
Ceklek! (Suara pintu dibuka)
"Ayah... Aku pulang!"
Mod memasuki rumah dengan tenang, merasa tidak ada respon dari ayahnya, Mod buru-buru menutup pintu rumah dan mencari keberadaan sang ayah.
Sekilas Mod menatap sepasang sepatu wanita tertata rapi di rak sepatu tempatnya biasa meletakkan sepatu sekolahnya. Merasa curiga, Mod langsung menuju ke kamar ayahnya.
"Harusnya ayah di rumah kan??" Gumam Mod lirih.
"Ayah... Ayah..." Panggil Mod pelan.
Dari dalam kamar tuan Roosevelt (ayah Mod) terdengar suara ribut-ribut, suara seorang wanita dan seorang pria yang sedang bersitegang membahas sesuatu. Mod yang penasaran memberanikan diri untuk menguping dari depan pintu kamar ayahnya.
Brak!
Brak!
Brak!
Ellis membuka semua pintu lemari di dalam kamar suaminya, ia sedang mencari sesuatu di dalam sana namun nampaknya tidak mendapatkan hasil yang ia inginkan.
"Dimana kau sembunyikan itu?"
"Kau ini kenapa? Datang-datang langsung ngamuk dan mencari surat rumah??"
"Aku memerlukan surat itu! Berikan kepadaku"
"Untuk apa??"
"Aku memerlukan banyak uang! Uang yang kau berikan padaku tidak pernah cukup!!" Bentak Ellis tegas.
"Ellis!! Hentikan! Bukankah setiap hari aku selalu memberimu uang? Lalu dimana uang hasil kerjamu? Kau bahkan tidak membantuku untuk membiayai sekolah putri kita"
"Hei, kau ini idiot ya? Jelas ini tugasmu! Tugasmu itu cari uang!"
"Ellis! Jaga cara bicaramu! Kau harus berhenti minum-minum, aku rasa otakmu sudah tidak dapat berpikir dengan jernih" Tuan Roosevelt menutup pintu lemari satu persatu.
"Berikan surat itu!"
"Tidak!"
"Aku bilang berikan!!"
Ellis melempar semua bantal yang ada di atas ranjang ke lantai. Ia juga merusak semua tatanan kamar tuan Roosevelt, benar-benar seperti wanita yang sedang sakit jiwa.
"Apa kau pecandu?" Tanya tuan Roosevelt asal.
Ellis membisu mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh suaminya. Bagaimana mungkin suaminya tahu bahwa ia telah menggunakan obat terlarang.
"Bukan urusanmu! Berikan saja surat itu padaku!"
"Narkob*?? Kau memakainya?"
"Jangan berlagak suci di depanku!" Sindir Ellis kesal.
"Ellis, kenapa kau jadi begini? Tidak kah kau memikirkan bagaimana perasaan putrimu?"
"Untuk apa aku memikirkan perasaan gadis s*nting itu?"
"Ellis!! Jangan sebut putrimu seperti itu!"
"Kenapa?? Bahkan putri kesayanganmu itu tidak memikirkan perasaanku" bela Ellis ketus.
"Dia selalu mengkhawatirkan mu!"
"Halah! Apa putri kesayanganmu itu belum menceritakan apapun padamu?"
"Menceritakan apa??"
"Gadis pintar!"
".........."
"Jadi... Dimana surat rumah ini?"
"Aku tidak akan pernah memberikan surat apapun padamu!" Ujar tuan Roosevelt datar.
"Cih! Benar-benar ya..."
".........."
"CEPAT BERIKAN!!" Teriak Ellis kencang.
BRAKK!!!
Pintu kamar tuan Roosevelt terbuka lebar, Mod berdiri disana dengan jengkel. Gadis itu menatap Ellis jijik, sekilas Mod juga memandang ayahnya. Perlahan ia (Mod) berjalan mendekati Ellis dan ayahnya yang tengah diam saling memandangi Mod.
PLAKK!!
"Kep*rat!! Brengs*k!! Jal*ng!!"
Mod menampar pipi Ellis dengan keras, hal itu semakin membuat Ellis tersulut emosi, wanita itu menyerang putrinya sendiri dengan cara mendorong tubuh Mod hingga terjatuh. Tidak lupa! Ellis juga menjambak rambut putrinya.
"Anak kurang ajar! Begini kah cara ayahmu selama ini mendidik'mu hah?!" Ellis memukuli wajah Mod gemas.
"Aku tidak akan pernah takut untuk melawan'mu! Beraninya kau memperbudak ayahku!!"
Mod juga memberikan perlawanan pada Ellis, gadis itu mencekik leher ibunya sendiri sehingga Ellis meronta meminta tolong pada suaminya agar Mod melepaskan cengkaraman tangannya pada leher Ellis.
"Mod! Hentikan!!" Pinta tuan Roosevelt.
"Biarkan saja! Akan aku bunuh wanita ini!!" Ucap Mod sambil berlinangan air mata.
Tuan Roosevelt membentak putrinya geram, dengan kasar ia menarik tubuh Mod agar menjauh dari tubuh ibunya. Tuan Roosevelt masih terus memegangi kedua tangan Mod agar gadis itu tidak menyerang ibunya lagi.
"Ayah tidak mengerti!"
"Kau ini kenapa? Dia ibumu!"
"Aku tidak sudi punya ibu seperti itu!" Bentak Mod kasar.
"Mod! Keluar dari kamar ayah sekarang juga!!" Pinta tuan Roosevelt tegas.
"Ayah... Dengarkan aku, ibu itu..."
"Ya... benar! Dengarkan dia, ayo kita selesaikan masalah ini secepatnya" tantang Ellis lantang.
"Ada apa ini??" Tanya tuan Roosevelt bingung.
Tuan Roosevelt melepaskan genggaman tangannya dari Mod. Pria dewasa itu duduk di atas ranjang menunggu putri semata wayangnya menjelaskan sesuatu.
Mod duduk di samping ayahnya, gadis itu menyentuh kedua jemari ayahnya dengan lembut. Sedikit ragu dan khawatir akan menyakiti perasaan sang ayah, Mod menundukkan kepala tak berani menatap mata ayahnya.
"Anu... Ayah ingat Moa??"
Sejenak ayah Mod terdiam, ia sedang menerka-nerka kira-kira apa yang ingin di sampaikan oleh anak perempuannya.
"Yang dari keluarga Collin itu?"
"Benar..." Jawab Mod pelan.
"Kenapa dengan tuan muda Collin?"
"Tidak ada apa-apa dengannya, tapi ayah Moa..." Mod sudah tidak mampu melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa dengan ayah pria itu?"
"Dia pacarku!" Sahut Ellis tegas.
Mod dan ayahnya memandang Ellis terkejut, berbeda dengan Mod yang tersulut emosi. Ayah Mod tidak menunjukkan reaksi apapun, pria dewasa itu termenung, mencoba memahami situasi saat ini. Bagai jatuh dari langit ke tujuh, tangan ayah Mod bergetar. Ia tidak mampu memandang pada Ellis ataupun putrinya.
"Mod... Apa itu benar?"
"Ng...."
"Ayah tanya padamu! Apa itu benar?"
"Benar ayah..."
"Kau tahu sendiri?"
"Saat ayah sakit, aku dan Moa bertemu ibu dan tuan Collin di jalan... Ibu baru saja keluar dari hotel bersama ayah Moa"
"Bajing*n!!"
"Ayah... Tuan Collin tidak bersalah!" Mod menyentuh kedua tangan ayahnya dengan kuat.
"Bagaimana mungkin tidak salah? Apa pria itu tidak tahu bahwa wanita yang ia kencani sudah memiliki keluarga??"
Tuan Roosevelt berdiri dari duduknya, ia sedang di bakar api cemburu karena ayah Moa dengan berani menyentuh Ellis yang tak lain adalah istrinya.
"Bagaimana kalau wanita yang ia kencani mengaku tidak punya keluarga??"
"Apa? Apa maksudmu Mod??"
"Benar ayah! Ibu bilang pada tuan Collin bahwa dirinya tidak memiliki keluarga di kota ini, ia tidak mengaku bahwa sudah memiliki anak"
Tuan Roosevelt menyentuh bagian dadanya yang terasa nyeri, nafas pria itu tak beraturan. Dengan muka yang memerah menahan amarah, ia meminta Mod untuk keluar dari kamar. Pria itu juga meminta dengan kasar agar Ellis meninggalkan kamar tidurnya.
"Kenapa ibu datang kemari? Ini semua gara-gara ibu!!"
"Gara-gara aku?? Hei, ini semua gara-gara ayah miskin mu itu!!"
"Apa saat dulu kalian menikah bukan karena saling mencintai?? Aku merasa bahwa hanya ayah yang mencintai ibu"
Ellis terdiam mendengar pertanyaan dari putrinya. Ia menghela nafas berat, lalu berjalan menuju pintu rumah tanpa memperhatikan Mod. Sebelum ia benar-benar keluar rumah, wanita itu menoleh ke arah Mod sekilas.
"Di dalam hidup, cinta bukanlah segalanya... Carilah pria kaya dan hidupmu akan bahagia!"
BRAK! (pintu di tutup)
Ellis meninggalkan kalimat aneh yang jelas tidak mungkin di dengarkan oleh Mod, karena bagi Mod nasehat dari ibu yang sudah menghancurkan rumah tangganya sendiri tidak akan berarti apapun.
"Aku harus memohon pada ayah, agar ayah mau menceraikan ibu!" Gumam Mod pelan.
Gadis itu menatap kamar ayahnya sebentar lalu bergegas menuju dapur untuk memasak makan malam, di sana ia melamun. Memikirkan nasib keluarganya dan juga memikirkan ajakan Moa untuk menjalin hubungan menjadi lebih dekat.
Bagaimana baiknya ya?? - Mod.
"Aakkkhh!!!" Pekik Mod terkejut.
Jari telunjuk gadis itu teriris pisau dapur yang tajam. Ia berlari menuju wastafel dan mencuci jarinya sampai bersih disana.
"Sial! Aku sampai melamun begini?"
Setelah yakin darahnya tidak keluar lagi, Mod melanjutkan acara memasaknya. Hari ini ia harus masak enak untuk menyenangkan hati ayahnya, sejujurnya ia tidak tahu bagaimana perasaan ayahnya saat ini. Dan kira-kira apa keputusan ayahnya dalam situasi seperti sekarang.
Semoga ayah tidak terlalu larut dalam masalah ini... - Mod.
"Apa yang harus aku katakan pada Moa hari minggu nanti ya??" Gumam Mod lirih.
Bersambung!!
Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, Vote, komentar, follow, favorit dan rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘