
"Ryn?! Kau di dalam??"
Tok!
Tok!
Tok!
Mod mengetuk pintu kamar mandi berulangkali namun tak ada jawaban dari dalam. Sedangkan pintu kamar mandi saat ini sedang terkunci dari dalam.
"Hei Ryn?? Apa semua baik-baik saja?!"
"I... Iya... Aku tak apa-apa" Sahut Ryn ragu.
Di dalam kamar mandi, Ryn menatap cermin dengan ngeri. Gadis itu mengusap-usap bagian kiri dan kanan lehernya, terdapat insang terbuka di sekitar sana! Padahal wujud duyung nya sudah hilang.
"Ada apa ini??" Ryn membuka insangnya sendiri dan menatap cermin.
"Sial! Bagaimana caraku menutupi ini dari kakek dan mama" gumam Ryn pelan.
Tok!
Tok!
Tok!
(Suara pintu di ketuk lagi)
"Kau yakin baik-baik saja di dalam sana Ryn??" Mod begitu khawatir karena Ryn sudah berada di dalam kamar mandi hampir dua jam lamanya.
Ceklek!!
Pintu kamar mandi terbuka pelan, Ryn berjalan keluar sambil menutupi lehernya sendiri dengan kedua tangan. Saat ini gadis itu terlihat seperti mencekik lehernya sendiri.
Mata Mod terus mengikuti tubuh Ryn mulai dari ia keluar kamar mandi sampai duduk di ranjang tidur milik Mod, gadis itu tidak melepas kedua tangannya dari leher.
"Bisa jelaskan??" Mod berjalan mendekati Ryn, ia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Mmm... Jelaskan apa??"
"Jangan berpura-pura bodoh!"
Dengan menghela nafas yang panjang, Ryn menurunkan kedua tangannya. Ia mengangkat kepalanya dan menunjukkan bagian leher gadis itu pada Mod.
"OMG!! Kenapa ini?" Mod menggenggam kedua bahu Ryn kuat, gadis itu terkejut dengan beberapa garis di leher Ryn.
"Ini insang"
"In... Apa?! Insang?? Bagaimana bisa??"
"Apa ibuku tidak pernah bercerita?" Ryn bertanya balik pada Mod.
"Cerita apa??" Wajah Mod nampak begitu bingung.
"Hybrid akan berubah wujud pada jenis air apapun asal mereka menenggelamkan tubuh mereka seluruhnya pada air"
"Aku tidak pernah mendengar Fuu bercerita seperti itu"
"Mungkin cuma Moa yang tahu" ungkap Ryn ragu.
"Lalu bagaimana cara menghilangkan insang'mu ini??"
"Biasanya saat tubuhku sudah berwujud normal begini, insangnya akan hilang dengan sendirinya. Tapi... Aku tidak tahu, kenapa sekarang menjadi seperti ini?"
"Kau tidak bisa menemui ayahku dengan wujud seperti itu"
"Aku tahu... Aku akan tetap di kamar" raut wajah Ryn terlihat sedih.
Mod menyentuh dagunya sendiri, ia sedang memikirkan jalan keluar untuk Ryn. Gadis itu berjalan mendekati lemari pakaian nya dan menggeledah bagian dalam sana.
"Mama mencari apa??"
"Aku ingat bahwa aku punya syal"
"Syal??? Di musim panas??" Mata Ryn membulat kesal.
"Lalu mau bagaimana lagi?? Ayahku pasti mencari'mu, kita harus makan malam bersama"
Beberapa menit mencari akhirnya Mod menemukan Syal merah miliknya, satu-satunya syal dengan ukuran yang cukup besar cukup untuk menutupi leher Ryn.
"Nah! Ini dia..." Mod tersenyum dan memasangkan syal tersebut pada Ryn.
"Aku sungguh tidak memerlukannya mama"
"Jangan berisik!!" Pinta Mod tegas.
"Oh iya... Apa Moa tahu kau tinggal disini?" Tanya Mod penasaran.
"Tidak, aku tak memberitahunya"
"Bagus!"
"Sepertinya mama begitu senang aku keluar dari rumah papa" sindir Ryn setengah mengejek.
"Apa?! Tidak kok!!" Sahut Mod lantang, wajah gadis itu tersipu malu.
"Ya Tuhan! Mama betulan cemburu padaku?"
"His! Anak ini berisik sekali"
Anak ini?? Maksudnya aku?? - Ryn.
"Hahaha, mama cemburu sungguhan?? Jawab dong" Ryn menggoda Mod dengan senangnya.
Mod tidak menatap mata Ryn, setelah memasangkan syal di leher Ryn gadis itu beralih pergi begitu saja.
"Tuh kan! Mama berpaling dariku, mama betulan cemburu kan??"
"Diam Ryn!" Pinta Mod tegas.
"........"
"Bagaimana aku tidak cemburu? Moa kan tidak tahu bahwa kau putrinya" gumam Mod pelan.
"????" Ryn mengernyitkan dahi tidak mengerti.
"Saat ini, Moa cuma seorang laki-laki remaja! Bahkan umur kita semua sama disini, benar kan?? Apa kewaspadaan'ku terhadapmu itu berlebihan?"
"Mama..." Ryn berjalan mendekati Mod yang mematung di depan pintu kamar.
"Kau benar! Aku cemburu, aku bodoh ya?? Hehe"
"Maafkan aku mama..."
Mod menatap mata Ryn yang terlihat sedih, gadis itu memeluk tubuh Ryn dengan erat.
"Jangan minta maaf! Aku lah yang salah, cemburu pada anak sendiri hehehe"
Ryn membalas pelukan Mod, mata gadis itu terlihat penuh dengan kebingungan dan rasa bersalah. Ia sungguh tak enak hati, bagaimana jika firasat Mod benar? Bagaimana jika Moa dan Mod tak kunjung jadian? Tapi Ryn yakin bahwa Moa begitu menyukai Mod.
Kenapa Moa tidak segera menyatakan cintanya pada mama sih?? - Ryn.
"Sayang... Cepat turun dan makan malam!!" Teriak tuan Roosevelt dari luar kamar Mod.
"Baik ayah..."
Mod melepas pelukannya pada Ryn, kedua gadis itu saling pandang dan melempar senyum satu sama lain.
"Ayo..."
"Ng..." Ryn menganggukkan kepala pelan.
.
.
.
.
.
.
"Ck! Selalu saja...." Gerutu Fuu kesal.
Fuu meletakkan buku yang ia baca ke ranjang tidur Densha, gadis itu berjalan malas ke arah dapur.
"Kenapa Densha memanggil Fuu?? Fuu sedang sibuk"
"Sibuk? Sibuk apa?" Densha mengangkat sebelah alisnya menatap Fuu.
"Fuu kan harus belajar! Besok masih ujian"
Gadis itu memasang wajah cemberut, ia menarik kursi di meja makan dan duduk disana. Kedua tangannya dengan gemas menyangga pipinya sendiri.
"Ya sudah belajar saja sana!! Tidak usah makan"
"Eh?? Makan??"
Dengan wajah tanpa dosa, Fuu beranjak berdiri dari duduknya, gadis itu berlari kecil menghampiri Densha yang sedang menyiapkan makan malam.
"Densha masak apa??"
"Bukannya kau harus belajar?! Sana pergi!"
"Kalau untuk makan, Fuu tidak sibuk sih"
Densha menekuk bibirnya untuk meledek Fuu, pria itu memberikan sebuah piring besar pada gadis di depannya.
"Pegang ini!"
"Ng??"
"Pegang yang benar ya?"
"Kenapa memakai piring sebesar ini?"
"Karena kita akan makan besar!"
"Makan besar??" Mata Fuu terlihat berbinar-binar.
"Taraa..."
Densha meletakkan potongan ikan tuna yang cukup besar pada piring yang dibawa Fuu.
"Hore!! Fuu suka!"
"Benarkah? Kau suka??"
"Iya! Baunya enak"
"Baiklah! Letakkan piring ini di atas meja makan sana ya? Dan siapkan peralatan makannya"
"Oke, baik!"
Setelah membereskan beberapa kerusuhan di dapur, Densha bersiap untuk duduk dan makan bersama Fuu. Nampaknya Fuu begitu tidak sabar untuk segera menghabiskan ikan itu sendirian.
Untung aku tidak alergi seafood!! - Densha.
Tapi... Aku harus cek kadar kolestrol'ku juga lain kali - Densha.
Tok!
Tok!
Tok!
Bunyi ketukan di depan pintu rumah Densha yang cukup keras membuat Fuu terkejut, gadis itu berdiri dari duduknya dan berdiri di samping Densha.
"Siapa malam-malam begini?" Densha menatap Fuu yang terpaku di sampingnya.
"Buka sana pintunya!" Pinta Densha dan menyenggol lengan Fuu pelan.
"Tidak mau! Fuu takut!"
"Takut apa?? Itu kan tamu!"
"Kalau begitu Densha saja!" Jawab Fuu cepat.
"Ck! Gadis ini!!" Densha menatap tajam pada Fuu.
Pria itu berdiri dari duduknya, ia berjalan menuju pintu depan rumahnya disusul Fuu di belakangnya, gadis itu menggenggam erat bagian belakang kaos yang di kenakan Densha.
"Kau ini kenapa sih??"
"Tadi Fuu membaca cerita seram, kalau ada yang mengetuk malam-malam biasanya itu hantu" jelas Fuu lugu.
"Cerita seram??" Densha mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
"Iya, baru saja Fuu membacanya! Eh.. sudah kejadian"
PLETAK!!
Densha menyentil dahi Fuu cukup keras membuat Fuu terkejut dan memperlebar matanya untuk menatap Densha.
"Kenapa memukul Fuu??"
"Itu yang kau bilang sibuk belajar hah?!"
"Ah itu... Hehehe"
"Lain kali jangan belajar sendiri!"
"Maaf..." Gumam Fuu pelan.
Tok!
Tok!
Tok!
(Suara ketukan lagi)
"Ya Tuhan! Aku hampir lupa apa tujuanku kemari" Densha memukul dahinya sendiri.
Dengan terburu-buru ia meraih gagang pintu dan mengintip dari lubang kecil di tengah pintunya. Pria itu beralih memandang Fuu sekilas lalu kembali mengintip seorang tamu di depan rumahnya.
"Siapa??" Bisik Fuu pelan.
"Itu... Ayah Katrina! Bagaimana??"
"Tuan Shawn?? Kenapa datang kesini?" Wajah Fuu terlihat bingung.
"Jangan tanya padaku! Dia kan juga duyung, jadi mungkin kedatangannya kesini ada urusan dengan'mu"
"Dia juga pegawai nona Isabella, mungkin ada perlu dengan Densha juga!"
"Kau benar!!" Densha menganggukkan kepala pelan.
Ceklek!
(Suara pintu terbuka)
Tuan Shawn berdiri di depan pintu rumah Densha dengan wajah yang nampak begitu sedih, matanya langsung menatap Fuu yang berdiri tepat di belakang Densha. Merasa ada yang tidak beres, Fuu melangkahkan kakinya ke depan dan mendekati tuan Shawn.
"Ada apa??"
Tuan Shawn melirik ke arah Densha, sepertinya ia tidak ingin Densha mendengar pembicaraannya dengan Fuu, tapi rasa keingintahuan Densha cukup besar hingga ia tak bergeming meninggalkan tempatnya.
"Katakan saja tuan! Anggap aku tidak ada disini!" Perintah Densha tegas.
"Ah! Mungkin tuan Shawn ingin masuk dan duduk di dalam"
Fuu meraih kedua tangan tuan Shawn dengan lembut, gadis itu terkejut bukan main. Kedua tangan tuan Shawn terasa begitu dingin, mata Fuu membulat dengan lebar, ia beralih memandang Densha di sampingnya.
"Ada apa sih??"
Bersambung!!
Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit, Vote dan Rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih 😘🙏