
Jantung Densha berdegup dengan kencang sejak pertama kali menginjakkan kakinya di Festival tengah kota. Ke empat orang di dalam mobil saling mengulurkan tangan untuk melakukan tos.
"Oke, jadi begini rencananya! Kita akan berpencar, kalau bisa kita harus menyelidiki bagian dalam acara ini" ucap Mod serius.
Densha dan Moa menganggukkan kepala dengan serius, mereka berdua mendengar perintah Mod dengan baik.
"Nona Isabella, anda cukup bertanya pada karyawan-karyawan disini ya? Siapa tahu mereka melihat sesuatu yang mencurigakan dan aneh"
"Itu sih mudah untuk'ku" jawab Isabella sombong.
Ke empat orang itu keluar dari mobil, mereka berpencar berharap menemukan sesuatu yang bagus di tempat ini.
Mod menjelajahi tempat stand makanan didirikan. Gadis itu menelusuri satu tenda ke tenda lainnya sambil mengorek informasi tentang pertunjukan putri duyung asli.
"Maaf, apa anda bisa sedikit membantu saya?" Tanya Mod dengan ramah.
Pelayan kedai tak begitu mengindahkan kalimat Mod, ia terus sibuk memanggang sate seafood yang menjadi menu andalan tokonya.
"Saya akan beli" lanjut Mod.
"Mau beli berapa?" Pelayan toko tersenyum ramah. "Minimal 10 tusuk" imbuhnya.
Hah?! Sudah gila ya? Jadi... Ini sebabnya ayah tidak pernah membawaku ke Festival? - Mod.
"Baiklah... Tapi bisakah kau menjawab pertanyaan dariku?"
"Bisa" pelayan kedai manggut-manggut.
"Apakah pertunjukan putri duyung asli itu benar??"
Pelayan kedai menatap Mod serius, ia melirik ke kiri dan ke kanan. Sejujurnya ia tidak terlalu menyukai Festival seperti ini, namun pekerjaannya selalu membawanya ke tempat semacam sekarang.
"Saya tidak tahu dan saya tidak begitu peduli, saya tidak percaya duyung atau mahkluk aneh lainnya"
"Ah... Begitu ya?"
Cih! Sialan!! - Mod.
"Tapi..." Pelayan itu setengah berbisik saat bicara pada Mod. "Saya rasa putri duyung di acara ini palsu, pakai kostum"
"Eh?? Benarkah?? Anda tahu darimana?" Mod ikut berbisik.
"Aku sering menonton nya di televisi, acara semacam ini banyak bohongnya. Hanya untuk menarik minat pengunjung"
Pegawai kedai menyerahkan sepuluh tusuk sate panggang pada Mod, dengan sedikit muka masam Mod membayar tagihan makanan yang seharusnya tidak ia beli.
Mod berjalan meninggalkan tenda itu, ia berpikir. Ucapan pelayan itu ada benarnya, hal semacam ini lumrah terjadi di dunia pertunjukkan atau sirkus. Mereka akan mengaku asli padahal sebetulnya tidak.
Tak jauh dari lokasi Mod, Densha berjalan mengitari area dekat Aquarium raksasa diletakkan. Pria tampan itu berdiri tepat di belakang layar proyektor, atau lebih tepatnya di depan truk katrol.
Densha mengedarkan pandangannya, ia tak ingin terlihat mencurigakan. Dengan santainya ia berjalan mendekati truk Katrol dan berusaha menaikinya karena ada orang yang sedang berada disana.
"Ya Tuhan! Siapa kau? Kenapa kesini?" Ucap seorang bapak-bapak.
"Ah... Maafkan aku, aku hanya kebingungan. Untuk apa ada truk Katrol disini?" Tanya Densha sebiasa mungkin.
"Aduh! Anak kecil besar sekali rasa ingin tahunya" ledek sang sopir. "Entahlah... Aku sendiri sedang bertanya-tanya"
"Anda juga tidak tahu??"
Bapak-bapak tua itu mengangkat bahu tidak peduli. Ia kembali fokus membaca koran yang ia simpan untuk menemani rasa bosannya.
Untuk apa ada truk katrol di belakang layar proyektor?? Dan kenapa pengait truk ini tepat di atas aquarium?? - Densha.
Densha menatap bagian pengait truk dengan serius, benda tajam nan runcing berbentuk bulan sabit itu sedikit bergoyang terkena hembusan angin.
"Apa bapak akan mengangkat sesuatu dan memasukkannya ke dalam sana?"
Bapak tua hanya melirik Densha, ia sama sekali tak menggubris remaja tampan yang sedang haus akan informasi.
"Apa aku benar?? Apa yang akan bapak angkut dengan truk ini?" Densha sama sekali tidak menyerah.
SRAK! SRAK!
(Bunyi kertas koran yang di buka dengan kesal)
Si bapak tua menatap Densha serius, ia membanting korannya ke samping. Dan kini pak tua itu menyentuh kedua bahu Densha.
"Kau tahu?! Tidak ada hal yang paling mengerikan di dunia ini selain pekerjaanku, jadi saat aku santai. Bisakah kau tidak menggangguku?"
Saking kesalnya bapak tua itu sampai mendorong tubuh Densha. Ia memaksa Densha agar turun dari truk yang ia tumpangi. Dengan wajah penuh emosi ia menunjuk tempat lain agar Densha pergi, secara tidak langsung ia mengusir Densha.
"Sialan! Aku kan hanya bertanya" gerutu Densha kesal.
Lain Densha lain Moa, entah kenapa karena ia begitu menyukai komik! Pria berambut pirang itu menyusup masuk ke sebuah ruangan aneh dan menurutnya mencurigakan. Ruangan itu tepat di depan parkiran mobil, ini bukanlah ruangan yang berdiri secara permanen. Karena bangunan ini hanya bangunan sementara.
Dengan pakaian yang serba hitam dan memakai masker, ia berhasil memasuki ruangan itu. Moa bertingkah seperti para Kru festival tersebut, matanya jeli melihat seember ikan mentah yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Untuk apa ikan-ikan ini??"
Moa berjalan semakin ke dalam, ia menyusuri ruangan demi ruangan untuk mencari petunjuk.
Moa membaca tanda pengenal itu dan seolah-olah mengenali manusia yang mengajaknya bicara.
"Oh... Ternyata kau! Mmm... Ruly?" Ucap Moa ragu.
"Dimana tanda pengenal mu?" Ruly menatap dada bidang Moa namun tak menemukan tanda pengenalnya.
"Saat ini aku sedang mencarinya, mungkin terjatuh di suatu tempat"
"Oh? Biar aku bantu! Siapa namamu??" Ruly berjalan menjauhi Moa.
"Tio, namaku Tio" Moa terkekeh menyebutkan nama yang ia karang sendiri.
"Baiklah... Aku akan mencarinya di sebelah sana"
Ruly pergi meninggalkan Moa. Dengan jantung yang masih berdebar hebat, Moa mengusap-usap dadanya lega, pria itu begitu khawatir penyamaran yang dilakukannya akan terbongkar.
"Oke Moa! Tenangkan dirimu"
Moa mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya pelan. Ia kembali berjalan mencari keberadaan Fuu atau siapapun yang mampu memberinya petunjuk.
Pria berambut pirang itu berjalan melewati sebuah ruangan dengan pintu kain. Ia membaca nama ruangan itu dengan fokus.
"Mermaid room??" Moa mengangkat sebelah alisnya.
Dengan cepat ia membuka pintu ruangan itu, matanya menyapu seluruh ruangan mencari keberadaan sang putri duyung. Namun ruangan itu kosong, bukan seperti ruangan putri duyung. Ruangan ini lebih tepat di sebut ruang make up dan kostum, berjejer kostum putri duyung yang cantik disana.
"Sial!" Maki Moa kesal.
Di depannya jalan buntu, sudah habis ia menyusuri ruangan namun tak menemukan petunjuk sekalipun. Moa berjalan dengan malas menuju pintu keluar, entah kenapa matanya terfokus pada sebuah kandang besi yang di selimuti kain putih besar. Bahkan ia sampai tidak bisa melihat isi kandang itu.
"Besar sekali kandang ini??" Moa berdiri tepat didepan kandang itu.
Terdapat papan bertuliskan binatang buas dan anti cahaya disana. Bahkan siapapun dilarang untuk membukanya, Moa menggeleng-gelengkan kepala pelan. Ia nyengir membaca papan larangan tersebut.
"Dasar! Ada-ada saja pikiran orang yang membawa binatang aneh ke kota ini"
Moa mengusap bagian luar kain dengan lembut. Ia berjalan menjauh, pergi meninggalkan kandang jeruji besi yang tanpa ia ketahui Fuu terbaring lemah di dalam sana.
Hidung Fuu bergerak-gerak, mencium sesuatu. Aroma yang begitu familiar baginya, jemari tangan Fuu berkedut. Ia tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya. Bibirnya bergetar sulit untuk mengatakan sesuatu akibat obat bius yang ia terima tadi pagi. Bahkan Edmund tak memberinya makan sebelum ke tempat ini.
"Mo... A..." Ujar Fuu lirih.
Di sudut matanya, kristal bening mengalir membanjir wajah cantik Fuu. Ia menangis tanpa suara, meratapi nasib buruk yang menimpa dirinya saat ini.
"Mo... A..."
Suaranya begitu pelan dan terbata-bata, siapapun tidak dapat mendengar dia berbicara saat ini. Selang beberapa menit kemudian ia kembali memejamkan kedua mata indahnya.
"Kenapa bagian belakang leherku merinding ya?" Moa mengusap tengkuk lehernya. Ia berbalik untuk melihat sesuatu di belakangnya, namun tidak ada apapun disana.
Dengan santai Moa meneruskan perjalanannya keluar dari ruangan aneh itu. Dia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Densha dan menanyakan keberadaan pria itu.
__________________________________________
Isabella Mikaelson, wanita tua yang cantik dan awet muda. Ia menenteng tasnya dan berjalan seperti seorang konglomerat, walaupun itu memang benar adanya.
Wanita itu membeli banyak makanan dan menyelinap masuk ke ruangan salah seorang pegawai disana. Isabella tersenyum dengan manis sambil menenteng makanan yang ia bawa.
"Selamat pagi, ini untuk kalian! Bos meminta saya untuk mengantarkan ini" ucap Isabella ramah.
"Lho?? Bukannya anda Isabella dari keluarga Mikaelson itu? Kenapa bisa disini?"
"Acara ini kan juga dapat sponsor dariku" sahut Isabella senang. Padahal itu semua bohong, tidak mungkin dia membuat acara yang membahayakan nyawa Fuu.
"Wah, begitu ya? Terima kasih nona" ujar pegawai wanita disana.
"Anu... Apa duyung yang di tampilkan hari ini asli?" Isabella melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sepertinya iya... Hari ini saya datang pagi-pagi, dan melihat tuan Edmund datang sambil membawa sebuah kandang jeruji besi yang besar"
Isabella mendengarkan dengan serius, ia manggut-manggut seolah menandakan bahwa ia mengerti.
"Begitu ya? Siapa tahu itu kandang kosong kan?" Tanya Isabella lagi.
"Mmm, mungkin sih! Karena tidak ada sesuatu yang bergerak di dalam sana"
"Dimana Edmund meletakkan kandang itu??"
"Mohon maaf nona, kami juga tidak tahu" si pegawai toko mengangkat bahu tanda tak mengerti.
"Baiklah, tidak apa-apa! Nikmati makanan kalian"
Isabella tersenyum tulus sebelum pergi meninggalkan ruangan para pegawai. Ia berjalan cepat menuju tempat yang hanya terpikirkan oleh dirinya saat ini.
"Kandang besar! Kira-kira dimana ya??"
Bersambung!!
Berikan cinta kalian dengan cara Like, Follow, Favorit, Vote, Rating dan Komentar ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘 Terima kasih.