
Keesokkan harinya~
Hari ini Densha sudah bisa pergi ke sekolah seperti biasanya, walaupun luka di kedua tangannya belum sembuh dan bersih sempurna, setidaknya ia mampu menggunakan salah satu tangannya untuk mengisi soal ujian (Oh iya, Densha ini mampu menulis dengan kedua tangannya, kiri atau kanan tak masalah untuknya)
Pria itu membuka sebuah paket yang dikirim oleh supir pribadi Isabella ke rumahnya, Densha nampak cengar-cengir memperhatikan isi paket di dalamnya.
Fuu yang heran memperhatikan Densha pun bergegas menghampiri pria yang hampir tidak waras itu. Gadis itu berdiri tepat di samping Densha sambil memperhatikan benda yang dibawa pria tersebut.
"Apa itu?"
Menyadari keberadaan Fuu di sampingnya, Densha tersenyum lebar. Ia menepuk-nepuk benda yang baru saja di kirim oleh Isabella. Dengan senang hati Densha menyodorkan benda itu pada Fuu.
"Ini helm" ujar Densha datar.
"Hel apa??"
"Helm"
"Hem??"
"Ya Tuhan! Helm!! H... E... L... M..." Eja Densha kesal.
"Susah sekali nama benda bulat ini" Fuu menunjuk helm itu dengan jari telunjuknya.
"Sudahlah, panggil saja benda ini benda bulat! Oke??"
Fuu menganggukkan kepala senang, ia cengengesan menatap Densha di depannya.
"Nah! Pakai ini"
"Eh? Kenapa??" Fuu refleks memundurkan badannya.
"Kepalamu itu harus di lindungi! Jadi pakai ini setiap keluar rumah!!" Pinta Densha tegas.
"Tapi... Kepala Fuu akan terlihat besar jika memakai itu"
"Angka pada tensi darahku yang akan semakin membesar jika kau tidak mau memakai ini!"
Fuu memelototi Densha dari ujung kaki sampai ujung rambut. Gadis itu mengernyitkan dahi, seolah mengerti apa yang akan Fuu katakan. Densha menarik nafasnya dalam-dalam lalu beralih memandang mata Fuu.
"Aku tahu! Kau pasti akan bilang 'Fuu tidak mengerti' benar kan??" Ucap Densha dengan nada mengejek.
Mata Fuu membulat lebar karena terkejut, bagaimana Densha bisa tahu apa yang akan ia katakan.
"Densha hebat!" Puji Fuu kagum.
"Tidak ada waktu untuk basa-basi, cepat pakai ini! Kita harus ke sekolah!!"
"Tapi..."
"Kalau ku bilang pakai ya pakai!!"
"Iya-iya... Oke, baik!"
Fuu meraih helm yang di pegang Densha lalu menatapi helm itu dengan seksama. Ia bingung bagaimana cara memakai helm tersebut.
"Cih! Sini kupakai kan!" Densha merebut helm itu dan memakaikannya dengan kasar pada kepala Fuu.
"Aduh!" Pekik Fuu yang merasakan rasa sakit saat rambutnya tertarik.
"Maaf... Aku tak sengaja"
Setelah beres dengan helm di kepala Fuu, Densha menyentuh pundak gadis itu. Ia memandang Fuu yang nampak aneh dengan benda bulat di kepalanya.
"Hahaha, lucu sekali!"
"Fuu lucu??"
"Iya! Kau terlihat cocok dengan helm itu"
"Wah, terima kasih... Kalau begitu Fuu akan memakai ini setiap hari" ujar Fuu senang.
Dia benar-benar tidak tahu bahasa sindiran ya?? - Densha.
"Sudahlah, ayo berangkat!"
"Uhm"
Fuu menganggukkan kepala senang, selama perjalanan menuju ke tempat pertemuannya dengan Moa, gadis itu terlihat begitu ceria. Ia tersenyum-senyum sendiri dan mengusap-usap helm pemberian Densha.
"Selamat pagi Moa" sapa Fuu senang.
Moa menatap ke arah Fuu bingung, segera ia beralih memandang Densha. Namun Densha malah membuang muka ke arah lain seolah mengatakan 'Jangan bertanya padaku'.
WTF!!! - Moa.
"Kenapa dengan kepalamu Fuu??" Tanya Moa kemudian.
"Eh? Kepala Fuu baik-baik saja"
"Maksudku kenapa kau memakai benda aneh di kepalamu?!" Tanya Moa kesal.
"Oh... Benda bulat ini? Ini pemberian Densha, bagus kan? Fuu lucu kan??" Fuu mengedipkan kedua matanya untuk meminta pendapat Moa.
"Kau terlihat menyedihkan!" Ledek Moa asal.
Seketika Densha menoleh memandang Moa, pria itu melotot menatap sahabatnya itu. Ia memberi Moa jempol terbalik dengan tangannya.
"Mau mati ya?" Ancam Densha tegas.
"Hei, dia benar-benar terlihat aneh tahu! Apa tidak ada cara lain?"
"Fuu suka kok, ini kan pemberian Densha" bela Fuu senang.
"Kau terlihat aneh tahu! Berjalan kaki sambil menggunakan helm" gerutu Moa kesal.
"Berisik! Saat ini cara yang terpikirkan di otakku hanya ini" bela Densha sedih.
"Hmm... Kenapa tidak kau dekati Katrina dengan baik" usul Moa.
"Cih! Setelah apa yang dia lakukan padaku? Menurutmu aku sudi hanya untuk sekedar memandangnya?"
"Benar juga! Nanti lah kita pikir sama-sama" Moa berjalan mendahului mereka menuju ke sekolah.
"Moa... Dimana temanmu itu?" Tanya Fuu lembut sambil menatap rumah Moa sekilas.
"Teman??"
"Itu loh... Leah, gadis yang waktu itu di sekolah" jelas Densha.
"Ah! Leah... Mmm, aku tidak tahu! Tadi pagi dia terburu-buru ke suatu tempat"
Terburu-buru?? - Fuu.
Densha dan Fuu saling pandang satu sama lain, tanpa mengatakan apa yang ingin mereka katakan. Kedua orang itu membuang pandangan ke arah lain masing-masing.
"Kalian kenapa? Aku lihat loh!!" Tanya Moa yang sedari tadi memperhatikan dua temannya.
"Katakan Fuu!" Pinta Densha.
"Hah?! Apa maksudnya itu?? Bukankah sudah jelas dia itu..." Moa segera menutup mulutnya rapat-rapat, ia sudah berjanji pada Leah tidak akan membuka identitas Leah pada siapapun.
Kenapa Fuu jadi bingung?? Bukankah sudah jelas bahwa Leah itu Hybrid?? - Moa.
"Ayo! Lanjutkan bicaramu..." Densha menunggu kalimat Moa yang terputus.
"Ah! Hahaha, tidak... Bukan apa-apa"
"Kau tahu sesuatu kan??"
"Tidak! Aku tak tahu apapun!"
"Moa, jangan membohongiku!!" Ancam Densha tegas.
"Aku tidak berniat untuk berbohong, tapi bukankah lebih baik jika kalian mendengar itu dari Leah sendiri"
Densha memperhatikan Moa sebentar lalu kembali menatap arah lain, ia tak punya kata-kata lagi untuk di katakan pada Moa.
"Tapi...." Gumam Moa pelan.
"Apa?" Fuu antusias dengan kalimat Moa.
"Leah Hanzel, dia bilang itu namanya" Moa beralih menatap Densha.
Mendengar kalimat Moa, Densha jadi menghentikan langkah kakinya. Ia menunduk ke bawah menatap jalanan tempatnya berdiri.
"Dia dari keluarga Hanzel??" Tanya Densha penasaran.
"Dia bilang sih begitu, saat kutanyakan ada hubungan dengan ibumu atau tidak. Dia menjawab tidak" jawab Moa santai.
"Begitu ya??" Densha kembali melangkahkan kakinya. Ia nampak tidak senang dengan pembahasan hari ini, ia tak mengira ada keluarga lain yang memiliki nama keluarga seperti nama keluarga ibunya.
"Hei, jangan di masukkan hati!" Hibur Moa senang.
Seorang gadis berlari-lari dari sesuatu yang mengejarnya, ia tersandung ke sebuah gang kecil dan jalan buntu. Gadis sangat ketakutan, ia memeluk tas sekolahnya rapat-rapat, gadis itu menangis mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat padanya.
"Jangan menangis" ucap lembut orang itu, ia mencengkr*m dagu si gadis dengan lembut.
"Kenapa? Kenapa kau jadi seperti ini?"
Warna mata orang itu berubah menjadi hitam pekat, ia tertawa terbahak-bahak memandangi wajah manis Mod yang sedang ketakutan.
"Ada apa dengan warna matamu Katrina?!"
Air mata mengalir deras di pipi Mod, ia benar-benar takut dengan perubahan Katrina yang nampak mengerikan. Wajah Katrina pucat pasi dengan bagian bola mata berwarna hitam pekat.
"Tidak ada urusannya denganmu!!"
Katrina membanting tubuh Mod hingga membuat gadis itu jatuh tersungkur ke jalan. Dengan seringai senyumnya yang jahat, ia (Katrina) mengangkat kaki kirinya ke atas dan menaruhnya tepat di atas kepala Mod, membuat pupil mata Mod semakin mengecil. Mod bisa melihat kepulan asap hitam samar-samar mengitari tubuh Katrina.
Apa itu? Apa itu sihir? - Mod.
"Gadis bodoh! Enak sekali ya hidupmu!" Maki Katrina kesal.
"Aaakkkhhh..." Mod berteriak kencang, namun suaranya seperti tertahan. Ia tak mampu mengeluarkan suaranya, gadis itu beralih melirik pada Katrina.
"Sayang sekali ya? Aku sudah mengambil suaramu! Hihihi"
Apa? Apa maksudnya? - Mod.
Katrina semakin memperkuat injakan kakinya pada kepala Mod, membuat gadis itu semakin menangis dengan kuat namun tanpa suara, karena Katrina mengambil suara Mod dengan sihir pemberian Kraken.
"Baiklah, akan aku kembalikan! Tidak seru melihatmu menangis tanpa suara!"
Katrina menjentikkan jarinya keras, seketika suara Mod kembali padanya. Ia menangis sejadi-jadinya, menahan rasa sakit di kepalanya.
GUBRAKKK!!!
Tendangan keras tepat mendarat di pinggang Katrina, membuat gadis itu terlempar sedikit jauh dari tempatnya berdiri. Katrina menatap gadis yang dengan berani menendangnya dengan sinis.
Mata Mod membulat lebar melihat kejadian di depan matanya, ia hanya bisa menangis sambil memeluk tas sekolahnya. Leah menoleh ke arah Mod, mata gadis itu terlihat begitu sedih memperhatikan keadaan Mod yang terlihat buruk.
Kejam sekali!! - Leah.
"Wah, wah, lihat siapa yang datang?!" Ujar Katrina dengan senyumnya yang lebar.
Leah memandangi Katrina dengan kesal, warna mata Leah berubah menjadi merah sekilas namun segera kembali ke warna mata normalnya yakni biru.
Ia (Leah) bisa melihat dengan kedua matanya bahwa Katrina sedang di kendalikan oleh sifat buruknya, kepulan asap tipis berwarna hitam sedang terbang-terbang di sekitaran tubuh Katrina.
Itu sejenis mantra?? Bukan! Itu sihir dari dewa, tapi kenapa begitu gelap? - Leah.
"Beraninya menggangguku!" Maki Katrina kesal.
"Kau yang menggangguku!!" Bantah Leah kesal.
"Cih!" Katrina mendengus kesal, ia membuang muka dan menatap Mod yang terlihat menyedihkan.
"Hei, Mod?!" Panggil Katrina kasar.
Mod menatap Katrina dengan perlahan, ia benar-benar takut menatap warna mata Katrina yang benar-benar hitam tanpa bagian putih di mata sama sekali.
"........"
"Kau kenal gadis yang baru saja menyelamatkanmu?" Tanya Katrina licik.
"Kau ingin aku segera membunuhmu ya?" Ancam Leah kesal.
"Ck! Ck! Ck! Kejam sekali kalimat anak ini, hahahaha Leah... Leah..." Ujar Katrina dengan tawanya.
"Ups... Maaf aku salah" imbuh Katrina lagi.
Leah memelototi Katrina kesal, ia hendak maju untuk menyerang Katrina. Namun Katrina segera menghentikan langkah Leah dengan sihir yang di milikinya, Leah tak mampu bergerak dari tempatnya berdiri. Mod yang memperhatikan itu segera berdiri dan ingin menolong Leah.
"Hentikan Katrina!! Jangan sakiti Leah" Mod menangis memeluk Leah, entah kenapa tanpa sadar gadis itu merasa tak asing dengan perasaannya pada Leah.
"Leah??? Siapa??? Gadis itu???" Katrina tertawa terbahak-bahak.
Mod hanya memandang Katrina bingung, sangat bingung. Ia menatap Katrina dan Leah secara bergantian.
"Leah atau putri Mikaelson??" Ujar Katrina dengan senyum liciknya.
"Hentikan! Aku bersumpah akan membunuhmu!!" Ancam Leah tegas.
"Deryne Mikaelson?? Apa aku benar??" Katrina menatap Leah tajam menunggu jawaban dari Leah.
Mata Leah terbuka lebar, ia terkejut! Sangat terkejut, bagaimana mungkin Katrina mengetahui nama asli gadis itu, darimana Katrina mengetahuinya. Ia bahkan tak pernah memberitahu Moa.
"Sepertinya aku benar!!"
Bersambung!!
Halo, Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit, Rate dan Vote ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘🙏