Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Festival (H - 6)



Libur panjang sudah di rasakan oleh seluruh siswa Phoenix High School, suka dan duka telah mereka lewati bersama-sama di dalam gedung sekolah tersebut.


Gadis berambut biru berjalan menuju rumah keluarga Collin, entah apa tujuannya datang ke sana. Ia mengetuk pintu rumah dengan sopan, seorang pembantu membukakan pintunya. Namun seseorang yang ia cari sedang tidak ada di rumah.


"Moa Collin??" Tanya Katrina lembut.


"Maaf, tuan muda sedang pergi"


"Oke!" Katrina berbalik badan dan pergi begitu saja.


Nany merasa terkejut, ia melihat perubahan pada kedua bola mata Katrina yang tiba-tiba menjadi hitam legam.


"Apa yang terjadi dengan gadis itu?" Gumam Nany pelan.


(Jika kalian lupa! Nany adalah seorang pembantu di keluarga Collin yang sudah mengabdi pada keluarga itu sejak lama. Pernah muncul di episode 68 - 69 berjudul Siapa pelakunya?)


Katrina berjalan menyusuri jalan di dekat rumah Moa, berharap bertemu dengan pria itu sesegera mungkin.


Pucuk di cinta, ulam pun tiba! Seperti menang lotre Katrina tertawa lebar saat kedua matanya menemukan sosok Moa Collin berjalan ke arahnya.


Merasa panik dan trauma dengan keberadaan Katrina, Moa hendak memutar arah. Namun lagi-lagi Katrina menggunakan sihirnya untuk mengikat gerakan Moa.


Tik!


(Petikan jari Katrina)


Gadis itu berjalan dengan anggun mendekati Moa, ia tersenyum licik memandang pria berambut pirang tersebut.


"Sial! Apa maumu?!" Teriak Moa kesal.


"Hahaha, masih berani bicara kasar ya? Padahal tidak berdaya!" Sindir Katrina ketus.


"Kalau kau sungguh berani, jangan gunakan sihirmu! Dan biarkan aku menghancurkan kedua tanganmu"


"Oh... Seram sekali! Hahaha" Katrina tertawa terbahak-bahak, ia sampai menghapus sedikit air mata yang keluar dari ekor matanya.


"Gadis brengsek!!"


Umpatan demi umpatan Moa lontarkan untuk menghina Katrina, pria itu sangat kesal dengan dirinya sendiri yang gampang sekali terkena mantra dari Katrina.


"Ini!!" Katrina mengangkat sebuah amplop cokelat berukuran kecil di depan wajah Moa.


Meskipun Moa tak menjawab, Katrina paham bahwa pria di depannya saat ini sedang bertanya-tanya apa yang ingin ia tunjukkan pada dirinya (Moa).


"Aku punya kejutan untukmu disini!"


Pelan-pelan Katrina memasukkan amplop itu ke kantung jaket milik Moa, ia tersenyum dan berjalan menjauhi Moa. Setelah cukup jauh Katrina menjentikkan jemarinya lagi untuk melepas ikatan mantra di tubuh Moa.


Seketika tubuh Moa terasa lemas, ia jatuh berlutut ke jalanan. Kedua tangannya menahan tubuhnya agar tak jatuh terlalu parah di jalanan kasar itu.


"Hah... Hah... Hah... Apa-apaan gadis sial itu?!"


SRUK!!


Amplop cokelat keluar dengan sendirinya dari kantung jaket Moa, karena penasaran dengan isinya Moa segera membuka amplop itu.


Di dalamnya ada tiga lembar foto, foto yang tak asing untuknya. Mata pria berambut pirang itu melotot hampir ingin keluar dari tempatnya, itu adalah foto-foto saat insiden tandon air beberapa hari lalu yang menimpa dirinya dan Fuu.


Tangan Moa bergerak cepat untuk melihat lembar demi lembar foto tersebut, pupil mata pria itu bergetar. Sedih dan bingung, itulah yang ia rasakan. Kini ia paham kenapa Fuu berubah sikap kepadanya. Tanpa ia sadari ternyata Fuu yang memberinya nafas buatan waktu itu.


"Jadi ini alasan Fuu selalu memalingkan wajahnya dariku?!" Gumam Moa pelan. "Gawat!! Aku harus segera meluruskan masalah ini, bagaimana caraku menjelaskannya pada Densha??"


Moa menjambak rambutnya sendiri dengan kasar, jika bisa ia ingin segera mencukur habis rambut di kepalanya. Kenapa selalu ada saja masalah yang menimpa dirinya! Dengan perasaan yang penuh khawatir, Moa memasukan lembaran foto itu kembali ke dalam amplop dan menyimpannya dengan aman di saku celananya.


"Aku harus menemui Densha, aku tak ingin gara-gara ini hubungan kami akan hancur"


Moa memutar arah kakinya ke tempat lain, ia bergegas menuju rumah Densha. Namun sepertinya takdir tak membiarkan dia menceritakan segalanya saat ini, rumah Densha kosong. Moa sudah berulang kali mengetuk pintu rumahnya namun tidak ada jawaban.


Kemana mereka pergi?? - Moa.


Moa melangkah meninggalkan halaman rumah Densha, ia merogoh saku celananya untuk mengambil sebuah ponsel.


"Ku telpon saja!"


Beberapa detik ia menunggu, tak ada jawaban dari Densha di ujung ponselnya. Hal itu semakin membuat Moa khawatir, ia memutuskan untuk pergi ke ujung tebing. Mungkin saja Densha dan Fuu ada di sana.


Belum sampai langkah kakinya meninggalkan jalanan rumah Densha, suara seorang gadis terdengar di telinganya. Rupanya ia sedang bergurau dengan teman lawan jenisnya.


Yah... Mereka adalah Densha dan Fuu, Densha menggandeng tangan Fuu dengan erat. Sepertinya mereka baru saja dari suatu tempat.


"Eh? Moa?? Kau di sini??"


Moa mendengus kesal, ia melipat kedua tangannya di dada. Matanya terus menyorot tajam ke arah Densha dan Fuu secara bergantian.


"KALIAN BERDUA!! KENAPA SUSAH DI CARI SIH?!!" Teriak Moa kesal.


Rasanya gendang telinga Densha benar-benar pecah saat ini, ia sampai melongo mendengar teriakan tanpa sebab dari Moa.


"Sudah gila ya?! Teriak sekencang itu!!"


"KENAPA DENGAN PONSELMU?? AKU SUDAH MENGHUBUNGIMU BERULANG KALI LOH!!"


"KENAPA GAK PAKAI POWER BANK SIH!!" masih berteriak-teriak saking geramnya.


"Tidak punya!" Sahut Densha datar.


"LAIN KALI, BELIKAN PACARMU PONSEL JUGA!! JADI AKU BISA MENGHUBUNGINYA SAAT TIDAK BISA MENGHUBUNGIMU!!" Mata Moa menatap Fuu dengan dingin.


Tanpa rasa bersalah ia memaki-maki kedua insan yang tak tahu apa-apa tersebut. Dengan kesal, Moa berbalik arah melangkahkan kakinya lagi ke halaman rumah Densha dan menunggu di depan pintunya.


"CEPAT!! BUKAIN PINTUNYA!!" Teriak Moa marah.


Dari jauh Densha memasang wajah bingung tak mengerti, ia menoleh pada Fuu yang juga bingung. Gadis itu cuma mengangkat bahu sambil menggelengkan kepalanya.


"Serius dia marah cuma gara-gara aku gak punya power bank??"


"Fuu tidak tahu! Memangnya apa itu power bank?"


"HEI KALIAN BERDUA! CEPAT BUKA PINTUNYA!!!" Rengek Moa marah-marah.


"Hei Moa, kau kesurupan ya?! Datang ke rumah orang marah-marah!"


Densha berlari kecil menuju pintu rumahnya, pria itu mengambil kunci di kantong celananya dan membuka pintu rumah dengan cepat.


"Masuk sana!" Perintah Densha tegas dengan sorot mata yang tajam pada Moa.


"Tentu saja aku akan masuk!!"


Moa berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya kuat-kuat. Ia ingin menunjukkan pada Densha betapa kesalnya dia mencari keberadaan Densha.


"Mau bicara apa?"


"Aku harus bicara serius denganmu!" Ucap Moa tegas.


"Cepat katakan!!"


Fuu berjalan melewati dua pria itu begitu saja, ia tak ingin ikut campur dalam pembicaraan kali ini.


"Hei, mau kemana??" Moa menghentikan langkah Fuu dengan tatapannya. "Ini juga menyangkut dirimu!"


"Apa?" Fuu menengadahkan kepalanya terkejut.


"Ini...." Moa mulai gelagapan, ia bingung bagaimana cara mengatakan hal tersebut pada Densha.


"Ada apa sih?!"


"Katrina memberiku ini..." Moa memberikan sebuah amplop cokelat berukuran kecil pada Densha.


"Apa ini??" Densha mengambil amplop itu dengan hati-hati.


"Jangan marah saat melihatnya, aku bisa menjelaskannya" ucap Moa tenang.


Densha membuka amplop cokelat tersebut bersama Fuu, mata Fuu membulat saat melihat foto dirinya mencium atau lebih tepatnya memberi nafas buatan pada Moa.


Sejujurnya hati Densha memang terasa sakit, tapi seperti apa yang ia katakan pada Fuu kemarin hari. Bahwa ia akan lebih marah jika Fuu membiarkan sahabatnya itu mati kekurangan oksigen.


"Aku sudah tahu!" Densha melempar amplop itu pada Moa.


Moa gelagapan menangkap amplop cokelat tersebut, pria itu juga terkejut ternyata Densha sudah mengetahuinya.


"Kau sudah tahu??"


"Fuu yang menceritakan semuanya... Ah! Bukan-bukan, lebih tepatnya aku melihatnya sendiri"


"Astaga! Waktu itu kau disana??" Moa refleks menutup mulutnya sendiri.


"Tidak, Fuu membagi ingatannya padaku! Tenanglah Moa, jangan khawatir"


"Apa kau tidak marah?? Tidak ingin memukulku??"


"Memukulmu?? Untuk apa? Justru harusnya aku bersyukur karena kau baru saja selamat dari kematian" Densha tersenyum manis menatap Moa.


Benarkah dia Densha?? - Moa.


Hati Moa seakan meleleh, ia hampir menangis karena terharu. Pria itu pikir akan rumit urusannya jika foto yang di berikan Katrina sampai jatuh ke tangan Densha, ternyata semua itu salah! Ia salah menilai Densha selama ini, ia sangat beruntung memiliki sahabat seperti Densha yang mau berpikir dengan bijak.


Jika aku mengikuti rasa sakit di hatiku, bisa saja Katrina akan senang karena rencananya berhasil kan?? Aku tahu, saat ini Katrina ingin memainkan perasaanku! Aku harus lebih pintar dari dirinya... - Densha.


"Kau tahu? Aku merasa beruntung memiliki sahabat sepertimu" ucap Moa tersenyum tulus.


"Percayalah Moa... Aku juga berpikir seperti itu!"


Kedua pria itu saling berpelukan, sudah lama sejak terakhir kali mereka berpelukan. Itupun saat kelulusan SMP beberapa tahun yang lalu.


Terima kasih Densha... - Moa.


Bersambung!!


Jangan lupa Like, Follow, Favorit, Vote dan Rating ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya! 😘🙏