Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Roosevelt



"Hei!"


"Saya punya nama tuan" jawab Moa ketus.


"Cih! Anak kurang ajar"


Moa membuang muka ke arah lain, ia mendengus kesal karena dinginnya sikap Ayah Mod.


"Siapa namamu?"


"Moa.."


"Nama keluargamu?"


"Collin, namaku Moa Collin"


"Collin?? Seperti nya aku pernah mendengar nama itu, tapi dimana ya?"


"Nama itu bisa di pakai siapa saja kok"


"Apa kau pacar putriku?"


Moa terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh tuan Roosevelt.


"Belum"


"Hah?! Apa maksudnya itu?"


"Kami belum pacaran tapi akan"


"Dih! Percaya diri sekali.."


"Eh? Kenapa? Apa tuan tidak akan merestui kami?"


"Tidak akan"


"Heh?? Kenapa??"


"Kesan pertama yang kau berikan buruk sekali"


"Kesan pertama?" Moa menyentuh dagunya dan mencoba berpikir.


"Lho.. saya kan sudah datang kesini baik-baik, bahkan saya membawakan buah untuk anda"


"Kau pikir itu kesan pertamamu?"


"Nngg.."


"Kau bocah yang waktu itu malam-malam mengantar putriku ke rumah kan?"


"Anda salah paham! Kami tidak dari tempat aneh-aneh waktu itu.. kami hanya menjenguk teman yang sedang sakit"


"Kau pikir aku akan percaya?"


"Mungkin.."


"Anak muda zaman sekarang ini memangnya masih peduli dengan teman?"


"Eh! Tentu saja! Aku sangat mempedulikan teman-temanku"


"Cih!"


"Apa sih?!" Moa berjalan menuju sofa di dalam ruangan itu, ia merebahkan tubuhnya disana dengan tenang.


"Hei, jangan tidur disana!"


"Aku tidak tidur, aku hanya ingin meluruskan punggungku"


"Masih muda sudah sakit punggung? Bagaimana bisa kau menyebut dirimu menyukai putriku? Palingan menggendongnya semenit kau sudah tewas!"


Aku kan tidak bilang sakit punggung? - Moa.


"Aku hanya ingin meluruskan punggung saja, bukan sakit punggung! Lagipula menggendong tubuh Mod yang hanya segitu maupun berhari-hari aku juga sanggup"


"Dasar bocah!! Beraninya kau membayangkan tubuh putriku!!"


"Astaga! Bisa gila aku berada disini lama-lama.." gumam Moa pelan.


BRAAKK!!


Mod membuka pintu ruangan dengan keras, gadis itu melotot menatap ayahnya. Tangannya menggenggam kertas catatan kesehatan ayahnya dengan kuat hingga kertas catatan itu nampak kusut.


"Duh! Bikin kaget saja! Ada apa sih?!" Ucap Moa yang langsung merubah posisinya menjadi duduk.


"APA-APA'AN ISI CATATAN INI?!" Teriak Mod kesal menatap ayahnya.


Sepertinya aku harus diam saja saat ini - Moa.


Mod melangkah mendekati ayahnya, buliran air mata menggenang di sudut mata gadis cantik itu. Tuan Roosevelt yang tidak mampu menatap mata putrinya hanya bisa menunduk malu.


"Sejak kapan?"


"......"


"Ayah, jawab aku! Sejak kapan?"


"......"


"AKU TANYA SEJAK KAPAN??"


"Mmm..." Ayah Mod sama sekali tidak menatap mata putrinya.


"Ayaaahhh..."


"Maaf.. Maafkan ayah"


"Pantas akhir-akhir ini berat badan ayah turun drastis"


"Ayah pasti akan sembuh! Kau tenang saja"


"Bagaimana aku bisa tenang? Kenapa ayah menyembunyikan hal ini dariku?"


"Ayah tidak ingin membuatmu terbebani"


"Justru ayah yang paling terbebani disini!"


"......"


"Jadi, mulai sekarang ayah harus menginap di rumah sakit selama masa pengobatan?"


"Iya, ayah janji pengobatan ini akan segera selesai"


"Ayah boleh mengambil sumsum tulang belakangku jika ayah memang membutuhkannya"


"Tidak! Ayah baik-baik saja!"


Sumsum tulang belakang?? - Moa.


"Jangan bohong ayah!! Jika ayah baik-baik saja, dokter tidak akan menyuruh ayah untuk menjalankan kemoterapi"


"......"


Wajah ayah Mod sangat murung, laki-laki itu merebahkan tubuhnya di ranjang dan tidur membelakangi Mod. Dalam hatinya ia sangat sedih, bagaimana nasib putrinya jika ia harus menjalani perawatan di rumah sakit.


"Ayah.. tidak mau di rawat"


"Jangan bodoh!"


"Bagaimana kau akan menjalani hidupmu sendirian di rumah? Lagipula biaya rumah sakit sangat besar. Ayah tidak punya cukup uang untuk itu"


"Jangan pikirkan soal uang, saat libur sekolah nanti. Aku akan mulai kerja paruh waktu untuk membantu ayah"


Mod mau bekerja paruh waktu?? - Moa.


"Ehem! Anu.. maaf jika aku mengganggu pembicaraan kalian"


"Sudah tahu mengganggu! Kenapa masih di teruskan?!" Sindir ayah Mod ketus.


Cih! Bapak tua ini!! - Moa.


"Jika kalian bingung soal biaya, aku bisa membantu. Jadi jangan ganggu sekolahmu dengan bekerja Mod"


"Tidak apa-apa Moa, aku pasti bisa!"


"Tidak! Tidak boleh"


Anak ini.. apa dia sungguh-sungguh menyukai putriku? - Tuan Roosevelt.


"Bagaimana tuan? Apa anda tega melihat putri semata wayang anda bekerja hingga larut malam? Atau anda setuju dengan bantuan biaya yang saya berikan? Jika Tuan tidak enak, anda bisa melunasinya saat keluar dari rumah sakit nanti"


"Memangnya kau punya cukup uang?"


"Sst! Ayah.." panggil Mod pelan pada Ayahnya.


"Apa?"


"Dia anak orang kaya! Ayahnya itu rekan bisnis keluarga Mikaelson" bisik Mod pelan di telinga ayahnya.


"APA?!" Teriak ayah Mod kaget.


Ayah Mod memandangi tubuh Moa dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, tidak percaya.. bahwa putrinya ternyata disukai oleh anak orang kaya.


Siapa tahu dia ini di belakangnya ternyata anak yang brengsek!! Ya kan?? - batin tuan Roosevelt waspada.


"Bagaimana tuan??"


"Oke! Aku setuju! Aku juga tidak mau Mod bekerja keras dalam masa sekolahnya saat ini, aku juga ingin putriku menghabiskan liburannya bersamaku disini. Bukannya bekerja paruh waktu!"


"Baiklah.. aku keluar untuk mengurus semua biayanya"


"Moa.. anu.. terima kasih" ucap Mod lembut dan tersenyum.


Moa melirik Mod dengan ekor matanya, ia hanya menganggukkan kepala pelan lalu melangkah pergi meninggalkan kamar inap ayah Mod.


"Kau yakin dia bukan pacarmu?"


"Bukan ayah"


"Jika kau menyukainya. Ayah tidak akan mempermasalahkan hubungan kalian"


Jika ayah tahu bahwa ibu berselingkuh dengan ayahnya Moa. Apakah ayah tetap tidak akan mempermasalahkan nya? - Mod.


"Kenapa diam saja?"


"Ah! Tidak.. ada hal yang ingin aku bicarakan pada ayah"


"Ada apa sayang?"


"Aku akan membicarakannya saat ayah sudah sembuh, hehe"


"Dasar kau ini! Selalu saja memberi syarat!"


"Hehe maaf.. maaf.. aku janji akan cerita setelah ayah sembuh"


"Baiklah! Ayah pasti sembuh kok!"


"Baguslah!!"


Mod menyimpan kertas yang sudah tidak berbentuk itu ke laci meja sebelah ranjang tempat tidur ayahnya.


"Kanker darah??"


"Ya begitulah, ayah juga tidak tahu sejak kapan ayah punya penyakit itu"


"Ayah kan harus membesarkan putri ayah dengan baik. Hehe"


"Ayah sudah melakukannya dengan benar kok" ucap Mod dan tersenyum.


"Belum, ayah ingin melihatmu menikah suatu hari nanti"


"Kalau begitu, ayah harus rajin melakukan perawatan agar bisa melihatku menikah suatu hari nanti"


"Oke" ucap ayah Mod menganggukkan kepala.


Kanker darah stadium 3?? Bagaimana bisa ayah menyembunyikan rasa sakitnya padaku selama ini? - Mod.


Di lain sisi hati Mod seakan hancur berkeping-keping, belum selesai masalah tentang ibunya. Sekarang ayah yang sangat dicintainya jatuh sakit, bagaimana ia bisa menghadapi masa sulit seperti ini. Belum lagi bulan depan gadis itu harus menjalani ujian sekolah, biaya untuk ujian pun belum di bayar lunas.


Aku harus bagaimana? - Mod.


***


Pagi berganti sore, sore berganti malam. Malam itu hujan badai melanda kota kecil tepi laut, seorang gadis melamun menatap luar jendela dengan serius. Nampaknya ia sedang memikirkan sesuatu, sesuatu yang membuatnya bingung.


Fuu yakin sekali.. bahwa gadis yang Fuu lihat itu bukanlah Katrina. Apa benar Fuu hanya mengalami dejavu? - Fuu.


"Hei, kau sedang apa?!"


"Ah! Densha.."


"Kebiasaan tidak pernah menjawab pertanyaan terlebih dahulu!"


"Anu, Fuu hanya melihat hujan"


"Daripada melakukan hal tidak berguna seperti memandangi air hujan, lebih baik kau belajar"


"Eh? Belajar? Untuk apa?"


"Bulan depan kan ujian"


"Apa itu?"


"Semacam tes di sekolah, menentukan kepintaran seseorang"


"Begitu ya? Fuu kan sudah pintar, jadi tidak perlu di tentukan"


"Cih! Pintar darimana? Kalau bukan karena bibi, kau tidak bisa masuk sekolahku tahu!"


"Fuu tidak mengerti"


"Intinya kau harus belajar mulai dari sekarang!!"


"Apa Densha akan mengajari Fuu?"


"Ya, hanya yang tidak kau mengerti saja ya?"


"Okay, baik!"


"Ayo! Duduk di meja belajar sana!"


"Uhm" Fuu menganggukkan kepala pelan.


Beberapa menit kemudian setelah Fuu selesai membaca materi pelajaran, gadis itu menyenderkan punggung ke kursi lalu menghela nafas yang begitu panjang.


"Haaahhh..."


"Ada apa? Bagian mana yang tidak kau mengerti?" Densha menutup buku yang ia baca, lalu berdiri di belakang Fuu.


"Semuanya.."


"Apa?!"


"Fuu tidak mengerti semuanya.. angka-angka ini membuat kepala Fuu sakit"


"Ini bukan angka, ini rumus"


"Di tempat Fuu tidak ada yang namanya rumus"


"Sekarang kan kau tinggal di tempatku, jadi kau harus mempelajari situasi di tempat ini. Jangan di banding-bandingkan dengan tempatmu"


"Tapi..." Rengek Fuu manja.


Tuk!!


Densha memukul kepala Fuu pelan dengan buku tebal yang ia pegang. Pria itu menatap tajam ke arah Fuu yang sedang malas belajar.


"Aduh!"


"Jangan banyak alasan! Dan belajar saja! Jika tidak mengerti aku akan mengajarimu dari awal"


"Huft!"


"Jangan cemberut!


"Iya-iya"


"Nah.. yang ini caranya begini.."


Densha mengajari Fuu dengan sungguh-sungguh, untungnya karena Fuu seorang duyung dan di berkati IQ yang lumayan, gadis itu jadi cepat mengerti dan memahami materi yang di ajarkan oleh Densha.


"Daripada pria botak di depan papan tulis, Fuu lebih mengerti saat Densha yang memberi pelajaran untuk Fuu"


"Benarkah??"


"Iya, sungguh!"


"Semua yang aku ajarkan padamu ini juga berasal darinya tuh"


"Eh? Masa??"


"Makanya kalau di sekolah dengarkan gurumu saat memberi penjelasan! Jangan memandang ke arahku terus"


"Iya, lain kali Fuu akan begitu"


PTASS!!


"Lho??"


"Lampu mati??"


"Hore! Jadi belajarnya sudah selesai ya? Benar kan Densha?"


"Enak saja! Sebentar aku akan menyalakan lilin"


"Ah! Fuu haus, Fuu ingin minum" Fuu berdiri dari tempat duduknya. Gadis itu berjalan keluar kamar Densha.


"Jangan lama-lama ya?!"


"Okay, baik!"


Beberapa menit kemudian.


"Ck! Lama sekali anak ini!!"


Densha menyusul Fuu ke dapur, melihat apa yang sebenarnya di kerjakan gadis itu. Kenapa ia belum juga kembali ke kamar untuk belajar, pria itu menyalakan lilin sebagai alat penerangannya.


"Fuu?" Panggil Densha pelan.


"Hoi Fuu! Kemana kau?"


Dimana dia?? - Densha.


Densha celingak-celinguk mencari Fuu namun tidak ia temukan, ia melangkah ke dapur sambil membawa lilin dan tetap saja tidak ada Fuu disana.


Crash!!


Siraman air membasahi wajah dan baju Densha, bahkan lilin yang ia nyalakan sampai padam karena cipratan air.


"Ya tuhan! Kau ini kenapa?"


"Densha?? Itu kamu?"


"Tentu saja! Sudah gila ya? Menyiram orang sembarangan?"


"Maaf, Fuu tadi sedang bersembunyi"


"Bersembunyi?! Sembunyi dari apa?! Hei, ini bukan waktunya bermain" tegas Densha.


"Ada yang mengawasi Fuu"


"Hah?! Kau bercanda?"


"Tidak! Fuu berkata benar, ada seseorang yang memperhatikan Fuu dari luar jendela sana!" Fuu menunjuk ke arah kaca jendela dapur.


Densha membuka jendela dapur dan memandang keluar, namun tidak ada siapapun disana.


"Tidak ada apa-apa kok"


"Tapi.. Fuu yakin sekali"


"Mungkin kau berhalusinasi! Besok aku akan mengantarmu ke laut, kau harus merefresh isi kepalamu itu!"


"Apa benar itu hanya bayangan Fuu saja?"


"Ya kalau bukan, mungkin itu orang suruhan bibi yang mengawasi kita"


"Uhm.."


"Kenapa?"


"Apa pengawal nona Isabella ada yang perempuan?"


"Aku tidak tahu! Besok akan aku tanyakan!"


"......."


"????"


"Orang itu..."


"Apa?!"


"Ah! Ti.. tidak! Bukan apa-apa"


"Ya sudah, ayo kembali ke kamar"


"Iya" Fuu menggandeng tangan Densha, gadis itu benar-benar merasa cemas.


Siapa ya? Perempuan itu mirip sekali dengan Densha.. matanya, bibirnya, hidungnya dan warna rambutnya itu, lalu kulit putih bersihnya itu.. - Fuu.


Fuu memandangi warna kulitnya sendiri, tanpa sadar ia mengukur tingkat warna kulitnya dengan Densha. Gadis itu menempelkan tangannya pada pria itu, hal itu membuat Densha menoleh ke arahnya.


"Kenapa?"


"Ah! Tidak apa-apa! Hehe" Fuu menarik tangannya kembali dan tersenyum memandang Densha.


"Dasar aneh!"


"Hehehe"


Lebih putih Fuu.. - Fuu.


Bersambung!


Jika kalian menyukai novel ini, mohon bantuannya untuk klik Like ❤️ komentar dan rating ya? Jangan lupa favorit! Dukungan kalian sangat berarti bagi saya. Terima kasih 😘🙏