Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Segerombol



"Jadi... Bisa tolong jelaskan??"


Ayah Mod memandang curiga pada Ryn dan juga putrinya (Mod). Kedua gadis itu saling melempar pandangan sebelum keduanya menundukkan kepalanya dalam diam.


"Ryn???" Panggil tuan Roosevelt dengan penuh penekanan.


"Ah! Itu... Aku hanya..."


Ryn terlihat begitu gugup, gadis itu memutar-mutar kedua jari telunjuknya dengan gemas.


"Bicara dengan benar!!"


"Ayah! Kami hanya bermain" sahut Mod cepat.


"Bermain?? Bermain apa??"


"Itu... Kita bermain rumah-rumahan" Mod menyenggol siku Ryn beberapa kali, ia bermaksud untuk mengajak Ryn berbohong.


"Iya benar! Hanya rumah-rumahan, aku sebagai anak dan Mod sebagai mama" ungkap Ryn dengan senyumnya.


Tuan Roosevelt masih menatap kedua gadis di depannya dengan curiga, ia sama sekali tak mengubah raut wajah yang sudah terukir beberapa menit yang lalu.


"Kalian bercanda?? Atau sedang berusaha membodohi'ku??"


"Kalau itu berhasil kenapa tidak?" Gumam Ryn pelan.


"APA?!" Teriak tuan Roosevelt terkejut, ia sama sekali tidak mendengar gumaman Ryn.


"Ah... Haha, tidak kok"


Mod mencubit lengan Ryn gemas, gadis itu memelototi Ryn dengan sinis seolah menandakan 'Aku akan membunuhmu', Ryn sih mengartikannya begitu, tapi seperti biasa Ryn hanya membalasnya dengan senyum dan tawanya.


"Ayah... Ryn memanggilku begitu, karena dia sedang menggodaku! Dia tinggal disini dan menganggap aku... seperti... ibunya... Iya! Benar, begitu!" Ujar Mod ragu.


"Kalian berdua aneh!" Ledek ayah Mod.


Tuan Roosevelt melangkahkan kakinya menjauhi kedua gadis itu, pandangan mata Ryn dan Mod mengikuti tubuh tuan Roosevelt yang semakin berjalan menjauh, sebelum sempat memasuki kamarnya. Tuan Roosevelt berbalik dan menatap Mod dengan tajam.


"Mod??"


"Iya? Ada apa ayah??"


"Segera carilah pacar! Jangan terlalu larut dalam kesedihan sampai stres begitu!"


KLAP!


(Pintu kamar tertutup)


Aku stres?? Yang benar saja?! - Mod.


"Tuh! Dengarkan kakekku berbicara, segera carilah pacar mama" Ryn mencubit kedua pipi Mod dengan gemas.


"Anak setan! Ini juga karena kau yang tidak berhati-hati"


Mod menarik telinga Ryn kencang, membuat telinga gadis itu membekas kemerahan.


Anak setan?? - Ryn.


"Sakit!" Pekik Ryn cemberut.


"Haha, baiklah... Aku pergi ya?" Tangan lembut Mod mengusap rambut Ryn yang sedang cemberut.


"Iya... Hati-hati"


Ryn mengantar Mod sampai depan pintu, gadis itu melambaikan tangannya untuk mengiringi kepergian Mod yang meninggalkan rumahnya.


Hari ini aku kemana ya?? - Ryn.


Gadis bermata biru itu mengenakan sepatunya, ia menutup pintu rumah Mod dengan hati-hati dan pergi menyusuri jalan. Berharap menemukan sesuatu yang menarik dan bisa membantunya.


Mata indahnya berhenti pada sebuah kertas poster yang tertempel di sebuah papan iklan, ia menatap ke sekeliling untuk memperhatikan jalanan di sekitarnya. Banyak sekali poster dengan tulisan yang sama tertempel di setiap sudut kota.


Lembaran kertas berwarna biru muda itu bertebaran dimana-mana, Ryn yang ingin tahu mengambil sebuah poster yang jatuh di jalan dan membaca isi poster tersebut.


"Festival?? Akhir bulan ini?? Aquarium?"


Dahi Ryn semakin mengkerut membaca setiap tulisan yang tertuang di dalam kertas itu. Ia tersenyum menyeringai lalu menggelengkan kepalanya pelan.


"Ada-ada saja manusia-manusia di tempat ini!"


Gadis bermata biru itu merobek kertas yang ia pegang menjadi beberapa bagian dan membuangnya ke tong sampah, ia kembali meneruskan perjalanan tanpa arah miliknya.


Lagian orang bodoh mana yang akan datang ke festival seperti itu? - Ryn.


(Padahal Moa dan Fuu ingin ke festival itu, secara tidak langsung Ryn mengatai mereka bodoh kan? 😉)


"........."


Langkah kaki Ryn terhenti, ia memutar arah ke arah sebelumnya. Gadis itu kembali menuju papan iklan tempatnya menemukan lembaran poster yang beberapa menit lalu ia buang ke tong sampah.


Mata Ryn lebih fokus membaca setiap kalimat, waktu acara dan pemeran utama yang mengadakan acara itu. Gadis itu tertawa cekikikan membayangkan sesuatu, ia celingak-celinguk memperhatikan kiri dan kanannya. Merasa tidak ada orang, ia mengambil selembar poster lalu melipatnya dan menyimpannya dengan aman ke saku celananya.


"Hehe, pasti menyenangkan!" Gumam Ryn senang.


Ryn mempercepat langkah kakinya menuju suatu tempat, ia ingin sekali menemui Moa dan ingin mengatakan sesuatu pada pria itu.


Di sebrang jalan tempatnya berdiri, segerombol orang sedang meributkan suatu hal. Gadis bermata biru itu hanya memperhatikan sekilas, ia tidak ingin terlalu memperdulikan urusan orang lain.


"Aku tidak bohong! Aku serius melihatnya!!" Teriak si A sambil berapi-api.


"Halah! Itu tidak mungkin kan?? Duyung itu tidak ada, mungkin saat itu kau sedang mabuk!"


Apa? Apa yang mereka katakan? - Ryn.


Ryn menghentikan langkah kakinya, gadis itu menyebrang jalan dan berpura-pura duduk sedikit lebih dekat dengan segerombolan pria dewasa di pinggir jalan.


"Aku memang minum-minum! Tapi aku tidak begitu mabuk sampai tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata!"


"Aku sungguhan! Aku menangkapnya dengan jaring'ku, tapi dia terlepas!"


Mereka nelayan?? - Ryn.


"Hei, tutup mulutmu! Kau tidak lihat ada gadis cantik yang duduk disana? Kau bisa di kira gila loh"


Seketika segerombolan pria dewasa itu menatap Ryn yang duduk tak jauh dari mereka, merasa merinding Ryn memberanikan menatap pria-pria itu lalu tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Ah! Jangan hiraukan aku, aku tidak mendengar percakapan kalian kok?!" Ujar Ryn lugu.


Segerombolan pria itu saling menatap lalu tertawa terbahak-bahak, salah satu diantaranya datang menghampiri Ryn.


"Alasan polos macam apa itu hah?! Jelas kau menguping pembicaraan kami" bentak pria di depan Ryn.


K*p*r*t sinting!! - Ryn.


"Ehem!" Ryn mengepalkan tangannya di depan bibir, gadis itu melirik ke kanan dan ke kiri.


Terlalu banyak orang disini... - Ryn.


Dengan senyumnya yang menggoda, Ryn memiringkan sedikit kepalanya, ia membuat tatapan mata yang mampu menggoda siapapun yang melihat dirinya saat ini. Perlahan jemari lentik milik Ryn menyentuh kerah bajunya sendiri, membuat pria dewasa di depannya menelan ludah.


Wajah pria itu semakin memerah karena Ryn membuka satu kancing bagian atas bajunya, Ryn melirik ke segerombolan pria tak jauh dari dirinya. Ia melempar senyum yang mempesona dan menjentikkan jemarinya pada segerombolan pria yang menatapnya.


"Mau bersenang-senang denganku?" Goda Ryn manja.


Pria mana yang mampu menolak kecantikan dan kemolekan tubuh seorang gadis yang mengajaknya terlebih dahulu, apalagi di hadapan Ryn saat ini hanyalah kumpulan-kumpulan sampah masyarakat yang tidak berguna.


1... 2... 3... Ada tujuh orang, apa aku bisa melakukan nya ya?? - Ryn.


Ryn menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia berdiri dari duduknya dan berjalan pergi, gadis itu mengedipkan sebelah matanya dan menunjuk pada sebuah gang sempit yang tak bisa di lihat oleh orang luar jika terjadi sesuatu disana.


Seperti semut yang menemukan gula, tujuh pria dewasa itu berjalan mengikuti Ryn menuju gang sempit tersebut. Wajah pria-pria itu begitu menjijikan saat bergairah.


Sampah-sampah ini harus di bereskan! Aku benar-benar sudah gila ya? Bisa-bisanya aku menggoda yang beginian? - Ryn.


"Ayo! Lakukan sekarang nona!!" Tangan-tangan nakal pria ini sudah bersiap untuk menyentuh tubuh Ryn.


Ryn membulatkan matanya, ia tak menyangka para pria di depannya ini benar-benar sangat buruk dan menjijikan.


"Tunggu dulu..." Pinta Ryn lembut, gadis itu mengusap pipi pria itu dengan pelan.


Sialan!! - Ryn.


Ryn memejamkan kedua matanya, ia menyenandungkan sebuah nada. Nada mengerikan yang mengandung kesedihan dan rasa sakit di dalamnya.


"Hei kalian pria-pria br*ngsek! Coba lihat kemari?!" Maki Ryn geram.


Ketujuh orang itu melihat mata Ryn secara bersamaan, mata gadis itu berubah dari biru menjadi sedikit kemerahan. Anehnya, tubuh pria-pria itu tak mampu di gerakkan, dengan cepat Ryn menyatukan kedua tangannya seperti membuat segel lalu dahi gadis itu bersinar terang.


Rupanya saat ini Ryn sedang melihat ingatan ketujuh pria dewasa di depannya ini secara bersamaan, tak lupa gadis itu juga menghapus beberapa ingatan yang tidak perlu, terutama ingatan si A.


Ternyata si A tidak sedang berbohong, ia benar-benar menangkap putri duyung. Namun ia tidak tahu bagaimana duyung itu bisa lepas dari jaring yang sudah ia buat, Ryn menghapus bersih ingatan si A tentang putri duyung agar tidak terjadi masalah di kemudian hari.


"Hah... Hah... Hah..."


Tangan Ryn bergetar, gadis itu hampir mencapai titik batasnya. Sebelumnya ia pernah menghapus ingatan teman satu kelasnya secara bersamaan dan itu tidak sesulit ini, lalu kenapa dia mengalami sedikit kesulitan di tempat ini? Apa karena tempat ini bukan tempat tinggalnya yang sebenarnya?


BRUK!!


Para pria itu berjatuhan tak sadarkan diri, di susul dengan Ryn yang juga jatuh lemas kehilangan kekuatannya. Gadis itu mencengkr*m erat pakaiannya sendiri, ia juga membenarkan kancing bajunya yang ia buka tadi.


"Hah... Hah... Hah..."


Apa-apa'an ini?? Tubuhku melemah?? - Ryn.


"Aku harus kembali ke dalam air laut" gumam Ryn lirih.


Ia mencoba berdiri dengan kedua kakinya namun tak berhasil, kedua kaki gadis itu terlalu lemah hanya untuk berdiri saja. Ia mencoba menyeret tubuhnya sampai ke depan gang, agar ia bisa meminta pertolongan seseorang. Setidaknya ia tidak ingin pingsan di dekat para pria menjijikan itu.


"Tolong... Siapapun..."


"Siapa saja... Tolong aku... Air... Air..." Ryn merangkak pelan.


Tubuh gadis itu berkeringat cukup banyak dan nafasnya sudah mulai tidak beraturan.


"Nona?? Anda baik-baik saja??" Ucap seseorang yang merasa iba dengan keadaan Ryn.


Ryn menengadahkan kepalanya, menatap siapakah orang yang berani mengajaknya bicara saat ini.


"Kau perlu bantuan??" Tanya orang itu lagi.


"A.... A.... Air...." Ucap Ryn lirih.


BRUK!!


"Lho? Kenapa ini?? Hei, nona! Kenapa pingsan?!"


Pria itu panik setengah mati, ia berlari ke arah mobilnya dan mengetuk kaca mobil dengan buru-buru.


"Ada apa sih?! Mau mati ya??" sahut seorang wanita dari jendela mobil.


"Anu, nona... Di sana..."


"Hmm?? Ada apa??"


Seorang wanita turun dari mobil, ia mendekati tubuh Ryn yang tidak sadarkan diri. Mata wanita itu menatap gang sempit tempat Ryn keluar, ia sadar bahwa ada yang tidak beres dengan gadis di depannya ini.


"Bawa dia masuk ke dalam mobil!"


"Baik nona!"


Bersambung!!


Jangan lupa Like, Follow, Favorit, Vote dan Rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih! 😘🙏