
TRING!!
"Mm??"
Isabella melirik ponselnya dari jauh, ia sudah kehilangan harapan akan keselamatan Densha keponakannya. Jadi dia tidak begitu tertarik dengan apapun notifikasi yang muncul di layar ponselnya.
"No.. nona Isabella, ponsel anda menyala!"
"Biarkan saja Mod!"
"Ta.. tapi.. bagaimana jika itu.."
"Ayolah! Cek ponselmu!" Perintah Moa tegas.
"Oke.. oke.. aku akan memeriksanya"
Isabella meraih ponselnya dan melihat notifikasi yang muncul di layar ponselnya, mata wanita itu terlihat bersinar. Wajahnya begitu bahagia dan sumringah, bahkan ia sampai menangis karena bahagia.
"Eh??" Moa melirik ke arah Mod penasaran, lirikan Moa di balas oleh Mod yang menggeleng-gelengkan kepala pelan.
"Nona? Ada apa?"
"Densha.." gumam Isabella pelan.
"Eh? Densha?? Kenapa??" Moa dan Mod bertanya secara bersamaan.
"INI SINYAL DARI HANDPHONE DENSHA!!" Teriak Isabella senang.
"Apa?! Syukurlah.." Mod terharu mendengar kabar bahagia itu, tanpa sadar gadis itu memeluk Moa yang duduk di sampingnya.
"Maaf Moa.." ucap Mod dan melepas pelukannya pelan-pelan.
"Tidak apa-apa" Moa tersenyum senang, ia bersyukur sudah menemukan titik terang keberadaan Densha, kini ia hanya berharap agar sahabatnya itu baik-baik saja.
"Ayo cepat! Lacak lokasinya saat ini!"
"Dasar bocah! Tanpa kau suruh aku juga akan melakukannya"
"Hei! Siapa yang kau panggil bocah?"
"Tentu saja kau! Siapa lagi?!"
"Dasar nenek sihir!!"
"HEH?! KAU MEMANGGILKU APA?!" Isabella meninggikan suaranya, wanita itu menatap Moa dengan tajam.
"Kau sendiri juga memanggilku bocah kan?!"
"Karena kau memang bocah!!"
Mod kebingungan melihat tingkah Isabella dan Moa yang meributkan hal tidak penting.
"Anu, itu.. Moa.." Mod mencoba bicara dengan pelan.
"Jangan ganggu aku Mod!!" Bantah Moa, ia menghentikan kata-kata Mod dengan menunjukkan jari telunjuknya.
Eh?? - Mod.
"Apa yang membuatmu memanggilku bocah??"
"Haha, masih tidak sadar diri?? Jelas lebih tua aku daripada dirimu!" Sindir Isabella ketus.
"Nenek sihir bodoh!! Memangnya umur bisa menentukan bocah tidaknya seseorang?"
"Itu.. itu.. Nona Isabella.. ku mohon.." ucap Mod pelan.
"BERISIK!!" Isabella membentak Mod yang mencoba menghentikan pertengkaran kecil antara dia dan Moa.
Be.. berisik katanya?? - Mod.
"Memangnya sudah berapa gadis yang kau tiduri?"
"Me.. me.. meniduri?" Moa mendelik mendengar pertanyaan Isabella.
Kalian ini!! - gumam Mod di dalam hati yang mulai tersungut emosinya.
"Nah! Kau bahkan bujangan dari lahir! Masih tidak mau ku sebut bocah?"
"KALIAN BERDUA HENTIKAN!! DASAR BRENGSEK!!" Mod berteriak kencang, memaki Isabella dan Moa di depannya. Ia menatap Moa dengan kesal, gadis itu berjalan mendekati Moa, Moa yang panik hanya menatap bingung ke arah Mod yang tengah mendekatinya.
"Ke.. kenapa?"
PLAKK!!
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Moa, membuat pria itu terkejut bukan main. Ia memegang pipi kirinya yang terasa sakit.
"Kau ini kenapa?"
"KAU YANG KENAPA??"
"Hah?! Aku??"
"Siapa kau beraninya menyuruhku diam! Yang lebih penting sekarang adalah Densha, kenapa kau malah meributkan hal tidak berguna!!" Cerocos Mod panjang lebar, gadis itu berapi-api memarahi Moa pria yang ia sukai.
"Hei, kenapa hanya aku?! Isabella juga sama berisiknya kan?"
"Tutup mulutmu Moa!" Mod menatap Moa dengan tajam, seperti ingin mencincang Moa habis-habisan.
A.. ada apa dengan gadis ini?! - Moa.
Benar-benar mirip dengan kakak ipar! - Isabella.
"Ehem!" Isabella berdeham mencoba membuka pembicaraan agar situasi saat ini tidak semakin tegang.
"Roosevelt kau kejam juga! Haha" puji Isabella.
"Panggil aku Mod saja nona"
"Baik-baik! Mod, maaf atas keributan ini"
"Tidak apa-apa! Ehm.. bisakah kau meneruskan untuk melacak lokasi Densha?"
"Baiklah Mod"
"Cih! Tidak adil!!" Sindir Moa ketus. Mod menatap Moa dengan kesal, membuat pria itu memalingkan wajahnya.
Dih! Kenapa aku jadi ciut begini?! - Moa.
Isabella mengotak-atik ponselnya dengan cepat, sesekali wanita itu mendengus dengan kesal atau menghela nafas panjang. Mungkin wanita itu menemukan kesulitan dalam melacak lokasi Densha. Mod dan Moa hanya duduk manis sambil terus berdoa agar semuanya di beri kelancaran, walaupun sesekali Moa menyentuh pipi kirinya karena masih ada trauma yang tertinggal disana.
"Ketemu!"
"Kyaa.. Syukurlah"
"Aku akan menghubungi orang-orangku terlebih dahulu"
"Baik nona!"
Mod, Moa dan Isabella pergi menuju suatu tempat, tempat yang sudah di tentukan oleh orang-orang Isabella untuk berkumpul dan memulai pencarian Densha. Isabella juga membayar dua orang detektif untuk membantunya mengusut masalah Densha sampai tuntas.
Aku akan menemukanmu sayang.. - Isabella.
Di tengah laut ada satu pulau tidak berpenghuni, pulau itu sangat kecil dan jarak untuk mencapai pulau itu cukup jauh. Di sana ada seorang pria tengah bermain air.. Yah, bermain air dengan gadis duyung dalam wujud duyung nya, entah apa yang mereka berdua lakukan, Densha hanya berlarian kesana-kemari seperti mengejar sesuatu.
"Itu disana!"
"Baik.." Fuu menyelam di dalam air berusaha mengejar ikan yang di tunjuk oleh Densha, gadis itu berenang sangat cepat.
"Wah, cepat sekali!" Puji Densha mengagumi kecepatan berenang Fuu.
"HOI FUU!! JANGAN CEPAT-CEPAT!!" Teriak Densha dengan kencang.
Blup!
Fuu memunculkan sebagian kepalanya ke permukaan, ia berenang mendekati Densha.
"Kalau Fuu tidak cepat.. Fuu tidak bisa menangkap ikan itu"
"Ah! Benar juga! Maaf ya? Haha" Densha berkacak pinggang menatap hamparan air laut di depannya. Pria itu duduk berjongkok agar bisa lebih santai berbicara dengan Fuu.
"Apa pemandangan di dalam sana bagus?"
"Pemandangan?"
"Maksudku.. Emm.. itu, apa suasana di dalam sana indah?"
"Uhm" Fuu menganggukkan kepala antusias.
"Benarkah?? Apa di dalam sana sungguh cantik?"
"Ada yang cantik, tapi ada yang tidak!"
"Haa.. andai aku juga bisa melihatnya"
"Densha ingin melihatnya?"
"Tentu saja!"
"Kenapa tidak bilang pada Fuu? Fuu bisa membawa Densha ke sana" gadis itu tersenyum sangat lebar, ia menggenggam tangan Densha dengan lembut.
"Eh? Benarkah?"
"Iya.. Ayo!"
"Ehm.. ba.. baiklah!" Ucap Densha ragu.
Densha mengambil nafas dalam-dalam sebelum Fuu benar-benar membawanya menyelam ke dalam lautan, mereka hanya berkeliling ke lautan dangkal. Fuu menggenggam tangan Densha dengan erat, tidak membiarkan genggaman nya renggang sama sekali, sesekali Densha juga berenang ke permukaan untuk mengambil nafas, di dalam air ia melihat banyak terumbu karang yang cantik-cantik, ikan warna-warni berenang kesana-kemari dan berkumpul mengikuti mereka seolah menyambut kedatangan mereka berdua.
Indah sekali.. - Densha.
Pria itu tersenyum memandangi keindahan bawah laut, beruntung sekali Fuu yang tinggal di dalamnya. Mata Densha tertuju pada cekungan dasar laut yang membentuk huruf U, di tempat itu banyak di tumbuhi tumbuhan air, pasir di dalam sana jelas sekali terlihat berwarna putih bersih, mungkin karena sinar matahari yang terik dan air laut yang jernih tempat itu jadi terlihat dengan jelas.
Densha menunjuk ke arah cekungan itu, ia ingin berenang di dalamnya. Fuu tersenyum menatap Densha, gadis itu mencoba mengatakan sesuatu namun yang terdengar dari mulutnya hanyalah senandung-senandung indah yang sama sekali tidak di mengerti oleh Densha.
Kenapa Fuu bernyanyi?? - Densha.
Fuu menggenggam tangan Densha semakin kuat, gadis itu memutar siripnya dan berenang menuju ke arah cekungan yang ingin di kunjungi Densha.
Eh?? Cepat sekali! - Densha.
Tunggu! Aku belum mengambil nafas - Densha.
Blup!
Blup!
Blup!
Na.. nafasku.. - Densha.
Dengan sigap Fuu memeluk tubuh Densha dan berenang secepat kilat menuju permukaan, tanpa sadar Fuu tersenyum menatap Densha yang tengah menahan nafas. Ekspresi Densha kali ini cukup aneh, membuat Fuu tidak tahan jika tidak tertawa.
"Hah! Hah! Hah!"
Nafas Densha tidak beraturan, ia menghirup nafas berulang kali. Tangan kanan nya tetap memeluk bahu Fuu dengan erat agar dirinya tidak tenggelam ke dasar laut.
"Hehe, Densha imut"
"Apa katamu?! Hah! Hah!" Densha melirik ke arah Fuu yang tengah tersenyum-senyum tidak jelas.
"Densha imut" ucap Fuu dan tersenyum.
"Imut?? Aku hampir mati malah kau bilang imut??"
"Hehe"
"Jangan tertawa! Dasar bodoh! Bisa-bisanya kau berenang ke dasar laut tanpa memberiku waktu untuk mengambil nafas ke permukaan"
"Eh?? Fuu sudah bertanya tapi Densha tidak menjawab, jadi Fuu langsung membawa Densha ke tempat itu"
"Kapan kau bertanya?"
"Saat Densha menunjuk ke arah cekungan itu"
Apa maksudnya saat dia bernyanyi tadi? Tapi aku tidak mendengar apapun di dalam sana.. aku hanya mendengar senandung lagu yang indah - Densha.
"Maksudmu saat kau bernyanyi?"
"Bernyanyi??"
"Kau mengeluarkan suara-suara aneh seperti nyanyian.."
"Senandung??"
"Yah, maksudku itu!"
"Fuu berbicara dengan normal kok"
Densha terdiam menatap Fuu, ia tengah memikirkan sesuatu.
"Fuu! Ayo menyelam dan katakan sesuatu di dalam air, aku akan mencoba mendengarnya. Bagaimana?"
"Sesuatu??"
"Iya! Apa kau mengerti??"
"Okay, baik"
Dengan hitungan ketiga Densha dan Fuu menyelam ke dalam air, mereka saling berhadapan. Densha memberikan isyarat agar Fuu mengeluarkan kata-katanya, mulut Fuu memang terbuka dan seperti mengatakan sesuatu, namun Densha tetap tidak bisa mendengar apapun yang dikatakan oleh Fuu, ia hanya mendengar nyanyian. Yahh.. yang ia dengar adalah nyanyian duyung, jika di dalam air duyung berbicara dengan menggunakan suara nyanyian yang mereka keluarkan. Bahkan untuk duyung yang tidak pernah menyentuh daratan, mereka tidak bisa berbicara sama sekali seperti ibu Fuu waktu itu.
"Fuah! Hah! Hah!"
"Bagaimana?"
"Aku tidak mendengar apapun! Kau hanya bernyanyi di dalam sana"
"Jadi, meskipun Fuu berbicara dengan bahasa manusia. Di dalam air yang keluar hanyalah nyanyian duyung"
"Nyanyian duyung??" Densha mengangkat sebelah alisnya penasaran.
Pantas saja! Saat aku tenggelam dan terikat rantai malam itu, aku sama sekali tidak mengerti apa yang Fuu katakan - Densha.
"Itu.. cara Fuu berbicara dengan sejenis Fuu"
"Memangnya tadi kau mengatakan apa di dalam air?"
"Sesuatu"
"Iya! Apa?"
"Sesuatu"
"Sesuatu itu apa Fuu?!" Densha melotot ke arah Fuu, pria itu kesal karena Fuu seolah menyembunyikan sesuatu darinya.
"....."
"Ya Tuhan! Kau mengatakan sesuatu di dalam sana? Lalu sesuatu itu apa?!!"
"...." Fuu menatap bingung ke arah Densha, gadis itu mengernyitkan dahinya lalu sedikit memiringkan kepalanya.
"Tunggu! Maksudmu kau hanya mengatakan 'SESUATU' di dalam sana?!"
"Iya, bukankah Densha yang menyuruh Fuu untuk mengatakan sesuatu"
Ya Tuhan! Kenapa tidak kau bunuh saja aku?! Sudah berapa kali aku terjebak permainan kata dengan gadis ini.. - Densha.
"...." Densha mengusap-usap wajahnya dengan kesal, ia mencoba menenangkan emosinya yang hampir meledak. Dengan sedikit malu-malu ia melirik ke arah Fuu lalu tersenyum, senyumnya ini karena ia malu sudah menanyakan hal bodoh pada Fuu.
"Aku jadi penasaran! Seberapa banyak mereka. Hehe"
"Densha mau bertemu mereka?" Tanya Fuu yang tidak menyadari bahwa Densha hanya berusaha mengalihkan pembicaraan untuk membuang rasa malunya karena kalah bicara dengan Fuu.
"Ehm.. tidak juga! Pasti tempatnya jauh di dalam sana, aku tidak bisa bernafas dalam air Fuu"
"Benar juga.. Fuu tidak ingat bahwa duyung hanya tinggal di dasar lautan terdalam, agar bangsa Fuu tidak terlihat oleh manusia. Dan itu juga melindungi kami dari gangguan pemangsa"
Pemangsa?? - Densha mendelik menatap Fuu, pria itu celingak-celinguk menatap sekeliling, ia terkejut karena posisinya saat ini cukup jauh dari pulau tempatnya terdampar.
"Fuu! Ayo cepat! Bawa aku ke daratan!!" Densha mengguncang-guncangkan tubuh Fuu keras.
"Eh? Kenapa?"
"Sudah cepat! Bawa aku ke sana!!"
"Kenapa tangan Densha gemetar??"
Astaga! Bagaimana caraku menjelaskannya? Tentu saja aku takut jika tiba-tiba di tempat ini ada hiu atau apapun itu.. - Densha.
"Ayo Fuu! Bawa aku pergi dari sini!"
"Okay, baik!"
"....."
Wajah Densha sungguh pucat pasi, pria itu tidak memikirkan apapun soal Hiu dan hal berbahaya lainnya di dalam laut saat Fuu mengajaknya berenang di dalam sana, ia baru menyadarinya ketika Fuu mengatakan pemangsa. Densha jadi teringat beberapa film hiu ganas yang pernah ia tonton bersama Moa, hiu-hiu pemakan manusia yang mengerikan.
Sesampainya di perairan dangkal Densha segera berdiri dan menggendong tubuh Fuu dalam wujud duyung ke daratan, ia meletakkan Fuu sedikit jauh dari air agar gadis itu bisa merubah wujudnya. Karena lelah Densha hanya rebahan di samping Fuu sambil memejamkan matanya.
"Densha?? Ada apa?"
"Hmm??"
"Kenapa buru-buru keluar dari air?"
"Aku takut"
"Takut??"
"Aku takut saat kau bilang pemangsa"
"Eh?? Kenapa??"
Densha mengangkat tubuhnya, merubah posisinya yang tengah rebahan menjadi duduk di samping Fuu.
"Dengar Fuu! Aku pernah nonton Film hiu dan hiu-hiu itu menyeramkan! Bahkan mereka memakan manusia, jadi.. aku hanya merasa tidak aman jika terlalu jauh dari daratan"
"Hiu?? Hehe"
"Kenapa tertawa?"
"Hiu memang pemangsa, tapi di tempat tadi tidak ada hiu.. Densha tidak perlu khawatir"
"Hah?! Tidak perlu khawatir bagaimana? Tidak pernah dengar Hiu terdampar??"
"Fuu tidak pernah dengar"
"Tentu saja! Kau kan tidak punya TV di dalam air" gerutu Densha kesal.
"Tapi tempat itu aman"
"Bagaimana jika hiu itu tiba-tiba muncul??"
"Fuu hanya perlu berenang dengan cepat kan?"
"Iya! Kau berenang dengan selamat ke pulau dan aku jadi sasaran empuk hiu itu? Begitu?!"
"Eh? Tidak-tidak.. bukan begitu!"
"Aku tidak bisa berenang secepat dirimu!"
"Fuu tidak akan melepaskan Densha" jawab Fuu polos.
"....."
Mata Densha berbinar mendengar kalimat polos Fuu, entah kenapa ia sangat senang mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Fuu. Wajahnya memerah, ia hanya tersenyum tipis memandang Fuu di sampingnya.
Sebenarnya.. kau tahu tidak sih apa yang sedang kau katakan?? - Densha.
"Ehh??"
Mata Densha beralih menatap tubuh Fuu yang mulai berlumuran darah segar, sisik di siripnya bahkan ada yang mengelupas dan jatuh ke pasir pantai.
"Fuu! Kau berdarah!!" Teriak Densha panik, secara tidak sadar pria itu memundurkan tubuhnya sedikit untuk menjauhi Fuu.
"A.. A.. Apa yang terjadi? Kenapa kau begitu?"
Bersambung..
Jika kalian menyukai Novel ini! Mohon dukungannya untuk Like ❤️, Komentar 👇 dan Vote. Beri rating juga ya? Dukungan kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih.. 😉😘