Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Mabuk



Krieett! (Suara pintu kamar yang di buka dengan pelan)


Fuu memasuki kamar Densha dengan linglung, seperti gadis yang baru saja belajar berjalan.


"Kau kenapa?"


Densha meletakkan buku yang ia baca ke meja. Pria itu menatap Fuu dengan pandangan aneh.


"Apa maksudmu 'kenapa'? Tentu saja Fuu ingin tidur hik" Gadis itu cegukan, wajahnya memerah seperti tomat.


"Kenapa semuanya berputar-putar?" Gumam Fuu pelan.


"Hei, apa kau mabuk?"


"Apa itu mabuk?"


Karena tidak kuat melihat seluruh ruangan yang seolah berputar-putar, Fuu menundukkan badannya dan berjalan merangkak ke arah kasur lantai miliknya.


"Cih! Sudah kubilang jangan minum kan!!"


"Berisik!! Minta di pukul ya?" Gumam Fuu pelan


Apa dia bilang?? - Densha.


"Kau bilang apa barusan?"


"Cih! Fuu bilang Densha berisik! Minta di pukul ya?" Jawab Fuu sewot.


Serius? Aku tidak sedang salah dengar kan? Sejak kapan dia berani seperti ini? - Densha.


"Wah-wah, sudah mulai ngelunjak ya?"


"Dih! Kenapa cerewet sekali sih?! Tidak lihat apa? Fuu sedang berusaha menuju tempat itu" Fuu menunjuk ke arah kasur lantai miliknya.


"Kenapa jauh sekali sih tempatnya!"


"Kau bahkan tidak bergerak dari tempatmu sekarang! Bagaimana bisa sampai ke sana?" Ledek Densha kesal.


"Haha, Fuu kira hik.. sudah bergerak"


Karena kesal, Densha mendekati Fuu lalu menarik lengan Fuu agar gadis itu berdiri. Ia ingin membawa Fuu ke tempat tidurnya.


"Ayo! Ku bantu"


"Lepas! Fuu bisa sendiri"


"Cerewet! Ayo sini" Densha menyeret paksa Fuu.


"Sakit! Dasar keparat kecil"


Hah?! - Densha menghentikan langkah kakinya, pria itu melepaskan pegangannya pada Fuu dan menatap Fuu dengan sinis.


"Beraninya kau memanggilku begitu!"


"Kenapa? Bukankah nona Isabella juga memanggil Densha seperti itu?"


"Terus kau menirunya?"


"Dari dulu Fuu ingin mengatakannya tapi Fuu tahan"


"Apa?? Dasar bodoh!!" Densha menyentil dahi Fuu keras.


"Sakit tau!!"


"Itu hukuman untukmu!"


"......" Fuu memandang Densha dengan tatapan dingin.


"Apa lihat-lihat?"


"Tidak apa-apa"


Densha beranjak meninggalkan Fuu, pria itu tidur telentang di ranjang miliknya. Sesekali ia melirik Fuu yang hanya duduk di kasur lantai miliknya sambil memainkan rambut panjangnya.


"HUWAAAA!!"


"YA TUHAN BIKIN KAGET SAJA!!" Densha terperanjak bangun dari rebahan nya.


"Densha! Kepala Fuu sakit"


"Itu salahmu sendiri! Aku sudah bilang kan jangan minum!"


"Kenapa semuanya buram dan masih berputar-putar ya?"


"Matamu yang bermasalah!" Sindir Densha ketus.


"Sebentar! Akan aku ambilkan air minum untukmu"


Pria itu berjalan ke dapur, mengambilkan Fuu segelas air dingin. Di dapur ia bertemu Isabella yang sibuk memainkan ponselnya.


"Bibi belum tidur?"


"Sia-sia kau sekolah sampai SMA"


"Hah?! Apa maksud..."


"Sudah tahu aku masih disini memainkan ponselku, kenapa masih tanya aku sudah tidur atau belum?!" Sahut Isabella sedikit memaki keponakannya.


Eh?? Iya ya? Benar juga - Densha.


"Ah! Haha, aku kan hanya basa-basi"


"Ck! Sana pergi! Jangan menggangguku"


"Iya, aku cuma mau mengambilkan air minum untuk Fuu"


"Dia mabuk?"


"Itu semua gara-gara bibi tahu!"


CTARRR!!!


GLUDUK! GLUDUK!!


"Ya Tuhan!!" Densha memeluk lengan bibinya kuat karena terkejut.


Petir menyambar-nyambar dengan keras, dan tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat, bahkan suara angin sampai terdengar dari dalam rumah.


"Lho? Ada apa ini? Bukannya tadi hujannya tidak sederas ini?" Tanya Isabella bingung.


"Ck! Lepaskan tanganmu!!"


"Iya, aku pikir malah hujannya sempat mereda" perlahan Densha melepaskan genggaman tangannya.


Ia mengintip dari jendela kaca dapur, benar saja! Hujannya sangat lebat, kilatan petir menggelegar dimana-mana. Hujan lebat ini menyebar ke seluruh isi kota, menyebabkan beberapa tempat mengalami pemadaman listrik.


CTARR!!


ZRAAASSHHHH!!


Mengerikan! - batin Densha.


"Duh! Kalau begini, aku tidak berani bermain ponsel"


"Eh! Kenapa begitu?"


"Dulu ayahmu melarangku memainkan ponsel saat hujan turun dengan deras, katanya bisa bikin kita tersambar petir"


"Dih! Itu kan hanya untuk menakut-nakuti bocah nakal!"


"Yaa, entah kenapa otakku sudah diracuni oleh ayahmu dengan kata-kata mengerikan itu, haha"


Papa sangat menyayangi adiknya ya? - Densha tersenyum tulus.


"HAHAHAHA"


Suara tawa seorang gadis terdengar cukup kencang, hampir memekakan telinga Densha dan Isabella. Kedua orang itu menutup telinganya dengan rapat untuk meminimalisir suara berisik itu.


"HAHAHAHA, HUJAN! HUJAN! DATANG LAH!"


Suara ini?! - Densha.


Isabella dan Densha saling menatap, tanpa aba-aba mereka berlari menuju kamar Densha. Dengan buru-buru Densha membuka pintu kamarnya, matanya bergerak dengan cepat mencari keberadaan Fuu. Gadis itu berdiri tepat di depan jendela kamar Densha dengan kaca jendela yang terbuka lebar, membuat air hujan masuk membasahi karpet di lantai kamar Densha.


"Fuu!!" Panggil Densha keras.


Gadis itu menoleh, ia tersenyum menatap Isabella dan Densha secara bergantian.


"Halo, Hehe" sapa Fuu melambaikan tangannya.


Mata Isabella dan Densha membulat memandang Fuu, bagaimana tidak? Dahi gadis itu bersinar dengan terang. Kilauan nya lembut keemasan seperti matahari terbit, dengan tertawa riang Fuu menyenandungkan sebuah irama sendu yang indah. Seketika hujan semakin deras tidak karuan, petir semakin menggelegar tanpa jeda waktu.


GLUDUK! GLUDUK! (Bunyi gemuruh awan)


"Astaga! Apa yang terjadi?"


"Aku tidak tahu bibi, tapi aku rasa hujan di luar ada hubungannya dengan dahi Fuu yang bersinar itu"


"Aku tidak tahu! Aku baru pertama kali melihatnya"


"Dih! Yang benar saja?!"


"Bagaimana cara menghentikannya bibi?"


"Mana aku tahu! Kau kan yang tinggal satu rumah dengannya"


Isabella dan Densha saling pandang, mereka berpikir bagaimana cara menghentikan Fuu. Karena yang ada dalam pikiran mereka saat ini, Fuu pasti melakukan ini tanpa sadar alias sedang berada di bawah pengaruh alkohol.


"Hahaha, lebih deras dong! Tidak seru!! Mana nih yang katanya dewa air??"


"Ya Tuhan! Dia bicara sendirian??" Bisik Isabella.


"Aku tidak tahu! Jangan bertanya padaku!"


Densha mendekati Fuu pelan-pelan, dalam hati sebenarnya ia takut. Takut jika Fuu akan menyerangnya atau takut dengan kekuatan Fuu yang selama ini tidak ia ketahui.


"Fuu, tenangkan dirimu!"


"Eh! Densha? Kepala Fuu berputar-putar loh"


"Iya aku tahu! Tapi... Bisakah kau menghentikan tindakanmu yang mengacaukan cuaca?"


"Mengacaukan cuaca?"


"Iya, tolong hentikan hujan-hujan itu!"


"Fuu tidak bisa, Fuu lupa nadanya hehe"


"Hah?! Dasar tidak waras!!"


Hap!


Densha berhasil memegang tubuh Fuu, suhu tubuh gadis itu cukup tinggi. Badannya memanas dan wajahnya semakin memerah.


"Kau baik-baik saja?"


"Jika bersama Densha, Fuu akan baik-baik saja! Selamanya..."


"Ck! Hentikan omong kosongmu itu! Dan cepat hentikan hujan ini"


"Huft.. Fuu kan sudah bilang kalau Fuu lupa nadanya kan?"


"Coba ingat-ingat!!" Pinta Densha memohon.


"Hmmm..."


Fuu memegang dagunya, ia tengah berpikir mengingat nada-nada yang tercampur jadi satu di otaknya.


"Haahh..."


"Kau mengingatnya?"


"Di pikir berapa kali pun memang tidak ingat ya? Hehe"


"Jangan tertawa!"


"Oh, Fuu ingat!"


"Apa?! Cepat nyanyikan!"


"Fuu ingat bahwa Fuu lupa mengerjakan PR hehe"


"Minta mati ya?"


"His... Kejam sekali! Fuu tidak ingin mati, Fuu ingin meminum darah Densha dan hidup bersama selamanya"


Me.. Meminum apa?! - Densha.


"Hei, dia ini vampir atau duyung?" Sahut Isabella dari pintu kamar.


"Entahlah, aku juga bingung!"


Apa maksudnya meminum darahku dan hidup bersama?? - Densha.


Fuu memejamkan matanya, dahinya semakin bersinar dengan terang. Mulut gadis itu seolah membaca mantra, mantra yang tidak di mengerti oleh manusia.


"Astaga! Apa lagi ini?!"


"Hujan... Hujan..." Gumam Fuu pelan.


"Hei, sudah kubilang hentikan kan?!" Densha menggoyang-goyangkan tubuh mungil Fuu.


"Hehe, tenang saja! Nanti juga akan berhen..."


Bruk!


Fuu jatuh pingsan ke pelukan Densha, dahi nya yang bersinar perlahan meredup. Gadis itu mengalami demam tinggi, walaupun hujan masih belum berhenti. Setidaknya petir yang menyambar-nyambar sudah mulai menghilang.


"Densha..."


"Hmm?"


"Jika Fuu meminta darah Densha, apa Densha akan berikan?"


"Apa maksudnya? Hei, kau masih mabuk ya?"


"Jika Fuu tidak melakukannya, Fuu akan..."


"Akan apa?!"


Belum sempat mengatakan hal yang paling penting Fuu sudah tertidur di dalam pelukan Densha. Tubuh gadis itu terkulai lemas, setelah di rasa aman Isabella memberanikan diri mendekati Fuu dan Densha. Ia membantu Densha untuk menidurkan Fuu di kasur lantai miliknya.


"Cih! Merepotkan!"


"Ini semua kan gara-gara bibi"


"Dia kan yang minta minum"


"Kenapa bibi kasih?"


"Hei aku kan murah hati, lagipula aku juga tidak tahu kalau dia bisa merubah cuaca seperti itu... Ck! Hujannya belum juga reda"


"Setidaknya tidak mengerikan seperti tadi"


"Ya, kau benar!"


"......"


Densha memandangi wajah Fuu, pria itu mengusap lembut kepala Fuu sambil terus memikirkan kalimat Fuu yang belum selesai.


Apa yang sebenarnya ingin kau katakan? - Densha.


"Hei..."


"Apa?"


"Mmm, aku penasaran. Apa hubungannya darahmu dengan dia? Kenapa dia mengatakan hal aneh itu?"


"Aku sendiri penasaran, tapi bisa saja dia mengatakannya karena mabuk kan?" Ucap Densha menyangkal.


"Menurutku, saat orang sedang mabuk. Biasanya yang dikatakan itu adalah hal yang selalu ia simpan di dalam hatinya"


"Eh? Benarkah?"


"Tentu saja!"


"Bibi tahu darimana?"


"Aku sering membaca artikel di woogle atau terkadang aku suka menonton Ucuber"


"Masa sih? Fuu beneran ingin meminum darahku?"


"Mungkin ada alasan untuk itu, kenapa tidak kau cari tahu saja? Kemungkinan besok dia akan lupa kejadian malam ini"


"Ah! Bibi benar! Baiklah... Besok aku akan mencari informasi, kenapa dia harus meminum darahku. Tapi... Jika aku tidak menemukan jawabannya bagaimana?"


"Serahkan darahmu dengan tenang! Gampang kan?!"


"His.. Bibi ini!!"


"Hahaha, lagi pula sepertinya dia tidak akan menyakitimu kok, jadi tenang saja"


"Mmm...."


Densha melamun menatap Fuu yang tertidur pulas. Pikiran pria itu kalut, otaknya di penuhi oleh kejadian-kejadian aneh semenjak ia tinggal bersama seorang duyung.


Cih! Sial!! - Densha.


Bersambung!


Jika kalian menyukai Novel ini, mohon bantuannya untuk klik Like ❤️, komentar, follow, vote dan rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya. Terima kasih... 😘