Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Festival (H - 2) bag.4



"Hei anak bodoh!"


Seorang bocah berusia delapan tahun melempar penghapus papan tulis yang penuh dengan kapur, lemparan itu tepat sasaran mengenai wajah seorang bocah laki-laki berkacamata tebal.


"Hari ini pun kau membawa buku bodoh'mu itu ya??" Bocah laki-laki kejam itu merampas buku legenda duyung miliknya, dan merobek buku itu di depan pemiliknya.


"Hahaha... Idiot sekali! Kau kan anak orang kaya! Apa ibumu selalu membacakan dongeng ini sampai kau percaya bahwa duyung itu nyata"


Bocah laki-laki yang ditindas tidak bergeming, ia tetap menundukkan wajahnya sambil mengepalkan kedua tangannya yang ia sembunyikan di bawah meja.


Aku tidak bodoh! Aku tidak idiot!! - Edmund.


Jantung Edmund berdegup kencang, ia terlonjak bangun dari tidurnya. Pria itu mengusap-usap dadanya sendiri sambil mengatur nafasnya yang terasa sesak.


"Ya Tuhan! Cuma mimpi" gumam Edmund lirih.


Ia segera turun dari ranjang, dengan cepat Edmund menuju ruang pribadinya. Matanya menyapu seluruh ruangan dan terhenti di sebuah aquarium berukuran cukup besar.


Ia menarik nafasnya lega, untung sebelum tidur dia sudah memasang penutup aquarium dengan kuat. Bahkan ia bor bagian itu agar siapapun yang terjebak di dalamnya tidak bisa keluar.


Di dalam aquarium, terbaring duyung dengan wujud jeleknya. Tubuhnya kaku karena ia telah mati, Edmund tengah menunggu duyung itu untuk hidup lagi. Yang ia dengar dari Katrina, Fuu akan hidup lagi setelah bagian yang terluka telah beregenerasi.


"Sampai kapan kau akan mati?" Edmund menyentuh kaca aquarium menatap Fuu lekat-lekat.


"Besok adalah hari yang penting, aku akan membawamu ke sebuah tempat. Tempat dimana semua orang akan mempercayai aku, bahwa aku tidak bodoh dan aku tidak idiot"


Edmund tersenyum senang, ia berjalan keluar kamar dan mematikan lampu. Di dalam aquarium, mata Fuu terbuka. Sorot matanya penuh dengan kesedihan, aquarium ini terlalu sempit untuknya. Tidak ada ruang untuk bergerak, ia mencoba mendorong penutup aquarium namun sama sekali tidak terbuka.


Satu-satunya cara yang terpikirkan untuk Fuu hanyalah memecahkan kaca aquarium, namun jika ia melakukannya maka akan timbul suara yang membuat Edmund datang untuk melihatnya. Sedangkan Fuu memerlukan waktu untuk merubah siripnya menjadi kaki.


Apa yang harus Fuu lakukan?? - Fuu.


Sebenarnya Fuu sudah hidup beberapa menit yang lalu, ia hanya berpura-pura mati agar ia bisa tahu siapa yang membawanya ke tempat ini. Sungguh sangat disayangkan, orang itu adalah gurunya sendiri di sekolah. Guru biologi yang menyukai biota laut sama seperti nona Shanaz, ibu Densha.


Rambut Fuu terurai kemana-mana mengikuti gelombang air yang ia ciptakan sendiri. Matanya bersinar seperti mata kucing saat malam hari, ia meraba-raba dinding aquarium untuk memeriksa ketebalan kacanya.


Bagaimana ini?? - Fuu.


"Hahaha! Mencoba mencari cela ya?"


Suara seseorang yang sangat dikenali oleh Fuu muncul dari balik tirai jendela. Katrina semakin mahir menggunakan kemampuan yang ia dapat dari Kraken, walaupun yang ia gunakan merupakan sihir gelap yang tentu dilarang oleh Dewa.


"Kasihan sekali ikan ini!" Dengan petikan jari Katrina. Seluruh ruangan menjadi terang benderang, gadis itu menarik kursi plastik dan duduk di depan aquarium.


"Mau membuat kesepakatan denganku??" Tawar Katrina lalu tersenyum.


Fuu memandang Katrina dengan tatapan tidak suka, ia sama sekali tidak menggubris perkataan Katrina.


"Aku akan membantumu keluar dari sini! Asal kau mau menuruti syarat yang ku berikan"


Fuu membuka mulutnya untuk bicara, namun seperti biasa yang keluar hanyalah lantunan lagu duyung. Berhubung Katrina setengah duyung, ia bisa memahami apa yang Fuu katakan.


"Apa yang Katrina inginkan?"


"Kau pasti sangat tahu! Apalagi selain Densha" Katrina menaikkan ujung bibirnya.


Fuu melotot tak terima, ia mengerang kasar pada Katrina sambil mendobrak kaca aquarium yang mengurungnya.


"Tidak mau ya?? Padahal kalau Densha menjadi milikku, semua akan baik-baik saja loh"


"............"


"Kau tahu?! Bahkan sampai sekarang, satu-satunya orang yang belum ku sentuh itu cuma Densha. Aku terlalu menyayanginya, aku tak bisa membiarkan dia terluka"


"Dengan cara seperti ini Katrina sudah melukainya"


"Cih! Dia bukan orang yang mudah sekali tersentuh!" Katrina membuang muka dengan kesal.


Gadis itu berdiri mendekati aquarium lalu menyentuh kacanya. Ia mendekatkan wajahnya untuk mencium kaca aquarium tersebut.


"Selamat malam Fuu! Semoga besok berjalan dengan lancar"


Bagai film horor, lampu ruangan yang tadinya terang benderang tiba-tiba redup begitu saja bersamaan dengan sosok Katrina yang menghilang entah kemana.


________________________________________


Moa dan Mod terkejut melihat dua mobil terparkir di halaman rumah Densha, jika satu milik Isabella. Lalu sisanya milik siapa? Begitu pikir Moa.


Mereka berdua kembali terkejut ketika melihat pintu rumah Densha tanpa daun pintunya. Ada dua orang tukang yang sedang bekerja membetulkan pintu.


Ya Tuhan! Kunci rumah Densha kan ada padaku! - Mod.


Mod menunduk malu, ia berusaha menyembunyikan wajahnya. Gadis itu takut mengakui yang sebenarnya pada Densha apalagi soal kunci rumah.


Seorang Bodyguard Isabella menghampiri dua insan tersebut, ia mengatakan bahwa Isabella dan Densha berada di kamar. Dan mereka disuruh untuk langsung menemuinya di sana.


KRIET!


(Pintu terbuka pelan)


Moa memunculkan kepalanya terlebih dahulu, ia melambaikan tangan untuk menyapa Densha dan Isabella.


"Cepat sini!" Perintah Densha tegas.


"Iya-iya, jangan marah-marah"


Moa menggandeng Mod memasuki kamar Densha, gadis itu duduk di dekat Isabella sedangkan Moa memilih duduk di karpet lantai.


"Mod juga ikut? Apa Fuu bersamamu?"


Mod menggelengkan kepala pelan, Densha semakin cemas mendengar jawaban dari Mod. Ia segera berdiri dan ingin pergi mencari Fuu.


"Mau kemana kau bocah?!" Maki Isabella dengan sinis.


"Mau kemana lagi? Tentu aku akan mencari Fuu"


"Memangnya kau mau mencarinya dimana?! Jangan bertindak bodoh saat ini"


Isabella benar, bahkan Densha tidak tahu harus memulai mencari Fuu dimana? Melihat kekhawatiran Densha, Mod menelan ludah dan angkat bicara.


"Fuu dalam bahaya" ucap Mod lirih.


"Apa?!"


"Saat aku pergi dengan Fuu, aku bertemu Katrina. Yang aku ingat Katrina bilang 'Mari bertukar posisi denganku' hanya itu"


"Hah?! Kau! Kapan aku mengijinkanmu membawa Fuu??"


"Maafkan aku! Aku menyuruh Ryn untuk menghapus ingatanmu" Mod menyesali semua perbuatannya.


"Lihat?! Sekarang bagaimana kita menemukan Fuu?!"


Isabella menatap Densha dan Mod bergantian, ia mengusap dahinya sendiri karena pusing.


"Kalian jangan saling menyalahkan! Kita harus menemukan duyung itu sesegera mungkin"


Ketiga remaja itu mengangguk, Mod mengambil ponselnya untuk mengecek-ngecek sosial media. Apakah ada info terbaru, dan mungkin saja ada berita aneh mengenai Fuu.


"Bagaimana kalau kita ke rumah Katrina?" Usul Moa.


"Kenapa kau ingin mengunjungi sarang iblis??" Ledek Densha kesal.


"Mungkin saja Fuu disekap disana? Kita kan tidak tahu"


"Bagaimana bibi?" Densha memandang Isabella, ia tengah meminta persetujuan dari Isabella.


"Berangkatlah! Aku masih ingin hidup, aku akan tetap disini bersama nona Roosevelt"


"Hei! Apa-apaan cara bicara bibi itu!"


"Jangan bicara yang bukan-bukan" pinta Moa setengah takut. Moa takut ia akan merasakan penyerangan Katrina untuk kesekian kalinya.


Moa dan Densha pergi meninggalkan rumah, mereka sedang menuju rumah Katrina yang dulu pernah dikunjungi oleh mereka.


Setengah jam sudah mereka berjalan, kini langkah kedua remaja pria itu sudah memasuki halaman rumah Katrina. Aura gelap dirasakan oleh keduanya, Moa memeluk lengan Densha dengan kuat.


"Apa keluarganya tidak pernah membayar listrik?? Kenapa rumahnya gelap sekali" pekik Moa ketakutan.


Densha terdiam sejenak, ia baru menyadari bahwa ayah Katrina telah mati di depan matanya beberapa minggu yang lalu. Jantungnya kini berdegup dengan kencang, antara yakin dan tidak yakin untuk datang ke rumah ini.


Ayo Densha! Beranikan dirimu! - Densha.


KRIEEETTT...


Mata Moa dan Densha terbuka lebar, mereka terkejut dengan pintu rumah Katrina yang terbuka dengan sendirinya. Tak terlihat apapun di dalam sana, semuanya gelap, lalu siapa yang membukakan pintunya. Begitu pikir mereka.


"Ayo Moa" tanpa sadar Densha menggandeng tangan Moa.


Kini mereka sudah memasuki ruang tamu keluarga Shawn, Moa mengaktifkan lampu flash ponselnya untuk menerangi langkah mereka.


"Berasa di rumah hantu ya?" Bisik Densha lirih.


"Hei! Jangan bicara sembarangan!" Sentak Moa yang semakin mempererat genggaman tangannya pada Densha.


Bau amis tercium dari dalam rumah itu, baunya semakin kuat di lantai dua atau lebih tepatnya kamar Katrina. Densha mengendus-endus bau yang begitu mengganggu lubang hidungnya.


"Kau menciumnya Moa??"


"Apa?!" Moa mengarahkan lampu flash nya kemanapun yang dia inginkan untuk berjaga-jaga.


"Ini seperti bau anyir... Apa ya?? Seperti bau darah"


"Hei bung! Kau tahu kan aku ini super duper penakut dengan hal yang berbau hantu, jadi jangan semakin menambah ketakutan'ku saat ini"


"Aku serius Moa! Ada yang tidak beres dengan rumah ini"


BRAKKK!!!


Tidak ada angin, pintu rumah tiba-tiba menutup dengan keras. Membuat kedua pria ini terkejut, mereka panik dan langsung meraih gagang pintu untuk membukanya. Namun sia-sia saja, mereka terkunci! Kepulan asap putih muncul dari arah lantai atas. Hal itu sukses membuat Moa menjerit histeris.


"Aaakkkkhhh... Keluarkan aku dari sini!" Moa memeluk tubuh Densha saking paniknya.


"KATRINA?! ITU KAU?? KU MOHON, KELUARLAH... AKU INGIN BERBICARA DENGANMU!" Teriak Densha kencang.


**Tik!


Tik!


Tik**!


Petikan jari berbunyi tiga kali, lemari kaca milik keluarga Shawn bergerak dengan sendirinya merubah posisi awal dan kini menghadap ke arah mereka.


"Apa-apaan ini??"


Moa yang sudah di ambang antara pingsan dan tidak pingsan hanya menutupi mukanya dengan kedua tangan. Ia sama sekali tak ingin melihat apapun yang terjadi.


Di dalam cermin, duduklah seorang gadis dengan wajah putih pucat, bola mata berwarna hitam, dan wajah yang di penuhi garis-garis hitam. Kepalanya bergerak miring ke kanan, ia tersenyum dengan sangat mengerikan.


"Mencari Fuu??" Ucap gadis itu dari dalam cermin.


"Kau Katrina???" Tanya Densha yang tidak percaya dengan wujud Katrina saat ini.


"Benar!" Katrina tersenyum menyeringai. "Fuu tidak disini, dia berada di dalam aquarium"


"APA??" Mata Densha memelototi Katrina tajam.


"Jangan terkejut! Jika kau ingin Fuu kembali, jadikan aku pendamping hidupmu"


Moa terkejut dengan syarat yang di berikan oleh Katrina. Pria itu menggeleng-gelengkan kepala kuat, ia tidak setuju jika sahabatnya memiliki hubungan dengan Katrina.


"Apa kau sudah tidak waras?! Lihat dirimu sekarang, bahkan jika aku mengalami reinkarnasi untuk kesekian kalinya. Aku tetap tidak akan memilihmu!"


Kalimat Densha begitu jelas dan tegas, Katrina tertawa terbahak-bahak. Ia berdiri dari duduknya, dan mengucapkan selamat tinggal tanpa memberitahu lokasi Fuu saat ini.


"Semoga beruntung!" Ucap Katrina.


Pintu rumah terbuka sedikit, Moa segera menarik Densha agar keluar dari rumah berhantu itu, pria berambut pirang itu beralih menatap wajah penuh emosi milik Densha.


"Sialan! Sial! Sial!!" Densha merutuki dirinya sendiri, ia mengepalkan tangannya karena saat ini ia tak mampu berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Fuu.


Bersambung!!


Berikan cinta kalian dengan cara Like, Komentar, Favorit, Follow, Vote dan Rating ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya. Terima kasih 🙏😘