Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Luka




Suara tabrakan keras membuat Mod terkejut, gadis itu menoleh ke belakang mencari keberadaan Fuu dan Densha. Matanya teralihkan dengan sosok gadis yang baru ia kenali, Leah.


Sekilas Mod melihat Leah memeluk Densha dari belakang, rupanya ia yang mendorong tubuh kedua temannya agar terhindar dari kecelakaan maut yang mungkin saja menimpa mereka. Beberapa orang berkumpul untuk menolong mereka, tak terkecuali Mod. Gadis itu terburu-buru memecah kerumunan orang-orang untuk melihat keadaan Fuu dan Densha.


Densha memeluk Fuu erat, ia juga yang melindungi bagian belakang kepala Fuu dengan tangannya agar tak terbentur pembatas jalan. Karena seingat Densha, Fuu pernah mengatakan jalan tercepat untuk membunuh duyung adalah dengan melukai kepala mereka lebih tepatnya otak mereka. Dengan begitu, kedua tangan Densha menjadi sasaran empuk aspal jalan yang kasar, kedua tangan pria itu berlumuran darah hingga darah tersebut mengenai seragam sekolah milik Fuu.


Nafas Densha terengah-engah, ia panik setengah mati. Takut? Itu yang dirasakannya, ia hanya memandangi wajah Fuu di bawahnya. Gadis itu bergetar ketakutan dan memejamkan kedua matanya, kedua tangan Fuu mencengkr*m erat baju Densha.


"Ya Tuhan! Kalian tidak apa-apa??"


Dengan panik Mod membantu menolong mereka berdua, mata Mod terus terbuka lebar saking tidak percayanya. Ia tak menduga hal ini akan terjadi, semua orang yang menyaksikan mereka ikut prihatin, ada yang menawarkan bantuan seperti ingin membawa mereka ke rumah sakit, namun Densha menolak tawaran tersebut. Bahkan beberapa orang sudah mengepung truk yang akhirnya menabrak sebuah minimarket sebrang jalan.


"Aww..." Pekik Densha dan melihat kedua tangannya sendiri yang berlumuran darah.


Fuu bangkit dan duduk tepat di depan Densha, matanya fokus melihat banyaknya darah di kedua tangan Densha. Gadis itu membuka tas sekolahnya dan mengambil sebuah pisau kecil yang selalu ia bawa kemana-mana.


"Tunggu! Mau apa kau??" Densha melihat Fuu yang sudah siap untuk mengiris telapak tangannya sendiri.


"Fuu akan menolong Densha"


"Disini??? Kau tidak lihat sekitarmu?" Densha mengedarkan pandangan melihat banyaknya orang di sekitar mereka.


Fuu memandang sekeliling, benar saja! Disini terlalu banyak orang, Fuu tidak mungkin memberikan darahnya pada Densha saat ini juga. Gadis itu kembali meletakkan pisau kecilnya ke dalam tas ransel miliknya.


"Apa itu sakit?? Ayo kita pulang! Aku akan membantumu mengobati lukamu?" Mod terlihat begitu sedih dan merasa bersalah, karena mengajak mereka ke toko buku hari ini.


"Tidak, tidak apa-apa... Kau bagaimana Fuu? Apa ada yang terluka??"


Fuu menundukkan kepalanya, ia menunjukkan bagian sikut kirinya yang juga tergores aspal jalan. Namun baginya itu tak masalah, karena Fuu mampu melakukan regenerasi sel dengan cepat.


"Fuu bisa sembuh sendiri" gumam Fuu pelan.


Mod dan Fuu membantu Densha untuk berdiri, mereka mengucapkan banyak terima kasih kepada orang-orang disana yang sudah menawarkan banyak bantuan pada mereka walaupun mereka harus menolak tawaran itu satu persatu.


Di ujung jalan Leah meringis kesakitan melihat lutut kanannya yang terluka, gadis itu berjalan pergi dengan kaki yang terpincang-pincang. Sekilas ia menatap Densha dan Fuu dari kejauhan, ia tidak tahu bahwa Mod mengetahui keberadaanya saat ini dan saat ia berusaha menolong kedua temannya.


Leah?? Aku sungguh tidak sedang salah lihat kan?? - Mod.


Sesampainya di rumah Densha, Fuu membantu Densha melepas seragam sekolahnya yang telah kotor, Fuu juga melepas sepatu Densha dengan baik.


"Hei, kau lihat apa?" Sindir Densha pada Mod yang sedari tadi menatap tubuhnya yang setengah telanjang.


"Bu... Bukan... Bukan apa-apa" wajah Mod memerah seketika.


Gila!! Tubuhnya bagus banget!! - Mod.


"Kendalikan pikiran kotor mu!"


"Apa? Aku tidak berpikir kotor kok"


"Heleh... Wajahmu memerah loh"


"Sialan! Aku cuma kagum melihat tubuh bagian atas'mu tahu!!" Maki Mod kesal.


"Begitu?? Punya Moa jauh lebih keren loh"


"Eh?? Benarkah???" Ujar Mod antusias.


"Tuh kan! Dasar mesum!!" Ledek Densha ketus.


Fuu mengambil sebuah baskom berisi air dingin dan handuk kecil untuk mengompres luka Densha, gadis itu melakukannya dengan pelan dan baik.


Merasa kagum, Densha jadi senyum-senyum sendiri melihat Fuu yang serius membersihkan lukanya.


"Belajar darimana?" Densha menatap Fuu serius.


"Ng??"


"Sejak kapan kau mengerti hal seperti ini?"


"Kotak bergambar itu yang mengajari Fuu"


"Wah-wah, kalau begini aku tidak akan membuang TV itu"


"Eh??? Benarkah???"


"Iya... Terima kasih ya? Sudah mau mengobati aku"


"Tidak" Fuu menggelengkan kepala kuat.


"Fuu yang seharusnya berterima kasih, karena Densha sudah menyelamatkan Fuu"


"Kau kan yang menarik'ku, aku bahkan tidak tahu bahwa ada truk yang mengarah ke kita"


"Ada seorang gadis yang berlari ke arah Densha, Fuu merasakannya... Saat Fuu tahu bahwa ia berusaha menolong kita, Fuu sadar ada truk yang datang"


"Apa??" Densha menggenggam tangan Fuu lembut, ia menghentikan aksi Fuu yang mengobati lukanya.


"........"


"Ada seorang gadis??" Densha mengangkat sebelah alisnya bingung.


Pria itu beralih menatap Mod tapi Mod berpura-pura tidak tahu, ia ingin mengusut ini sendirian terlebih dahulu. Jadi dia tidak akan mengatakan pada Fuu dan Densha bahwa gadis itu adalah Leah.


Densha kembali mengingat-ingat kejadian itu, namun kecelakaan itu terlalu cepat. Ia tidak mampu mengingat seluruh kejadiannya, yang ia ingat ia sudah jatuh menindih Fuu dan memeluk gadis itu dengan erat.


Tapi, rasanya ada yang mendorong'ku?? - Densha.


"Densha memikirkan apa?"


"Ah! Tidak kok, bukan apa-apa"


"Lukanya sudah bersih, jadi... Mau minum darah Fuu sekarang?"


"Nanti saja! Aku ingin mandi terlebih dahulu"


Densha berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan menuju kamar meninggalkan Mod dan Fuu di ruang tamu.


"Ah... Kalau begitu, aku pulang dulu ya?"


"Mod tidak mau makan malam disini?"


"Lain kali saja, rumahku kan jauh! Aku tidak ingin ayah khawatir"


"Oke, baik! Hati-hati Mod"


"Iya" Mod tersenyum tulus memandang Fuu.


Fuu mengantar Mod sampai ke halaman depan, setelah di rasa Mod sudah benar-benar pergi. Gadis itu kembali masuk ke dalam rumah, ia mengambil beberapa pakaian ganti dan pergi untuk membersihkan diri di kamar mandi.


"Sial! Sakit sekali..." Gerutu Leah lirih.


Leah menyentuh luka di lututnya, gadis itu mengambil sebuah kapas yang telah di beri obat merah, ia mengobati lukanya sendiri dengan telaten.


Bagaimana keadaan mereka?? Mereka baik-baik saja kan?? - Leah.


Tok!


Tok!


Tok!


"Eh? Siapa??"


"Ini aku... Moa, apa aku boleh masuk?"


"Masuklah... Lagi pula ini rumahmu"


Moa membuka pintu kamar Leah perlahan, ia terkejut melihat luka di kaki Leah yang masih belum kering.


"Astaga! Apa yang terjadi??" Moa mendekati Leah, ia meraih kapas yang di pegang Leah dan menggantikan Leah untuk mengobati lukanya.


"Hei, kau tidak perlu repot-repot"


"Repot apanya! Kau kesusahan kan mengobati lukamu sendirian" ledek Moa asal.


"Enggak juga kok! Aku bisa melakukannya sendiri"


"Jangan bohong! Fuu bilang Hybrid tak mampu menyembuhkan lukanya sendiri"


"Kalau hanya sekedar memberi obat aku bisa sih, tapi... Kalau untuk regenerasi aku memang tidak bisa"


"Kenapa kau bisa sampai seperti ini?"


"Itu... Aku tidak sengaja terjatuh"


"Apa?? Gadis seperti kau ini tidak sengaja terjatuh?? Jangan bercanda!" Maki Moa kesal.


"Hehehe, iya... Aku betulan tak sengaja kok"


Kriinggg!!!


Kriinggg!!!


"Handphonemu bunyi tuh?" Leah menatap ponsel Moa yang menyala di balik saku celananya.


"Iya, sebentar ya?"


Moa sedikit menjauhi Leah untuk melihat siapa yang saat ini tengah menelponnya.


Densha?? Ada apa ya?? - Moa.


"Halo?"


"Ah! Moa... besok aku tidak datang ke sekolah"


"Eh? Kenapa? Kau sakit?"


"Ada kecelakaan tadi sore, dan aku melukai kedua tanganku"


"Kecelakaan apa?"


"Bukan apa-apa sih! Aku hanya ingin bicara begitu jadi..."


"Tunggu! Apa kau baik-baik saja?"


"Sudah aku bilang aku melukai kedua tanganku kan?? Aku tidak akan bisa menggunakan kedua tanganku dengan baik selama satu hari"


"Tapi, besok kan ujian?"


"Isabella akan mengurus semuanya. Oh iya... Aku titip Fuu untuk hari besok"


"Ya... Baiklah..."


Tut! (Telepon di matikan)


Moa menatap Leah curiga, bagaimana bisa hal ini terjadi secara bersamaan. Ia duduk di samping Leah yang terus tersenyum menatap dirinya.


"Bisa jelaskan??"


"Apa?" Leah membuang muka kesal.


"Densha mengalami kecelakaan, dan kau juga terluka! Apa ini ada hubungannya denganmu?"


"Memang sulit sekali ya membohongimu" Leah memasang wajahnya yang sedang cemberut.


"Cepat jelaskan!" Perintah Moa tegas.


"Iya ada hubungannya. Aku mengikuti mereka, saat aku tahu ada sebuah truk yang melaju kencang ke arah mereka, aku berusaha menolong mereka... Tidak mungkin kan aku diam saja?"


"Kau bisa saja terbunuh!"


"Tidak akan! Jadi jangan mengkhawatirkan aku" ujar Leah santai.


"Apa mereka tahu kau mengikutinya?"


"Tidak, mereka tidak tahu! Bahkan mungkin mereka tidak tahu bahwa aku yang menolong mereka"


Moa menghela nafas panjang, ia semakin bingung dengan karakter Leah sebenarnya. Kenapa ia mengikuti Fuu dan Densha sampai seperti itu.


"Sebenarnya kau ini siapa? Dan apa alasanmu mengikuti mereka?" Tanya Moa dengan nada serius.


"Apa maksudmu?" Leah memundurkan tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan Moa.


"Aku sadar, saat aku tidur aku bermimpi melihat ingatan yang kau tunjukkan waktu itu padaku! Aku mengerti bahwa itu bukanlah ingatanku, itu..." Moa menghentikan kalimatnya, ia beralih menatap Leah yang tengah panik.


"Itu ingatanmu kan??" imbuh Moa.


Mata Leah membulat dengan lebar, ia tak menyangka bahwa Moa akan menebak seperti ini dan dalam waktu dekat ini. Apa yang harus ia jawab agar tak harus membuat Moa bingung.


Bersambung!!!


Halo, Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit, Vote dan Rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti buatku!! 😘