Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Tuan Shawn



Sore itu ombak laut menghantam dinding-dinding bebatuan bawah tebing, dari sana muncul lah seorang duyung cantik. Fuu menyeret tubuhnya ke atas bebatuan, ini adalah tempat terakhir yang ia kunjungi sebelum gadis itu memutuskan untuk kembali ke lautan. Setelah perubahan wujudnya selesai, gadis itu mencari-cari pakaian yang ia sembunyikan beberapa hari lalu di cela-cela karang.


"Ketemu!" Ucap Fuu senang.


Fuu memakai pakaiannya yang sudah mulai kotor dengan benar, tanpa alas kaki gadis itu menuruni bebatuan menuju ke arah hutan taman kota, satu-satunya jalan keluar untuk menuju rumah Densha. Sebelum ke rumah Densha, entah mengapa langkah kaki Fuu seperti berjalan dengan sendirinya menuju ke sebuah rumah. Rumah yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya, gadis itu berhenti tepat di depan jalan halaman rumah itu.


KRIIETT..


Pintunya terbuka! - Fuu.


Fuu memperhatikan seorang pria bertubuh besar dan tinggi tengah membawa beberapa kantong plastik hitam, rupanya pria itu sedang membuang sampah. Mungkin usianya sekitar 40 tahunan, Fuu hanya memandang lurus ke arah laki-laki itu. Karena ada yang aneh dan janggal, laki-laki itu menoleh ke arah gadis yang menatapnya dengan serius, mata laki-laki itu terbuka lebar, perlahan ia berjalan mendekati Fuu yang tidak bergerak dari tempatnya.


Fuu memandangi laki-laki di depannya dari ujung rambut hingga ujung kaki berulang kali, gadis itu mengernyitkan dahi bingung. Laki-laki itu juga sama saja, ia menatapi Fuu yang berdiri tanpa bicara apapun. Setelah di rasa yakin, laki-laki itu duduk dan membungkuk pada Fuu, hal itu membuat Fuu semakin bingung. Perlahan gadis itu memundurkan langkah kakinya.


"Hormatku padamu!"


"Apa?!"


Mereka berdua saling memandang satu sama lain, mata Fuu terbuka lebar. Ia sudah tahu apa yang terjadi saat ini, Fuu benar-benar tidak percaya bahwa dia bisa menemukan seseorang yang dia cari tanpa sengaja.


"Silahkan masuk ke dalam rumahku" pinta laki-laki itu dan membukakan pintu rumahnya untuk Fuu.


Fuu memasuki rumah itu, tidak ada yang aneh disana! Semuanya tampak normal, seperti rumah manusia pada umumnya. Laki-laki paruh baya itu mempersilahkan Fuu untuk duduk, dia juga memanggil istrinya untuk menyiapkan jamuan makan untuk Fuu. Mata pria itu tidak berhenti menatap Fuu, terutama karena Fuu tidak mengenakan alas kaki, hal itu membuat kakinya lecet penuh luka.


"Ada apa sayang?! Siapa yang datang?" Tanya seorang wanita yang merupakan Istri dari laki-laki itu. Melihat pandangan suaminya, wanita itu nampak mengerti. Sekilas ia menatap Fuu lalu tersenyum manis ke arahnya.


Wanita itu pergi, meninggalkan Fuu dan laki-laki itu berdua saja di ruang tamu. Fuu memandang ke arah si Wanita sampai ia benar-benar tidak terlihat lagi. Dengan bingung, Fuu kembali menatap laki-laki yang tengah duduk di depannya.


"Manusia?"


"Benar.. dia istriku"


Mata Fuu tidak bisa berkedip karena terkejut, ia memandangi sekeliling rumah. Rumah yang cukup nyaman untuk di huni dua makhluk berbeda.


"Kenapa anda bisa disini?"


"...."


"Maafkan kelancangan saya, saya hanya terkejut bisa bertemu anda di sini! Di depan rumahku"


"Tolong.. bicara biasa saja pada Fuu" ucap Fuu lalu tersenyum manis.


"Bagaimana saya bisa melakukan itu?! Anda adalah anaknya.." laki-laki itu menghentikan kata-katanya, dia tengah berpikir saat ini.


"Maaf! Apa maksud anda dengan Fuu??"


"Namaku Fuu!"


"Begitu ya?! Maafkan saya nona Fuu"


"Ku mohon, panggil aku Fuu"


"Tapi.. bagaimana jika.."


"Ini perintah Fuu! Tidak akan terjadi apapun pada tuan"


"Baiklah.. Fuu"


"Apa ini rumah tuan??"


"Bukan, ini rumah istriku"


"Berapa lama tuan tinggal di daratan?"


"Aku rasa, hampir dua puluh tahun"


"Dua puluh tahun??"


"Benar, saat pertama kalinya aku ke daratan. Aku mencintai seseorang dan orang itu adalah Istriku"


Cinta ya?? Fuu menyukai Densha.. apa itu bisa di sebut dengan Cinta? - Fuu.


"......"


"Apa Fuu sedang memikirkan sesuatu?"


"Ah! Tidak-tidak.. Fuu hanya.."


"Hanya??"


"Fuu hanya bingung.. Oh iya! Bagaimana Fuu memanggil tuan? Maksud Fuu siapa nama tuan di daratan?"


"Panggil aku Shawn.."


"Tuan Shawn??" Seketika mata Fuu membulat tajam, ia seperti mengingat sesuatu. Sesuatu yang aneh baginya.


"Maaf.. menunggu! Ini makanannya" ucap nyonya Shawn ramah, wanita itu membawakan Fuu sepiring penuh irisan ikan mentah yang sudah di bersihkan. Setelah meletakkan piring itu ke atas meja, nyonya Shawn duduk di samping suaminya.


"Ikan??" Fuu tersenyum lebar, ia makan dengan lahap. Bahkan sepertinya terlalu berlebihan dari caranya menyantap makanan.


Nyonya Shawn hanya tersenyum melihat aksi Fuu, ia menoleh ke arah suaminya yang juga memandangi gadis cantik di depannya.


Sepertinya dia belum lama berada di daratan.. - Nyonya Shawn.


"Maaf.. Fuu akan makan dengan benar!" Ucap Fuu dengan semangat.


Tuan dan nyonya Shawn melongo, melihat cara makan Fuu yang tiba-tiba berubah drastis menjadi lebih sopan. Seperti manusia pada umumnya.


"Fuu?? Apa Fuu sudah lama tinggal di daratan ini? Siapa yang mengajarkanmu?"


"Fuu tidak lama di daratan ini" jawab Fuu yang kemudian tersenyum.


"Apa kau suka ikannya? Jika mau, aku bisa membuatkannya lagi"


"Ah! Fuu suka cara bicara nyonya Shawn.. seperti itulah yang Fuu inginkan! Anggap saja Fuu teman kalian. Hehe"


"Teman??" Tanya Nyonya Shawn yang kebingungan.


"Begini sayang.. Fuu adalah anaknya" jelas Tuan Shawn kepada istrinya.


"Apa?! Jadi.. dia yang sering kau ceritakan itu?"


"Benar!"


"ASTAGA!! MAAFKAN AKU NONA!! AKU AKAN MEMBUATKAN MAKANAN YANG LEBIH ENAK DARI INI!!" teriak nyonya Shawn yang membuat Fuu terkejut.


"Eh?? Itu.. itu.. tidak perlu, Fuu suka dengan ini kok"


"Apanya yang tidak perlu! Harus perlu! Kau kan seorang Dewi"


"Dewi???" Fuu semakin bingung, ia menatap tuan Shawn dengan penuh tanda tanya.


"Sebentar ya?! Aku akan masak yang enak! Jangan pergi kemana-mana!" Perintah nyonya Shawn yang lantas pergi begitu cepat.


Apa yang mereka katakan? - Fuu


"Fuu?? Apa kau tidak tahu asal-usul mu?"


Fuu menggelengkan kepalanya pelan, ia tetap memakan ikan di depannya dengan tenang.


"Tapi.. apa kau langsung menyadari bahwa aku sejenis dengan mu saat pertama kali kau melihatku?"


"Bukankah semua duyung memilki insting seperti itu?"


"Benar! Tapi instingku berbeda, aku langsung mengetahui bahwa kau berbeda"


"....."


"Apa kau pernah bertemu ayahmu?"


"Tidak! Fuu tidak pernah.."


"Ayahmu adalah pemimpin kami"


"Pemimpin?? Setiap kelompok hanya punya satu pemimpin kan?"


"Bukan, bukan itu maksudku.. Ayah mu adalah pemimpin semua duyung"


"Ayah??"


"Benar! Ayahmu adalah dewa kami, dan dia hanya memiliki seorang anak"


"Dan.. anak itu??"


"Benar! Kau lah anaknya.. dia memang tidak pernah menampakkan wujudnya pada siapapun"


"Fuu juga tidak pernah bertemu dengannya, tapi.. Fuu bisa berbicara dengannya"


"Hanya kau yang bisa berbicara dengannya. Dan jika benar! Harusnya kau juga mewarisi kelebihan darinya kan?"


"Fuu tidak mengerti"


"Ayahmu adalah penguasa seluruh lautan, sungai dan danau"


"....."


"Yang aku ingat, dia pernah menghentikan hujan dahsyat beberapa tahun lalu"


"Menghentikan hujan??"


"Benar!"


Jadi.. berkat yang di maksud ayah waktu itu adalah menghentikan hujan? - Fuu.


Fuu hanya duyung biasa, Fuu tidak butuh berkat atau apapun itu. Bagi Fuu semua sama saja.. - Fuu.


"Ah! Terima kasih! Berkat tuan Shawn, Fuu jadi lebih mengenal ayah.."


"Hehe.. tuan benar! Tapi Fuu memang tidak tahu"


Pasti sekarang Poseidon sedang menangis mendengar kata-kata cucunya bahwa ia tidak mengenalnya.. hahaha - Tuan Shawn.


Fuu menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang dengan keluarga Shawn, gadis itu merasa senang bisa bertemu dengan sejenisnya di daratan. Walaupun istri tuan Shawn adalah seorang manusia, tapi ia mengenal dengan baik kehidupan para duyung.


KLAP!


"Aku pulang!"


Suara ini.. - Fuu.


Katrina Shawn memasuki rumahnya, gadis berkulit sawo matang itu berjalan menuju ruang tamu keluarganya. Betapa terkejutnya dia mendapati Fuu, gadis duyung yang ia benci karena iri hati dengan kedekatan Fuu dan Densha.


"Fuu??"


"Eh? Katrina! Kau mengenalnya?" Tanya tuan Shawn senang.


Fuu berdiri, ia menatap lurus ke arah Katrina. Entah mengapa raut wajah Fuu berubah, yang tadinya terlihat senang kini terlihat muram dan sedih.


"Hybrid.." gumam Fuu pelan.


"Apa?!"


"Jadi.. ini alasannya?"


"Kau ini bicara apa?! Kenapa datang ke rumahku??"


"Pantas saja! Saat bertemu Katrina untuk pertama kalinya, Fuu merasa bahwa Katrina dan Fuu itu sama. Tapi.. saat Katrina mendorong tubuh Fuu ke laut beberapa waktu lalu, Katrina tidak mengalami perubahan wujud"


"Hentikan ucapan'mu itu!" Katrina dengan sigap berjalan mendekati Fuu, gadis itu memegang pergelangan tangan Fuu dengan kuat.


"Katrina! Hentikan! Ada apa ini?!" Tanya Tuan Shawn yang dengan cepat menarik Katrina untuk mundur.


"Tuan Shawn.. Apa Katrina putri kandung tuan?"


"Benar! Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa! Fuu mengenalnya"


"Apa?! Jadi kalian sudah saling kenal?" Tanya nyonya Shawn antusias, wanita itu senang, akhirnya Katrina berteman dengan seorang duyung keturunan asli. Dengan begitu, ia tidak akan cemas saat sudah tiba waktunya bagi Katrina untuk tinggal di laut.


"Ya.. tapi aku tidak berteman dengannya!" Jawab Katrina ketus, gadis itu dengan kesal berlari menuju kamarnya.


"Katrina!!"


"Tidak, biarkan saja! Fuu tidak apa-apa"


"Tolong maafkan putriku! Dia tidak tahu dengan siapa dia bicara"


"Uhm.. okay, baik! Tuan Shawn tidak perlu khawatir"


Katrina itu Hybrid.. - Fuu.


"Putriku sedang mengalami perubahan, dia tidak terima bahwa dirinya adalah seorang Hybrid"


"Berapa usia Katrina?"


"Hampir 18 tahun"


Pertumbuhannya lambat.. - Fuu.


"Fuu, aku senang.."


"Eh??"


"Senang karena kau mengenal putriku! Dengan begitu, saat sudah tiba waktunya untuk melepas putriku ke lautan selama tiga tahun. Aku tidak perlu khawatir, karena kau mengenalnya"


Tapi.. Fuu tidak ingin bersama Katrina - Fuu.


"Tuan Shawn tidak perlu khawatir, ada banyak duyung yang mau menerima Katrina di dalam sana" ucap Fuu menenangkan.


"Apa kau juga akan kembali ke dalam air?"


"Fuu tidak tahu! Fuu ingin berada di daratan untuk sementara waktu"


"Kau tinggal dimana?"


"Fuu tinggal di rumah Densha"


Densha?? Rasanya nama itu tidak asing bagiku.. - tuan Shawn.


"Densha??"


"Uhm.. Teman Katrina! Densha Mikaelson"


"Astaga! Densha Mikaelson??"


Fuu tidak menjawab pertanyaan tuan Shawn, ia hanya menganggukkan kepala pelan.


"Se.. sejak kapan??"


"Fuu tidak ingat! Tapi Fuu dan Densha satu rumah dan satu kamar"


"HAH?!" Teriak nyonya dan tuan Shawn secara bersamaan.


Polos sekali dia.. - nyonya Shawn.


"Apa kalian sudah.. itu.. emm??" Tanya nyonya Shawn ragu-ragu.


"Sudah itu??" Fuu mengangkat sebelah alisnya bingung.


"Ehem! Sudah-sudah jangan di tanyakan!! Yang lebih penting apa dia tau statusmu?" Wajah tuan Shawn memerah, membayangkan yang iya-iya.


"Uhm.. Densha tau"


"Astaga! Dia menerimamu??"


"Uhm"


"Wah, senangnya!" Puji nyonya Shawn, ia memeluk Fuu dengan erat.


Melakukan itu.. itu apa ya?? - Fuu.


"Apa dia tahu bahwa kau memiliki berkat dari ayahmu?"


"Tidak, lagipula Fuu tidak ingin menggunakannya. Fuu hanya duyung biasa, sama seperti tuan"


"Begitu ya?!"


"Uhm, anu.. sebaiknya Fuu pulang"


"Ah! Apa mau aku antar sampai rumah tuan muda Mikaelson??"


"Tuan muda??"


"Begini, Isabella Mikaelson adalah atasanku di tempat kerja. Jadi aku terbiasa memanggil Densha dengan tuan muda"


"Jadi tuan Shawn pernah bertemu dengan Densha??"


Benar! Jika di pikir-pikir.. malam itu aku bertemu dengannya di sekitar bawah tebing - tuan Shawn.


"Ya.. aku baru sekali bertemu dengannya sih!"


"Bagaimana menurut tuan? Apa Densha tampan?"


"Tentu saja! Dia sangat tampan!"


"Hehe"


"Eh?? Kenapa? Wajah Fuu memerah loh"


"Apa?! Tidak!!" Fuu berusaha menutupi wajahnya dengan tangannya.


Kau menyukai manusia itu ya? - tuan Shawn.


Tuan Shawn tersenyum memperhatikan tingkah Fuu yang menggemaskan, ia mengantar Fuu sampai ke jembatan penyebrangan. Jembatan tempat pertama kalinya Fuu bertemu dengan Densha waktu itu.


"Apa kau menyukainya?"


"Eh??" Fuu menoleh ke arah tuan Shawn di sampingnya.


"Hehe, tidak apa-apa! Aku bisa menjaga rahasia kok!"


Fuu memejamkan matanya, ia memikirkan kejadian yang pernah ia alami bersama Katrina sebelumnya. Apakah tidak apa-apa jika ia berbagi cerita ke tuan Shawn? Karena ragu, Fuu mengurungkan niatnya untuk bercerita.


"Tuan Shawn.." ucap Fuu lirih.


"Emm?? Ada apa?"


"Aku sangat menyukainya. Aku tidak akan membiarkan hal buruk apapun terjadi padanya!"


"Eh??? Kenapa Fuu tiba-tiba..."


"Hehe, maaf ya? Apa Fuu terlihat menakutkan?"


"Ng.. tidak"


Ada apa? Auranya berbeda sekali.. insting untuk melindunginya sangat kuat. Tapi.. kenapa memperlihatkan itu padaku? - tuan Shawn.


Bersambung!


Jika kalian menyukai Novel ini! Mohon dukungannya untuk Like ❤️, Komentar 👇 dan Vote. Beri rating juga ya? Dukungan kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih.. 😉😘