
"Maaf... Lama ya? Ini aku bawakan sarapan"
Moa memasuki kamar tidurnya dengan murung, ia meletakkan nampan berisi makanan di atas meja belajar miliknya.
"Te... Te... Terima kasih" ucap Mod gugup.
"Kenapa?"
"Baju ini kebesaran untukku!" Mod menunjukkan kaos Moa yang ia kenakan.
Imutnya... - Moa.
"Ah! Tidak kok, pas sekali"
"Hah?? Jadi maksudmu aku gendut? Sehingga badanku pas di kaos sebesar ini??"
"Sumpah deh! Aku tidak ingin ribut, cepat makan" perintah Moa kesal.
"Iya-iya... Ngomong-ngomong sudah tahu belum dimana seragam sekolahku?" Mod mengunyah sandwich yang dibuatkan oleh Moa.
"Nanti aku tanyakan sama bibi"
"Bibi??? Bibi'mu ada disini?" Mod terkejut dengan kalimat Moa, gadis itu bicara dengan mulut yang masih penuh makanan.
"Hei, telan dulu makananmu! Bibi yang ku maksud itu pembantuku"
Moa berjalan mengambil tas sekolah miliknya, pria itu menyiapkan beberapa buku pelajaran di dalam tasnya. Tangannya terhenti melanjutkan aktivitas, ia menoleh ke arah Mod dengan cepat.
"Hari ini kau akan ke sekolah kan??"
"Aku?? Tentu saja!" Ujar Mod mantap.
"Bagaimana dengan buku pelajaran milikmu?"
"Kita kan beda kelas, aku akan meminjam buku milikmu sementara"
"Apa?? Tidak bisa, memangnya kau tahu bahwa pelajaran kita tidak sama?"
"Memang hari ini apa materi pelajaran di kelas'mu?" Mod menghampiri Moa dan melihat jadwal pelajaran yang tertempel rapi di dinding.
"Hmm... Materi pelajaran kita tidak sama, jadi aku akan pinjam buku milikmu!" Ucap Mod manggut-manggut.
Mod mengambil beberapa buku pelajaran milik Moa dan menaruhnya ke dalam tas sekolah miliknya, gadis itu kembali memakan sarapan dari Moa.
"Hei Mod?"
"Apa??"
"Apa kau sudah mengatakannya pada ayahmu?" Tanya Moa ragu.
"Mengatakan apa??"
"Soal ibumu dan ayahku"
Mod berhenti mengunyah makanannya, ia tampak gelisah dan murung. Mod menarik kursi meja belajar Moa lalu duduk disana dengan lemas.
"Belum ya?" Tanya Moa lagi.
"Ayah baru saja mulai masuk kerja beberapa hari yang lalu, aku tidak tega untuk mengatakannya"
"Dimana ibumu sekarang?"
"Terkadang dia pulang ke rumah untuk meminta uang pada ayah, aku jengkel sekali dengan sikapnya yang begitu! Ini semua karena ayah terlalu mencintainya!!" Gerutu Mod kesal.
"Begitu ya??" Wajah Moa menjadi murung.
"Ada apa? Kenapa kau menanyakan hal itu?"
"Bukan apa-apa, menurutku semakin cepat ayahmu tahu kebenarannya maka semakin baik"
"Oh iya... Ayah sedang mengumpulkan uang untuk membayar hutangnya padamu" ucap Mod senang.
"Hutang??"
"Biaya rumah sakit waktu itu..." Sahut Mod mengingatkan.
"Ah... Tidak perlu repot-repot, aku tidak mempermasalahkan uang itu"
"Tidak mempermasalahkan bagaimana? Jika ayahmu tahu bagaimana??"
"Itu uangku sendiri, ayah tidak akan berani ikut campur"
"Ah... Begitu ya??"
"Aku akan melihat apa bibi sudah kembali atau belum" Moa melangkahkan kakinya keluar kamar, ia menutup pintu kamar dengan pelan.
"........."
Mod memikirkan kalimat Moa, benar! Dia harus memberitahu ayahnya soal perbuatan ibunya yang buruk itu. Mod tidak ingin ibunya semakin memanfaatkan kebaikan ayahnya secara terus-menerus.
Lagipula ayah sudah sembuh kan?? - Mod.
Di dapur Moa mencari pembantunya namun tetap tidak ada, akhirnya ia menemukan pembantunya berada di halaman belakang rumah sedang menjemur pakaian.
"Nany..." Panggil Moa kalem.
"Ada apa sayang??" Tanya Nany setengah mengintip dari kain selimut yang ia jemur.
"Apa Nany tahu dimana pakaian Mod?"
"Mod??"
"Itu loh, gadis yang ada di kamarku"
"Ah! Seragam gadis itu sudah Nany seterika, tuan bisa ambil di sana"
Nany menunjuk ke arah keranjang yang penuh tumpukan baju kering, pakaian Mod berada di paling atas. Setelah mengambil seragam milik gadis itu, Moa menghampiri Nany nya lagi untuk menanyakan sesuatu.
"Nany sedang repot, perlu apa lagi??" Tanya Nany setengah menggoda majikannya itu.
"Dih! Nany ini... Aku serius!"
"Iya, ada apa tuan muda?"
"Anu... Mmm..." Belum bicara wajah Moa sudah memerah karena malu.
"Ada apa?"
"Apa Nany yang melepas baju kami??"
"Iya, kenapa?"
Hah?? 'iya kenapa' katanya??!! - Moa.
Moa mendelik tidak percaya, ternyata pelakunya adalah pembantunya sendiri. Pembantu yang sudah mengabdi pada keluarganya selama puluhan tahun, sejak Moa belum lahir Nany sudah bekerja untuk keluarga Collin.
"APA??!!"
"His! Kenapa tuan berteriak? Nany sudah tua, telinga Nany bisa bermasalah nanti"
"Aku yang sedang dalam masalah kalau begini! Bisa-bisanya Nany melepas pakaian kami!!" Maki Moa kesal.
"Apa tuan tidak ingat??"
"Ingat apa??"
"Dasar ya tuan ini..." Nany menggeleng-gelengkan kepala pelan.
(FLASHBACK ON!!)
Malam itu Moa yang ingin mengantar Mod, mampir kerumahnya sendiri untuk buang air kecil. Moa membawa Mod masuk dan meletakkan tubuh gadis yang sedang linglung itu di sofa ruang tamu.
"Aduh! Pusing sekali aku... Kenapa buram begini? Dimana kamar mandinya" celoteh Moa setengah mengomel. Ia lupa letak kamar mandi di rumahnya sendiri.
"Ah! Ini...."
Moa membuka resleting celananya, pria itu berdiri bersiap untuk buang air. Setelah selesai Moa kembali membenarkan resleting celananya.
"Haahhh.... Lega sekali aku!" Gumam Moa pelan.
PRANG!!
Nany menjatuhkan piring di lantai, melihat Moa kencing di sudut dapur. Setengah merem Moa berusaha menatap pembantunya, tapi Nany malah menyeret tubuh Moa agar segera menjauh dari tempatnya berdiri. Karena air kencing Moa sudah meleber kemana-mana.
"Bocah s*tan!! Bisa-bisanya malam-malam begini menyusahkan Nany!!" Nany menjewer telinga Moa dengan gemas.
"Aduh! Nany... Aku salah apa??"
Nany mengendus bau-bau minuman dari baju dan aroma mulut Moa, ia segera menutup hidungnya rapat-rapat lalu menarik Moa masuk ke dalam kamarnya.
"Tuan muda mabuk?? Sejak kapan bisa minum-minum??" Gumam Nany pelan.
"Aku tidak mabuk Nany, sungguh!!" Bantah Moa pelan, pria itu setengah tersenyum.
Ck... Ck... Ck... - Nany menggeleng-gelengkan kepalanya.
Nany merebahkan tubuh Moa pada sofa di dalam kamarnya, ia memang sudah terbiasa mengurus Moa dari baru lahir sampai dewasa jadi dia tidak pernah sungkan untuk melepas atau mengganti pakaian Moa.
"Nah! Pakai selimut saja ya tuan??" Ucap Nany dan mengusap kepala Moa lembut.
Nany kembali ke dapur untuk membersihkan air sumbangan dari Moa, ia mengelap dan mengepel lantai dapur sampai benar-benar bersih dan wangi. Setelah selesai ia berjalan ke ruang tamu, ia (Nany) terkejut ada seorang gadis tengah tidur di atas sofa panjang ruang tamu.
"Lho?? Siapa anak ini??"
Seragamnya mirip dengan tuan muda - Nany.
"Ah! Mungkin saja pacarnya, akan aku bawa ke kamar tuan muda juga!"
Dengan sigap Nany menuntun tubuh Mod yang mabuk parah, belum sampai kamar Moa. Mod muntah-muntah tidak karuan sampai mengenai seragam sekolahnya, Nany hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan kesal. Ia melirik ke arah Mod sangat tajam.
"Ya Tuhan! Kapan selesainya pekerjaanku??" Gerutu Nany kesal.
Nany melepas pakaian Mod dan memasukannya di keranjang baju kotor, ia juga menyeka tubuh Mod dengan lembut agar bersih. Setelah selesai, Nany membaringkan tubuh Mod di ranjang Moa.
"Nih! Biar sama-sama pakai selimut!!" Ujar Nany dengan senyumnya yang menyeringai nakal.
Hihi.. Aku tidak sabar menunggu pagi - Nany.
(FLASHBACK END)
Moa melotot menatap Nany, rasa ingin membunuh tersorot dari mata Moa yang berbinar. Tapi di lain sisi, Moa juga malu mengingat bahwa ia kencing di dapur bukannya di kamar mandi.
Astaga! Jadi... Aku betulan mabuk ya?? - Moa.
"Kenapa tuan??"
"Tidak, bukan apa-apa!" Moa menyelonong pergi meninggalkan Nany, wajah Moa benar-benar merah padam.
"Hahaha" Nany tertawa keras dari tempatnya.
"Jangan tertawa Nany!!" Teriak Moa kesal.
"Nany senang sekali!!"
"Berisik! Sekali lagi tertawa, aku tidak akan memaafkan Nany..."
"Duh! Anak kecilku ngambek" Nany terus menggoda Moa yang berjalan semakin jauh.
Dasar Nany itu ya?! Bisa-bisanya melepas pakaianku tanpa rasa bersalah!! Duh bodohnya aku! Kenapa aku pakai mabuk segala!! - Moa.
Bersambung!!
Halo, terima kasih sudah membaca! jangan lupa dukung saya dengan Like, komentar, rating, Vote dan Share ya?? dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘