Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Sekolah



Kalau aku melakukan itu pasti akan sangat merepotkan! - Densha menggeleng-gelengkan kepalanya kuat.


"Hei bung! Ada apa?"


"Tidak, aku hanya membayangkan hal bodoh di otakku"


"Hah?! Hal bodoh?"


"Yah.. begitulah"


Densha menatap semua murid yang saat ini sedang memandang Fuu, ia menghela nafas panjang.


"Huft.. benar-benar menyebalkan!" gerutunya pelan.


"Hei, Fuu ayo ikut aku!" Densha menarik tangan Fuu dengan paksa.


"Eh? Kemana?"


"Sudah ikut saja!"


"Hei, kau tidak mengajakku juga?" Moa cemberut melihat aksi sahabatnya itu.


"Ah! Aku melupakan keberadaan mu. Maaf ya?"


"Dih! Sialan.."


"Ayo!"


"Yosh!"


Mereka bertiga menuju pintu kelas mereka, Densha ingin keluar dari kelas itu, ia merasa tidak tega dengan Fuu yang seakan merasa terancam.


"Lho, kalian mau kemana? Hah?! Fuu?? Kau sekolah di sini?" Sapa Mod saat berpapasan dengan mereka di pintu kelas.


"Di sini terlalu ramai, aku ingin membawanya pergi" Densha melirik ke arah Fuu.


"Pergi?" Mod terkejut. "Aku ikut..."


"Cih! Mengganggu saja!" Moa menggerutu dengan kesal.


"Hei, yang menganggu itu justru kau! Kalau kalian hanya bertiga. Kau akan jadi pengganggu, di sini aku menyelamatkanmu!" Mod tersenyum, gadis itu merebut tangan Fuu dari Densha.


"Hei?!"


"Apa?! Tidak terima aku menggandengnya?"


"Ti.. tidak kok!"


Di sini aku menyelamatkanmu.. apa sih yang sebenarnya Mod pikirkan! - Moa.


(Di kantin)


"HAH?!"


(Di ruang olahraga)


"HAH?!"


(Di kolam renang sekolah)


"HAH?!"


(Di kamar mandi wanita)


"HAH?!"


"Hei, tunggu kenapa kita disini?" Moa dan Densha berteriak bersamaan.


(Di kamar mandi pria)


"HAH?!"


"Hei, tunggu kenapa aku disini?!" Mod berteriak histeris.


(Di taman)


"HAH?!" Mereka bertiga berteriak secara histeris.


"Haduhh.. kaki ku capek! Kita mau kemana sih?" Mod menyeret kakinya yang lemas.


"Semua tempat selalu dikerumuni murid-murid yang ingin tahu soal Fuu!"


"Ya, aku rasa juga begitu"


"Jangan-jangan mereka mengikuti kita"


"Hei, mana mungkin!"


"Bisa saja kan?" Moa nampak ngos-ngosan saat ini.


"Umm.. ada satu tempat yang mungkin tidak di kunjungi murid-murid lain"


"Di mana?"


"Atap"


"Hah?! Kau gila? Kenapa juga kita harus ke atap?"


"Ayo ke sana!"


"Apa?! Hei bung! Yang benar saja!"


"Kenapa?!"


"Aku bahkan belum makan siang.. dan saat ini waktu istirahat hanya kurang 10 menit lagi"


"Hmm! Kau benar!!"


"Lemas lah kakiku" Mod duduk di rerumputan taman, ia sedang meluruskan kakinya saat ini.


"Eh? Mod baik-baik saja?"


"Tenanglah Fuu, aku baik-baik saja"


"Kita, kembali saja ke kelas. Setidaknya kita sudah mencoba menghindari mereka kan?"


"Hmm.. baiklah"


"Aduh duh!" Mod meringis memegangi pergelangan kakinya.


"Hei, kau kenapa lagi?"


"Ng.. tidak apa-apa! Kaki ku hanya sedikit sakit"


"Apa Mod benar baik-baik saja?" Fuu berjongkok untuk memeriksa kaki Mod.


"Tidak apa-apa, sungguh. Aku rasa kakiku keseleo saat menuruni anak tangga tadi"


"Ck! Bagaimana sih kau ini! Katanya juara lomba lari.. berjalan saja keseleo. Kau ini lucu sekali" Moa meraih lengan Mod, ia membantu gadis itu berdiri.


"Eh?" Wajah Mod memerah.


"Biar aku bantu sampai ke klinik sekolah"


"Moa..." Mod ragu untuk menolak.


"Kau duluan saja dengan Fuu, aku akan mengantar Mod terlebih dahulu"


"Oke, jaga dengan benar ya?" Densha mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Moa.


"Dasar sinting!!"


"Haha, ayo Fuu kita kembali" Densha menggandeng tangan Fuu.


"Okay, baik. Sampai jumpa Momo"


"MOMO?!" teriak Moa dan Mod bersamaan.


"Hehe" Fuu tertawa kecil, ia melambaikan tangan ke arah Mod.


"Dasar! Kalian ini memang pasangan yang menyebalkan!"


Sesampainya di klinik, Moa membantu melepas sepatu Mod. Ia juga memanggil guru yang bertugas kala itu.


"Ng... Moa?"


"Ada apa?"


"Terima kasih ya??" Mod menundukkan kepalanya.


"Untuk apa? Ini bukan hal besar"


"Tetap saja! Aku harus berterima kasih"


"Ya.. kalau kau memaksa, baiklah" Moa membuang muka ke arah lain, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan lagi.


"Anu.. sebaiknya aku pergi! Kau bisa disini sendiri kan?"


"Iya, aku bisa"


"Sa... Sampai jumpa!"


"Umm" Mod menganggukkan kepalanya pelan, ia terus memperhatikan Moa sampai pria itu hilang di balik pintu.


Dia manis sekali.. - Mod tersenyum kecil, membayangkan wajah pria itu.


.


.


.


Suatu sore yang indah, di sebuah kota kecil, terjadi pertengkaran antara anak dan ibunya. Sang anak dengan berani membentak-bentak sang ibu, ia ingin si ibu menuruti kemauannya.


"Pokoknya aku mau sekolah disana!"


"Kau tahu kan? Kita keluarga cabang di larang mendekati keluarga inti!"


"Memangnya apa salahku?"


"Gadis ini benar-benar tidak punya otak! Memang bukan kau yang salah, tapi leluhur mu yang salah!"


"Aku akan telepon si Isabella itu, aku akan meminta hak ku untuk bersekolah dengan layak!"


"Kalau kau sekolah di sana! Kau mau tinggal dimana?"


"Bukankah sepupu ku yang tampan ada di sana?"


"Kau? Jangan bilang kau..."


"Iya ibu, aku kangen sekali dengan sepupuku itu! Jika aku bisa memohon padanya dengan baik. Mungkin hidup keluarga kita akan berubah!"


"Tidak! Jangan berani-berani melanggar peraturan!"


"Kenapa? Aku hanya akan bersekolah dengan benar kok!" Gadis itu berjalan mendekati ibunya.


"Sini! Berikan teleponnya.. aku akan telpon wanita sialan itu!"


Tut.. tut.. tut..


"Ck! Tidak di angkat!" gadis itu mencoba menelpon Isabella lagi.


"Kemana Isabella itu?"


Tut.. tut.. tut..


"Halo?"


"Ah! Akhirnya.."


"Siapa?"


"Ini aku, apa kau melupakan suaraku?"


"Anak kurang ajar dan lancang sepertimu mana bisa aku lupakan!"


"Ya.. ya.. terserah kau saja! Aku ingin meminta hak ku, aku ingin sekolah di tempat Densha bersekolah"


"Kenapa?"


"Tidak ada, aku hanya ingin menemui sepupuku yang tampan itu!"


"Memangnya kau mau tinggal dimana?"


"Dimana lagi? Bukankah Densha tinggal sendirian di rumah sebesar itu?"


"Jadi, menurutmu aku akan membiarkanmu mendekati keponakanku?"


"Kau tidak bisa melarang ku..."


"Benarkah?"


"Ya, hanya paman Derick yang bisa menghentikan ku!"


"Cih! Aku akan mengabulkan keinginanmu, dengan satu syarat"


"Kau memang pintar Isabella..."


"Jika kau melakukan kesalahan, satu saja! Aku akan mencabut semua hak mu dengan paksa! Dan..."


"Dan??"


"Jangan harap hidup keluargamu akan lebih baik dari sekarang"


"Aku setuju!"


Tap!


"Cih!! Memutus telpon tanpa permisi!!" Gadis itu menggerutu kesal.


"Apa yang Isabella katakan?"


"Dia akan menyekolahkan ku di tempat sepupuku itu bersekolah!"


"Lalu.. dimana kau akan tinggal?"


"Aku akan sedikit mengemis pada Densha"


"Kau gila! Aku tidak menyangka akan punya anak seperti kau!"


"Ibu, hidup kita sudah susah.. jadi biarkan aku mencoba rencana ini"


"Kita akan semakin susah, ibu yakin itu!"


"Pikiran ibu kan sudah tua! Jadi tidak akan mengerti apa rencana ku!"


Kring! Kring! Kring!


"......"


"Lho? Sudah di angkat?"


"......"


"Apa ini Fuu?"


"Iya nona"


"Astaga! Jika kau mengangkat telepon katakan halo!" Maki Isabella kesal.


"Halo..." sahut Fuu pelan.


"Terlambat!"


"Apa Densha ada di rumah?"


"Ada"


"Dimana dia sekarang?"


"Di sana!"


"Di sana?"


"Iya, itu Densha di sana..." Fuu menunjuk ke arah Densha yang tengah memasak makan malam.


"Ya Tuhan! Aku tidak bisa melihatnya Fuu..."


"Ah! Maaf.."


"Bisa kau panggilkan?"


"Okay, baik"


Fuu berlari kecil menghampiri Densha, ia memberitahu Densha bahwa nona Isabella sedang mencarinya.


"Halo?"


"Hei bung, berita buruk!"


"Ada apa?"


"Jennie meminta hak nya"


"Hak??"


"Ya, dia meminta satu permintaan untuk satu sekolah denganmu!"


"Hah?! Bagaimana bisa?"


"Aku tidak tahu apa yang gadis itu pikirkan! Tolong.. kau berhati-hatilah"


"Ya, aku memang harus waspada dari ular kan?"


"Kau mulai paham ya?"


"Tentu saja! Aku sudah besar bibi"


"Ah! Mungkin dia akan secepatnya datang ke sekolahmu untuk mendaftarkan diri"


"Tunggu! Dimana dia akan tinggal?"


"Aku yakin dia akan mengemis padamu!"


"Eh? Apa?!"


"Keputusan ada di tanganmu sayang..."


"Aku... Aku tidak mungkin menerimanya, tinggal dengan seorang gadis saja sudah hampir membuatku mati. Apalagi dua gadis?"


"Haha, Fuu berbeda. Kau tau itu!"


"Ya... Dia berbeda!"


"Baiklah, jika ada masalah segera hubungi aku. Mengerti?"


"Okay, baik"


"Dih! Gaya bicaramu seperti Fuu"


"Haha, sepertinya aku tertular"


"Dasar bodoh!"


Tap!


"Hmm.. Jennie ya?"


"Siapa itu Jennie?" Fuu tiba-tiba muncul di belakang Densha, membuat pria itu terkejut.


"Fuu! Kau mengagetkanku"


"Siapa Jennie?"


"Jennie itu sepupuku"


"Sepupu??"


"Ah! Kau tidak tahu ya? Kita bersaudara tapi sangat jauh sekali.. karena dia dari keluarga cabang"


"Kenapa keluarga Densha di bagi-bagi?"


"Hanya ada dua sih! Keluarga cabang dan keluarga inti.. kakekku memisahkan kami karena keluarga cabang sudah tidak dapat di percayai lagi untuk memegang perusahaan. Kebanyakan dari mereka tidak bekerja dengan sungguh-sungguh"


"Fuu tidak mengerti!"


Kalau tidak mengerti kenapa bertanya? Bikin kesal saja! - Densha.


"Sudah lah! Tidak perlu di mengerti juga!"


"Jadi... Ada apa dengan Jennie?"


"Oh... itu, dia akan bersekolah bersama kita!"


"Apa Jennie akan tinggal?"


"Tinggal?"


"Maksud Fuu, apa Jennie akan menginap di sini?"


"Aku tidak tahu!" Densha melirik ke arah Fuu, ia melihat wajah Fuu yang sedikit sedih.


"Apa aku boleh membawanya kesini?"


"Apa? Jennie?" Fuu terkejut.


"Iya, apa kau setuju?"


"Ini rumah Densha, jadi semua hak Densha" Fuu pergi meninggalkan Densha, gadis itu memasuki kamar dan bersiap untuk tidur.


"Hei?! Kau tidak makan?" Teriak Densha dari arah ruang tamu.


"Fuu tidak lapar"


"Hari ini aku masak ikan loh!"


"Okay, baik"


Fuu bangun dari tidurnya, ia kembali menemui Densha dan ikut makan malam bersama pria itu.


Dada Fuu terasa sesak - Fuu.


"Kenapa diam saja?"


"Tidak boleh?"


"Cih! Sejak kapan kau berani bermain kata begitu?"


"Sejak hari ini, Fuu akan bicara senormal mungkin"


"Untuk apa?"


"Agar Densha menyukai Fuu"


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


"Apa?!"


"Apa?"


"Kau tadi bilang apa?"


"Apa..."


"Kau tadi berkata sesuatu, kau bilang apa tadi?"


"Fuu bilang 'Apa' !!!"


"Astaga! Kau tadi bilang apa malah kau.. Oh, maksudmu kau tadi bilang 'apa' begitu ya?"


Fuu menganggukkan kepala pelan, gadis itu memakan makan malam nya dengan lahap. Lalu pergi ke kamar secepat mungkin.


Buru-buru sekali.. tidak seperti biasanya dia begitu.. - Densha.


"Siapa itu Jennie? Seperti apa wajahnya? Apa dia cantik? Apa lebih cantik dari Fuu? Tunggu dulu, memangnya Fuu cantik? Kepala Fuu sakit sekali! Hanya ada Densha di dalam sini!"


Fuu bergumam sendirian saat di kamar, ia mengetuk-ngetuk kepalanya yang terasa pusing karena terlalu banyak pertanyaan di otak duyung nya.


"Hei Fuu..."


"Apa?! Fuu mengantuk, mau tidur"


"Kau ini kenapa?"


"Fuu mengantuk"


"Tidak, bukan itu. Tingkah mu sedikit aneh.. Ya, walaupun setiap harinya kau memang aneh dan menyebalkan tapi kali ini anehnya berbeda"


"Aneh?? Menyebalkan??"


"Umm, ya begitulah"


"Apa Fuu aneh dan menyebalkan?"


"Umm" Densha menganggukkan kepala ragu.


"Densha membuat kesal!!" Fuu berteriak, gadis itu menyembunyikan seluruh tubuhnya di bawah selimut. Ia memaksakan matanya agar cepat terlelap.


Densha membuat kesal?? Cih! Kau tinggal bilang Densha menyebalkan kan sama saja. Terkadang bahasa mu itu aneh sekali Fuu - Densha.


Pria itu mematikan lampu kamar dan bersiap untuk tidur, sebelum itu ia memperhatikan Fuu. Namun gadis itu tetap tidur di posisi awalnya.


Posisi tidurnya tidak berubah.. dia kenapa sih? Kok rasanya berbeda dari biasanya.. - Densha.


Sudah lah.. biarkan saja, besok juga sembuh - Densha.


Pagi harinya Densha tidak menemukan Fuu di manapun, seragam dan tas sekolah Fuu juga sudah tidak ada.


"Eh? Apa dia berangkat pagi-pagi sekali ya? Wah, aku rasa memang ada yang tidak beres dengan Fuu"


Densha bersiap untuk mandi, ia akan berangkat ke sekolah seperti biasanya. Pria itu memang mengkhawatirkan Fuu namun setelah di pikir berapa kali pun mereka kan satu kelas jadi mungkin akan bertemu di kelas nantinya.


Setelah sarapan dan segala persiapan lainnya, Densha berangkat dengan sedikit terburu-buru. Bahkan pria itu tidak menunggu Moa seperti biasanya, ia langsung berlari ke sekolah untuk menyusul Fuu.


"Lho, kok tidak ada?"


Pria itu berjalan ke arah kelas lain, ia bermaksud menuju kelas Mod dan Katrina untuk menanyakan keberadaan Fuu.


"Mod??"


"Eh? Densha, selamat pagi!"


"Pagi... apa kau melihat Fuu?"


"Hei, kau kan yang satu rumah dengannya"


"Ya, tadi pagi seragam dan tas sekolahnya sudah tidak ada. Aku pikir dia berangkat terlebih dahulu"


"Kalian bertengkar?"


"Hah?! Bertengkar? Tidak kok!"


"Lalu kenapa?"


"Aku juga tidak tahu, dari semalam sikapnya sedikit aneh.. Ya walaupun setiap hari aneh. Tapi kemarin lebih aneh"


"Hmm, mungkin dia sedang perjalanan kemari.. kau tunggu saja di kelas dengan tenang"


"Aku sedikit khawatir"


"Khawatir kenapa? Karena dia itu du... Oh maksudku apa karena dia itu bodoh?" Mod menutup mulutnya rapat, gadis itu hampir membocorkan identitas Fuu kepada Densha.


Apa Mod tahu bahwa Fuu adalah duyung? Jangan-jangan Mod juga duyung? - Densha.


"Ya.. begitulah"


Syukurlah dia tidak curiga dengan kata-kataku. Duh! Hampir saja aku keceplosan.. - Mod.


"Kalau begitu, aku akan kembali ke kelasku. Siapa tau Fuu sudah di sana"


"Okay" Mod melambaikan tangan ke arah Densha.


Cih! Lihat mereka? Akrab sekali, dulu aku yang seperti itu. Apa mereka semua tahu bahwa Fuu adalah duyung, aku rasa belum ada yang mengetahui identitas Fuu yang sebenarnya. Aku harus bersabar sampai hari olahraga tiba.. - Katrina.


Di persimpangan jalan rumah Moa, Fuu melihat Moa tengah duduk bersandar di bawah tiang listrik.


"Moa..."


"Lho, Fuu? Dimana Densha?"


"Fuu tidak tahu" gadis itu menggelengkan kepala pelan.


"Hah?! Kau kan satu rumah dengannya?"


"Fuu berangkat lebih pagi"


"Lebih pagi?? Kau tahu sekarang jam berapa? Masih berani bilang lebih pagi?" Moa melihat jam di tangan kirinya.


"Astaga!! Kurang tiga menit gerbang akan di tutup!!" Moa terlihat panik.


"Moa.. kenapa?"


"Apanya yang kenapa? Ayo kita ke sekolah.. bisa gawat kalau terlambat. Jam pertama adalah guru jahat itu!" Moa menarik tangan Fuu kuat, ia berusaha mengajak gadis itu berlari.


"Moa.. kaki Fuu sakit!"


"Hei, kau ini tidak paham juga ya? Kita ini sudah telat ke sekolah! Aku menunggu kalian sampai kering di persimpangan jalan tau!"


"Kering??"


"Astaga!! Densha benar, kau memang menyebalkan!"


Fuu menarik tangannya, gadis itu berhenti tiba-tiba. Membuat Moa terjatuh ke belakang.


"Hei, kuat sekali kau ini!" Gerutu Moa, ia memegangi pantatnya yang kesakitan.


"Kau ini kenapa berhenti tiba-tiba?"


"Apa Fuu benar-benar menyebalkan?"


"Kalau begini kau sangat menyebalkan! Ayolah Fuu kita benar-benar terlambat" Moa sungguh panik, keringat dingin bermunculan di wajahnya.


"Maafkan Fuu, jika Densha sampai bilang pada Moa bahwa Fuu menyebalkan. Mungkin Densha tidak menyukai Fuu"


"Hei, kau ini bicara apa? Yang terpenting kita harus sampai ke sekolah terlebih dahulu. Mengerti?"


Fuu menganggukkan kepala pelan, ia berjalan di belakang Moa dengan lambat.


"Tuh kan?! Gerbang nya sudah di tutup!!" Moa memaki dirinya sendiri.


Bersambung!!


Jangan lupa LIKE, Follow, Favorit, Komentar guys!! 😘