
Sudah tiga hari semenjak tragedi nafas buatan yang dilakukannya untuk Moa, Fuu jadi pendiam. Bahkan pada Densha gadis itu tak lagi banyak bicara.
Ini sudah kesekian kalinya Fuu mengurung diri di dalam kamar mandi, tidak seperti biasanya gadis itu menghabiskan waktu yang lama untuk sekedar mandi.
Tok!
Tok!
Tok!
"Fuu??"
"Ada apa Densha?? Tidak di kunci" sahut Fuu lemah dari dalam kamar mandi.
Tidak di kunci katanya?? Memangnya siapa yang mau masuk! Cih!! - Densha.
KLAP!
(Suara pintu terbuka)
"Aku masuk ya?? Kita harus bicara!"
*Author : Hei!! katanya gak masuk!!
Densha melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi, ia melihat Fuu yang menenggelamkan sebagian tubuh hingga kepalanya ke dalam air. Tidak heran! Karena Fuu mampu bernafas dalam air, jadi Densha tidak terlalu khawatir dengan aksi Fuu kali ini.
Pria tampan itu duduk membelakangi Fuu, ia menghela nafas panjang. Tanpa sadar Densha menyandarkan bahunya pada bak mandi.
"Hei Fuu"
"Apa?"
"Kau kenapa? Tidak seperti biasanya"
Fuu memunculkan kepalanya dari dalam air, posisinya saat ini sedang duduk. Pelan-pelan ia menekuk kedua kakinya dan menyandarkan dahinya pada kedua lututnya.
"Fuu tidak tahu, ada rasa sesak di dalam dada Fuu"
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku ya?"
Fuu refleks menengadahkan kepalanya cepat, bagaimana Densha bisa tahu apa yang sedang dirasakannya saat ini.
"Aku benar kan?!"
Bahkan Densha tidak sedang melihat ke arahnya, Fuu mendekati kepala Densha pelan-pelan dan mengusap rambut Densha dengan lembut.
"Eh?? Kenapa??" Densha terkejut dan langsung menggenggam jemari Fuu lembut.
"Apa Densha mempunyai mata tambahan di belakang kepala??"
"Mata tambahan?? Kau pikir aku alien??"
"Apa itu alien??"
"Alien itu makhluk luar angkasa"
"Oh... Jadi Densha alien??"
"Bukan!! Jangan mengalihkan pembicaraan! Ayo jawab" pinta Densha tegas.
Mendadak raut wajah Fuu jadi murung, namun Densha tak melihatnya. Ia tak mau menanggung resiko mendadak serangan jantung jika melihat Fuu telanjang bulat.
"Soal Moa ya??" Gumam Densha pelan.
"........"
"Kau diam lagi! Berarti aku benar"
"Maaf...." Ucap Fuu lirih.
"Apa Moa menyakitimu??"
"Tidak" Fuu menggelengkan kepala pelan.
"Lalu kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi diantara kalian??"
Fuu menggapai kedua tangan Densha dengan lembut, dengan terpaksa Densha jadi harus menatap wajah Fuu. Ia menguatkan diri sendiri untuk hanya menatap wajah gadis itu, bukan menatap yang lainnya.
"Mau apa??" Tanya Densha bingung.
"Fuu akan memperlihatkan semuanya"
Diiringi nyanyian duyung yang keluar dari bibir Fuu, cahaya lembut memancar dari dahi gadis itu. Ia memejamkan kedua matanya, Fuu juga menyuruh Densha untuk memejamkan kedua matanya.
Kepingan-kepingan memori insiden beberapa hari yang lalu tergambar jelas di kepala Densha, namun yang ada di bayangannya tentu saja sudut pandang Fuu. Pria itu mengernyitkan dahi seolah ikut merasakan sakit saat Katrina menginjakkan kakinya berulang kali pada kepala Fuu.
Hingga bayangan Moa yang tenggelam terlintas, ia melihat betapa susahnya sahabatnya itu menahan rasa sakit pada kakinya dan menahan sisa-sisa oksigen di rongga mulutnya.
Nafas Densha mulai panik saat ia melihat wajah pucat putih milik Moa, wajahnya benar-benar mirip orang yang akan mati. Di sana ia juga merasakan kebimbangan yang dirasakan juga oleh Fuu, saat ingatan Fuu membawanya ke tahap penyelamatan itu, Densha menarik kedua tangannya dengan paksa.
"Hentikan!" Mata Densha terbuka lebar, ia kembali membalikan badannya menghadap ke sisi lain.
Fuu yang melihat reaksi Densha jadi semakin sedih dan khawatir, gadis itu kembali menenggelamkan tubuhnya pada air di bak mandi.
"Kau jadi begini karena itu?!"
"........"
"Kau merasa bersalah??"
"........"
"Kau merasa dirimu berkhianat??"
"........"
"Kau takut aku kecewa??"
"........"
"Hah...." Densha menghela nafas panjang. "Aku memang kecewa..."
"Densha?? Maaf..." ucap Fuu sedih.
Densha melirik pada Fuu, pria itu mengusap wajahnya sendiri dengan gemas dan kasar.
"Aku akan lebih sangat kecewa jika kau membiarkan dia mati!!" Sahut Densha cepat.
"Apa?"
Densha terdiam, ia melamun. Matanya seolah menerawang ke masa lalu, masa-masa dimana ia mulai berteman dengan Moa. Satu-satunya teman yang mau berteman dengan dirinya disaat kedua orang tuanya tiada.
"Moa... Adalah satu-satunya temanku dari kecil"
"........."
"Di saat yang lain merundungi (bully) aku karena keadaanku yang yatim piatu, Moa satu-satunya orang yang berdiri di depanku dan membelaku"
Fuu mendengarkan cerita Densha dengan baik, gadis itu sesekali menganggukkan kepala pelan.
"Dia tidak akan segan memukul anak-anak nakal demi melindungi'ku, saat itu aku memutuskan untuk ingin terus menjadi temannya"
"........"
"Tapi...."
"Yang kau lakukan sudah benar, bagaimanapun juga situasi kalian darurat kan??" Densha tersenyum dan mengusap kepala Fuu lembut.
"Densha tidak marah??"
Densha terdiam dengan wajah yang menggoda, matanya menyipit lalu menatap gadis di depannya dengan tajam.
"Kau tidak melakukannya dengan perasaan kan?? Maksudku, apa kau suka saat melakukannya??"
"Tentu saja tidak suka! Fuu hanya suka jika melakukannya dengan Densha" bantah Fuu tegas.
"Hahaha, iya-iya aku tahu itu kok!"
Dengan gemas, Densha meraih wajah Fuu dengan kedua tangannya. Kini wajah mereka saling berdekatan, bahkan hidung mereka sudah menempel satu sama lain.
"Tunggu! Densha mau apa?!"
"Mau apalagi?? Apa sekarang kau hanya ingin mencium Moa??" Goda Densha nakal.
"Itu tidak benar!"
Cup!
Secepat kilat Fuu mencium bibir Densha, biasanya Fuu yang akan terkejut. Kali ini berbeda, Densha yang tersentak kaget. Ia sama sekali tak menyangka Fuu akan melakukannya, padahal ia hanya iseng menggoda Fuu.
"Wah! Kau membuatku kaget!"
"Hehe" Fuu tersenyum lebar namun imut.
"Sini! Gantian dong!"
"Tidak!!" Ucap Fuu dengan wajah yang memerah.
__________________________________________
Di tempat lain, Ryn menemani Mod jalan-jalan keluar. Ia tengah membeli beberapa pakaian untuk dipakai di kencannya nanti dengan Moa.
Sebenarnya bukan itu alasan Ryn membawa Mod jalan-jalan. Hari ini adalah hari dimana tuan Roosevelt dan Ellis resmi bercerai, pagi itu tuan Roosevelt setengah memohon pada Ryn agar ia mau membawa Mod pergi dari rumah untuk sementara waktu.
Apa kakek akan baik-baik saja ya?? - Ryn.
Mod begitu bahagia memilih-milih beberapa dress dan segera mencobanya ke ruang ganti, ia tak menyadari dengan raut wajah Ryn yang nampak khawatir.
"Yah... Asal mama bahagia, biarkan saja lah!" Gumam Ryn pelan.
Melihat Mod mencoba beberapa pakaian, membuat jiwa-jiwa perempuan Ryn ikut bergelora. Gadis itu ikut memilih satu dress dengan motif bintang yang cantik, ia membayangkan bagaimana jika dirinya memakai pakaian itu. Pasti sangat cantik! Begitu pikir Ryn.
"Hei Ryn??" Sapa seorang pria di belakangnya.
"Hai" ucap Ryn santai.
Sadar dengan masalahnya, Ryn menoleh ke arah sumber suara dengan cepat. Ia terkejut bertemu dengan Moa di pusat perbelanjaan.
"Moa?? Kenapa disini??"
"Hanya jalan-jalan sih, menikmati waktu senggang" Moa menatap sekitar Ryn, tak ada siapa-siapa disana. "Kau sendirian??"
"Aku bersama ma... Oh, maksudku aku..."
Ryn gelagapan menjawab pertanyaan dari Moa, karena saat ia pergi meninggalkan rumah Moa. Ia pamit pada pria itu bahwa dirinya akan tinggal bersama ibunya.
"Kau bersama ibumu ya??"
"Ah... Hehe... I... Iya..." Jawab Ryn terpaksa.
Gawat! Sial! Sial! - Ryn.
Mata Ryn sesekali melirik ke arah ruang ganti pakaian, belum ada tanda-tanda Mod keluar dari sana. Ia mencari cara untuk segera mengusir Moa dari tempat itu.
"Hei, ini kan pakaian wanita! Pergi sana!" Maki Ryn kesal.
"Apa salahnya?? Kenapa hanya aku yang kau usir? Di sana juga banyak pria tuh!" Moa menunjuk ke arah beberapa pria yang menunggu istri atau pacarnya memilih pakaian.
"Ya pokoknya pergi saja dari sini!"
"Alasanmu tidak masuk akal!"
Mata Ryn membulat lebar saat melihat Mod sudah selesai mencoba beberapa lembar pakaian yang sudah di pilihnya.
"Duh! Mati aku!!" Gerutu Ryn kesal sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Ada apa sih?!"
"Ada kau!!" Sahut Ryn cepat, gadis itu menggandeng tangan Moa dan menyeret pria itu agar menjauh dari toko tempatnya dan Mod membeli pakaian.
"Hei, lepaskan!!" Moa menarik tangannya kuat.
"Oke, begini! Aku tak ingin ribut denganmu!"
"Aku juga" ceplos Moa asal.
"Ini..." Ryn menyodorkan selembar kertas pada Moa.
"Apa itu??"
"Akan ada Festival, ajak Mod ke sana dan nyatakan cintamu padanya"
Hebat! Dia tahu rencana ku?? - Moa.
"Cih! Siapa yang mau ke tempat itu! Norak tahu!!" Tidak romantis" ledek Moa kesal.
"Eh?? Kenapa? Cukup keren kok!"
Wajah Moa memerah, ia mengalihkan pandangannya dari Ryn.
"Mau tidak??"
"Buang saja kertas itu! Kau memungutnya di jalan kan? Akan aku urus masalahku sendiri" ucap Moa lalu pergi meninggalkan Ryn.
"Hah?! Kenapa jadi kesal begitu??"
Ryn membalikkan badan dan menuju ke tempat Mod, disana Mod sudah celingak-celinguk mencari keberadaan Ryn yang pergi tanpa permisi.
"Kau darimana saja?"
"Maaf... Aku harus ke kamar mandi"
"Kau tidak mau membeli sesuatu??"
"Apa boleh??" Ryn tersenyum senang.
"Tentu saja! Pilih lah beberapa"
"Hore" Ryn memeluk Mod dengan gemas, ia mencium pipi kiri Mod lembut.
"His! Anak ini!!"
Bersambung!!
Berikan cinta kalian pada karya saya dengan cara Like, Komentar, Follow, Favorit, Rate, dan Vote!! Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😊🙏