
Moa berusaha bangkit dari duduknya, dengan kaki yang terluka, pria itu mencoba menyeret sebelah kakinya menuju ke tempat Fuu.
"Tidak akan kubiarkan kau menolongnya!!" Cegah Katrina geram.
Katrina mengunci gerakan Moa, membuat pria itu tak berdaya dan hanya berdiri diam mematung sambil menyaksikan temannya di siksa.
Kumohon siapapun tolong gadis itu!! - Batin Moa sedih.
Langkah kaki Katrina terus bergerak mendekati tubuh Fuu yang sedang mencoba bangkit dari tempatnya tersungkur, namun berapakalipun untuk Fuu mencoba bangkit Katrina dengan mudah menjatuhkan gadis itu lagi.
Gadis jahat itu terkekeh dengan senang, kakinya yang kotor itu menginjak kepala Fuu dan semakin memperdalamnya agar gadis cantik itu benar-benar menempel dengan tanah bebatuan tempatnya terjatuh.
"Putri Dewa hah?!" Maki Katrina kasar.
"Ng...."
Fuu mencoba menahan injakan kaki Katrina di kepalanya, pandangan Fuu nampak kabur ia bahkan bisa merasakan aliran darah yang melintasi wajahnya.
Kuat sekali... - Fuu.
"Kau tahu?! Aku sangat membencimu!!"
"......."
"Jangan hanya diam bodoh!!" Katrina semakin menginjak-injak kepala Fuu berulang kali.
Katrina betul-betul ingin membunuh Fuu?? Dari tadi Katrina hanya menyerang kepala Fuu - Fuu.
Mata Fuu berkaca-kaca, gadis itu ingin menangis menahan rasa sakit yang tidak terkira di kepalanya. Fuu mengumpulkan sisa-sisa tenaganya dan mengarahkan tangannya ke kaki Katrina yang sedang menginjak kepalanya.
Dengan satu gerakan cepat, Fuu berhasil menarik kaki Katrina dengan kekuatannya. Membuat gadis berambut biru itu jatuh terlentang, namun karena darah terus mengalir dari kepalanya, gadis itu tak mampu untuk berdiri dengan kedua kakinya.
"Hah... Hah... Hah..."
Nafas Fuu tersengal-sengal tidak karuan, keringat mengalir deras bagaikan tetesan air di sekujur tubuhnya. Pandangannya kabur entah kemana, bahkan kini ia tidak bisa melihat Katrina dengan jelas.
Saat Katrina terjatuh, mantra yang ia gunakan pada Moa juga ikut menghilang. Pria berambut pirang itu bisa menggerakkan tubuhnya kembali, dengan langkah cepat ia bergerak mendekati Fuu.
"Sial! Kaki ini kenapa tidak bisa bekerja sama dalam kondisi seperti sekarang"
Moa menggerutu dan menyalahkan dirinya sendiri karena tak mampu bergerak dengan cepat. Sepertinya kaki Moa betul-betul mengalami keretakan atau patah tulang sehingga sulit baginya untuk sekedar berjalan.
"Beraninya melawanku!" Maki Katrina sombong.
Katrina berdiri di depan Fuu, ia membersihkan debu dan kotoran yang menempel pada dirinya saat terjatuh.
Dengan gemas, Katrina meraih wajah Fuu dan mendekatkan wajah gadis itu pada wajahnya sendiri. Mata Fuu bergetar begitu melihat bola mata Katrina, hanya ada kehampaan dan kematian di dalam mata Katrina.
Apa yang sebenarnya terjadi? Darimana Katrina mendapatkan kekuatan ini? - Fuu.
"Khe khe khe..."
"......."
"Akan ku buat kau menderita!!" Katrina melirik ke atas, tepat ke arah tandon air yang cukup besar.
"Air biasa tidak akan berpengaruh pada Fuu"
"Hahaha, kau pikir aku bodoh dan tidak tahu hal itu?"
Katrina semakin mencengkr*m erat wajah cantik Fuu, kuku-kuku panjangnya menembus wajah Fuu yang mulus sehingga menimbulkan luka disana.
"Semoga beruntung sayang!" Bisik Katrina pelan.
Gadis jahat itu melangkah mundur untuk menghindari bagian bawah tandon air itu. Fuu yang tak mampu bergerak hanya menatap mata Katrina dengan nanar, gadis itu menyentuh bagian dadanya yang terasa sesak dan nyeri.
Tik!
(Bunyi petikan jari)
Kaki penyangga tandon air berguncang hebat dengan Fuu yang tak mampu bergerak tepat di bawah pintu masuk tandon air itu, Moa semakin mempercepat langkah kakinya untuk mendekati Fuu entah itu bisa menolongnya atau tidak.
"Hah... Hah... Hah..." Bunyi nafas Fuu yang tidak beraturan semakin membuat Katrina tertawa terbahak-bahak.
Katrina memejamkan kedua matanya, ia mengucapkan sebuah mantra yang belum pernah di dengar oleh Fuu sebelumnya, untuk sesaat Katrina merapatkan kedua tangannya menjadi satu.
Hal itu membuat kaki penyangga tandon itu semakin banyak bergerak, bahkan kaki nomor tiga dan empat sudah retak parah. Dengan senyum seringainya Katrina melebarkan kedua tangannya (gerakkan membuka pintu).
BRAK!!!
Bukan sekedar air biasa. Rupanya Katrina sudah menyiapkan ini semua untuk Fuu, gadis itu mengerang dan meraung-raung kesakitan pada seluruh tubuhnya. Ia merobek seluruh pakaiannya sendiri, duri-duri tajam muncul di bagian punggung dan siku gadis itu. Insang terbuka di bagian lehernya dengan sempurna, kakinya merapat menjadi sirip yang indah namun tajam dan bisa melukai siapapun yang terkena sabetan nya.
Moa mendelik ketakutan, ketakutan akan perubahan wujud Fuu dan ketakutan akan dirinya yang mungkin saja akan mati di dalam tandon air karena mengingat dirinya tak pandai berenang.
Gelembung-gelembung udara keluar dari mulut Moa, pria berambut pirang itu mencoba menyelamatkan dirinya sendiri. Ia tidak mampu menahan nafas terlalu lama di dalam air, matanya pun sulit di gunakan untuk melihat karena bagian dalam tandon yang cukup gelap.
Sadar bahwa Moa juga berada di dalam tandon air bersamanya, Fuu bergerak cepat mendekati Moa. Gadis duyung itu menepuk-nepuk pipi Moa pelan, namun Moa hanya menggeleng-gelengkan kepala saja.
Apa yang harus Fuu lakukan?? - Fuu.
Fuu panik, sangat panik! Ia kembali berenang ke bawah dan mencoba mengangkat bagian bawah tandon besar itu sendirian agar air yang berada di dalam tandon keluar. Namun usahanya sia-sia, tenaganya tak cukup kuat untuk melakukan hal itu.
Gadis itu menyusuri bagian pinggir tandon air mungkin saja ia bisa menghancurkan sisi-sisi tandon tersebut dan mengurangi kadar air di dalamnya, sekeras apapun Fuu memukul tandon air itu hasilnya tetap saja. Tandon air itu tak rusak sama sekali, hanya mengalami sedikit penyok saja.
Melihat Moa yang semakin meronta-ronta, Fuu memejamkan kedua matanya dan menyalakan Kilauan cahaya di dahinya sebagai penerangan Moa. Pria itu memegang erat kedua tangan Fuu yang licin dan bersisik, ia menengadahkan kepalanya ke atas. Bermaksud menunjukkan pada Fuu bahwa ada jalan keluar di bagian atas tandon air ini.
Hmm~ Hmm~ Hmm~
(Moa bicara apa? Fuu tidak mengerti)
Moa menggelengkan kepalanya kuat, ia melihat bibir Fuu bergerak seolah mengajaknya bicara namun yang mampu ia dengar hanyalah nyanyian duyung yang tak ia pahami.
Nafas Moa hampir di ujung tanduk, ia mengarahkan jari telunjuknya ke atas berulang kali, pandangannya sudah kabur dan tidak jelas. Lalu pria itu pingsan kehabisan oksigen.
Fuu menatap ke atas, ia menganggukkan kepala pelan. Melihat Moa yang semakin tenggelam ke bawah, Fuu menangkap tubuh pria itu dan memeluknya. Ia merasakan denyut jantung Moa yang semakin melemah.
Tangan Fuu bergetar, di saat-saat seperti ini harusnya ia membantu Moa dan memberi pria itu nafas buatan. Tapi bagaimana caranya? Tidak ada udara di dalam sini yang mampu ia hirup seperti yang dulu pernah ia lakukan pada Densha.
Sesampainya di bagian atas tandon air, terdapat roda pemutar disana! Fuu belum pernah melihat benda itu sebelumnya, ia juga tak bisa bertanya pada Moa yang sudah tak sadarkan diri. Gadis duyung itu bingung tapi ia harus segera berpikir dengan cepat untuk mengeluarkan Moa dari dalam sini.
Apa yang harus Fuu lakukan dengan roda ini?? - Fuu.
Sekuat tenaga Fuu mencengkr*m roda itu, ia mencoba mendorong dan menarik roda itu namun sia-sia. Tidak kehabisan akal, Fuu mencoba memutarnya ke sisi kiri, benar saja! Roda itu bergerak. Fuu tersenyum senang, ia semakin mempercepat gerakkannya untuk membuka bagian atas tandon air tersebut.
Dengan dorongan yang kuat, Fuu berhasil membuka bagian atas tandon itu. Ia melempar tubuh Moa terlebih dahulu ke atas, lalu gadis itu melompat dan duduk tepat di samping pintu atas tandon air.
"Hah... Hah... Hah..."
Fuu menepuk kedua pipinya sendiri dengan gemas, perhatiannya tertuju untuk segera menolong Moa. Gadis itu menempelkan telinganya untuk memeriksa detak jantung milik Moa.
Masih ada denyut yang lemah di dalam sana... - Fuu.
Fuu memompa dada bidang Moa dengan kuat, sesekali ia juga memukul-mukul dada pria itu tapi tetap tidak menunjukkan hasil yang diharapkannya.
"Moa??" Fuu menitihkan air matanya, gadis itu sesenggukan dan terus memompa dada Moa agar pria itu bangun.
Tentu saja! Jika itu menyangkut soal ciuman! Fuu paham, Fuu tidak ingin berbagi Densha dengan siapapun!!
(☝️ Kalimat Fuu di episode 64 berjudul Cerita Moa part 2)
Kilas balik ingatan Fuu mengenai kata-katanya yang hanya ingin mencium Densha terngiang-ngiang di kepalanya, gadis itu tengah bimbang saat ini. Apa yang sebaiknya harus ia lakukan? Beranikah ia untuk memberi Moa nafas buatan? Tapi... Jika ia tidak segera menolong Moa, maka pria itu akan mati.
"Hiks... Hiks... Hiks..."
Mata Fuu nanar memperhatikan wajah Moa yang semakin pucat, nafas pria itu semakin melemah. Dengan sigap Fuu menggigit telapak tangannya sendiri, membuat luka disana untuk mengeluarkan darahnya dan memberikannya pada Moa. Gadis itu meneteskan beberapa tetes darahnya pada mulut Moa, tapi tubuh Moa tidak memberikan reaksi yang bagus atau lebih tepatnya belum memberi reaksi, karena butuh waktu bagi darah duyung untuk bekerja di tubuh manusia.
"Maafkan Fuu..." Gumam Fuu lirih.
Fuu menghirup nafas dalam-dalam, perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Moa. Gadis itu memejamkan matanya sambil terus menangis, kedua tangannya menyentuh wajah Moa dengan lembut.
Ingat Fuu! Moa sudah menolong Fuu beberapa kali! Bahkan ia ikut terkurung di dalam tandon air karena berusaha menyelamatkan Fuu walaupun itu sia-sia... - Fuu.
Perlahan tapi pasti bibir mereka bertemu, Fuu membantu Moa untuk bernafas. Ia meniupkan udara pada rongga mulut Moa, berharap itu akan berhasil dan menyelamatkan Moa.
Fuu merapatkan kedua matanya, gadis itu sama sekali tak ingin melihat wajah Moa saat ini. Ia merasa bahwa dirinya sudah mengkhianati Densha, satu-satunya pria yang disukainya. Air mata mengalir deras di pipi Fuu, gadis itu menghentikan aksinya dan duduk membelakangi tubuh Moa yang masih tak sadarkan diri.
Perubahan pada tubuh Fuu sudah mulai terjadi, sisik pada siripnya perlahan mengelupas namun ia tak merasakan rasa sakit seperti biasanya, mungkin karena rasa sakit di hatinya saat ini jauh lebih besar daripada rasa sakit saat proses pengelupasan. Hatinya benar-benar hancur, gadis itu menyalahkan dirinya sendiri karena sudah mengkhianati Densha.
Fuu menekuk kakinya yang masih berlumuran darah lalu memeluknya dengan erat, gadis itu menyandarkan dahinya pada lutut kakinya dan menenggelamkan wajahnya di dalam sana.
Padahal Fuu sendiri yang bilang hanya ingin di cium Densha, tapi... Apa ini? Hiks.. Hiks.. - Fuu.
Bersambung!!
Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit, Vote dan Rating ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya. Terima kasih... 😘🙏