Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Menjenguk Densha (part 1)



Pagi itu Densha menelpon Moa bahwa ia tidak dapat mengikuti pelajaran hari ini dan agar Moa mengijinkannya kepada wali kelas mereka di sekolah.


"Yahh.. Densha sakit" gumam Moa lirih.


"Hai Moa?!" Sapa gadis cantik berkulit kuning langsat, bernama Mod.


"Oh.. hai Mod? Ada apa?"


"Densha kemana?" Mod mengedarkan pandangan ke seluruh kelas, mencari keberadaan Densha.


"Dia sakit!"


"Apa?! Sakit?"


"Iya, baru saja dia menelpon ku" Moa menunjukkan ponselnya pada Mod.


"Apa benar sakit?!" Mod mengetuk-ngetuk pipinya dengan jari telunjuk. Kata-katanya sangat ambigu, membuat Moa juga ikut masuk ke dalam pikirannya.


"Ya.. Apa benar-benar sakit ya?" Moa juga melakukan hal yang sama seperti Mod. Pandangan kedua manusia itu bertemu, mereka cekikikan tersenyum licik masing-masing.


"Kau tahu apa yang aku pikirkan?"


"Aku rasa pikiran kita sama!"


"Yosh! Ayo sepulang sekolah ke sana!"


"Oke.. Hahaa" Moa tertawa riang memikirkan hal yang aneh-aneh di otaknya.


Aku tidak sangka, ternyata Mod orangnya menarik juga - Moa.


"Kalau begitu, aku kembali ke kelas dulu ya?!"


"Oke.. Aku tunggu di gerbang depan sepulang sekolah"


"Oke" Mod mengedipkan sebelah matanya.


Gadis itu melangkah keluar dari kelas Moa, sesampainya di depan pintu kelas ia bertemu Katrina yang sedang berdiri di depan pintu.


"Kau salah kelas nona!" Sindir Mod pada gadis itu.


"Aku tahu! Bukannya kau yang lebih salah kelas, aku lihat kau masuk kelas ini!"


"Aku?? Aku bebas keluar masuk kelas manapun karena aku populer di sekolah ini"


"Populer karena penolakan Densha?" Katrina meledek Mod puas. Ia berjalan sengaja menyenggol bahu Mod.


"Hei?!"


"Apa?"


Mod melangkah mendekati Katrina, gadis itu menatap tajam Katrina.


"Asal kau tau! Aku tidak sungguh-sungguh menyukai Densha"


"Iya aku tahu, karena kau sudah di tolak jadi seperti ini lah pembelaan mu!!"


"Kurang ajar!!" Mod mengangkat tangannya ingin menampar Katrina, namun aksinya di hentikan oleh Moa yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua. Tangan Mod di tahan oleh Moa.


"Eh? Moa?" Mod menatap Moa terkejut.


"Hentikan Mod.." Moa melirik ke arah Katrina.


"Kenapa? Tidak jadi memukulku?"


Ada apa dengan kepala gadis ini? - Moa.


"Begini.. Katrina, aku perhatikan akhir-akhir ini sikapmu aneh sekali" ucap Moa memulai percakapan.


"Aku?? Aneh??"


"Ya.. Kau satu kelas dengan Mod kan? Daripada dengan Mod, aku lebih sering melihatmu seliweran di depan sini"


"Hei bung! Ini jalan bebas"


"Aku tahu! Tapi kelasku jauh dari kelas mu.. Apa yang kau cari?"


Mod terkejut dengan pertanyaan Moa, ia menatap Katrina dan Moa secara bergantian. Jika di pikir-pikir ulang, memang Katrina lebih sering lewat di depan kelas Densha di bandingkan dirinya, bahkan Mod pernah mendapati Katrina sengaja menunggu Densha keluar gerbang sekolah saat sekolah telah usai, semua itu di perjelas oleh kalimat Moa saat ini.


"Katrina.. mungkinkah kau?" Mod menatap Katrina bingung.


"Apa?! Kalian berdua jangan berpikir aneh-aneh!!"


"Bukan pikiran kami yang aneh, kau lah yang aneh!!" Celetuk Moa.


"Kau menyukai Densha?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Mod. Dan itu sukses membuat wajah Katrina memerah, gadis itu tersipu malu.


"A.. apa.. aku? Itu tidak mungkin kan?" Katrina terlihat gugup saat ini.


"Kau jelas menyukainya!!"


"Tidak!! Moa kau jangan menilai orang sesukamu!"


"Apa? Moa benar! Terlihat jelas di wajahmu!" Balas Mod kesal. Saking malunya Katrina meninggalkan Mod dan Moa, gadis itu berlari entah kemana, menghilang di antara kerumunan siswa-siswi yang tengah berjalan.


"Wah.. ternyata dia menyukai Densha" Moa menggelengkan kepalanya pelan.


"Ehem!!" Mod berdeham keras, membuat Moa yang berada di sampingnya terkejut.


"Apa? Bikin kaget saja!"


"Kau mau mati ya?! Lepaskan tanganku!" Perintah Mod tegas. Moa melihat tangannya yang menggenggam tangan Mod, lalu mendelik kaget.


"Astaga! Sejak kapan tangan ini? Berani-beraninya" Moa memaki tangannya sendiri, lalu mencubit gemas tangan kanan nya.


"Hihi.." Mod tertawa kecil.


"Kau menertawakan apa?"


"Moa.. Kau lucu sekali" Mod menepuk bahu Moa pelan.


Kalimat Mod membuat pipi pria itu memerah, ia tersipu malu dengan pujian yang di berikan Mod.


"Ng.. anu.. aku harus kembali. Sampai jumpa Mod"


"Eh? Kenapa dia terburu-buru begitu?" Gumam Mod lirih.


Astaga! Apa yang terjadi padaku? Aku tidak mungkin kan?


Tapi.. kenapa tidak mungkin, aku kan pria normal!! Astaga.. astaga.. - Moa mengacak rambutnya dengan kesal.


Tenang Moa.. tenang.. - Moa.


"Silahkan duduk nona!"


"Terima kasih.." Isabella tersenyum ramah menatap pria tua di depannya.


"Jadi.. anda mau mendaftarkan murid baru di sekolah ini?"


"Ya begitulah.."


"Baik, berapa umurnya?"


"Ah.. haha, untuk umur dia masih 15 tahun. Tapi tidak bisakah kau membuatnya satu kelas dengan keponakanku?"


"Tapi.. itu melanggar peraturan sekolah kami"


"Hei, sekolahmu ini berdiri juga karena uangku!!"


Astaga! Nona ini sombong sekali.


"Jadi bagaimana?"


"Baik nona!"


"Hore!!" Isabella tertawa senang menatap sekertaris di sebelahnya.


"Nona memang bisa di andalkan!" Puji sang sekertaris.


"Baiklah.. berikan padaku seragam sekolahnya" perintah Isabella tegas.


"Tapi nona, kapan dia akan mulai bersekolah?" Tanya sang kepala sekolah.


"Aku tidak tahu! Aku masih harus mengajarinya sesuatu"


"Mengajari?"


"Yaa.. begitulah! Jangan banyak bertanya. Lakukan saja apa yang aku mau!!"


"Ba.. baik nona!!"


Kepala sekolah menyerahkan beberapa jenis seragam sekolah kepada Isabella. Ia juga memberi selembar jadwal pelajaran di sekolah itu. Menerangkan peraturan-peraturan yang boleh dan tidak boleh di sekolah ini.


"Berisik!! Yang mau sekolah itu bukan aku!"


"Maaf nona, saya hanya menjelaskan!"


"Sekertaris.. bawa semua ini"


"Baik nona"


"Saya pamit dulu, terima kasih" Isabella membungkukkan badan memberi hormat kepada sang kepala sekolah.


"Sama-sama" kepala sekolah juga membungkukkan badannya.


Sesampainya di luar sekolah, Isabella memasuki mobilnya. Ia harus segera kembali ke kantor tempatnya bekerja.


"Bagaimana ya reaksinya nanti? Hahahaa" Isabella tertawa terbahak-bahak membayangkan wajah keponakannya.


"Nona sedang membayangkan sesuatu?"


"Tentu, aku penasaran bagaimana reaksi Densha"


"Saya juga penasaran nona!" Ucap Sekertaris itu senang.


.


.


.


.


.


.


.


Tok! Tok! Tok!


Tok! Tok! Tok!


"Tidak di buka.. kenapa lama sekali?" Mod memandang Moa penasaran.


"Coba kau ketuk lagi!"


"Baik"


Tok! Tok! Tok! Tok!


"Cih! Apa sih yang sedang di lakukan nya?" Moa mulai kesal.


"Jangan-jangan.."


"Jangan-jangan???"


"Moa, tidak mungkin kan Densha begitu?"


"Mana aku tahu! Bagaimanapun juga dia pria normal!"


"Aish.. dasar sinting! Biar aku ketuk lebih keras"


Tok! Tok! Tok!


Tok! Tok! Tok!


"Hei Fuu, buka pintunya ini aku Mod!"


"Fuu.. apa kau di dalam?"


"Hoi???" Mod berteriak-teriak di depan rumah Densha.


"Mungkin mereka sedang.. yahh, kau pasti tau lah"


"Hentikan pikiran mesum mu itu bodoh!!" Mod memukul lengan Moa.


"Kalian? Ada apa?" Sapa Fuu yang tengah berdiri di belakang Moa dan Mod.


"Eh? Fuu? Kau kenapa bisa di sana?" Mod berjalan mendekati Fuu.


"Ke pantai? Densha sedang sakit kau malah ke pantai?" Moa memaki Fuu dengan gemas.


"Eh? Itu.. anu.. Fuu hanya.."


"Jangan dengarkan dia Fuu, dia sedikit tidak waras!" Mod melirik ke arah Moa.


"Apa?! Aku atau dia yang tidak waras?" Moa menunjuk ke arah Fuu.


"Tentu saja kau!" Mod melotot menatap Moa yang sedang marah-marah.


"Silahkan masuk, selamat datang!" Kata Fuu dan membukakan pintu untuk mereka.


Cih! Lihat cara bicaranya itu! Aku memang belum pernah banyak bicara dengan Fuu, jadi aku masih belum memahaminya. Tapi.. cara bicaranya mirip Katrina yang waktu itu. Jadi benar ya? Kalau si Katrina menyukai Densha? - Moa.


"Dimana Densha?"


"Densha sedang tidur"


"Apa aku boleh melihatnya?"


Fuu menganggukkan kepala, ia mengantar Moa ke kamar Densha, sedangkan Mod langsung menuju dapur keluarga Mikaelson.


"Silahkan.." ucap Fuu pelan.


"Ah! Terima Kasih.."


Sepertinya Fuu gadis yang baik - Moa.


"Fuu ingin menemui Mod, Moa di sini saja ya?"


"Ya.. ya.. sana pergilah"


"Okay, baik"


Hah? Okay, baik katanya?? Benar-benar aneh - Moa menggeleng-gelengkan kepala memperhatikan Fuu yang berlalu pergi.


"Hei bung!"


"Bung.. bangun" Moa memeriksa suhu tubuh Densha tapi tidak panas sama sekali.


Tidak demam tuh.. - Moa.


Moa mendekatkan mulutnya ke telinga Densha, ia bersiap membangunkan sahabatnya itu.


"HOI.. BANGUN!!" Teriak Moa keras, membuat Densha terperanjak kaget.


"Astaga!! Kau ini kenapa?"


"Habisnya.. ku panggil beberapa kali juga tidak bangun-bangun! Mengaku saja.. kau pura-pura sakit kan?"


"Dasar gila! Mana mungkin aku pura-pura!! Aku beneran demam tau!!" Densha memeriksa suhu tubuhnya sendiri.


"Apa? Kenapa kau terdiam?"


"Eh?? Suhuku tidak panas? Demamku turun.. bagaimana bisa?"


"Hah?! Tukang akting!!"


"Aku tidak bohong! Meskipun aku minum banyak obat kemarin demamku tidak kunjung sembuh! Tapi.. ini.. bagaimana bisa" Densha berpikir keras.


"Sudah lah.. kau memang pandai bersandiwara" Moa merebahkan tubuhnya di atas kasur Densha.


Tadi pagi aku bahkan tidak minum obat, aku hanya meminum teh yang di buatkan oleh Fuu. Ya walaupun rasa teh itu aneh.. Tapi aku memakluminya, mungkin sebelumnya Fuu tidak pernah memasak. - Densha.


"Mod.. sedang apa?"


"Aku sedang membuat makan malam"


"Makan malam?"


"Iya, aku dan Moa akan di sini untuk waktu yang cukup lama. Ng.. boleh kan?" Gadis itu menatap Fuu ragu.


Wajah Fuu seketika cerah, ia sangat bahagia. Saking gembiranya gadis cantik itu memeluk Mod dan tersenyum.


"Boleh.. Mod boleh berada disini, Fuu senang sekali. Hehe"


"Aww.. kau manis sekali" Mod mencubit hidung Fuu gemas.


Seperti memiliki adik perempuan. Tapi apa boleh aku mempunyai adik secantik ini? Dasar.. kembali ke kenyataan Mod. - Mod memukul kepalanya sendiri berkali-kali.


"Mod kenapa?"


"Ah! Haha, tidak apa-apa. Apa Fuu mau membantuku?"


"Mau.. mau.. mau" Fuu sangat antusias.


"Aku akan memberimu tugas untuk membuat sup, kau bisa siapkan air?"


"Bisa, Fuu bisa kok"


"Baiklah, aku akan memotong sayurnya" Mod duduk di meja makan, ia sangat anggun saat memasak. Gadis itu tengah sibuk memotong beberapa sayuran.


"Fuu sudah menyiapkan air"


"Baik Fuu, letakkan di atas kompor" perintah Mod, gadis itu melirik ke arah Fuu yang sedang mengangkat ember ke atas kompor.


Eh?? Ember??? - Mod.


"YA TUHAN!! FUU APA-APA'AN KAU INI?!" Mod berteriak panik. Ia berlari ke arah Fuu, merampas ember yang di bawa Fuu.


"Eh?? Kenapa Mod?"


"Kau mau masak untuk seisi kota?"


Fuu mengernyitkan dahi tidak mengerti maksud dari ledekan Mod.


"Mod bicara apa?"


"Astaga! Aku lupa bahwa kau duyung!! Fiuhh.. begini Fuu, kau salah. Saat ingin memasak sup kita menggunakan panci dan sedikit air. Bukannya ember plastik begini" Mod menenteng ember di tangannya.


"Tapi.. Mod bilang pada Fuu hanya siapkan air"


Mod menepuk jidatnya sendiri keras. Ia menghela nafas dan memegang bahu Fuu, mengantar Fuu agar dia duduk manis di meja makan.


"Fuu duduk di sini saja"


"Ng?? Kenapa?" Tanya Fuu bingung.


"Biarkan aku saja yang masak"


"Tapi Fuu ingin membantu"


"Tidak apa-apa, dengan Fuu duduk disini. Itu sudah cukup membantuku" Mod tersenyum ke arah Fuu.


"Begitu ya? Baik.. Fuu akan duduk dengan tenang" Fuu tersenyum senang.


Lihat dia?? Hatinya sungguh bersih, bahkan dia tidak pernah berprasangka buruk terhadap orang lain. Aku iri padamu Fuu - Mod.


***


"Hah?! Kau kesini dengan Mod?"


"Iya. Kenapa?"


"Dimana dia sekarang?" Densha terbangun dari tidurnya.


"Dia sedang bersama pacarmu tuh!"


"Pacar??"


"Gadis aneh itu! Pacarmu kan?" Moa meledek Densha.


"Gadis aneh? Maksudmu Fuu?" Densha mengangkat sebelah alisnya.


"Iya.. siapa lagi?"


"Hei! Jangan sebut dia aneh!"


"Ehm.. ini pembicaraan antar pria ya? Aku ingin menanyakan sesuatu"


"Apa?!" Tanya Densha ketus.


"Apa kau sudah.. Ehem.. itu tuh"


"Kau sudah tidak waras ya? Tidak lihat tuh di bawah!" Densha menunjuk ke arah tempat tidur Fuu.


"Eh? Fuu tidur disana?"


"Iya.. benar!" Densha mengangguk antusias.


"Hoo.. jadi kalian tidak melakukan apapun!"


"Tidak sama sekali!"


"Berciuman?" Moa menggoda sahabatnya itu, wajah Densha perlahan memerah. Ia meraih selimut dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Jadi benar ya?" Moa terus menggoda Densha.


"Berisik!!"


"Haha, aku benar kan. Astaga bro! Ternyata kau sudah melangkah ya?" Moa mencoba menarik selimut Densha.


"Moa kau berisik sekali!!"


"Hei bung berapa kali? Ayo ceritakan jangan sembunyi di bawah sana!" Moa naik ke atas tempat tidur, mencoba menganggu temannya itu agar Densha membuka selimutnya.


"Hentikan Moa!!"


"Ayolah.. Cepat katakan!!"


"Moa! Aku bilang hentikan!!" Densha menyerang Moa, memegang kedua tangan Moa membuat pria itu jatuh terlentang di atas tempat tidur.


BRAKK!! Suara pintu di buka secara paksa.


"Ya Tuhan!!" Pekik Mod, ia langsung menutup kedua mata Fuu di sampingnya. Mata gadis itu membulat tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Ka.. ka.. kalian??"


Densha dan Moa terpaku memandang kedua gadis cantik di depan pintu, kedua pria itu saling memandang satu sama lain. Seketika mereka sadar apa yang di pikirkan oleh gadis bernama Mod itu. Memang posisi Densha saat ini sedang bertelanjang dada di atas Moa, di tambah Moa yang sedang terlentang dengan kedua tangannya yang di genggam erat oleh Densha.


"DASAR BODOH!! KALIAN BERDUA IDIOT!!" Teriak Mod, lalu menarik tangan Fuu agar menjauh dari tempat itu. Fuu kebingungan dengan tingkah Mod yang aneh, tidak ada yang menjelaskan padanya apa yang sedang terjadi.


"Sial!" Densha menundukkan kepalanya malu.


"Hei bro! Lepaskan tanganmu dulu deh!" Wajah Moa tak kalah merahnya.


Kedua pria itu terduduk kaku di pinggir tempat tidur, seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.


"Kau jelaskan saja pada mereka!" Kata Densha memulai percakapan, pria itu mengambil kaos di lemarinya lalu mengenakannya.


"Hah? Aku?!"


"Bagaimanapun juga ini gara-gara kau tau!!"


"Ta.. tapi aku.."


"Moa pasti bisa!" Densha tersenyum dan bertingkah imut di depan Moa, ia memasang wajah super tampannya. Tentu saja! Untuk menggoda Moa.


"Dih! Wajahmu itu!! Oke-oke aku yang akan bicara!!" Moa merinding melihat tingkah aneh sahabatnya itu.


Suasana meja makan saat itu sangat tegang, Mod dan Fuu duduk berdampingan. Sedangkan Moa dan Densha berada di sebrang mereka, tidak ada yang bicara sama sekali. Fuu hanya melirik ke arah Mod dan Moa secara bergantian.


"Anu.." Moa membuka percakapan.


"Diam! Dan makan saja!" Bentak Mod kesal.


"Hei! Biarkan saja dia bicara!" Densha membela Moa.


"Oke, karena ini rumahmu aku akan menurut disini" Mod menunggu Moa menjelaskan sesuatu.


"Sana jelaskan!!" Densha menyenggol bahu Moa di sampingnya.


"Berisik!!" Moa menatap tajam Densha yang sedang tertawa nyengir.


"Begini Mod, kau salah paham loh!"


"Salah paham apa? Aku mendengar dengan jelas tau!"


"Mendengar apa?"


"Hentikan.. hentikan.. begitu yang aku dengar" Mod membuang muka ke arah lain, wajah gadis itu tersipu malu.


"Kau salah paham!!"


"Salah paham apa??"


Bersambung..