Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Masalah masing-masing



BRAKK!!


GUBBRAAKK!!


PRRANKKK!!


"Katrina? Sayang.. kamu baik-baik saja?"


Tok! Tok! Tok!


"Katrina.. jawab Ibu sayang.. kenapa berisik sekali di dalam kamarmu?"


Nyonya Shawn mencoba memanggil putri semata wayangnya itu, namun di panggil berapa kali pun Katrina tidak menjawab panggilan dari ibunya.


"Astaga! Katrina ada apa sayang? Tolong buka pintunya.." suara Nyonya Shawn terdengar panik, karena tidak kunjung mendapat jawaban dari putrinya ia memukul keras pintu kamar Katrina.


BRAKK!! BRAKK!! BRAKK!!


"Hiks.. hiks.. hiks.." Katrina menangis tersedu-sedu, gadis berkulit sawo matang itu tengah duduk memeluk lututnya sendiri. Kamarnya sangat berantakan, banyak sekali buku-buku dan peralatan belajar milik gadis itu yang berserakan di lantai.


Perlahan Katrina mengangkat kedua tangannya secara pelan-pelan, ia menangis kencang saat melihat kedua tangan cantiknya mulai berubah. Katrina memandangi jari-jari tangannya dengan sedih, gadis itu dengan cepat mengambil gunting kuku di laci mejanya. Ia menyalakan lampu meja belajarnya dan mengarahkan lampu itu ke arah jari-jari nya.


Dengan wajah yang di banjiri air mata Katrina mencoba memotong kulit tipis diantara sela-sela jarinya, sakit.. sangat sakit yang Katrina rasakan. Karena tidak berhasil atau kurang efisien menggunakan gunting kuku, Katrina mengambil gunting kecil yang biasa di gunakan untuk memotong benang.


Gadis itu meringis menahan sakit, ia menggigit bibir bawahnya dengan keras untuk menahan sakit yang dibuat oleh dirinya sendiri.


"Aaaakkkkhhh.." Teriak Katrina kencang.


Darah segar mengalir di sela-sela sepuluh jarinya, gadis itu berlari menuju kamar mandi di dalam kamarnya, ia menyalakan keran air di wastafel dan mencuci darah yang terus mengalir dari sela-sela jarinya. Katrina menangis kesakitan menahan luka-luka robek yang dibuatnya sendiri.


Selang beberapa lama, Katrina kembali memperhatikan jari-jarinya. Gadis itu mengambil kotak P3K yang terletak di kamarnya, ia membalut jari-jarinya dengan perban satu per satu hingga ke pergelangan tangannya. Katrina menangis tanpa henti merutuk dirinya sendiri, gadis itu membanting semua barang di kamarnya dengan penuh amarah.


Aku tidak ingin seperti ini? Bukankah hal ini harusnya tidak terjadi? - Katrina.


Nyonya Shawn dengan cemas mondar-mandir di bawah tangga rumahnya, ia menunggu putrinya turun keluar dari kamar. Tidak lama ia menunggu, pintu kamar Katrina terbuka, dengan mata sembab dan kedua tangan di balut perban, Katrina turun menemui ibunya.


"Katrina?? Astaga! Apa yang terjadi?" Nyonya Shawn sangat panik melihat kedua tangan Katrina, dengan sigap ia memeluk putri semata wayangnya itu. Wanita itu berusaha menenangkan perasaan Katrina.


"Aku tidak apa-apa ibu"


"Bagaimana mungkin tidak apa-apa! Lihat kedua tangan mu.. Apa yang terjadi sayang?"


"Aku.. aku.. aku hanya terkena cairan keras yang harus aku bawa ke sekolah besok ibu.."


"Sungguh? Ibu mohon.. jangan berusaha berbohong pada ibu"


"Benar ibu, aku tidak berbohong"


Nyonya Shawn memandang Katrina penuh curiga, ia tidak ingin memaksa Katrina untuk bercerita jika memang gadis itu tidak ingin bercerita padanya.


Aku harus memberitahu suamiku tentang ini.. - Nyonya Shawn.


Pagi itu Katrina memutuskan untuk tidak datang ke sekolah, karena kedua tangannya terluka.. gadis itu tidak akan mampu menulis dengan baik di sekolah.


Di lain tempat, di sebuah meja makan keluarga Collin kedatangan tamu asing yang tak mengenal satu sama lain, mungkin hanya Moa Collin yang berpura-pura tidak mengenali tamu itu.


"Selamat pagi tuan Collin.." Densha membungkuk untuk memberi hormat kepada ayah Moa.


"Wah, lihat siapa yang menginap?! Tuan muda Mikaelson??" Ayah Moa tersenyum lebar, ia membuka kedua tangannya menyambut kedatangan Densha ke pelukannya. Melihat reaksi tuan Collin dengan senang hati Densha memeluk ayah Moa yang sangat bersahabat itu.


"Silahkan duduk.. kau mau sarapan disini juga?"


"Hanya jika tuan Collin mengijinkan" Densha tersenyum menatap ayah Moa yang duduk di depannya. Mata Densha teralihkan ke sosok perempuan yang kini tengah menyiapkan sarapan, Densha mencoba melirik ke arah Moa tapi Moa tampak tak acuh akan hal itu.


"Tentu saja! Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu"


"Haha, terima kasih tuan.." Densha terus memperhatikan punggung wanita itu dengan sesekali ia menatap ayah Moa.


"Ada apa?" Tanya tuan Collin yang sedari tadi melihat gerak gerik Densha.


"Ah! Maafkan saya.. anu, itu siapa?"


"Tidak penting! Jangan bertanya!" Celetuk Moa yang tiba-tiba menjawab pertanyaan Densha.


"Moa.."


"Apa? Ayah mau bilang apa pada Densha? Mau bilang bahwa dia ibuku??" Moa menatap tajam ayahnya.


"Memangnya kenapa kalau dia ibumu? Cepat atau lambat dia akan menjadi ibu tiri mu!"


"Aku tidak bilang bahwa aku setuju memiliki ibu tidak jelas seperti dia!"


"Moa!! Jaga ucapan mu!!" Suara ayah Moa terdengar meninggi saat ini.


"Sayang.." sapa lembut wanita itu, ia memegang bahu tuan Collin dengan lembut, wanita itu tersenyum ramah memandang Densha dan Moa.


"Moa.. jangan berbicara dengan nada seperti itu kepada ayahmu! Itu tidak baik"


"Siapa kau?! Beraninya menggurui aku!"


"Moa! Jangan bicara seperti itu pada calon ibu tiri mu!!" Ucap ayah Moa memperingatkan.


"Kenapa aku harus bicara baik-baik padanya ayah? Asal-usul nya saja tidak jelas!!" Moa menendang kursi yang ia duduki dengan kuat, pria itu pergi meninggalkan meja makan. Melihat semua itu Densha jadi kebingungan sendiri, ia hanya melihat Moa yang pergi meninggalkannya.


"Um.. anu, sebaiknya aku menyusul Moa"


"Tidak! Biarkan saja dia.." cegah ayah Moa, ia menyuruh kekasihnya menyiapkan sarapan untuk Densha.


"Um.. Terima kasih.." suara Densha terhenti, ia tidak mengenali kekasih tuan Collin ini, jadi dia tidak mengerti harus memanggil wanita itu dengan sebutan apa.


"Panggil aku Ellis" wanita itu tersenyum lembut menatap Densha.


"Ah! Baik nona Ellis, terima kasih makanannya.."


Densha menyantap sarapannya dengan ragu, di lain sisi ia tidak enak hati dengan Moa karena sahabatnya itu tidak ikut sarapan bersama keluarganya. Setelah sarapan Densha mengucapkan banyak terima kasih kepada tuan Collin dan Ellis, ia kembali menuju ke kamar Moa dan mengajak sahabatnya itu berangkat ke sekolah. Di perjalanan menuju sekolah mereka berdua tidak banyak bicara, bahkan Densha ragu untuk mengajak Moa berbicara saat ini. Sesekali ia mencuri-curi pandang ke arah Moa.


"Mm.."


"Apa?"


"Tidak, sarapan tadi pagi enak sekali loh!"


"Cih! Aku tidak sudi memakan masakan Ellis!!"


"Eh? Kenapa?"


"Aku tidak setuju jika ayah menikahinya.."


"Ayahmu pasti kesepian karena di tinggal ibumu, jadinya dia ingin segera mencari pengganti ibumu"


"Aku tahu itu! Tapi kenapa harus Ellis?"


"Memangnya kenapa? Sepertinya Ellis wanita yang baik.."


"Ayah baru mengenalnya beberapa bulan dan ingin menikahinya, itu sangat aneh!"


"Terkadang kita memang tidak tahu apa yang orang dewasa pikirkan"


"Ellis bukan orang baik"


"Kenapa kau berbicara seperti itu?"


"Aku pernah tidak sengaja melihat Ellis sedang mabuk, dan wanita itu menggodaku.. dia benar-benar gila!!" Moa memukul kedua pipinya dengan gemas.


"Me.. me.. menggoda mu?! Astaga! Moa.. kau tidak melakukan apapun pada calon ibu tiri mu itu kan??" Densha menutup mulut dengan kedua tangannya tanda tidak percaya.


"Dasar sinting!! Aku tidak tertarik dengan wanita tua seperti itu!!" Moa memukul lengan Densha dengan pelan.


"Haha, iya-iya.. maaf"


"Pilihan ayah benar-benar buruk!"


"Kalau begitu bicarakan itu pada ayahmu baik-baik! Mungkin ayahmu akan mengerti"


"Semenjak ayah mengenal Ellis, ayah jarang mendengarkan kata-kataku!"


"Bagaimanapun juga kau adalah putranya, dia pasti mendengarkan mu. Aku yakin di hatinya yang paling dalam dia sangat menyayangimu" Densha menepuk bahu Moa, ia bermaksud memberikan dukungan pada Moa.


"Yahh, akan aku coba! Hehe, terima kasih"


"Untuk apa?"


"Saran-saran yang kau berikan itu"


"Cih! Jangan berterima kasih, ingat! Kau punya hutang untuk menemaniku mencari Fuu malam ini"


"Harus ya?"


"Minta di pukul ya?!"


"Haha, baik-baik. Ayo kita cari Fuu sama-sama sepulang sekolah nanti!"


.


.


.


.


.


Hujan gerimis melanda permukaan laut yang cukup tenang, di bawah sana sekumpulan duyung tengah berenang kesana-kemari meneruskan aktivitas makan mereka, sebagian dari mereka bersiap untuk tidur karena saat ini matahari mulai meninggi. Namun itu tidak berlaku bagi Fuu, gadis duyung itu berenang ke permukaan untuk menghirup udara segar lautan. Ia menatap langit mendung di atasnya, gadis itu tersenyum senang, senang karena ia tidak kehilangan ingatannya semasa dia tinggal di daratan.


TEETTT!!


Mod berdiri terpaku menatap Moa dan Densha di sebrang tempat ia berdiri, matanya tidak berkedip sama sekali saat melihat Moa.


Kuatkan hatimu Mod.. - Mod.


Gadis mulai melangkahkan kakinya berjalan dengan cepat, ia berjalan begitu saja melewati Moa dan Densha tanpa menyapa mereka.


Dimana Fuu? Kenapa Fuu tidak bersama mereka? - Mod.


Mata Densha terus mengikuti gerakan tubuh Mod yang melewati dirinya dan Moa begitu saja.


Ada apa dengan gadis ini? - Densha.


Densha melirik ke arah Moa yang saat ini hanya terdiam kesal, tanpa bicara sepatah katapun Moa berjalan lurus menuju sisi yang berbeda dengan Mod disusul Densha di belakangnya.


"Kau lihat??"


"Apa?"


"Ck! Kau ini buta atau bagaimana? Tidak lihat reaksi Mod padaku?"


"Ah! Itu reaksi untukmu? Bukan untuk kita berdua?"


"Tentu saja untukku!!"


"Entahlah.. tapi jika itu hanya untukmu kenapa aku juga kena imbasnya?"


"Aku juga tidak tahu! Sebenarnya dia kenapa sih?"


"Mungkin dia juga menyukaimu.."


"Apa?! Menyukaiku? Dengan cara seperti itu?!"


"Ah! Aku ingat.." Densha membuka tas sekolahnya dan memberikan sebuah buku majalah pada Moa.


"Buku apa ini?"


"Ini buku yang aku ceritakan padamu waktu itu!"


"Buku cara-cara melakukan pendekatan pada seorang gadis?"


"Umm" Densha menganggukkan kepala, ia tersenyum memberikan buku itu pada Moa.


"Kau coba saja! Siapa tahu berhasil"


"Tapi.. ini buku lama kan?" Moa memandangi buku yang ia pegang dengan seksama.


"Sepertinya memang begitu.."


"Apa dulu ayahmu menggunakan trik-trik di dalam buku ini saat mendekati ibumu?"


"Entahlah.." Densha mengangkat kedua bahunya tanda tidak mengerti.


"Baiklah.. aku akan mempelajari nya" Moa memasukkan buku pemberian Densha ke dalam tas sekolahnya.


"Densha??"


"...." Densha menatap gadis yang memanggil namanya itu.


"Wah, wah lihat siapa yang datang! Nona pengacau" sindir Moa pada Jennie yang menghampiri mereka.


"Densha sepupuku.. apa kau ada waktu malam ini?"


"Tidak ada, aku ada urusan!"


"Tidak.. tidak.. tidak boleh ada urusan, ayolah!!" Jennie merangkul lengan Densha dengan erat, ia menyandarkan wajahnya pada bahu Densha.


Dasar ular!! - Moa.


"Eh??"


Secara tiba-tiba Jennie terkejut, gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Kau mencari apa?"


"Dimana si gadis bodoh itu? Biasanya saat aku memelukmu seperti ini, dia akan memisahkan kita dengan kata-kata bodohnya itu"


"Oh.. si putri cantik itu??" Tanya Moa jengkel dengan tingkah Jennie, mendengar sindiran Moa yang nampak ketus itu, Jennie beralih mendekati Moa dan memeluk pria itu.


"Astaga.. Moa sayang.. kau iri ya? Karena aku hanya memeluk sepupuku saja?"


"Hei!! Apa-apa'an kau ini?! Lepaskan aku!!" Moa mendorong tubuh Jennie dengan pelan, berusaha menjauhkan tubuh Jennie dari tubuhnya.


"Astaga! Begitu kah caramu memperlakukan wanita??"


Moa mendelik dengan kesal, ia berjalan cepat meninggalkan Densha dan Jennie.


"Apa tujuanmu sebenarnya Jen?"


"Tujuan apa? Aku hanya ingin mengajakmu ke acara pesta ulang tahun temanku.. kau akan jadi tamu spesial disana"


"Aku tidak tertarik!" Tegas Densha, ia berjalan meninggalkan Jennie namun dengan cepat Jennie menahan tangan Densha.


"Lepaskan tangan kotor mu dariku!!" Densha menatap Jennie dengan penuh kebencian.


"Oke.. oke aku lepas! Hentikan pandanganmu yang mengerikan itu!"


"Cih!"


Astaga! Sulit sekali menaklukannya.. aku harus segera mendapatkan tanda tangan pria ini! - Jennie.


"Jika aku memohon, apakah kau akan ikut bersamaku?"


"Memohon??"


"Aku akan memanggilmu tuan muda.. yahh, seperti yang kau tahu! Aku ini dari keluarga cabang. Jadi seharusnya aku memanggilmu tuan kan?"


"Jika itu memang sebuah keharusan untukmu kenapa sekarang jadi persyaratan?"


Ck! Pintar juga dia.. - Jennie.


"Urungkan semua niat buruk mu Jen, itu tidak akan berhasil!" Kata Densha tegas.


Densha berjalan menuju ke ruang kelasnya, meninggalkan Jennie seorang diri. Gadis itu menatap Densha dengan kesal, ia mengacak-acak rambutnya sendiri karena belum berhasil mencari perhatian Densha.


Kelemahan Densha hanyalah gadis bernama Fuu itu, tapi.. dimana dia sekarang? - Jennie.


Kringgg.. krringg... Kringg..


"Halo?"


"....."


"Apa?"


"....."


"Tapi dia ada di rumah kok!"


"....."


"Baik, begitu ya? Terima kasih laporannya!"


Klap!


Isabella menyentuh dagunya dengan lembut, wajahnya tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa nona Isabella?"


"Ah! Tidak bukan apa-apa.."


"Jika nona perlu sesuatu katakan saja!"


"Tidak!"


"Baik nona"


Untuk sesaat Isabella terdiam beberapa saat, ia melirik ke arah sekertaris pribadinya.


"Sekertaris?!"


"Iya nona?"


"Bisa kau hubungi kepala sekolah Densha"


"Ada apa nona? Apa tuan muda melakukan kesalahan?"


"Tidak, tanyakan padanya! Apa gadis bernama Fuu itu datang ke sekolah"


"Baik, nona"


Dengan cepat sekertaris menghubungi kepala sekolah Densha dan menanyakan keberadaan Fuu, kepala sekolah meminta waktu sebentar untuk menunggu karena ia harus mengutus salah satu guru agar mengecek ke kelas Densha terlebih dahulu. Setelah mendapat jawaban, sekertaris langsung menutup telepon genggam nya.


"Mohon maaf nona, tapi nona Fuu tidak datang ke sekolah"


"Baiklah, terima kasih" Isabella mengambil telepon genggamnya, ia ingin sekali segera menghubungi keponakannya itu namun Isabella teringat bahwa sekarang Densha pasti tengah sibuk menerima pelajaran.


"Sama-sama nona"


Ada apa ya? - Isabella.


Bersambung..