Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Keluarga Roosevelt (2)



Malam hari yang penuh bintang menyambut kota kecil tempat Mod tinggal. Gadis itu menata beberapa peralatan makan untuk dua orang dengan rapi di atas Meja, ia tersenyum manis menatap menu makan malam yang berhasil ia buat.


"Halo sayang..."


Suara tuan Roosevelt yang serak memasuki dapur, mengagetkan Mod. Gadis itu memandang wajah ayahnya yang nampak teduh dengan senyumannya. Mod tahu bahwa ayahnya baru saja selesai menangis, di lihat bagaimanapun juga mata tuan Roosevelt terlihat sembab dan hidungnya memerah.


Hmm... Ayah pasti sedih - Mod.


"Ayah... Apa ayah baik-baik saja?"


"......."


Tuan Roosevelt terdiam, ia memandangi wajah putrinya yang manis lalu tersenyum, senyumnya sungguh meneduhkan hati.


"Memang kapan ayah tidak pernah baik-baik saja??" Tuan Roosevelt tertawa riang.


Bohong! - Mod.


"Ayah... Maaf, aku hanya bisa masak ini"


Mod membentangkan kedua tangannya bermaksud menunjukkan hidangan makanan yang mampu ia masak malam itu.


"Wah, putri ayah memang pintar ya??" Puji tuan Roosevelt senang.


"Ah! Tidak kok, masakan ayah jauh lebih enak hehe"


"Itu sudah jelas kan??" Tuan Roosevelt mendekati putrinya, ia mengusap kepala Mod lembut. Sesaat ia melihat bayangan Ellis samar-samar muncul di wajah putri tunggalnya itu.


"Kenapa ayah??"


"Tidak, bukan apa-apa! Ayo makan"


"Iya..."


Mod tahu bahwa perasaan ayahnya pasti sedang terpuruk, gadis itu ingin meluruskan semua masalah. Tapi bagaimana cara membuka pembicaraan pada ayahnya yang sekarang? Mod hanya termenung menatap ayahnya.


Mereka berdua duduk di kursi masing-masing bersiap untuk menyantap hidangan makan malam buatan Mod. Hari ini Mod memasak ayam Teriyaki favorit dirinya sendiri, karena hanya itu masakan andalan Mod.


"Ayah??" Panggil Mod pelan.


"Jika ini soal ibumu, bisakah kita melanjutkannya nanti?" Tuan Roosevelt menatap putrinya dengan dingin.


"Baik..."


~ SKIP ~


Mod duduk di sofa ruang tamu, menunggu ayahnya datang untuk membicarakan masalah hari ini. Ia tidak tahu kenapa ayahnya begitu lama bersembunyi di dalam kamar setelah makan malam.


Tuan Roosevelt membuka pintu kamarnya, dia membawa sebuah map berwarna merah lalu duduk di samping putrinya. Mod tidak berani menanyai ayahnya terlebih dahulu, ia (Mod) terlalu canggung.


"Ini adalah surat rumah ini..."


"........" Mod menatap ayahnya karena terkejut.


"Ibumu menginginkan ini"


"Apa ayah akan memberikannya??"


"Menurutmu?"


"Jangan lakukan! Lalu kita harus tinggal dimana?"


"Rumah ini di beli dengan sebagian besar uang ibumu"


"Lalu? Ayah pikir aku bodoh? Ayah juga ikut andil dalam pembelian rumah ini kan? Dan selama ini ayah yang membiayai biaya perbaikan"


"Ibumu berhak atas rumah ini..."


"Oh iya?? Serahkan saja semua ini pada wanita gila itu! Biarkan kita menggelandang di luar sana!" Mod memaki ayahnya karena emosi.


"Sekarang ceritakan! Apa yang kau tahu soal ibumu dengan tuan Collin?"


"............"


"Kau menyukai Moa kan? Apa Moa tahu hal ini?"


"Ayah ini lupa ya? Bukankah tadi aku bilang bahwa aku bertemu ibu saat aku bersama dengan Moa"


"Begitu...."


"Ellis itu calon ibu tirinya Moa sebelum aku tahu bahwa yang di maksud itu Ellis ibuku!"


"Bagaimana reaksi tuan Collin?"


"Dia marah, sepertinya dia mengusir ibu dan tidak ingin berhubungan dengan ibu lagi... Itu sebabnya beberapa hari ini ibu sering pulang dan tidur di rumah, karena selama ini ibu tidur disana!"


"........."


"Oh, maafkan aku ayah... Aku tak seharusnya memberitahu hal-hal menyakitkan pada ayah"


"Tidak, tidak apa-apa... Lebih baik jika membicarakannya sekarang bukan?"


"Apa dia orang yang baik?"


"Siapa? Ibu??"


"Bukan, maksud ayah tuan Collin"


"Aku belum pernah berhadapan langsung dan mengobrol lama dengannya sih, jadi... Aku tidak bisa menilainya" Mod melirik ke arah ayahnya sesaat lalu beralih membuang pandangan.


"Haaahhh...." Ayah Mod menghela nafas panjang, pria itu menyentuh kepalanya seolah memikirkan sesuatu.


"Jangan terlalu di pikirkan ayah..."


"Mana bisa seperti itu?"


"........"


"Apa kau tahu sejak kapan ibumu menjalin hubungan dengan tuan Collin?"


"Tidak"


"Apa saat dia tidak lagi pulang ke rumah ini?"


"Aku rasa saat ibu mulai menyukai alkohol"


Tuan Roosevelt terdiam, kedua tangannya mengepal dengan gemas. Wajah pria dewasa itu nampak kacau, raut wajahnya pun tak menyenangkan untuk di pandang.


"Ayah sangat mencintai ibumu..."


Mod menoleh ke arah ayahnya, gadis itu tertegun dengan rasa cinta yang di miliki ayahnya. Namun ia juga tak ingin jika ayahnya terus menderita.


"Tapi...." Lanjut tuan Roosevelt.


"Ng??"


"Ayah lebih mencintai putri ayah, jika kau memang menyukai Moa kejarlah pria itu"


"Maksud ayah??"


"Ayah akan menceraikan ibumu"


"Apa ayah akan baik-baik saja?"


"Jika ibumu mampu tidur dengan pria lain di saat ayah menjaga hubungan ini, lalu untuk apa ayah mempertahankannya??"


Seketika Mod memeluk ayahnya erat, ia menangis di bahu ayahnya. Gadis itu sesenggukan menahan rasa sakit di hatinya.


"Maafkan aku ayah..."


"Eh? Kenapa?"


"Aku ini bukan anak yang baik! Aku tidak mampu menghibur ayah... Aku tahu perasaan ayah pasti sangat sakit"


"Tidak apa-apa Mod, ayah sudah sangat senang memiliki putri seperti dirimu"


"Ayah... Hiks... Hiks... Hiks..."


Tuan Roosevelt tersenyum membalas pelukan putrinya, ia mengusap kepala Mod lembut dan mencium kening putrinya itu.


"Ayah menyayangimu..."


"Aku tahu!" Gumam Mod pelan.


.


.


.


.


.


"Nany, bukakan pintunya!" Perintah Tuan Collin tegas.


"Baik"


Nany terburu-buru membukakan pintu rumah keluarga Collin, ia terkejut dengan tamu yang datang ke rumah majikannya.


"Halo Nany..."


"Anda??"


"Apa dia ada??"


"Anu... Akan saya tanyakan terlebih dahulu"


"Berisik! Kau itu cuma pembantu disini!"


Ellis mendorong tubuh Nany yang sudah tua, membuat wanita tua itu terbentur ke dinding. Nany mengusap sikunya yang terasa sakit dan terburu-buru menutup pintu rumah, mengikuti Ellis dari belakang.


"Maaf tuan..." Ujar Nany pelan.


Ellis melirik ke Nany dengan sinis lalu memandang kekasihnya dengan senyum yang paling menawan.


"Halo sayang..."


"Ellis??" Tuan Collin berdiri dari duduknya, ia terkejut dengan tamu yang datang ke rumahnya malam ini.


"Kenapa terkejut begitu sih?"


Ellis melempar tas jinjingnya ke sofa, ia mendekati tuan Collin yang terpaku menatap dirinya. Wanita itu melingkarkan kedua tangannya di leher tuan Collin dengan mesra.


"Aku kangen kamu..." Bisik Ellis lembut.


"Beraninya kau menginjakkan kaki di rumahku!"


"Duh! Kenapa sifat mu jadi dingin begini padaku?"


"Ellis hentikan ini! Kau tidak tahu betapa hancurnya aku saat ini"


"Kau pikir hanya dirimu yang hancur? Aku juga hancur, bagaimana kalau kita minum??"


".........."


"Begini, aku punya tawaran yang menarik untukmu"


"..........."


"Kau mencintaiku kan? Aku akan tinggalkan keluargaku, ayo kita hidup bersama... Berdua saja!" Goda Ellis dengan senyum manisnya.


"Apa?"


"Aku sangat mencintaimu!"


Baru kemarin ayah bilang ingin memperbaiki hubungan ayah dan anak ini? Sekarang apa?? Ayah menghancurkan semuanya!!


Aku memaafkan'mu ayah...


Mod bukan gadis yang seperti itu!


Terlintas suara Moa terdengar di pikiran tuan Collin, pria itu memejamkan matanya sejenak memikirkan kata-kata puteranya yang begitu mengganggu dirinya.


Tuan Collin melepas pelukan Ellis di lehernya, ia memundurkan tubuhnya agar menjauh dari wanita itu.


"Kenapa?"


"Pergi dari rumahku Ellis!!"


"Aku tahu kau mencintaiku!"


"Aku tidak mencintaimu"


"Baiklah, bagaimana kalau aku yang mencintaimu? Hmm??"


"Ellis, hentikan pembicaraan ini! Aku sungguh tidak ingin kau disini!"


"Sayang...."


Secepat kilat Ellis sudah memeluk kekasihnya itu dengan erat, ia mengusap punggung tuan Collin dengan lembut.


Tak!


Tak!


Tak!


(Suara langkah kaki)


"Ayah... Hari ini aku..."


Moa menyaksikan pemandangan yang seharusnya tak ia lihat, kalimatnya terhenti seketika saat ia melihat ayahnya dan Ellis berpelukan di ruang tamu keluarganya.


Dengan tatapan penuh amarah, Moa memandang ayahnya dengan tajam. Ellis yang mengetahui hal tersebut malah tersenyum penuh kemenangan, ia melambaikan tangannya untuk menggoda Moa.


"Maaf mengganggu!"


Moa memutar badannya, ia buru-buru kembali ke dalam kamar pribadinya.


"Moa" panggil tuan Collin.


"Apa?" Moa tidak ingin menatap ayahnya sama sekali.


"Jangan pergi! Kemari lah..."


"Untuk apa? Menyaksikan kemesraan kalian berdua?"


"Moa..."


Cih! - Moa.


Dengan terpaksa Moa menghadapi ayahnya, ia berjalan ke arah tuan Collin tanpa memandangnya. Pria itu jengkel harus bertemu dengan Ellis lagi dan lagi.


"Apa kau mencintai Mod??"


"......." Moa menatap ayahnya bingung.


"Sungguh mencintainya??"


"Ayah ini bicara apa?"


"Kau benar! Ayah memang tidak mampu memperbaiki hubungan ayah dan anak yang kau maksud beberapa hari lalu"


Apa maksudnya sih? - Moa.


Tuan Collin berjalan mendekati Moa, ia memeluk bahu puteranya dengan senang. Wajahnya nampak bahagia namun Moa tahu sebenarnya ayahnya tidak begitu bahagia, masih ada kesedihan yang tersisa dari sorot matanya.


"Ellis, jika kita melanjutkan hubungan ini maka puteraku tidak akan bisa bahagia akan cintanya"


"Apa maksudmu??" Ellis mengangkat sebelah alisnya penasaran.


"Aku sudah pernah jatuh cinta dan itu cinta yang indah..."


"????"


"Wanita itu adalah ibunya Moa... Walaupun dia telah pergi meninggalkan kami"


"Lalu apa hubungannya denganku?"


"Aku tidak akan menikah denganmu! Karena puteraku menyukai putrimu"


"Mereka cuma bocah! Memangnya bisa apa? Apa kau yakin akan hubungan mereka?"


"Aku harus percaya pada puteraku kan?"


Ayah... - Moa.


"Kalian berdua idiot!" Maki Ellis kesal.


Ellis mengambil tas jinjing miliknya dan pergi meninggalkan rumah keluarga Collin. Moa terdiam menatap ayahnya namun tuan Collin hanya tersenyum dan pergi berlalu begitu saja.


"Ck! Aku harus bicara dengan ayah"


Bersambung!!


Halo, Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, Follow, Komentar, Vote, rating, dan Favorit ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘