Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Menjenguk Densha (part 2)



"Salah paham apa?"


"Tentu saja salah paham terhadap kami"


"Apanya yang salah paham?! Aku tidak menyangka kalian ini.. pantas saja kalian kemana-mana berdua!"


"Hei bodoh! Aku masih normal!" Bantah Densha tegas.


"Lalu kenapa kau bertelanjang dada dan berpose panas seperti itu?"


"Apa?! Pose panas? Gadis ini benar-benar tidak waras ya?!"


"Mod! Kami tidak sengaja jatuh tau!!" Jelas Moa pada Mod.


"Lagipula mana mungkin kami berdua seperti yang kau pikirkan!! Kau tau jelas kan Densha menyukai siapa?" Moa melirik ke arah Fuu.


"Astaga! Kau benar! Maaf kan aku"


"Lain kali jangan menilai orang sembarangan!!"


"Aku menilai berdasarkan kenyataan yang aku lihat tahu!"


"Kalau begitu pengelihatan mu perlu di periksakan!!" Kata Densha ketus.


"Ck! Kau ini!!"


Mereka bertiga saling bertatapan dingin, Fuu yang tidak tahu apa-apa dibuat kebingungan sendiri.


"Fuu lapar" ucap Fuu pelan yang membuat mereka bertiga secara bersamaan menoleh ke arah Fuu.


"Ah! Fuu lapar? Ayo kita makan.. sebentar aku siapkan dulu" Mod bergegas berdiri, menyiapkan piring dan lainnya.


"Tuh lihat! Calon ibu yang baik" Densha berbisik pada Moa.


"Kau mau? Akan aku jodohkan!!"


"Cih! Yang benar saja, lagipula aku sudah ada calon kok!" Densha tersenyum menatap Fuu, padahal gadis itu sedang memperhatikan Mod.


"Hah?! Gadis bodoh itu"


"Hei?! Minta di pukul ya?"


"Cih.. aku tidak tahu jika selera mu seperti itu"


"Hei!! Kau cuma belum kenal saja!"


"Ya, mungkin kau benar!"


"Awas saja kalau kau sampai menyukainya! Akan ku patahkan lehermu!!" Ancam Densha pada sahabatnya itu.


"Hei bung! Tenang saja" Moa menepuk bahu Densha pelan.


Kau sangat menyukainya ya bro? Sebelumnya aku tidak pernah melihatmu seceria ini, perlahan kau berubah. Tapi perubahan itu baik. Terima kasih Fuu - Moa


Selesai makan malam mereka berempat berkumpul di ruang tamu, Mod dan Fuu duduk di lantai, sedangkan Moa dan Densha selonjoran di atas sofa. Moa tengah asik dengan game di layar ponselnya. Densha hanya membaca buku dengan serius.


"Wahh! rambut mu indah sekali" puji Mod kepada Fuu, gadis itu sedang menyisir rambut Fuu.


"Mod.."


"Ya?"


"Mau mengajari Fuu cara membaca?"


"Eh?! Fuu tidak bisa membaca?"


Densha yang mendengar percakapan mereka melirik ke arah dua gadis itu.


"Tidak"


Cih! Jujur sekali - Densha.


Anak ini berani berkata jujur - Mod.


"Fuu mau belajar??"


"Iya.. Fuu ingin menjadi lebih baik"


"Kau sudah sangat baik Fuu" Mod tersenyum tulus.


"Sangat baik darimana? Bodoh dan buta huruf kau bilang baik?!" Celetuk Moa, pria itu tetap memainkan game di ponselnya. Ia berkata tanpa melihat Fuu.


Plak!


Densha memukul kepala Moa dengan buku yang ia pegang, membuat Moa kesakitan.


"Duh.. apa sih?"


"Jangan bicara sembarangan!" Tegas Densha.


"Hei.. aku berkata benar tuh"


"Anak ini minta di pukul berapa kali baru bisa diam?"


"Kau saja yang aku pukul! Sini!! Kau pikir aku juga tidak bisa memukul hah?!"


"KALIAN BERDUA HENTIKAN!!" Teriak Fuu yang membuat ketiga manusia itu merasakan sakit di telinga mereka.


"Astaga!" Densha menutup telinganya rapat.


"Apa itu barusan?"


"Aduh! Telingaku berdengung" pekik Moa yang berguling-guling di lantai.


"Fuu, suaramu..."


"Maaf" ucap Fuu polos.


"Jika Moa dan Densha ingin bertengkar silahkan pergi dari sini, Fuu tidak mau dengar"


Eh? Apa dia marah? - Densha.


"Fuu tidak suka.. hiks.. hiks.. Fuu benci kekerasan" air mata Fuu mulai mengalir, gadis itu terisak-isak menahan tangisnya.


"Eh? Kau menangis? Gendang telingaku yang hampir pecah malah kau yang menangis?" Ledek Moa sinis.


"Moa!!" Densha menatap Moa tajam, membuat pria itu terdiam seketika.


"Fuu.. mereka tidak sungguh bertengkar"


"Benarkah?"


"Iya, bukan begitu teman-teman?" Mod memandang kedua pria di depannya itu. Densha dan Moa saling memandang satu sama lain lalu mereka berdua menganggukkan kepala pelan.


"Ya.. kami hanya bercanda. Berhentilah menangis" Densha menghampiri Fuu, ia mengusap kepala Fuu pelan.


"Ahh.. kau manis sekali" puji Mod pada Densha.


"Apa? Kau juga mau?"


"Kalau Densha yang lakukan mau tuh"


"Pakai kaki mau?"


"Brengsek!!"


"Haha, aku tidak mau di sentuh siapapun selain Fuu tau!!"


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Moa terbatuk-batuk, ia berlari ke dapur dan meminum segelas air, beberapa saat ia kembali ke ruang tamu.


"Kau kenapa?"


"Tidak.. aku hampir mati mendengar kata keramat itu"


"Kata keramat?" Tanya Mod.


"Mungkin aku hanya mimpi"


"Memang kata apa yang kau dengar?"


"Aku dengar 'aku tidak mau di sentuh siapapun selain Fuu' begitu"


"Ck! Sayangnya kau tidak sedang bermimpi, Densha betulan mengatakannya tuh" Mod cekikikan melihat tingkah konyol Moa.


"Hah?! Serius?!"


"Iya, haha"


Dia tertawa lagi - Moa.


Fuu mengajak Mod untuk ke kamar, mereka berdua belajar membaca di dalam kamar Densha. Mod di buat takjub oleh kecerdasan Fuu, baru dua jam Fuu sudah lancar membaca bahkan ia sudah pandai menulis dengan benar, yaahh.. walaupun tulisannya tidak terlalu bagus namun masih bisa di baca.


"Kau pintar sekali"


"Terima kasih"


"Apa semua duyung sepandai ini?"


"Fuu tidak tahu, sepertinya iya"


"Aku jadi kagum denganmu Fuu"


"Kagum?"


"Kagum itu menyukai"


"Eh?!"


"Hei, aku menyukai karena aku senang berteman denganmu. Begitu, tidak ada hal lain"


"Begitu ya?" Fuu melanjutkan menyalin kalimat yang di tulis oleh Mod.


"Ya.. begitulah"


"Ng.. Mod?"


"Ya?"


"Jika Fuu dan Densha saling mencintai akan lahir siapa?"


"Eh? Pertanyaan macam apa itu?"


"Densha bilang suruh tanyakan hal ini pada perempuan"


"Begitu ya? Tentu saja akan lahir anak kalian! Tapi kalian masih jauh untuk ke tahap itu"


"Anak?"


"Iya.. bayi yang lucu, tinggal kau berikan nama saja dia"


"Nama?"


"Nama itu panggilan. Biasanya orang memanggilmu apa, begitu"


"Seperti Fuu? Di dalam air kami tidak punya nama"


"Dari tuan dan nyonya Mikaelson"


"Keluarga Mikaelson? Astaga! Tante-tante cantik yang sering muncul di TV itu? Siapa ya namanya aku lupa"


"Nona Isabella??" Tanya Fuu polos.


"Ya.. kau benar Isabella Mikaelson, aku sangat mengidolakannya. Dia tipe wanita pebisnis kesukaanku"


"Nona Isabella itu bibi Densha"


"Eh?"


"Mod tidak tahu ya?"


"Tahu apa?"


"Nama panjang Densha adalah Densha Mikaelson, Densha anak dari tuan dan nyonya Mikaelson yang memberi Fuu nama"


"HAH?! SERIUS??" Teriak Mod tidak percaya.


Fuu menganggukkan kepala, membenarkan kalimat Mod.


"Astaga! Jadi aku selama ini satu sekolah dengan pewaris tunggal perusahaan terkaya di negri ini?"


"Fuu tidak mengerti apa yang Mod bicarakan"


"Ya Tuhan.. pantas saja dia tampan sekali dan auranya itu loh, menggoda membuat para gadis mengejarnya" Mod kegirangan sendiri membicarakan Densha, gadis itu lalu menatap Fuu dan memegang bahu Fuu erat.


"Dengarkan aku Fuu, kau itu duyung yang beruntung bertemu dengannya"


"Maksud Mod bertemu Densha?"


"Iya, benar!! Jangan di sia-siakan ya? Sumpah.. hidupmu akan terjamin sampai generasi ke sepuluh" Mod tersenyum lalu memeluk Fuu.


"Mod bicaranya aneh, Fuu tidak paham"


"Haha.." Mod malah tertawa keras.


***


"Kami pulang dulu ya?" Ucap Moa dan Mod bersamaan, mereka membungkukkan badan di depan pintu.


"Jangan mampir lagi ya?"


"Dasar pria bodoh!!" Mod menatap Densha kesal.


"Hati-hati Mod.. Fuu tidak sabar bertemu Momo" ucap Fuu tersenyum senang.


"Eh? Siapa itu Momo?" Densha menoleh ke arah Fuu.


"Ya, siapa itu Momo?" Tanya Moa heran.


Apa itu nama panggilan Mod? - Moa.


"Jika Mod dan Moa saling mencintai maka lahir lah Momo, anak kalian!" Fuu tertawa riang dengan kalimatnya. Dengan polosnya ia menamai anak Moa dan Mod yang bahkan belum lahir (belum bikin juga)


"APA?!" Teriak Moa dan Mod bersamaan. Densha sama terkejutnya dengan kata-kata Fuu, pria itu hanya menggelengkan kepala pelan.


"Iya, Momo.. Moa dan Mod"


Moa dan Mod saling menatap satu sama lain, mereka membuang pandangan masing-masing ke tempat lain. Tanpa sadar wajah mereka memerah.


"Haha, tolong jangan dengarkan Fuu!"


"Te.. tentu saja! Gadis aneh itu bicara sembarangan!" Moa mendengus kesal dan berjalan meninggalkan halaman rumah Densha.


"Anu.. ng.. a.. aku.. pulang! Selamat malam!" Mod berjalan menyusul Moa yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Di perjalanan pulang mereka berdua terdiam membisu satu sama lain, bahkan saling membuang muka.


Cih! Jadi canggung sekali! - Moa.


Dasar! Si Fuu itu suka bicara sesuka hatinya - Mod.


"Ng.. anu.. aku akan lewat sini" Mod menunjuk ke arah jalan lain.


"Eh? Kenapa? Bukankah semakin jauh?"


"Ah.. haha, tidak kok. Aku kan juara lomba lari"


"Mm.. itu.. akan aku antar" wajah Moa memerah.


"Eh? Ti.. tidak perlu, sungguh"


"Ini sudah malam, tidak baik seorang gadis berkeluyuran seorang diri"


"Ba.. baik lah" Mod benar-benar gugup saat ini.


"Anu.. tidak usah dengarkan kata-kata gadis aneh itu!" Ucap Moa, ia berusaha mencairkan suasana.


"Eh? Aku tidak mendengarkannya tuh!"


Huft.. jelas sekali kau berbohong! - Moa.


"Moa.."


"Ya?"


"Terima kasih, kau sudah repot-repot mengantarku"


"Apa sih?!" Moa tersipu malu.


"Ini.. pertama kalinya ada pria yang mengantarku pulang"


"Benarkah?"


"Iya" pipi Mod memerah.


Syukurlah.. Eh apa? Syukurlah?? Dasar sinting!! Aku ini sedang apa sih? - Moa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.


"Eh?? Moa kenapa?"


"Ah! Haha, tidak apa-apa.. leherku sedikit sakit saja"


"Aduh.. benarkah? Maaf, kau pasti kelelahan, lagipula rumahku terlalu jauh dari rumahmu. Bahkan kita sudah melewati rumahmu"


"Tenang saja! Tidak apa-apa kok, jangan khawatir"


Mereka berdua terus berjalan sampai di depan jalan rumah Mod, ayah Mod sudah menunggu di sana dengan cemas.


"Mod??"


"A.. ayah? Kenapa di luar?"


"Ayah menunggumu sayang, kau kemana saja dan kenapa masih pakai seragam sekolah?"


"Aku pergi ke rumah temanku ayah"


"Teman?" Ayah Mod melirik ke arah Moa.


"Bu.. bukan yang ini, temanku sedang sakit jadi aku menjenguknya. Dia.. hanya mengantarku pulang!"


"Benarkah? Kalian berdua tidak habis dari hotel kan?"


"Ayah ini bicara apa?! Bikin malu saja!!" Wajah Mod merah padam.


"Hei kau anak muda!!" Ayah Mod memanggil Moa.


"Iya??"


"Jangan lupa pakai pengaman ya? Awas kalau sampai jadi!! Umur kalian masih jauh untuk menjadi orang tua!!"


"Ayah bodoh!! Hentikan!!" Mod menarik ayahnya agar masuk ke dalam rumah, ia mengisyaratkan agar Moa segera pulang.


"Maafkan ayahku Moa!!" Teriak Mod dari dalam.


Wajah Moa kaku, tidak bisa di gerakkan ia terlalu terkejut dengan kalimat sakral yang di lontarkan oleh ayah Mod.


Pe.. pengaman katanya?? - Moa.


"Sial! Ciuman saja aku belum pernah, malah di kira sudah meniduri anaknya!! Aku punya dosa apa ya di masa lalu? Kenapa hari ini aku apes sekali" gerutu Mod kesal seorang diri. Pria itu pergi dari jalanan rumah Mod menuju ke rumahnya sendiri.


~


"Kau sedang melatih tanganmu ya?"


"Iya, Fuu ingin tulisan tangan Fuu terlihat bagus"


"Kau belajar dengan cepat ya? Baru kemarin kau bilang padaku tidak bisa membaca, sekarang lihat! Kau sangat lancar"


"Itu semua berkat Mod"


"Bukan berkat Mod!! Tapi karena berkat yang di terima olehmu! Tuhan menciptakanmu berbeda"


Fuu terdiam mendengar kalimat Densha, cara bicara Densha seolah pria itu tahu bahwa Fuu adalah duyung, namun Fuu tidak mau berpikir ke arah sana terlebih dahulu.


"Ada apa? Kenapa diam?"


"Ti.. tidak ada apa-apa. Fuu lelah"


"Istirahatlah!! Matikan lampunya dulu ya?"


"Okay, baik"


Cara bicaranya yang itu tidak berubah ya? - Densha.


"Hei Fuu?"


"Ada apa?"


"Minuman yang kau berikan padaku tadi apa? Kau bilang itu teh, tapi rasanya bukan, entah kenapa tiba-tiba aku sembuh"


Apa mungkin Fuu bilang kalau itu di campur dengan darah Fuu, tidak.. tidak.. tidak boleh - Fuu.


"Fuu tidak tahu teh itu yang mana, jadi semua yang ada di dapur Fuu campur"


"Apa?! Kau gila ya? Mau meracuniku?"


"Ti.. tidak kok, Fuu tidak ingin menyakiti Densha"


"Haha, aku hanya bercanda!"


"Fuu tidur ya?" Fuu merebahkan diri di tempat tidurnya yang berada di lantai. Ia menarik selimut sampai menutupi wajahnya.


"Selamat malam Fuu"


"Selamat malam Densha"


Kau sedang berbohong Fuu, aku tahu karena kau tidak bisa berbohong! - Densha.


Bersambung!!


Jangan lupa Like, Komentar, Vote, Follow dan Favorit ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya. Terima kasih 😘🙏