Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Siapa pelakunya? (Part 1)



Sinar mentari lembut menyeruak masuk menyinari kamar seorang pria berambut pirang, cahaya nya yang hangat dan sedikit menyilaukan mata membuat pria itu hanya menggeliat berusaha memalingkan wajah dari cahaya yang menyilaukan.


Di karenakan semalam ia mabuk dan mengalami sakit kepala, tidurnya kali ini sangat lelap dan nyenyak. Saking lelapnya pria ini sampai tidak bermimpi dalam tidurnya.


"Ng...." (Mengerjapkan mata)


"Hoamm..." (Mengumpulkan pundi-pundi kesadaran)


"AAAKKKHHH" Teriakan keras yang sungguh memekikan telinga.


"Ng?? Kenapa? Ada apa??" Ucap Moa tergopoh-gopoh setengah mengantuk, pria itu mengucek sebelah matanya.


Ya Tuhan!! - Moa.


"AAAKKKHHH!!" Moa berteriak sekeras mungkin, wajahnya memerah. Segera ia berbalik badan dan menutup kedua matanya.


"Dasar tidak waras! Bisa-bisanya kau! Hei kemana bajumu?!" Celoteh Mod saking kesalnya.


"Kau sendiri dimana bajumu?? Kenapa hanya memakai selimut?"


"Apa?!"


Mod mendelik kaget, kepalanya seperti tertimpa benda sangat keras. Bagaimana mungkin saat ini ia (Mod) benar-benar telanjang bulat, hanya di balut selimut tebal. Lalu dia tidak sadar bahwa dadanya terlihat saat ini, segera Mod menarik selimut tinggi-tinggi sampai ke lehernya.


Pantas saja Moa juga berteriak! - Mod.


"Moa bodoh! Ini dimana? Kenapa aku bisa disini?"


"Ini kamarku" ucap Moa pelan.


"Dasar tidak waras! Kau sengaja memanfaatkan kondisiku saat aku mabuk??"


"Tunggu! Apa aku benar begitu?"


"MOA!!" Teriak Mod kesal.


"Aku juga tidak ingat, kita tidak mungkin melakukan apapun kan?? Lihat saja, saat ini aku di sofa dan kau di tempat tidurku"


"Oh iya?? Benarkah tidak melakukan apapun? Lalu kenapa kau telanjang??"


Benar! Kenapa aku telanjang?? - Moa.


Moa mengingat-ingat kejadian semalam tapi tidak berhasil, kepalanya terlalu sakit untuk mengingat semua kejadian itu.


"Aku... Aku tidak ingat"


"Apa?? Dasar bodoh!! Moa payah!!" Mod memaki-maki Moa tanpa henti, gadis itu sangat terpukul dengan kejadian ini.


"Aku ingin menangis tapi tidak bisa..." Gumam Mod pelan.


"Jangan menangis! Aku juga tidak tahu bakal seperti ini"


"Apa kemarin kau mabuk?"


"Aku rasa tidak"


"Tidak bagaimana??? Kau tidak lihat kondisi kita berdua saat ini??"


Aduh! Gila... Situasi macam apa ini? - Moa.


Tok!


Tok!


Tok!


"Moa...." Panggil tuan Collin pada putranya.


Mati aku! - batin Moa panik.


"I... Iya ayah..."


"Cepat turun dan sarapan, sudah jam berapa ini?"


"Baik ayah"


Setelah yakin ayahnya sudah pergi dari depan pintu kamarnya. Moa membungkus dirinya sendiri dengan selimut dan berjalan menuju kamar mandi di dalam kamarnya. Tanpa sadar ia melirik ke arah Mod yang juga membungkus tubuhnya sendiri dengan selimut sambil terus cemberut kesal.


"Kenapa bisa begini?" Gumam Moa pelan.


KLAP! (Suara pintu tertutup)


Mod melirik ke arah perginya Moa, sudah yakin bahwa Moa tidak akan keluar dengan cepat, gadis itu mencari-cari seragam sekolah miliknya namun tidak ada. Ia beranjak berdiri dari tempat tidur dengan tetap melilit tubuhnya dengan selimut, kesana-kemari Mod mencari namun hasilnya tetap nihil, hanya ada tas sekolahnya saja.


"Kau sedang apa?" Tanya Moa yang tiba-tiba berdiri di belakang Mod.


Karena terkejut, Mod jadi salah tingkah dan itu berhasil membuatnya mengambil langkah yang salah saat melangkahkan kakinya, gadis itu tersandung.


Bruk!


Mod jatuh terjerembab ke belakang, tapi Moa dengan sigap menangkap tubuhnya. Dari bawah sini Mod bisa melihat wajah Moa tersipu malu, pria itu sama sekali tidak menatap Mod. Ia membuang muka ke arah lain.


"Aduh..."


"Kau tidak apa-apa?"


"Aku baik-baik saja!" Jawab Mod sambil membenarkan lilitan selimut di tubuhnya.


"Anu... Aku harus menemui ayahku, untuk sementara bersembunyi disini saja. Nanti aku bawakan makanan kemari" pinta Moa lembut.


"Aku ingin mandi, tapi.... Dimana seragam sekolah ku??"


"Kenapa menanyakan itu padaku? Aku tidak tahu"


"Bukankah kau yang membuka bajuku??"


"Serius??? Aku bahkan tidak ingat"


"Moa, jangan bercanda!"


"Dengarkan aku Mod, aku tidak ingat melakukan apapun padamu. Soal baju dan posisi kita yang bangun tidur tanpa busana itu bukan salahku"


"Apa kau yakin??"


"Mungkin... Sebetulnya aku juga sedang mencari jawabannya"


"Moa!!!" Maki Mod kesal.


"Begini, kau kan yang paling parah saat mabuk semalam. Apa kau yakin bukan kau pelakunya??"


"Apa?? Aku?? Hei, aku ini perempuan!"


"Memangnya kenapa kalau kau perempuan?"


Hah?? Apa benar aku yang melakukan semua ini?? - Mod.


"Bersihkan tubuhmu dulu! Untuk sementara pakai bajuku saja, kau bisa ambil sendiri di lemari"


"..........."


Mod tidak menjawab perkataan Moa, gadis itu berjalan dengan lesu menuju kamar mandi Moa untuk membersihkan diri.


"Pakai baju yang mana ya?? Baju anak laki-laki kan besar-besar! Sedangkan aku selalu mengecilkan pakaianku jika terlalu longgar" gerutu Mod kesal.


Moa keluar dari kamarnya dan menemui sang ayah yang sudah menunggu di meja makan. Moa bersikap sebiasa mungkin agar ayahnya tidak curiga dengan kelakuan puteranya.


Duh! Ayah tahu tidak ya kalau di kamarku ada seorang gadis.. - Moa.


"Kau kenapa bengong disana! Cepat duduk dan makan!"


"Ah! Iya ayah..." Moa melirik kesana-kemari, mencari keberadaan pembantunya.


"Bibi dimana?"


"Sedang keluar sebentar! Kenapa?? Mau menanyakan seragam pacarmu itu?"


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"


"Hei, cepat minum! Kenapa tersedak begitu sih?" Ayah Moa menuangkan segelas air untuknya.


Moa cepat-cepat meneguk segelas air itu hingga habis, lalu dengan buru-buru ia mengelap sisa air yang berceceran di sekitar bibirnya.


"Ayah tahu??"


"Tentu saja! Bagaimana mungkin ayah tidak tahu, ayah kan dirumah"


Ya Tuhan!! - Moa melotot menatap sang ayah.


"Kenapa matamu itu?? Mau mengajak ayah berkelahi??" Tuan Collin menatap puteranya dingin.


"Tidak ayah, anu... Dimana seragam sekolah miliknya?"


"Apa dia gadis yang waktu itu?" Ayah Moa tidak mendengar pertanyaan darinya, tuan Collin langsung memberi pertanyaan lain.


"Waktu itu??" Tanya Moa lugu, pura-pura tidak ingat.


"Putrinya Ellis! Apa benar dia gadis yang waktu itu menampar Ellis??"


"Iya" Moa menundukkan kepala berusaha menyembunyikan wajahnya.


"Apa dia pacarmu?"


"Bukan, kami hanya berteman"


"Bagus!"


Eh?? - Moa.


"Me... Memangnya kenapa kalau kami pacaran??" Tanya Moa setengah ragu.


"Hubungan mu tidak akan pernah berjalan baik dengan gadis itu!"


"Apa?! Kenapa?"


"Moa... Carilah gadis lain! Masih banyak yang mau berkencan denganmu"


"Tapi tidak banyak gadis yang ingin aku kencani" ujar Moa lantang, pria itu menatap ayahnya dengan tajam.


Tuan Collin memandang puteranya dengan serius, berusaha membaca situasi yang di alami puteranya. Ia (tuan Collin) menghela nafas panjang dan membuang muka ke arah lain.


"Kau menyukainya?"


"......."


Brak! (Menggebrak meja)


"Ayah bertanya, apa kau menyukainya?"


"Iya...."


"Hilangkan rasa sukamu itu!" Ujar ayah Moa tegas.


"Kenapa? Ini pertama kalinya aku menyukai seorang gadis"


"Dia itu putri Ellis!!"


"Lalu kenapa kalau dia putri Ellis?? Apa ayah masih ingin menikahi Ellis??"


"MOA!! TUTUP MULUTMU!!" Bentak tuan Collin keras.


"Cih! Kemarin ayah bilang ingin memperbaiki hubungan ayah dan anak ini, sekarang apa?? Ayah menghancurkan semuanya!"


"Moa... Ayah sangat menyayangimu"


"Bohong! Ayah tidak ingin aku menjalin hubungan dengannya karena ayah masih menyukai Ellis kan??"


"Ayah tidak menyukai siapapun!! Puas??"


"Lalu kenapa??"


"............"


Ayah Moa terdiam seribu bahasa, ia menyentuh kepalanya dengan tangan kiri. Pria berumur empat puluh tahunan itu nampak frustrasi di depan puteranya.


"Kenapa diam??"


"Ayah memikirkan masa depanmu"


"Masa depan yang mana? Memangnya aku bakal mati jika menjalin hubungan dengan putrinya Ellis??"


"Justru karena dia putrinya Ellis, ayah jadi sangat khawatir... Bagaimana jika sifat Ellis menurun padanya, ayah tidak bisa membayangkan jika putera ayah di duakan" ucap tuan Collin murung.


"Pikiran ayah terlalu jauh!"


"Ayah hanya memikirkan kemungkinan terburuk saja"


"Mod bukan gadis seperti itu ayah!"


Tuan Collin melirik memandang Moa, ia sudah tidak ingin berdebat dengan puteranya. Pria itu berdiri dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan meja makan.


Moa termenung menatap makanan di piring yang masih utuh. Suara ayahnya yang menentang dirinya untuk berhubungan dengan Mod masih terngiang jelas di otaknya.


Bagaimana jika ayah benar?? Apa Mod sungguh gadis baik?? Duh! Bikin sakit kepala saja!! - Moa.


Bersambung!


Halo, Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, komentar, favorit, rating, vote dan share ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘