belakang kepalanya hingga bagian belakang leher, pria itu mencoba menggerakkan lehernya untuk mengurangi rasa sakit yang di rasakan nya. Sesaat ia seperti melihat seseorang yang ia kenali, Densha mencoba memfokuskan pengelihatannya pada orang yang berada di depannya saat ini, namun ia lebih tertarik dengan rantai besi dan gembok yang mengikat seluruh tubuhnya pada sebuah kursi duduk yang terbuat dari besi.
Sial! Apa-apa'an ini? - Densha.
Densha mencoba menggerakkan kedua tangannya namun tidak bisa, bahkan sulit sekali untuk sekedar menggeser kakinya.
"Wah, lihat?! Pangeran kita sudah bangun"
Suara ini?? - Densha menengadahkan kepalanya menatap sumber suara yang jelas ia kenali.
"Jennie??"
"Hai, panggil aku nona Jennie sekarang!" Jennie tersenyum licik menatap Densha, gadis itu berjalan mendekati wajah Densha dan mengusap kepala Densha dengan lembut.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"
"Ssst!"
"...." Densha melotot menatap Jennie yang sedang berusaha menutup mulut Densha dengan jari telunjuknya.
"Jauhkan tangan kotor mu dariku!"
"Masih berani memerintah?? Kau sekarang bukan apa-apa sepupuku! Haha" Jennie mengambil selembar kertas dan menunjukkannya pada Densha.
"Apa itu?"
"Ini surat pengalihan perusahaan, aku berusaha mendapatkan ini darimu. Aku sudah mencoba menjadi wanita baik-baik, tapi kau tidak pernah menggubris ku"
"Itu alasanmu pindah ke sekolah yang sama denganku?"
"Benar!"
"Cih! Dasar wanita brengsek!!"
"Jaga mulutmu! Kau tidak lihat?! Aku berhasil mendapatkan cap jari darimu selama kau tidak sadarkan diri"
"Bukankah yang seharusnya kau butuhkan adalah tanda tanganku?"
"Aku sangat yakin kau tidak akan mau memberikan tanda tanganmu!" Jennie tersenyum jahat menatap Densha.
"Cih! Cap jari itu tidak akan berfungsi!! Tidak lama lagi Isabella pasti akan menemukanku!"
"Tidak berfungsi?" Jennie mengangkat sebelah alisnya, gadis itu tengah berpikir saat ini.
"Jika aku bebas dari sini, aku akan menuntut semua perbuatan mu padaku!!"
"Tunggu, tunggu.." Jennie menjentikkan jarinya, dia membungkukkan badannya untuk menatap wajah Densha lekat-lekat.
"Cap jari ini tidak akan berfungsi jika kau masih hidup kan?"
"Jangan berteriak?! Apa aku benar?? Jika kau hilang atau tiada, maka cap jari ini akan berfungsi kan??" Jennie melingkarkan kedua tangannya di bahu pria itu, mata Densha terbuka lebar.. ia terkejut dengan kata-kata Jennie yang seolah ingin membunuhnya.
"Kita sepupu Jen.. ingat itu!"
"Aku tidak peduli, yang aku inginkan hanyalah harta dan kekuasaan.. tenang saja! Kau bilang Isabella akan menemukanmu kan?"
"...."
"Aku menaruh ponselmu di saku celanamu, ponsel semahal itu tidak akan rusak jika terkena air kan? Jadi Isabella masih bisa menemukan jenazah mu!"
"Bos, apa kita harus melakukan itu?" Tanya seorang pria di belakang Jennie.
"Di sini aku bosnya! Kalian diam saja!!" Perintah Jennie tegas.
"Baik bos!!"
"Kau sudah gila Jen, kau ingin melempar ku ke laut?"
"Haha, ide bagus! Rencananya aku mau membunuhmu dulu, baru aku lempar untuk makanan ikan di dalam sana! Tapi.. ternyata kau ingin mati perlahan-lahan karena kehabisan nafas di dalam air ya?"
"Dasar sinting! Lepaskan aku!! Kau benar-benar sudah tidak waras Jen"
"Tidak waras?? Aku cukup waras untuk menguras harta keluarga inti! Benar kan?"
"......."
Jennie memundurkan badannya, ia melangkahkan kakinya ke belakang mendekati kedua pria di belakangnya, mata gadis itu terus menatap lurus ke arah Densha.
"Ah! Tunggu sebentar!" Kata Jennie yang segera menghampiri sepupunya itu, ia mengusap kepala Densha lembut dan mencium kening Densha.
Cup!
"Dari dulu.. aku ingin sekali mencium mu!"
"Gadis gila!!" Ledek Densha yang meronta-ronta mencoba melepaskan rantai yang mengikat tubuhnya.
Jennie kembali ke tempat awal ia berdiri, gadis itu melipat kedua tangannya di atas perut, ia memberi aba-aba pada kedua pria di samping kanan dan kirinya.
"Lemparkan dia!"
"Apa?! Tidak! Jangan berani-berani kau melemparku!!" Densha semakin meronta, jika saja tubuhnya tidak di rantai dengan kursi itu mungkin dia masih bisa mencoba untuk berenang, tapi jika tubuhnya masih terikat dengan kursi besi itu maka ia akan tenggelam ke dasar laut.
Kedua pria itu berjalan mendekati Densha dan menyeret tubuh Densha ke bagian depan kapal, Densha sungguh ketakutan. Dalam ketakutannya ia hanya mengingat nama kedua orang tuanya, pria itu menangis.. ia tidak menyangka bahwa ia harus mati dengan cara keji seperti ini.
Papa.. Mama.. apa aku akan mati?! - Densha.
"LEMPARKAN!!" Teriak Jennie dengan tegas, gadis itu menatap Densha untuk terakhir kalinya dan pergi meninggalkan sisi kapal itu.
Awalnya kedua pria bertubuh besar ini ragu, namun mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Jennie telah membayar mereka. Mereka hanya mengikuti perintah Jennie, dengan aba-aba dari salah satu pria yang ada disana, mereka melempar tubuh Densha yang masih terikat rantai dengan kursi ke tengah laut. Densha mencoba memohon dengan menggeleng-gelengkan kepalanya namun kedua pria ini tidak menghiraukan permohonannya.
.
.
.
BYURRR!!
.
.
.
Blup! Blup! Blup!
Blup! Blup! Blup!
Blup! Blup! Blup!
Inikah akhirnya?? - Densha.
Mata pria itu terbuka, ia mencoba menahan nafasnya sekuat mungkin. Ia melihat gelembung-gelembung dari kapal yang sedang menjauhi tempat itu, dalam ketidakberdayaannya Densha masih berusaha melepaskan diri dari rantai yang mengikatnya, bahkan tangannya tidak bisa menyentuh ponsel yang ada di sakunya. Tubuhnya tenggelam semakin dalam dan dalam sampai menyentuh dasar laut, ia tidak bisa melihat apapun karena begitu gelap di dalam sini, nafasnya semakin berat dan tidak karuan.
Papa.. Mama.. - Densha.
Pria itu sungguh tidak berdaya, ia takut sangat takut, Densha menangis menerima kematian yang perlahan akan menjemputnya.
.
.
.
.
Srrr... Ssrr... Srrr..
.
.
.
Srr... Sssr... Sssr..
Ada ikan berenang di sekitarku? Apa mereka akan memakan ku? - Densha.
Densha hampir tidak sadar karena ia sudah tidak sanggup lagi menahan nafasnya, matanya masih terbuka menatap lurus ke depan dengan pandangan yang kosong. Tubuhnya kedinginan, dalam ketidaksadarannya ia seperti melihat suatu makhluk, makhluk besar yang sedang mendekatinya. Lalu semuanya nampak gelap, Densha merasakan sesuatu menyentuh bibirnya dengan lembut menghembuskan udara yang sangat ia butuhkan di dalam mulutnya, karena terkejut dan sudah mendapat sumbangan oksigen Densha membuka matanya perlahan.
Fuu?? - Densha terbelalak, ini pertama kalinya ia melihat wujud Fuu yang sebenarnya.
Fuu menggeleng-gelengkan kepalanya, tangan gadis itu menyentuh pipi Densha dengan lembut, tatapannya sedih melihat Densha dalam keadaan seperti itu. Dengan cepat duyung itu berenang ke permukaan untuk mengambil nafas lalu kembali lagi ke bawah dan memberikan nafasnya pada Densha. Setidaknya hanya itu yang bisa Fuu lakukan agar Densha tetap sadar.
Fuu berenang memutari Densha menyentuh rantai yang mengikat tubuh pria itu, ia menemukan gembok yang menjadi pusat untuk membuka rantai di tubuh Densha, gadis itu mencoba berbicara pada Densha. Namun suara yang ia keluarkan hanyalah senandung atau nyanyian duyung, sedangkan Densha tidak mengerti apa yang Fuu katakan.
Apa yang sedang kau coba katakan padaku Fuu? Bawa aku ke permukaan!! - Densha.
Densha yang hampir kehabisan nafas lagi menengadahkan kepalanya ke atas, ia bermaksud menyuruh Fuu untuk membawanya naik ke atas. Fuu mengerti, ia mencoba mengangkat kursi itu naik ke permukaan. Dan itu berhasil, Fuu memeluk tubuh Densha yang sedang terikat dan terus berenang menuju permukaan.
"Hah! Hah! Hah!"
Sesampainya di permukaan, nafas Densha tersengal-sengal, ia menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara berulang-ulang. Fuu hanya menatap Densha dengan sedih, gadis itu menangis dan memeluk tubuh Densha dengan erat.
"Nanti saja pelukannya! Apa kau bisa membawaku ke daratan terdekat??"
Fuu menganggukkan kepala pelan, ia berenang menuju daratan terdekat dari lokasinya saat ini.
***
"Apa?!"
"Iya.. aku sudah menjadi pewaris sah perusahaan saat ini"
"Jangan bercanda! Dasar gadis gila!"
"Kalau kau tidak percaya! Lihat saja bukti foto yang aku kirimkan!"
Tut!
Isabella mematikan ponselnya, ia memeriksa semua foto yang di kirim oleh Jennie, matanya sungguh terkejut tidak percaya bahwa disana ada cap jari Densha. Dengan cepat Isabella menghubungi pengacara keluarga mereka untuk mengurus masalah ini. Namun ia terlalu fokus dengan banyaknya panggilan dari Moa Collin.
Kenapa Moa menelponku sebanyak ini? - Isabella.
Tut! Tut! Tut!
"Nona! Nona Isabella kemana saja?! Densha menghilang, aku sudah mencarinya kemanapun. Aku juga sudah kembali ke rumahnya tapi dia tidak ada!"
Jennie!! Gadis itu benar-benar kurang ajar!! - Isabella.
"Kau dimana Moa?"
"Aku di pantai tepi kota saat ini, karena kami berpisah disini beberapa jam yang lalu"
"Pulanglah Moa, nanti aku akan menjemputmu di rumahmu! Ini sudah sangat malam!"
"Baik nona!"
BRAKK!!
Isabella memukul lemari pakaiannya dengan keras, ia segera berganti pakaian dan menuju ke rumah Moa, untuk mengetahui cerita lengkapnya. Dalam perjalanan Isabella juga menelpon pengacara pribadinya dan mencoba mencari lokasi Densha saat ini.
Bersambung..