
Jennie menghubungi pengacara keluarga Mikaelson untuk menunjukkan surat pengalihan perusahaan, namun pengacara bilang bahwa surat itu baru berfungsi jika tuan muda Densha benar-benar meninggal, dan itu hanya bisa di tentukan setelah Densha tidak di temukan selama tujuh hari berturut-turut, mendengar itu nampaknya Jennie sangat kesal. Gadis itu berdoa setiap harinya agar Densha benar-benar tidak selamat di lautan sana.
Ini sudah dua hari sejak Densha menghilang, dan belum ada kabar baik mengenai keberadaan Densha. Dua pelaku yang tertangkap hanya bicara seadanya, mereka tidak mau membuka mulut sama sekali. Isabella berjanji bahwa ia akan menyelamatkan kedua pria itu jika mereka mau di ajak bekerja sama, dengan keraguan yang ada kedua pria ini akhirnya membuka mulut soal rencana Jennie yang membunuh Densha. Isabella terkejut bukan main, wanita itu menangis mengetahui keponakannya di buang ke tengah laut secara hidup-hidup, melihat Isabella yang terpuruk kedua pria itu meminta maaf dan menyesali perbuatan mereka, mereka bahkan mau menjadi saksi untuk menghukum Jennie demi menebus dosa-dosa yang telah mereka lakukan.
Karena tidak tahan dengan kenyataan pahit yang ia terima, Isabella jatuh pingsan.. kondisi kesehatannya menurun drastis, wanita itu menolak untuk di bawa ke rumah sakit. Ia hanya ingin pulang ke rumah, dan tidur di tempat tidur milik Densha.
Tangisan Mod dan Moa pecah ketika mendengar pernyataan langsung kronologi kejadian pembunuhan terhadap Densha. Mereka tidak bisa menerima kenyataan seperti ini, Mod berusaha tegar di samping Isabella yang terbaring lemah, sedangkan Moa masih menangis tanpa henti di ruang tamu keluarga Mikaelson.
Kejam sekali.. kenapa tega melakukan hal itu.. hiks.. hiks.. - Mod.
Sekarang.. apakah aku masih bisa percaya bahwa kau masih hidup? Dengan tubuh yang terikat rantai bisakah kau membebaskan dirimu sendiri di tengah laut?? - Moa.
Moa menangis sejadi-jadinya, pria itu memukul tangannya keras ke tembok. Ia menyesal, andai saja dia tidak pergi membeli minuman malam itu mungkin ia bisa membantu Densha melawan sang penculik, dan semua ini tidak akan terjadi.
"Moa.."
"Ng.. Mod? Apa nona Isabella sudah tidur?"
"Iya, dia tidak mau makan dan minum apapun seharian ini" Mod duduk di samping Moa yang nampak kacau.
"Jelas saja dia begitu!"
"....."
"Sekarang, mungkinkah Densha bisa selamat? Ini sudah dua hari sejak kejadian itu.."
"Moa.. jangan berhenti berharap!" Mod menyentuh bahu Moa dengan lembut.
"Bagaimana aku bisa berharap Mod? Hiks.. hiks.. kau tidak dengar kata detektif? Penjahat itu bilang bahwa mereka mengikat tubuh Densha dengan rantai!! Bahkan mereka menggemboknya! Menggembok!! Dengan posisi seperti itu mereka melempar tubuh Densha ke tengah laut, bisakah kau bayangkan? Apa menurutmu dia akan selamat dengan posisi seperti itu?"
"...."
Mata Mod membulat lebar, ini pertama kalinya ia melihat Moa yang frustasi karena kehilangan sahabatnya, tanpa ijin Mod memberanikan diri untuk memeluk Moa, gadis itu berusaha menenangkan Moa.
"Moa.. kumohon! Jangan berhenti berharap dan teruslah berdoa.. semuanya akan baik-baik saja!"
"Hiks.. hiks.. hiks.." Moa membalas pelukan Mod, ia menangis di dalam pelukan gadis itu.
Aku akan menuntut pembalasan terhadap kematian Densha.. - Moa.
~
Crasshh..
Crasshh..
Crasshh..
"Densha?"
"Densha, buka matamu!"
Fuu menepuk wajah Densha pelan, gadis itu menyentuh dahi Densha untuk memeriksa tubuh pria itu, demamnya saat ini sudah turun.
"Ng.. sakit sekali kepalaku!" Gumam Densha pelan, pria itu menyentuh belakang lehernya yang terasa sakit. Seketika matanya terbuka dan ia sungguh terkejut, membuatnya terlonjak bangun dari tidurnya.
"Hah?! Tanganku?? Dimana rantainya?? Astaga! Dimana bajuku??" Densha menutupi dadanya dengan kedua tangannya, ia menatap tajam pada Fuu memperhatikan gadis itu, dan benar saja. Kaos yang ia kenakan sudah berpindah di tubuh mungil gadis itu.
"Ini.." Fuu menyodorkan tangannya pada wajah Densha.
"Apa?"
"Makan tangan Fuu??"
Eh?? Apa?! Makan tangan?? - Densha.
"Dasar bodoh! Kau pikir aku kanibal hah?! Aku tidak mau!"
"Kanibal?"
"Memakan sesama jenis itu kanibal!"
"Oh.. Maksud Fuu makan yang ada di dalam sini"
Densha menatap Fuu tidak mengerti, gadis itu mengambil benda tajam di sekitarnya dan merobek pergelangan tangannya sendiri, hingga mengeluarkan tetesan darah yang cukup banyak.
"Hei, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri?" Densha meraih tangan Fuu dan berusaha mengobati tangannya.
"Ini.. makanlah.."
"Kau tuli ya? Kenapa aku harus memakan mu?"
"Darah Fuu bisa menyembuhkan segala luka dan penyakit"
"Apa?!"
"Densha sedang sakit.. jadi Fuu ingin menyembuhkan Densha"
"Siapa bilang aku sakit? Aku baik-baik saja tuh!"
Tuing!
Tuing!
Tuing!
Seketika bumi serasa bergoyang, membuat Densha terhuyung-huyung lemas dan jatuh telentang di samping Fuu.
Aku benar-benar sakit ya? - Densha.
"Ini.." Fuu kembali menyodorkan tangannya yang terluka.
"Kau mau aku menghisap darahmu ini?"
Fuu menganggukkan kepala pelan.
"Kenapa kau yakin aku akan sembuh jika meminum darahmu?"
"Fuu pernah melakukannya dan itu berhasil"
"Apa?! Kau pernah apa?"
"Saat Densha sakit waktu itu, Fuu mencampurkan darah Fuu pada minuman Densha dan itu berhasil"
"Astaga! Pantas saja minuman itu rasanya aneh sekali.."
"Ini.. makanlah"
"Iya, iya.. Umm.." Densha terhenti sejenak menatap pergelangan tangan Fuu.
"Jika aku mati! Kau orang pertama yang akan aku hantui!"
"Densha akan baik-baik saja.. Fuu tidak akan menyakiti Densha"
"Benarkah? Kau sudah menyakitiku tuh!"
Densha menghisap darah di pergelangan tangan Fuu secara perlahan, ia merasakan hal yang cukup aneh setelah meminum darah Fuu, badannya terasa segar dengan cepat. Pusing dan rasa sakit di kepalannya seakan hilang entah kemana.
Ehh! Badanku.. membaik - Densha.
"Apa Fuu pernah menyakiti Densha?"
"Ya"
"Fuu tidak ingat.."
"Kau pergi begitu saja tanpa pamit, itu sangat menyakitiku!"
"Itu.. itu karena Fuu merasa sakit di dalam sini" Fuu menunjuk ke arah dadanya.
"Kau bodoh sekali! Kau tahu? Aku dan Moa mencari mu"
"Densha mencari Fuu??"
"Yahh begitulah, malah kau yang menemukanku!"
"Maaf sudah merepotkan Densha.."
"Jangan pergi lagi!" Densha menatap Fuu dengan tajam.
"Fuu tidak ingin menyakiti perasaan Jennie"
"Perasaan apa? Lalu kau ingin menyakiti perasaanku??"
Fuu menatap Densha dengan bingung, terakhir yang dia ingat adalah Densha mengatakan bahwa dirinya menyukai Jennie.
Densha menghela nafas panjang, wajah pria itu bersemu merah, saat ini Densha tidak berani menatap gadis cantik di sampingnya.
"Aku menyukaimu Fuu.."
"Su.. su.. suka?"
"Uhm.. begitulah!"
Mata Fuu terbuka lebar, gadis cantik itu berusaha mencerna kalimat yang di lontarkan Densha. Entah kenapa dadanya terasa sesak akan kesenangan yang berlimpah ruah.
Ssrr..
"Eh? Fuu kau baik-baik saja?"
Ssrr..
Fuu tidak bereaksi apapun, dari kedua lubang hidungnya ia mengeluarkan darah segar, yahh.. gadis itu mimisan saking senangnya.
"Oi.. Fuu??"
Brukk!
"Hei, Fuu apa yang terjadi?? Bangunlah!! Apa kau sakit?? Astaga! Apa aku terlalu banyak meminum darahmu??" Dengan panik Densha mengguncangkan tubuh Fuu dengan kuat, ia menyentuh dahi Fuu yang tidak terasa demam.
"Astaga! Kau ini kenapa? Fuu.. bangun!"
Fuu pingsan karena bahagia, ia senang perasaannya tersampaikan kepada orang yang ia sukai.
"Fuu senang" gumam Fuu pelan di dalam pelukan Densha.
"Ya Tuhan! Kau membuatku khawatir tau!!"
Densha tersenyum lebar mendapati reaksi Fuu yang lucu, ia memeluk Fuu yang pingsan dengan erat.
Jangan pernah meninggalkan aku lagi Fuu.. - Densha.
.
.
.
.
.
.
"Kau sudah sadar??"
"Uhm" Fuu memalingkan wajahnya.
"Kenapa kau ini?"
"Ah! Tidak apa-apa!!"
"Hei, wajahmu memerah tuh?!" Densha mendekatkan wajahnya pada wajah Fuu, membuat wajah gadis itu semakin merah padam.
"Ja.. jangan dekat-dekat!"
Fuu refleks mendorong tubuh Densha agar tidak terlalu dekat dengan dirinya.
"Eh? Kenapa?"
"Dada Fuu seperti mau meledak"
"Hah?! Kau ini aneh sekali! Memangnya kenapa sampai dada mu terasa ingin meledak?"
"Itu.. itu.." Fuu memutar-mutar kedua jari telunjuknya dan memalingkan wajah ke arah lain.
"Lihat?? Wajahmu merah lagi"
"Ini.. ini karena Densha mengatakan itu!"
"Mengatakan apa?"
"Mengatakan sesuatu yang membuat Fuu merinding"
Kata-kataku membuatnya merinding?? Apa pernyataan sukaku malah membuatnya merinding?? - Densha.
Densha menghela nafas panjang, pria itu memalingkan wajah ke arah lain tanpa menatap Fuu. Entah kenapa raut wajahnya berubah sedih dan murung.
"Aku tidak mengatakan apapun Fuu" ucap Densha dengan pelan.
"Eh???"
"Kau salah dengar! Aku tidak pernah mengucapkan apapun!"
"Tidak mungkin, Fuu mendengarnya sendiri! Bahwa.. bahwa.." Fuu menghentikan kata-katanya saat Densha menatap dingin ke arahnya.
"Bahwa apa?? Bahwa aku menyukaimu? Mungkin kau sedang mimpi Fuu.. Haha kau ini lucu sekali!"
Duh! Apa sih yang aku katakan? - Densha.
"Mi.. mimpi?" Rona merah di wajah Fuu memudar, ia menundukkan kepalanya merasa malu dengan ke percayaan dirinya.
"Iya! Aku sungguh tidak mengatakan apapun padamu! Jadi jangan terlalu besar kepala ya?" Densha mengusap kepala Fuu dengan lembut.
"Kepala Fuu tidak besar!!" Fuu menengadahkan kepalanya menatap Densha, bibir gadis itu cemberut tidak karuan.
"Ng.. maksud besar kepala itu bukan dalam artian kepalamu membesar!"
"Bukan??"
"Iya! Bukan.."
"Lalu apa? Fuu tidak mengerti"
Sial! Bagaimana caraku menjelaskannya? - Densha.
"Mmm.. bagaimana ya?" Densha menggaruk-garuk pipi kirinya yang tidak terasa gatal sama sekali.
"Besar kepala itu artinya kau terlalu percaya diri dengan sesuatu, mungkin kau terlalu berharap. Yahh, kurang lebih begitu artinya. Hehe"
Terlalu berharap ya?? Apa Fuu terlalu mengharapkan Densha?? - Fuu.
Apa penjelasanku keterlaluan ya? Sepertinya dia tidak merasa senang.. - Densha.
"Hehe, begitu ya? Maafkan Fuu ya?" Fuu tersenyum lebar menatap Densha.
Ehh.. dia tertawa? Hmm.. maafkan aku ya? Lain waktu aku akan menyatakan perasaanku dengan benar! Tunggulah sampai hari itu Fuu.. Aku janji! - Densha.
Densha tercengang melihat reaksi Fuu yang seperti tidak merasakan apapun, pria itu pikir Fuu akan sedih, bahkan reaksinya kali ini membuat Densha bingung. Apakah gadis itu juga mempunyai perasaan yang sama dengannya, karena setahu pria itu Fuu sama sekali tidak tahu menahu tentang perasaan cinta.
"Hei, Fuu??"
"Ada apa?"
"Pulang lah ke rumah"
"Fuu sudah berada di tempat Fuu seharusnya berada, di sana!" Fuu menunjuk ke arah lautan lepas.
"Apa kau sudah tidak ingin tinggal di rumahku?"
"Uhm.. tidak, Fuu tidak bermaksud begitu! Hanya saja.." Fuu menghentikan kalimatnya, ingatan akan Jennie selalu muncul di kepalanya.
"Apa kau tidak menyukaiku?"
"Eh? Fuu sangat menyukai Densha" jawab Fuu dengan cepat.
"Lalu??"
"Jennie.."
"Jennie? Haha, dengar ya? Aku tidak sungguh-sungguh waktu mengatakan bahwa aku menyukai Jennie.. Maaf ya? Sampai membuatmu menangis"
"Jadi Densha tidak menyukai Jennie?"
"Tidak! Malah aku ingin membunuhnya.. Hehe" Densha tertawa jahat, ia mengingat kejadian beberapa hari lalu saat Jennie berusaha membunuhnya.
"Membunuh??"
"Yang membuatku tenggelam di laut itu Jennie dan dua pria yang tidak aku kenal. Sepertinya pria bayaran"
"Fuu tidak mengerti"
"Intinya, Jennie itu jahat! Dariawal aku tidak memiliki perasaan apapun padanya"
Syukurlah.. - Fuu tersenyum riang mendengar kalimat Densha.
"Kenapa kau tersenyum?"
"Ti.. tidak tuh!"
"Kau tersenyum kok! Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Hehe"
Fuu masih punya kesempatan untuk membuat Densha menyukai Fuu. Astaga! Fuu senang sekali! - Fuu.
"Ayolah.. ada apa?" Tanya Densha yang penasaran.
"Sudah Fuu bilang bukan apa-apa"
"Sungguh?"
"Iya.. Hehe"
"Tuh kan? Kau tertawa lagi, kau menyembunyikan sesuatu dariku kan?"
"Tidak!"
Dengan gemas Densha mendekati Fuu, pria itu berusaha menggoda Fuu agar gadis itu mengatakan apa yang sedang ia sembunyikan.
"Sungguh tidak mau mengatakannya?"
"Uhm" Fuu menganggukkan kepalanya pelan.
"Bagaimana kalau aku memakan mu? Masih tidak mau mengatakannya?"
"Me.. memakan?"
"Yahh, kau ingat kejadian donat dan cumi bakar waktu itu?"
Mata Fuu membulat, gadis itu sangat ingat jelas kejadian saat Densha menciumnya di tengah jalan dengan alasan memakan. Dengan sigap Fuu menutup mulutnya dengan kedua tangan, ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ah! Anu.. Fuu harus mencari ikan untuk makan"
Dengan cepat Fuu berdiri dan berlari menjauh dari Densha, langkahnya terhenti di perbatasan antara air dan pasir. Ia menoleh ke arah Densha yang masih memperhatikannya.
"Densha! Tutup mata!"
"Kenapa?"
"Tutup saja!" Perintah Fuu tegas.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?"
"Fuu akan tetap membuka baju Fuu, ya sudah kalau tidak mau tutup mata" Fuu mengangkat kaos yang ia kenakan ke atas.
"ASTAGA!! DASAR TIDAK WARAS!!" teriak Densha yang langsung menutup kedua matanya.
Benar-benar tidak tahu malu! Tapi memang karena dia duyung kan? - Densha.
"Apa sudah selesai?"
Densha mencoba mengintip dari sela-sela jarinya, ia hanya menemukan kaosnya tergeletak di atas pasir. Fuu sudah tidak lagi berdiri di tempat itu.
Sudah pergi ya? Hmm.. - Densha.
Densha merebahkan tubuhnya di pasir pantai, pria itu merindukan tempat tidurnya yang empuk. Sekarang dia tengah berpikir bagaimana cara dia kembali ke rumahnya, sedangkan saat ini ia tidak tahu dirinya berada dimana?
Kau bilang Isabella akan menemukanmu kan?
Aku meletakkan ponselmu di saku celana mu! Agar Isabella bisa menemukan jenazah mu!!
"Astaga! Benar!! Ponselku" Densha terbangun dari tidurnya, dengan cepat ia merogoh saku celananya dan benar saja ia menemukan ponselnya di dalam sana.
"Semoga bisa menyala!"
Densha mencoba mengaktifkan ponselnya namun di tekan berapa kali pun ponsel itu tidak mau menyala.
"Sial!! Ayolah kumohon! Apa harus aku jemur dulu ya?"
Densha menatap sekeliling mencari tempat yang cocok untuk menjemur ponselnya, walaupun di pikir secara bagaimanapun itu tidak akan berhasil tapi apa salahnya jika di coba, Begitu pikirnya.
"Nah! Ku letakkan disini saja!" Ucap Densha lalu tersenyum manis.
Bersambung.
Jika kalian menyukai Novel ini! Jangan lupa Like, beri komentar dan Vote ya?? 😉🙏 Dukungan kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih!