
Gadis berambut biru, sebiru lautan duduk terdiam dan melamun di dalam kamar mandi, ia menatap kedua tangannya sendiri dengan nanar.
"Apakah aku harus menceritakan semuanya pada ayah?? Tapi ayah adalah pengikut setia Poseidon, apa ayah akan menerima keputusanku?"
Katrina berbicara pada dirinya sendiri, ia nampak bingung dan kesal. Syarat yang di ajukan Kraken begitu berat untuknya, tapi bagaimana jika Kraken benar bahwa kelak ia akan mati? Katrina ingin mengetahui siapa sebenarnya musuh bagi dirinya selama ini.
👉FLASHBACK ON👈
"Membunuh?? Kau ingin aku membunuh seseorang??" Pekik Katrina terkejut.
"Kikikiki... Tidak usah terkejut seperti itu, aku tahu kisah cintamu tak berjalan normal!"
"Lalu??" Katrina berenang mendekati Kraken yang semakin menjauhinya.
"Kau membenci keponakanku kan??"
"Maksudmu Fuu??"
"Kikikikiki.... Benar! Dari awal dia tinggal di laut ini, aku sama sekali tak bisa mempengaruhinya. Aku ingin membuat putri Triton mengalami penderitaan sama sepertiku"
"Dan kenapa aku harus membunuhnya?" Katrina mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Hihihihi, jangan berpura-pura baik! Kau bahkan selalu berharap dia mati kan? Agar kau bisa bersama pria yang kau sukai"
Katrina terdiam seribu bahasa, ucapan Kraken benar. Berapa kali pun Katrina mencoba mengutuk kematian Fuu, hal itu selalu gagal. Entah kenapa! Katrina juga tidak mengetahuinya.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Apa yang tidak aku ketahui?" Ujar Kraken sombong.
Kraken mengambil bola mutiara miliknya dan menunjukkannya pada Katrina, bola itu bersinar memunculkan sebuah gelembung transparan.
"Apa ini??" Katrina mengernyitkan dahi tak mengerti.
"Lihatlah!!!" Pinta Kraken.
Gelembung itu menampilkan seluruh ingatan Kraken, disana terdapat gambar saat Triton memberi sebuah mantra pada perut istrinya (ibu Fuu). Membuat perut istrinya bersinar terang untuk melindungi janin di dalam kandungannya.
"Aku tidak mengerti..." Gumam Katrina lirih.
"Triton begitu mencintai putrinya... Sebelum duyung itu lahir, Triton telah memberinya mantra pelindung. Kau tidak akan bisa membunuh duyung itu sembarangan" Kraken mengembalikan bola mutiaranya ke tempatnya semula.
"Kau tahu akan hal ini dan malah menyuruhku membunuh gadis itu??" Maki Katrina kesal.
"Kikikiki... Cerewet sekali" sindir Kraken sinis, hal itu membuat Katrina merasa jengkel berbicara dengan Kraken.
"........."
"Semakin lama Triton terkurung, mantra itu akan semakin melemah!"
"........."
"Selama ini aku mengawasinya, mantra yang di berikan Triton tidak begitu kuat. Mantra itu akan melemah saat duyung itu terluka"
"Terluka???"
"Cari kelemahan duyung itu dan lukai perasaannya" pinta Kraken tegas.
"Memangnya apa kelemahan Fuu??"
"Kau pasti akan tahu!"
Apa jawabannya adalah Densha?? Aku tak mungkin melukainya... - Katrina.
Kraken berenang mendekati Katrina, ia menyentuh wajah Katrina dengan lembut. Kraken tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang super runcing dan mengerikan.
"Aku tahu, kau pasti bisa melakukannya... Kau menginginkan cintamu kan?? Kau menginginkan semua perhatian tertuju padamu kan?? Lakukanlah... Maka akan ku tepati janjiku, kau tak perlu menghabiskan waktu selama tiga tahun di dalam air" ujar Kraken senang.
"Aku.... Aku tak yakin" Katrina menundukkan kepalanya. Sisi baik gadis itu tiba-tiba menyeruak untuk menolak ajak Kraken.
"Rupanya kau perlu sedikit dorongan ya?" Kraken menatap Katrina dengan tajam.
"Eh? Apa maksudnya??"
Kraken membuka mulutnya lebar-lebar, ia mengeluarkan gelembung berwarna hitam legam. Katrina begitu terkejut melihat apa yang terjadi di depannya, seketika Katrina tak mampu menggerakkan tubuhnya sendiri.
Astaga?! Apa yang terjadi? - Katrina.
Gelembung hitam itu memaksa masuk ke dalam mulut Katrina, meskipun gadis itu berusaha menolak sekuat tenaga tetap saja ia tak mampu melawan kekuatan sihir Kraken.
"Aaakkkkhhhh...." Teriak Katrina yang menahan sakit luar biasa di tenggorokannya.
Katrina tak sadarkan diri, sementara Kraken tersenyum lebar memandang Katrina. Dengan mantra nya ia mengirim Katrina kembali ke daratan atau lebih tepatnya di pesisir pantai.
"Kikikikiki.... Ayo bersenang-senang!"
👉FLASHBACK END👈
Apa yang ku lakukan?? - Katrina.
Katrina menyalakan keran air untuk mengisi bak mandinya. Seperti sihir yang datang padanya, tubuh gadis itu tidak berubah menjadi duyung. Harusnya Hybrid akan mengalami perubahan di segala macam jenis air, namun Katrina tidak mengalaminya saat ini.
"Mantra pemberian Kraken bekerja" gumam Katrina lirih.
Tanpa sadar, bola mata Katrina berubah menjadi hitam sesaat lalu kembali seperti semula. Sepertinya sihir pemberian Kraken tengah bekerja dalam tubuh gadis itu, ia (Kraken) bermaksud memperkuat kutukan milik Katrina untuk membuat gadis itu hancur.
Jauh di dasar laut, Kraken tersenyum memperhatikan Katrina dari bola mutiara miliknya. Ia tidak sabar untuk melihat hasil kerja gadis itu.
"Ada yang datang...." Ucap Kraken lirih.
Kraken tertawa terbahak-bahak, ia mencium-cium bau yang sangat menyenangkan. Apalagi kalau bukan sekumpulan manusia dengan kapalnya yang berlayar di atas permukaan wilayah Kraken.
"Satu... Dua..." Kraken memejamkan matanya, ia memiliki kemampuan untuk merasakan keberadaan seseorang.
"Ada delapan orang?? Kikikiki.... Aku akan makan dengan senang hati"
Sirip Kraken berubah menjadi beberapa bagian yang terbelah, membentuk sebuah tentakel yang begitu besar. Tubuhnya berkedut-kedut mengalami proses pertumbuhan dengan begitu cepat. Kraken merubah dirinya menjadi gurita raksasa yang menyeramkan dengan begitu ia akan mampu menggulingkan sebuah kapal pesiar sekalipun.
"Kikikikiki.... Manusia-manusia bodoh!!" Kraken berenang secepat kilat menuju permukaan air.
Tok!
Tok!
Tok!
(Suara seseorang mengetuk pintu)
"Iya... Tunggu!"
Densha berlari menuju pintu depan rumahnya, ia mengintip dari lingkaran kaca kecil di pintunya. Melihat siapa yang datang ke rumahnya.
Daniel?? - Densha.
(For your information : Daniel ini pernah muncul di episode 11 berjudul Tes DNA milik Fuu 😊 ia adalah salah satu dokter yang di percaya Isabella)
KRIEETTT!!! (suara membuka pintu)
"Hai" sapa Daniel dengan senyum manisnya.
"Silahkan masuk"
Densha mengantar Daniel ke ruang tamu, hari ini Densha menghubungi Daniel dan meminta dokter itu untuk datang kerumahnya. Ia ingin melakukan medical checkup.
"Wow, tanganmu kenapa?" Daniel memandang kedua tangan Densha dengan luka yang hampir mengering.
"Tiba-tiba kemarin aku ingin memeluk jalanan beraspal"
"Jawaban bodoh macam apa itu!" Sindir Daniel kesal.
Daniel mengeluarkan peralatan dokternya, ia ingin memeriksa detak jantung dan tensi darah milik Densha sesuai permintaanya di telpon tadi.
"Ah! Tunggu!!" Daniel menghentikan aksinya, dengan cepat ia beralih memandang Densha.
"Apa apa??"
"Kau bilang kemarin kau kecelakaan??"
"Iya, kenapa?" Densha memasang wajah bingung.
"Apa tanganmu terluka akibat kecelakaan kemarin??"
"I.... Ya..." Jawab Densha ragu.
"Bagaimana lukanya bisa kering secepat itu?" Daniel menatap Densha curiga.
"Ah... Ini... Aku..."
Gawat!! - Densha.
"Kenapa kau bingung sekali? Hahaha, jika memang tidak ingin memberitahuku tidak masalah kok" Daniel mengambil stetoskop untuk memeriksa detak jantung Densha.
"Ah! Bukan begitu... Kemarin aku tidak terluka terlalu parah. Jadi sekarang lukanya sudah mengering" jawab Densha bohong.
"Mmm... Begitu ya??"
Daniel manggut-manggut memindahkan tangannya kesana-kemari seputaran dada bidang milik Densha, semuanya aman! Tidak ada hal yang aneh. Lalu ia mengambil alat tensi darah, untuk mengukur tensi darah milik Densha.
"Berikan tanganmu!" Pinta Daniel tegas.
"Ah! Yang kanan atau kiri??"
"Kiri saja, rileks ya?? Jangan tegang" pinta Daniel lembut. Ia memasang perekat dengan baik sehingga membuat Densha merasa nyaman.
"Aw! Kenapa kencang sekali!" Pekik Densha, pria itu meringis menahan sakit.
"Maaf, sakit ya? Hehe... Baik-baik, akan aku buka lagi"
Daniel melepaskan perekat itu dan memasang ulang pada pergelangan tangan milik Densha. Dengan menekan satu tombol alat itu mampu memompa udara dengan sendirinya.
"Wah, canggih sekali" ucap Densha kagum.
"Cih! Pangeran norak!! Ini sudah banyak di jual secara online tahu"
"Eh?? Benarkah??? Berarti aku sia-sia memanggilmu kesini!" Gerutu Densha kesal.
"Hei, bagaimanapun juga aku ini dokter keluargamu tahu!" Ujar Daniel bangga.
Setelah selesai melakukan medical checkup, Daniel membereskan semua alat-alatnya dan memasukkannya ke dalam tas yang ia bawa.
"Isabella yang akan membayarnya... Kau tahu kan??" Densha melirik ke kanan dan ke kiri, ia merasa malu karena tak memegang uang sama sekali.
"Iya, aku tahu! Oh iya... Kurangi kadar garam'mu ya?? Tensi darahmu sedikit tinggi loh" Daniel mengacungkan jari telunjuknya pada Densha.
"Dan... Perbanyak makan sayuran, seperti timun mungkin! Itu akan menurunkan kadar garam dalam darahmu" imbuh Daniel senang.
Garam apa sih?? Aku bahkan tak suka makanan asin, aku kan lebih suka manis - Densha.
"Iya... Terima kasih buat nasehatnya, aku ini pandai dalam menjaga apa yang akan aku makan kok! Jadi jangan khawatir"
"Pandai darimana? Sepandai-pandainya kau menjaga kenapa tensi darahmu bisa tinggi??" Ledek Daniel ketus.
Kau tidak tahu saja kalau aku tinggal dengan si penguji kesabaran!! - Densha.
Daniel tersenyum memandang Densha, ia duduk di sofa bersebrangan dengan Densha. Sekilas ia menatap nuansa rumah Densha, ia kagum. Rumah sebesar ini hanya di tinggali oleh seorang pemuda.
"Apa yang kau lihat??" Tanya Densha penasaran.
"Ah! Bukan apa-apa... Anu, apa kau tidak kesepian??"
Bersambung!!
Halo, Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit, Rating, Vote dan Share ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘