
Gadis bermata biru itu tersenyum menyeringai memandangi Katrina, ia menggelengkan kepala pelan dan terus menatap Katrina dengan dingin.
Dari sini ya awalnya?? - batin si gadis.
Ia memandang area sekitar yang semakin lama semakin sepi karena para murid mungkin sudah memasuki ruang kelas masing-masing. Setelah di rasa betul-betul sepi gadis itu melompat turun tepat di belakang Katrina.
Merasa ada yang mendekatinya, Katrina refleks membalikkan badan dengan posisi siap menyerang siapapun orang itu.
"......."
Gadis itu menahan tangan Katrina, membuat Katrina tidak bisa berkutik. Mata Katrina terbuka lebar, ia tidak percaya dengan siapa saat ini ia bertemu.
"Lepaskan!!" Pinta Katrina kasar.
"Apa kau akan menyerang'ku?"
"Tidak" jawab Katrina datar.
Gadis cantik itu melepaskan Katrina, ia tersenyum menatap Katrina yang sedang kebingungan.
"Kau sudah tahu apa berkat yang kau miliki?" Tanya si gadis dengan tatapan dinginnya.
"Apa-apa'an tatapan'mu itu??" Maki Katrina kesal.
"Kenapa? Bukankah wajar jika membuat wajah dan pandangan seperti ini saat bertemu orang yang paling tidak di sukai?"
"Apa?! Apa maksudmu??"
"Baiklah! Aku langsung saja, siapapun kau... Aku sungguh tidak menyukaimu!"
"Gadis tidak waras! Kita bahkan belum pernah bertemu" Katrina memundurkan tubuhnya agar menjauhi gadis itu.
"Ya, memang ini pertama kalinya kita bertemu disini... Tapi aku sudah sangat membencimu tuh!"
"Terserah kau saja! Dasar gila!!" Katrina memutar tubuhnya, hendak pergi meninggalkan gadis asing yang banyak bicara dan aneh itu.
"Katrina!!" Panggil si gadis.
Tunggu! Aku kan tidak pernah memberitahu namaku?? - Katrina.
Perlahan Katrina menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya, sorot matanya penuh tanda tanya. Bagaimana gadis itu tahu namanya? Dan lagi Katrina merasa bahwa gadis ini berbeda.
"Kau???" Kata Katrina ragu.
"Benar!"
Mata Katrina membulat tidak percaya, ia menutup mulutnya yang melongo dengan kedua tangan. Tanpa ekspresi Katrina mendekati gadis itu.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu" ujar si gadis.
"Apa??"
"Apa kau sudah tahu kemampuanmu?"
"Maksudmu??"
"Kau tahu kan? Hybrid di bekali kemampuan mengutuk atau menghapus ingatan seseorang?"
"Iya, aku tahu itu..."
"Lalu kau yang mana??"
"Kenapa kau ingin tahu sekali?"
"Aku harus tahu!"
"Cih! Aku rasa kau sebenarnya sudah tahu!" Jawab Katrina sewot.
"Mengutuk???" Tanya gadis itu asal.
"Aku tidak tahu! Tapi sepertinya iya"
"Apa kau akan mengutuk mereka??"
"Mereka??" Katrina mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Densha dan Fuu"
Untuk sesaat Katrina terdiam, ia tengah berpikir keras. Sebelumnya Katrina tidak pernah berpikir akan menggunakan kemampuannya ini untuk mengutuk Densha dan Fuu, tapi berkat perkataan gadis bermata biru di depannya ini, Katrina jadi merasa sepertinya tidak rugi kalau menggunakan kemampuannya pada Densha dan Fuu.
"Hah?! Kau kenal mereka??" Katrina terkejut dengan kata-kata si gadis yang menyebut kedua nama itu.
"Itu tidak penting untukmu! Apapun yang ingin kau berikan pada mereka, pikir lah baik-baik! Itu juga akan mempengaruhi'mu suatu saat nanti" jelas si gadis panjang lebar.
"Siapa kau beraninya menggurui aku??"
"Benar-benar ya? Hybrid memang keras kepala!" Ledek gadis itu.
"Memangnya kenapa? Aku juga bisa memberimu kutukan jika kau berani melawanku!" Ancam Katrina.
"Cih! Dari dulu memang hobi mengancam ya??" Sindir gadis itu sewot.
"Apa?? Sebenarnya siapa kau ini?"
"Berisik sekali ya??" Gadis itu menatap Katrina kesal.
"Apa??"
"Sayangnya... Aku juga keras kepala!"
Gadis aneh!! - Katrina.
"Dengarkan aku baik-baik..." Pinta si gadis tegas.
"........"
"Poseidon dan puteranya mengawasi'mu! Apapun yang ingin kau lakukan. Jangan sampai mengutuk hal buruk pada mereka berdua!"
"Jika aku tidak mau?? Kau pikir aku bodoh?? Tidak ada yang pernah bertemu Poseidon"
"Aku pernah bertemu dengannya, bahkan aku pernah bertemu putra Poseidon" tantang gadis itu.
"Bohong!! Hybrid dan duyung murni tidak mungkin punya kesempatan seperti itu" ujar Katrina jengkel.
OMG!! Susah sekali bicara padanya!! Baiklah jalan terakhirku cuma ini... - gadis bermata biru.
Gadis cantik itu mendekati Katrina dan menggenggam kedua tangan Katrina kuat. Ia memandang mata Katrina lekat-lekat, Katrina refleks dan memandang mata indah gadis itu.
Hmm~ Hmm~ Hmm~
Astaga! nada ini?? - Katrina.
Cahaya lembut bersinar di dahi gadis cantik bermata biru, senandung lagu indah keluar dari bibirnya yang manis, membuat tubuh Katrina seakan terhipnotis.
"Rubah kutukan'mu pada mereka berdua, setidaknya berilah kutukan yang mampu ku selesaikan! Hapus seluruh ingatanmu mengenai pertemuan kita hari ini~" bisik gadis itu lirih.
BRUKK!!!
Tubuh Katrina terjatuh tak sadarkan diri, gadis cantik itu menggendong tubuh Katrina dan mengantarkannya hingga ke depan rumah keluarga Shawn. Ia meletakkan tubuh Katrina dengan sangat hati-hati di depan pintu.
Sebelum pergi meninggalkan rumah keluarga Shawn, gadis itu memandangi rumah Katrina dengan seksama seolah ingin mengingat bentuk dan wujud asli rumah keluarga Shawn.
"Rumah sebagus ini... Bisa hilang begitu saja??" Senyum menyeringai terukir jelas di wajahnya.
Si gadis melangkahkan kakinya meninggalkan rumah keluarga Shawn, selama perjalanan tanpa arah itu dia hanya menundukkan kepala lesu, nampaknya ia sedang mengalami kegundahan. Tidak ada tujuan dan tidak punya tempat untuk di kunjungi.
"Cih! Membosankan!!" Gadis itu meninju tiang listrik yang ia temui di jalan.
"Sekarang aku harus kemana?? Apa aku datang ke sekolah saja ya? Untuk mengawasi mereka?" Gumamnya lirih.
Setelah berseteru dengan pikirannya sendiri, gadis itu memutuskan untuk mengunjungi sekolah Densha. Namun sebelum ke sana gadis itu mampir ke sebuah toko, toko donat favoritnya.
.
.
.
.
.
.
.
Bel berbunyi menandakan jam istirahat bagi siswa di sekolah itu. Semua murid berhamburan keluar mencari tujuannya masing-masing, tak terkecuali dengan Moa. Pria berambut pirang tersebut mendatangi Mod untuk membicarakan suatu hal yang serius, mereka berdua duduk bersama di bawah pohon rindang belakang sekolah.
Eh?? Mau apa mereka kemari?? - batin si gadis.
Benar! Di atas pohon itu duduklah seorang gadis cantik bermata biru, ia tengah mengawasi Mod dan Moa dari jauh sambil mengunyah donat yang telah ia beli.
"Kenapa kau mengajakku kemari??"
Mod duduk di sebuah bangku di bawah pohon, di susul dengan Moa yang kemudian ikut duduk.
"Ada hal yang ingin aku katakan padamu"
"Apa??" Mod membuang muka ke arah lain karena gugup.
Sial! Bagaimana aku mengatakannya?? - Moa.
"Moa?? Aku tidak punya banyak waktu, aku harus ke kantor guru untuk membayar biaya ujian bulan depan"
"Soal tadi pagi..." Wajah Moa bersemu merah menahan malu.
"Sial! Jangan bahas itu" pinta Mod dengan wajah tak kalah merah.
Astaga! Mereka lagi ngomongin apa sih? - batin si gadis (menguping).
"Nany pelakunya..."
"Nany?? Bibimu itu?"
"Iya" Moa menganggukkan kepala pelan.
"Oh... Begitu ya? Baiklah! Aku tidak marah kok, jadi jangan khawatir"
Mod bergegas berdiri dan akan meninggalkan Moa tapi langkahnya terhenti saat Moa menahan tangan kanan Mod, membuat gadis itu menoleh menatap Moa yang tertunduk lesu.
"Ada apa?"
"Mod... Maukah..."
"Ng???"
"Maukah kau menerima rasa kepercayaan ku ini?" Pipi Moa memerah, pria itu memberanikan diri menatap Mod.
"A.... A.... Apa maksudnya??" Tanya Mod ragu.
Moa berdiri menatap kedua mata Mod lekat-lekat, pria itu menghela nafas berat sebelum mengatakan maksudnya.
"Mod! Aku menyukaimu!" Tegas Moa dengan lantang. Ia tersenyum menatap Mod.
Seorang gadis bertubuh mungil yang sedang bersembunyi di atas pohon bergetar hebat, tangan kanannya menyentuh leher dan tangan kirinya mencoba memukul-mukul bagian dadanya perlahan. Gadis itu tersedak donat karena mendengar pernyataan cinta Moa Collin, namun ia juga tidak boleh bersuara ataupun terbatuk. Gadis itu tidak ingin menganggu romantisme yang telah terjadi di bawah sana.
WTF!! Aku akan mati!! Hok... Hok... - batin gadis itu.
"Apa yang kau katakan Moa?" Mata Mod masih terbuka lebar karena terkejut.
"Apa kau tuli? Aku bilang aku menyukaimu..."
"Dasar! Minta di hajar ya?? Menyatakan perasaan tapi meledek!" Sindir Mod kesal.
"Maaf... Ini pertama kalinya buatku!"
"Anu... Aku menghargai perasaanmu padaku, tapi aku tidak bisa menjawabnya sekarang" Mod melepas genggaman tangan Moa padanya.
"Apa? Kenapa?"
Mod melirik kesana-kemari mencoba untuk membuat alasan, sejujurnya ia tidak tahu. Masih pantaskah ia untuk menyukai bahkan memiliki Moa? Mod memang menyukai pria itu, tapi untuk memilikinya apa itu mungkin?
"Akan aku jawab di kencan kita selanjutnya" Mod tersenyum lebar menatap Moa.
"Kencan??"
"Iya, hari minggu jam sepuluh! Aku tunggu di kedai es krim yang waktu itu" ujar Mod senang.
Moa tersenyum menahan rasa malu dan senang yang tengah bercampur menjadi satu. Ia menganggukkan kepala dengan cepat, menyetujui permintaan Mod.
Serius deh!! Kapan selesainya ini? Aku pengen batuk. - batin si gadis.
"Baiklah... Aku pergi ya?? Sampai jumpa Moa..."
Mod melambaikan tangannya lembut pada Moa, gadis itu berlari meninggalkan Moa sendirian di bawah pohon rindang. Pria itu terus menatap Mod sampai bayangannya benar-benar tak terlihat.
"UHUK! UHUK! UHUK! HOK! KHEKK!!"
Moa merinding bukan main mendengar pohon besar tempatnya berteduh mengeluarkan suara batuk begitu keras. Pria berambut pirang itu mendelik memandangi pohon besar itu, dengan sigap Moa mengatupkan kedua tangannya untuk memohon.
"Maafkan aku pohon keramat! Sungguh aku tidak tahu jika kau berpenghuni"
Moa memejamkan matanya sambil terus meminta ampun pada sebuah pohon.
"UHUK! UHUK! UHUK! KHEKK! HOKK!!"
Astaga! Kenapa lagi ini? - Moa.
"Air... Air..."
"Kau ingin air?? Kau kan sudah sebesar ini! Kenapa masih minta di siram??"
Moa mengambil air dari keran minum air dengan sebuah botol bekas lalu menyiramkannya pada pohon itu.
Hupla!
Seorang gadis melompat dari atas pohon, mendarat tepat di belakang Moa. Karena terkejut Moa menoleh ke arah gadis itu dan hanya mampu melihat dari belakang saja, Moa pikir mungkin itu dewa pohon yang keluar dari pohon ini.
"Astaga... Apa mataku sedang menipuku?" Gumam Moa lirih.
Moa terus melongo memandangi gadis cantik yang sedang minum melalui keran air, setelah dirasa puas minum air gadis itu menatap Moa dan mendekati pria itu.
"Hei, aku tidak tahu bahwa pohon ini berpenghuni! Sumpah!!" Moa mengacungkan dua jari menandakan bahwa ia tidak berbohong.
"Hahaha"
Gadis itu tertawa terpingkal-pingkal, ia sampai mengusap air mata yang menetes karena menyaksikan keluguan Moa.
"Eh?? Kenapa?"
"Tuan... Tuan... Yang batuk itu aku! Bukan pohon itu" gadis itu menunjuk pohon di belakang Moa.
"Eh? Kau bukan dewa pohon?"
"Memang ada yang seperti itu??"
"Tentu saja ada! Aku percaya kalau makhluk mitologi itu ada" terang Moa percaya diri.
Jelas kau percaya! Salah satu temanmu kan duyung! - batin si gadis.
"Kau ini lucu sekali tuan... Mau makan donat??" Gadis itu menawarkan beberapa donat yang tadi ia beli.
"Tunggu! Apa kita pernah bertemu sebelumnya??"
"Ng... Tidak! Ini pertama kalinya aku melihatmu" gadis itu melirik ke arah lain agar Moa tidak mencurigainya.
Aneh? Aku kan sudah menghapus ingatannya waktu itu! Kenapa dia masih bisa merasakan hal yang familiar untuknya? - batin gadis itu.
"Begitu ya?? Ayo duduk disini! Tapi jauh-jauh ya?? Hatiku sudah menjadi milik seseorang, kau memang cantik tapi bukan tipeku!"
"Dih! Yang mau jadi tipe'mu juga siapa?? Percaya diri sekali sih!"
"Hahaha, mana donatnya?" Moa menarik paper food berisi donat dari tangan gadis itu lalu memakannya.
Bersambung!!
Halo, jangan lupa Like, komentar, follow, vote dan rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya. Terima kasih 😘