Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
I.M




Cplash!!


Cplash!!


Cplash!!


Suara deburan ombak pantai yang cukup tenang menenangkan hati siapa saja yang datang ke tempat itu.


Di bawah sebuah jembatan kayu yang biasa di gunakan oleh manusia untuk tempat memancing ikan, terlihat seorang wanita cantik yang tengah menyeret tubuh seorang gadis dengan sekuat tenaga.


"Ya Tuhan! Berat sekali!!"


Bagaimana tidak? Ukuran tubuh Isabella Mikaelson dan Deryne Mikaelson tidak jauh berbeda, atau bisa di bilang sama. Isabella merasakan sakit yang luar biasa di bagian punggungnya, apalagi di umurnya sang sekarang ini sakit pinggang bukanlah hal asing bagi dirinya.


"Kalau sudah bangun akan aku bikin sarden bocah ini!!"


Merasa tak kuat lagi menarik tubuh Ryn, Isabella memilih untuk menggelindingkan tubuh Ryn sampai ke bibir pantai. Tempat ini sangat sepi, Isabella sangat berhati-hati dalam memilih sebuah tempat.


Perlahan ombak ringan menyentuh tubuh Ryn, dengan buru-buru Isabella melangkah mundur menjauhi tubuh Ryn dan melihat perubahannya dari jauh. Ia duduk berjongkok sambil terus menatap Ryn.


Insang Ryn terbuka lebar menerima setiap air yang datang kepadanya, indera penciuman Ryn bergerak-gerak dengan buas. Seakan sangat merindukan rasa air laut yang asin.


Ryn membuka matanya perlahan, ia tersenyum senang dan melepas pakaiannya sendiri dengan hati-hati agar tidak merobeknya. Gadis itu bergeliat dengan bahagia, kakinya kini telah berubah menjadi sirip ikan.


Betulan duyung - Isabella.


Berulangkali Ryn membuka dan menutup matanya, merasakan dinginnya air laut yang sangat ia rindukan. Ini kesempatan yang bagus untuk me-refresh ulang kekuatannya, selama ini ia hanya berendam di air tawar (bak mandi Mod) rasanya berbeda dengan air laut.


"Wah-wah, senang sekali ya??" Sindir Isabella sumringah.


Terkejut, Ryn beralih menatap si sumber suara. Gadis itu mendengus kesal, ia mengerang ganas seperti hewan buas. Perlahan ia memundurkan tubuhnya agar menjauh dari bibir pantai.


"Tidak tahu terima kasih!!" Isabella melotot, "Kalau bukan aku yang membawamu kemari, kau sudah mati kering di pinggir jalan!"


Cara bicaranya ini.... - Ryn.


"Awalnya aku tidak tahu bahwa kau duyung, aku bingung harus membawamu kemana"


".........." Ryn masih menatap Isabella dengan takut.


"Tapi, gara-gara aku menumpahkan air minum'ku kepadamu! Aku tahu kau duyung, jadi ke tempat inilah aku membawamu! Keren kan??"


Isabella berkacak pinggang penuh kesombongan, jika ini kartun mungkin saja hidung Isabella sudah membesar saking belagunya.


"Terima kasih..."


"Apa?! Aku tidak dengar loh" goda Isabella.


"Terima kasih..." Ryn mengulangi kalimatnya dengan sedikit keras, agar Isabella mendengarnya dan merasa senang.


"Tak perlu sungkan!"


Isabella duduk di pasir pantai yang kotor, ia menekuk kedua lututnya dan sibuk memandangi Ryn dari jauh. Merasa tak enak hati dan risih, Ryn membawa tubuhnya menuju daratan.


"Eh?? Sudah selesai berenangnya?"


"Karena anda menunggu, saya jadi tak enak hati"


"Duh! Sopan sekali... Siapa namamu?"


"Deryne, panggil saja Ryn" sahut Ryn datar. "Anu... Anda tidak terkejut dengan wujud saya?"


Gawat!! Masa aku bilang kalau keponakanku tinggal dengan duyung?? - Isabella.


"Mmm, awalnya sih terkejut! Hehe"


"Awalnya???"


"Iya... Tapi tenang saja! Aku tak akan memberitahukannya pada siapapun" Isabella nyengir sembari menunjukan deretan giginya yang rapi.


"Benarkah? Apakah manusia bisa di percaya??" Sindir Ryn ketus.


"Tentu saja! Isabella Mikaelson tidak pernah mengecewakan kok"


Mata Ryn membulat, ia refleks menoleh kepada wanita cantik yang baru saja menolongnya. Pupil mata gadis itu bergetar, menahan buliran air mata yang ingin menetes dari mata indahnya.


"Anda bilang siapa diri anda??" Ujar Ryn terbata-bata.


"Hmm?? Aku??" Isabella mengerutkan dahinya bingung.


"Iya... Siapa nama anda?"


"Isabella Mikaelson" ucap Isabella datar.


Nenek Isabella Mikaelson?? - Ryn.


"Kenapa melamun? Apa nama itu mengganggumu?"


"Ah, tidak kok! Nama yang bagus"


Ryn memalingkan wajahnya, jantungnya berdegup dengan kencang. Ia sangat senang, terharu dan sedih, semua bercampur menjadi satu. Di kehidupannya sebelum datang kesini, terakhir kali ia bertemu Isabella adalah saat ia masih berumur 12 tahun.


Kau tidak tahu, betapa bahagianya aku bertemu denganmu sekarang! - Ryn.


"Nah! Jika sudah selesai berenangnya bisa kita pergi??"


"Eh?? Mmm... Bagaimana baiknya aku memanggil anda??"


"Mmm, sepertinya umurmu tak jauh berbeda dari keponakanku. Panggil saja aku bibi"


"Mana bisa begitu! Bagaimana kalau nona Isabella??" Tawar Ryn senang.


"Setuju!"


"Baiklah... Aku akan menunggu!"


Ryn mencuri-curi pandang pada Isabella, terkadang ia tersenyum kecil di balik palingan wajahnya.


"Nona Isabella, sepertinya anda pernah melihat duyung lain selain saya ya? Melihat nona tidak merasa bingung dan takut saat melihat saya"


"Hmm, bagaimana ya?? Kalau dibilang pernah sih pernah, kalau dibilang belum pernah juga boleh"


"Nona penuh teka-teki ya??"


"Di saat bertemu orang baru yang kita tidak tahu dia baik atau buruk, bukankah lebih bagus memberi sebuah teka-teki?"


"Benar!! Seperti saya yang masih menjadi teka-teki bagi semua orang"


Isabella tertegun dengan kalimat Ryn, ia berpikir keras memecah teka-teki yang di berikan Ryn padanya. Tapi itu mustahil, bagaimana mungkin Isabella bisa memecahkan teka-teki tersebut sementara dirinya baru saja bertemu dengan Ryn.


"Kau tahu??"


"Apa??" Ryn mulai membersihkan tubuhnya dari sisik yang mengelupas.


"Namamu hampir mirip dengan nama kakakku"


"Oh iya?? Siapa nama kakak nona?" Padahal Ryn sudah tahu, tapi ia hanya ingin basa-basi saja.


"Derick, bagus kan??"


"Iya, nama yang bagus! Derick dan Deryne, memang sedikit mirip! Mungkin jika kita seumuran akan dikira kembar, hehe" Ryn tertawa riang.


"Benar" tatapan Isabella mulai sayu, matanya teralihkan untuk menatap lautan luas di depannya.


Nenek pasti merindukan kakaknya... - Ryn.


.


.


.


.


.


.


Perjalanan menuju rumah hampir mirip menuju lembah kematian, tidak ada yang saling bicara. Bahkan jarak antara Moa dan Fuu begitu kuat dirasakan oleh Densha, dengan bingung Densha memandangi kedua makhluk dengan rambut mereka yang masih basah.


"Hah..." Densha menghela nafas panjang. "Kalian kenapa? Sedang bermusuhan??"


Ucapan Densha disambut dengan tatapan dingin dari Fuu, sedangkan Moa hanya menggelengkan kepala dengan sedih. Jujur saja! Saat ini Moa sangat frustasi, ia tidak tahu apa salahnya kenapa tiba-tiba Fuu merubah sikap terhadap dirinya.


"Hei Moa, ada apa sih?!"


"Aku sih tidak ada masalah apa-apa" Moa menatap Fuu yang terus menunduk menyembunyikan wajahnya.


"Dan... Kenapa kalian berdua basah kuyup? Apa ada sesuatu yang terjadi??"


"..........." Fuu mengangguk pelan.


"Beneran?? Kalian kenapa?"


Moa memperlambat langkah kakinya, pria itu menatap Densha dengan sayu. Lantas bersiap untuk cerita.


"Tadi... Kami di serang Katrina"


"Apa?! Kapan??"


"Saat kau dan Mod menerima ujian susulan, aku melihat Katrina. Fuu ingin pergi, aku sudah melarangnya tapi..."


"Apa kau ikut pergi??"


"Ck!! Sial!! Aku sudah berdiri lama memandang'mu berharap kau akan melarang kami. Tapi... Kau malah sibuk dengan kertas-kertas ujian itu!" Cerocos Moa asal.


"Kau tahu kan? Bagaimana situasi'ku di dalam sana"


"Iya... Iya... Karena Fuu ingin memastikan itu benar Katrina atau tidak, jadi aku menemaninya pergi"


"Lalu??"


"Katrina menyerang kami, gadis itu sudah berubah menjadi penyihir"


"Moa jangan bercanda!" Densha menatap sahabatnya dengan tajam.


"Aku tidak bercanda! Aku berkata jujur, kau tanya saja pada Fuu! Katrina membuatku melekat pada dinding yang tinggi itu. Bahkan dia membanting tubuhku"


"Astaga! Apa kau baik-baik saja??"


"Itu masalahnya... Seingat'ku aku mengalami retak tulang pada kakiku, tapi saat aku bangun dari pingsan kakiku baik-baik saja"


Densha beralih memandang Fuu yang terdiam, ia mengerti. Fuu pasti memberikan darahnya pada Moa saat Moa tak sadarkan diri, tapi... Kenapa dia mengacuhkan Moa kalau masalahnya hanya memberikan darah? Apa ada hal lain yang terjadi? Begitu pikir Densha.


"Kenapa kau pingsan??"


"Aku tidak ingat, terakhir yang aku ingat. Katrina menjebak Fuu di dalam sebuah tandon air belakang sekolah, lalu kami tenggelam di dalamnya"


Suasana hati Moa benar-benar memburuk, ia mencoba mengingat apa yang terjadi setelah dia pingsan. Namun semuanya sia-sia, ia hanya berharap semoga dirinya (Moa) tak melakukan hal buruk pada Fuu saat mereka terjebak di dalam tandon air tersebut.


"Kita berpisah dari sini! Kalian hati-hati ya??"


"Iya..." Densha melambaikan tangannya pada Moa yang pergi ke jalan lain.


Bersambung!!


Berikan cinta kalian pada karya saya dengan cara Like, Komentar, Follow, Favorit, Rate, dan Vote!! Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😊🙏