Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Gembel atau penguntit??



"Haahh... Akhirnya aku menurut saja di ajak jalan-jalan" gerutu Moa kesal.


"Eh! Tuan sedang bicara dengan siapa?"


"Aku sedang bicara dengan diri sendiri!"


"Dih! Tuan sudah gila ya??"


"Hei, kenapa kau jadi memanggilku tuan? Bukannya tadi bicaramu kurang sopan padaku?"


"Karena kau orang kaya jadi aku panggil tuan, apa kau keberatan??"


"Jangan terlalu formal! Santai saja!"


"Baiklah Moa... Begitu kah? Betul kan?"


"Ya...." Jawab Moa santai.


"Ngomong-ngomong kita akan kemana?"


"Dih! Kenapa tanya aku? Kan kau yang mengajak jalan-jalan"


"Sebenarnya... Aku tidak tahu tempat-tempat disini, ini pertama kalinya aku kemari"


"Pertama kali???"


"Maksudku pertama kali aku jalan-jalan di kota ini, hehe"


"Memangnya kau berasal darimana?"


Sial! Padahal aku menghindari pertanyaan itu... Huft - gadis asing.


"Ah! Haha, lihat itu apa?"


Moa memperhatikan sesuatu yang di tunjuk oleh jemari lentik gadis cantik bermata biru itu, ia menyipitkan matanya untuk membaca sebuah tulisan yang terpampang di ujung jalan.


"Promo???" Tanya Moa bingung.


"Iya, ada promo! Ayo beli"


"Hei, kau kan tidak punya uang!" Sindir Moa ketus.


"Eh! Kan ada Moa... Biar Moa yang belikan? Betul kan? Moa pasti mau membelikan kan??" Pinta gadis itu riang.


"Cih! Jangan sembarangan! Dasar tidak tahu malu! Kau betul-betul mengingatkanku pada seseorang loh!!"


"Oh ya?? Benarkah?? Padahal di tempat asalku tidak ada yang pernah berkata seperti itu tuh!" Ucap gadis itu, seketika wajahnya berubah menjadi murung.


"Ya... Mungkin karena mereka belum melihat atau bertemu seseorang yang mirip denganmu! Jadi di mata mereka mungkin kau terlihat aneh, tapi karena aku sudah pernah bertemu seseorang yang mirip denganmu! Jadi sekarang aku memakluminya"


Gadis itu tertegun mendengar kalimat yang di ucapkan Moa, ia tersenyum tipis hingga Moa tidak bisa melihat senyum indahnya itu.


"Hehe, kau benar! Mereka belum lihat saja seseorang yang mirip denganku. Begitu kan??"


Bagaimana mereka bisa melihat seseorang yang mirip denganku jika seseorang itu sudah... Hahh sudahlah.. - gadis asing.


"Iya, mungkin..."


"Okay, jadi... Apa Moa mau membelikan aku itu?"


"Itu... Itu apa??"


"Yang lagi promo itu!"


"Ck! Baiklah, ayo ke sana!"


"Okay, baik!"


Kalimat itu lagi... - Moa.


Moa dan gadis itu berbaris menunggu giliran untuk membeli makanan promo di suatu kedai. Sesekali Moa melirik gadis di sampingnya itu, wajah Moa nampak gelisah. Sebenarnya ia sudah menemukan jawaban yang paling memungkinkan, tapi ia ragu untuk menanyakannya.


"Wahh, antriannya panjang sekali" ucap gadis itu, ia celingak-celinguk mengukur panjangnya barisan yang tengah menunggu makanan promo.


"Kakiku pegal! Apa kau bisa mengantri sendiri?"


"Eh! Tidak mau! Aku tidak tahu apapun disini" pinta gadis itu memohon.


"Kau suka donat??"


"Iya, tentu saja! Kalau bisa setiap hari aku ingin makan donat. Pagi, siang dan malam, aku ingin makan donat! Hehe"


"Semuanya donat??"


"Iya" gadis itu menganggukkan kepala dengan mantap.


"Ya Tuhan! Sekarang kau benar-benar mengingatkanku pada sahabatku!" Moa merasa merinding di dekat gadis itu saat ini.


"Memangnya kenapa? Donat kan enak, kenapa aku kau sama-sama'kan dengan orang-orang terdekatmu sih?!" Tanya gadis itu, ia nampak cemberut.


"Bagaimana ya? Memang sama tuh! Dan... Kau tidak boleh setiap hari hanya makan donat! Itu tidak baik"


"Eh? Kenapa begitu?"


"Donat kan makanan manis, kau bisa sakit gigi atau terkena gangguan pencernaan jika makan donat setiap hari"


"Cih! Aku bosan mendengar kalimat itu"


"Eh? Sudah ada yang menceramahi mu tentang ini?"


"Tentu saja! Hampir setiap hari malah!!"


"OMG!! Berarti kau ini gadis bandel ya? Apa orang tuamu tidak pernah memarahi dirimu?"


"Orangtuaku terlalu sayang padaku tuh, Hehe"


"Dih! Kalau aku jadi orang tuamu! Akan aku pukul kepalamu"


"Hahaha, aku tahu kau tidak mampu untuk melakukannya!"


"Eh? Kenapa? Aku mampu tuh!"


"Baiklah, kita lihat saja nanti!"


"Eh???"


Apa maksudnya?? Ya Tuhan! Entah kenapa aku seperti dekat dengan gadis ini. Padahal kita baru saja bertemu! Astaga! Ada apa ini?? Tenang Moa... Tenang, cintaku hanya untuk Mod seorang!! - Moa.


Setelah lama mengantri, kini giliran mereka untuk memesan makanan. Moa memilih donat dengan toping krim pisang, sedangkan gadis asing itu memilih toping vanila dan mint.


Mereka berdua duduk santai di kursi panjang pinggir jalan.


WTF... Uang tunaiku habis begitu saja?! - Moa.


"Wah, enaknya... Memang ya? Dari dulu rasanya tidak pernah berubah? Hihi"


Tunggu?! Apa? Dia barusan bilang apa? - Moa.


"Kau ini bicara seolah-olah umurmu jauh lebih tua dari toko donat itu!"


"Eh? Tidak kok! Justru lebih tua toko donat itu!"


"Aku berharap tidak akan bertemu denganmu lagi!"


"Lho? Kenapa??" Gadis itu mengangkat sebelah alisnya memandang Moa.


"Baru kenal saja kau sudah menghabiskan uangku! Apa jadinya jika kita berteman? Mungkin rumahku sudah kau jual" Moa mendengus kesal.


"Hahahaha"


"Kenapa tertawa?"


"Duh! Perutku sampai sakit" gadis itu mengucek matanya yang berair karena tertawa lepas.


"Diam!!"


"Habisnya... Kau lucu sih! Kau berharap tidak akan pernah bertemu denganku lagi? Tapi, aku minta maaf... Doamu itu tidak akan terkabul, kau pasti akan bertemu denganku lagi"


"Duh! Sumpah deh! Aku betulan merinding, apa kau seorang cenayang?"


"Sudah aku bilang aku bisa meramal kan?"


"Rubah ramalan mu yang aneh itu!!"


"Tidak bisa dirubah dong bagaimana?? Kita akan tetap bertemu suatu saat nanti"


"Ck! Jangan-jangan kau penguntit ya? Apa ada kamera di sekitar sini? Apa ini sebuah prank??"


"Bukan! Hahaha, kau benar-benar lucu ya?? Aku menyukaimu"


"Apa?! Jangan sembarangan bicara! Aku sudah punya seseorang untuk aku sukai"


"Aku tahu! Aku bukan suka yang seperti itu... Jadi tenang saja!" Ucap gadis itu lalu tersenyum.


"Habiskan donatmu! Lalu akan ku antar kau pulang"


"Okay, baik!"


"Hei, pelan-pelan makannya!"


"Iya-iya... Cerewet!"


Gadis itu tersenyum tulus pada Moa, ia tertawa riang bercanda bersama Moa. Gadis itu juga mudah akrab dan dekat dengan Moa, sesekali ia terpaku menatap wajah imut dan manis milik Moa.


"Lain kali, jangan hanya makan donat ya?"


"Iya... Aku juga menyesali tidak pernah mendengar kalimat ayah yang melarangku, mulai sekarang aku akan mengurangi kebiasaan'ku memakan donat banyak-banyak itu!"


"Nah begitu dong! Hehe"


Itu semua juga berkat kamu... - batin si gadis, ia tersenyum.


Gadis itu menuntun Moa ke sebuah celah sempit antara bangunan satu dan bangunan lainnya, Moa yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti dari belakang kemana arah perginya gadis cantik bermata biru itu.


"Hei, kita mau kemana?"


"Katanya mau mengantarku pulang?"


"Iya sih! Tapi apa benar disini tempatnya? Ini kan hanya gang sempit! Mana ada tempat disana" ujar Moa bingung.


Gadis itu menghentikan langkah kakinya, ia berbalik badan menatap Moa dengan senyum cantiknya.


"Nah! Disini tempatnya..."


"Apa?!" Moa celingak-celinguk memperhatikan tempat sekitar. Tidak ada apapun disini selain kardus-kardus berserakan dan tong sampah milik restauran.


"Kau mau mengerjai aku ya?" Tanya Moa ragu.


"Tidak! Memang disini tempatnya"


Gadis itu melangkah dengan cepat mendekap tubuh Moa, walaupun memang jauh lebih tinggi Moa. Tapi entah kenapa kekuatan yang di miliki si gadis mampu untuk membuat tubuh Moa terdiam tidak berdaya.


Kekuatan macam apa ini?? - Moa.


"Hei, apa-apa'an ini??" Ucap Moa terkejut.


"Berisik!"


"Apa katamu?? Kau pencuri ya??"


"Bukan!" Bisik gadis itu pelan.


Ya Tuhan!! Ada apa ini? Tubuhku sama sekali tidak bisa bergerak - Moa.


Mata Moa membulat, pupil matanya bergetar. Ia sama sekali tidak mampu untuk menggerakkan anggota badannya yang terhimpit gadis itu.


"Tunggu! Tunggu dulu!" Pinta Moa pelan.


"Apa??"


"Siapa kau sebenarnya?? Kau bukan manusia kan??" Tanya Moa ragu.


"Kau salah! Di dalam darahku, aku ini manusia kok!"


"Bohong!! Apa kau duyung??" Tanya Moa yang asal bicara.


"Bukan, hei... Coba tatap mataku!" Perintah gadis itu tegas.


"Ke... Kenapa aku harus menatap matamu?"


Tanpa sengaja Moa menatap lurus ke mata gadis itu. Perlahan Moa merasakan kantuk yang luar biasa, kepalanya terasa berat dan pada akhirnya ia jatuh pingsan tak sadarkan diri.


Astaga! Apa... Ini... - Moa.


BRUK!!


Tubuh Moa terjatuh, gadis itu segera menangkap tubuh Moa dan menidurkannya dengan baik. Ia mengusap rambut Moa dengan gemas lalu pergi meninggalkan tubuh Moa begitu saja.


Haahh... Saatnya pulang! - batin gadis itu riang.


.


.


.


.


.


.


(5 HARI KEMUDIAN)


Penyembuhan ayah Mod yang di lakukan oleh Fuu sudah menunjukkan hasil yang signifikan. Ayah Mod hampir pulih dari sakitnya, tapi sebagai gantinya tubuh Fuu semakin lemah. Banyak ruam merah yang muncul di sekujur badan Fuu.


"Ayo! Fuu sudah siap!" Ungkap Fuu riang.


Densha berbalik badan untuk memandang si sumber suara yang mengajaknya berbicara.


"Kenapa kau memakai baju tebal dan serba panjang begitu?? Ini kan masih pagi?"


"Ehm... Anu..."


(FLASHBACK!! Saat mandi)


Fuu menatap tubuhnya yang telanjang bulat di depan kaca kamar mandi, gadis itu nampak kurus dengan banyak bercak merah di sana-sini. Terutama bagian tangan dan kakinya, tubuhnya seakan melepuh.


"Jika Densha melihat Fuu yang seperti ini, pasti Densha akan marah"


Gadis itu mengambil beberapa pakaian lengan panjang dan celana panjang untuk coba di pakai. Ia mencari pakaian yang cocok untuknya.


"Pakai ini saja lah! Tidak terlihat kan??" Gumam Fuu lirih.


(FLASHBACK END!!)


"Haha, entah kenapa Fuu merasa ingin memakainya"


"Ya sudah! Ayo pergi!! Ini pengobatan terakhir kan??"


"Iya" Fuu menganggukkan kepala pelan.


Selama perjalanan menuju rumah Mod, Densha menggandeng tangan Fuu dengan erat. Seakan ia tidak akan membiarkan Fuu pergi kemanapun, sejujurnya hatinya masih tidak terima dengan kalimat Fuu yang mengatakan bahwa dirinya dalam keadaan sekarat dan bisa mati kapan saja.


Seorang gadis mengikuti mereka dari belakang, ia mengendap-endap berusaha agar Densha dan Fuu tidak menyadari keberadaannya.


Mereka mau kemana? - batin gadis asing bermata biru itu.


"Berjanjilah padaku! Ini yang terakhir!!"


"Okay, baik!!"


"Apa nanti kau harus memulihkan tubuhmu di dalam air lagi?"


"Tentu saja! Jika Densha sibuk, Fuu bisa pergi sendiri kok!"


"Tidak! Aku akan mengantarmu, jadi tenang saja!"


Gawat! Bagaimana kalau Densha melihat tubuh Fuu?? - Fuu.


"Mmm..."


"Kenapa?"


"Tidak! Bukan apa-apa kok, Hehe"


"Katakan saja"


"Anu, soal darah itu... Mmm... Fuu akan melakukannya hari ini! Apa boleh??"


"Yang mengambil darah seseorang itu?"


"Iya" Fuu menganggukkan kepala pelan.


Mengambil darah seseorang?? Apa maksudnya?? - batin si gadis asing.


"Baiklah! Lakukan saja sesukamu"


Densha tidak ingat bahwa yang Fuu maksud darah seseorang itu adalah darahnya, darah milik Densha.


Bersambung!!


Jika kalian menyukai Novel ini, mohon bantuannya untuk klik Like ❤️, komentar, follow, vote dan rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya. Terima kasih... 😘