Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Ketemu Daniel



"Kesepian??" Densha terkejut dengan pertanyaan Daniel.


"Ya... Rumah sebesar ini hanya kau tinggali sendirian, bukankah itu terlalu menyakitkan?"


"........"


"Sejujurnya aku sedikit khawatir padamu, saran dariku carilah pacar!" Daniel mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Densha.


"Pacar?? Makhluk apa itu??"


"Hah?! Serius kau tidak tahu?"


"Tentu saja aku tahu!" Bentak Densha keras.


"Oh astaga! Syukurlah... Aku pikir kau tak tahu cara berpacaran"


"Berisik!!!"


"Hahaha, kau kan tampan! Cari saja pacar yang banyak, dengan wajah seperti itu kau bebas untuk tidur dengan banyak gadis"


"Kau bercanda??" Tanya Densha serius.


"Tidak! Aku serius, di negara kita ini tidak ada anak muda yang tidak melakukan itu pada pacarnya"


"Ha ha ha dan ha... Kecuali aku!" Gerutu Densha kesal.


"Memangnya kau punya pacar??"


"Tidak! Dan kalaupun aku punya, aku tidak akan melakukannya"


Daniel menutup mulutnya dengan kedua tangan, ia mendelik karena terkejut dengan kalimat yang keluar dari bibir Densha.


"Astaga!!"


"Apa??"


Daniel membungkukkan badannya agar lebih dekat memandang Densha. Merasa risih Densha hanya menatap Daniel dengan gusar.


"Jangan-jangan kau..."


"Apa sih??"


"Apa kau lemah??"


"Apa?! Lemah?? Apa maksudnya??"


"Itu tuh!" Daniel memutar-mutar kedua jari telunjuknya sembari melirik ke tempat lain.


"Sialan! Hentikan pembicaraan ini!!"


"Hahahaha, kenapa? Kita ini sesama pria. Membahas hal-hal seperti itu tak masalah kan??" Daniel tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Densha yang memerah.


"Sebaiknya kau pulang!"


"Dih! Kau mengusirku??" Daniel memasang wajah cemberutnya.


"Belum! Tapi jika kau tidak pulang sesegera mungkin, aku akan mengusir mu!" Ancam Densha.


"Cih! Iya-iya... Aku akan pulang! Dasar!!"


Daniel mengambil tas jinjingnya, ia berdiri dan membungkukkan badan untuk memberi hormat pada Densha sebelum ia pulang.


"Sampai ketemu lagi..." Densha melambaikan tangan kepada Daniel lalu menutup pintu rumahnya.


Daniel membalas lambaian tangan Densha dengan senyumnya. Pria itu berjalan keluar dari halaman rumah Densha, ia hendak menuju jalan ujung komplek untuk memesan taksi dan kembali pulang ke rumahnya sendiri.


BRUKKK!!!


Fuu berjalan tanpa memandang ke depan, gadis itu jatuh menabrak Daniel. Dengan sigap Daniel menangkap tubuh Fuu yang jatuh menuju padanya.


"Astaga! Nona tidak apa-apa??"


"Anu, maaf... Fuu tidak lihat"


Fuu menarik tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan Daniel, gadis itu menundukkan kepalanya karena rambut indah dan panjang nya tersangkut di kancing kemeja milik Daniel.


"Ah! Maaf... Biar saya bantu" ujar Daniel gugup.


Daniel begitu penasaran dengan wajah gadis di depannya. Ia tak konsentrasi untuk menolong Fuu, pria itu malah di sibukkan untuk mengintip wajah Fuu.


"Sudah!" Ujar Fuu dan mengangkat rambutnya menatap Daniel.


"Ah! Maaf..."


Fuu menatap Daniel dingin, gadis itu berlalu pergi begitu saja melewati Daniel yang terdiam dan terpaku memandanginya.


Cantik - Daniel.


Daniel tersenyum-senyum sendiri, ia melanjutkan perjalanannya menuju gang depan. Ia mengusap-usap kemejanya sendiri, rupanya disana tertinggal beberapa helai rambut panjang Fuu. Daniel mengambilnya dan memandangi rambut milik Fuu.


"Lembut sekali rambutnya... Lain kali jika bertemu lagi akan aku tanyakan shampoo apa yang ia pakai?" Gumam Daniel senang.


Daniel memasukkan rambut Fuu ke dalam sebuah kantong plastik, entah kenapa ia hobi sekali menemukan barang aneh dan menyimpannya.


Leah yang dari pagi mengikuti Fuu, menaruh curiga pada Daniel. Gadis itu memasang wajah bencinya pada setiap orang yang berbuat aneh pada Fuu.


Apa aku harus mengikutinya?? - Leah.


"Pasti semuanya baik-baik saja kan??" Gumam Leah lirih.


Daripada mengikuti pria itu lebih baik aku mengintip kehidupan mereka (Fuu dan Densha) hehehe - Leah.


Tak jauh dari tempat Leah berdiri, sepasang mata mengawasi dirinya. Seringai tipis muncul di bibirnya yang mungil, bola mata gadis itu berubah menjadi hitam pekat lalu kembali lagi seperti semula.



"Sepertinya si pengawas sedang di awasi! Hihihi" Katrina tertawa cekikikan.


"Aku akan membuatmu mengakui siapa sebenarnya dirimu di hadapan semua orang!!" Imbuh Katrina.


~


Malam itu Mod menemani ayahnya mengambil surat perceraian yang di kirim oleh pengadilan ke alamat restoran tempat ayah Mod bekerja, gadis itu bingung harus berperasaan bagaimana? Apa ia harus senang atau sedih??


Mod menunggu ayahnya di luar restoran, ia memandangi jalanan yang tak begitu ramai. Samar-samar ia teringat kejadian yang menimpa Fuu dan Densha kemarin hari, gadis itu tak bisa melupakan kemunculan Leah yang memeluk Densha saat kecelakaan itu terjadi.


Sebenarnya siapa itu Leah?? Apa dia gadis brengsek yang menyukai dua pria sekaligus?? - Mod.


Mod menengadahkan kepalanya pelan, ia menatap langit malam yang bertabur bintang. Tak seharusnya ia merahasiakan siapa gadis yang menolong temannya itu dari mereka (Densha dan Fuu), tapi apa boleh buat? Mod ingin mencari tahu terlebih dahulu, apalagi gadis itu juga begitu dekat dengan Moa.


"Sayang??" Panggil tuan Roosevelt lembut.


"Ayah? Apa sudah selesai??"


"Iya... Ini" tuan Roosevelt menenteng selembar amplop berwarna cokelat muda, ia tersenyum.


Apa maksud dari senyum ayah ini? Apakah ia tak merasakan rasa sakit?? - Mod.


"Apa ayah baik-baik saja dengan semua ini??"


"Eh?? Tentu saja! Kenapa ayah tidak boleh baik-baik saja?" Goda tuan Roosevelt pada putrinya.


"Ayah... Sudah aku katakan, jangan mencoba menghiburku! Ayah tak perlu menyembunyikan apa-apa lagi dariku" pinta Mod lembut.


"Sudah-sudah! Jangan bahas ini, oke?? Ayo kita makan malam di luar, kau belum makan kan?!"


Tuan Roosevelt menggenggam jemari putrinya lembut, ia menggandeng tangan Mod, mengajak putrinya memilih-milih kedai makanan tepi jalan.


"Apa ayah punya cukup uang? Kita bisa makan di rumah kok, aku tak apa-apa"


"Haaahhh... Ayah bosan masakan rumah! Sekali-kali tidak apalah makan di luar" ujar tuan Roosevelt senang.


"Baik, ayah" Mod tersenyum manis menatap sang ayah.


Belum lama mereka melangkah, tuan Roosevelt mencuri-curi pandang pada Putrinya, seperti ada yang ingin ia katakan namun seolah tertahan. Mod yang menyadarinya hanya melempar senyuman tulus pada ayahnya.


"Haahhhh...." Tuan Roosevelt menghela nafas panjang.


"Ada apa ayah? Katakan saja"


"Sebenarnya ayah tidak tahu, apakah ayah pantas menanyakan ini atau tidak"


"Mm?? Memangnya mau menanyakan apa??"


"Bagaimana hubunganmu dengan putra Collin??"


Mod terhenyak kaget, keterkejutannya itu tak mampu ia sembunyikan dengan baik. Melihat reaksi putrinya, tuan Roosevelt merasa bersalah karena telah menanyakan hal seperti itu.


"Maaf... Kau tak perlu menjawabnya" tuan Roosevelt mengusap kepala Mod lembut.


"Tidak apa-apa ayah... Hubunganku dan dia baik-baik saja"


"Kalian belum pacaran?"


Mod menggelengkan kepala pelan, mimik muka gadis itu berubah menjadi sedih.


"Ada apa sayang?? Apa semuanya baik-baik saja?" Ayah Mod terlihat begitu khawatir.


"Tidak ayah... Moa sedang dekat dengan seorang gadis, entah kenapa hatiku terluka" Mod membicarakan hati yang terluka dengan senyumnya yang dibuat seceria mungkin.


"Kau menyembunyikan perasaanmu?"


Peka sekali sih?! - Mod.


"Maaf ayah... Aku tak bermaksud begitu"


"Jika kau butuh teman curhat, ayah siap menjadi temanmu" tuan Roosevelt tersenyum lebar, ia sungguh tak ingin putrinya merasakan kesedihan.


"Ng... Aku rasa aku tak membutuhkannya" goda Mod manja.


Mod merangkul lengan ayahnya dengan gemas, ia tersenyum lebar dalam kebingungannya mengenai perasaan yang di miliki.


Bersambung!!


Halo, Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit, Vote dan Rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘