Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Darah dan Hybrid




Beberapa hari yang lalu di rumah sakit, Fuu nampak ragu mengobati ayah Mod. Hal ini di karenakan ayah Mod benar-benar sekarat, jika Fuu harus mengobatinya maka Fuu akan kehilangan banyak darah. Dan itu menyebabkan perbandingan yang terbalik, yaitu Fuu lah yang akan sekarat. Seperti pertukaran penyakit, jalan satu-satunya untuk membuat duyung itu bertahan hidup adalah ia harus meminum darah seseorang yang benar-benar menyukainya.


Fuu ingin sekali menolong Mod, satu-satunya gadis manusia yang benar-benar tulus menganggapnya teman tanpa melihat identitas Fuu. Ia sedih melihat Mod yang terus-terusan menangis, karena sebelumnya Fuu juga pernah kehilangan seseorang yang ia sayangi. Ibunya, tuan Derick, dan nona Shanaz semuanya mati di depan mata Fuu, ia tidak ingin Mod merasakan hal yang sama dengan kehilangan seseorang yang gadis itu sayangi.


Darah duyung memang mampu menyembuhkan segala penyakit. Namun semakin besar rasa sakit yang di derita maka semakin besar pula darah yang harus di keluarkan oleh duyung itu. Duyung mampu meregenerasi tubuhnya sendiri, namun untuk darah yang keluar sebagai obat. Mereka butuh waktu yang tidak sedikit untuk membuat darah mereka berguna (Seperti pompa air, jadi ia perlu menyerap darah seseorang untuk menggantikan darahnya yang keluar).


Darah Hybrid atau persilangan antara duyung dan manusia tidak bisa menyembuhkan penyakit, hanya darah duyung murni yang mampu melakukan itu. Hybrid sendiri sebenarnya lahir dengan kebencian, kebencian yang menolak mengakui bahwa ia adalah keturunan duyung. Dari kebencian itulah lahir kekuatan-kekuatan Hybrid yang berbeda-beda, seperti memberi kutukan atau membuat seseorang kehilangan ingatannya. Hybrid tidak mampu berubah menjadi duyung seutuhnya, mereka akan memiliki setengah tubuh yang betul-betul mirip manusia tanpa sisik ikan saat di dalam air. Tubuh mereka tidak akan di lindungi selaput tipis, seperti selaput yang membungkus tubuh bagian atas Fuu saat ia berubah menjadi duyung.


Hybrid sendiri mengalami keterlambatan dalam proses perubahan menjadi duyung, pada dasarnya duyung murni akan memiliki kaki di usia 15 tahun. Namun untuk Hybrid mereka akan mengalami proses perubahan di usia 18 tahun.


Sebelum usia Hybrid tepat 18 tahun, mereka harus meminum darah kedua orang tuanya. Sedikit darah ayah dan sedikit darah ibu, jika hal itu tidak di lakukan Hybrid akan mati. Berbeda dengan duyung murni yang akan hanya berubah jika terkena air laut, Hybrid akan mengalami proses perubahan pada jenis air tawar ataupun asin. Saat umur mereka (Hybrid) genap 18 tahun, mereka harus tinggal di dalam laut selama tiga tahun lamanya, hal ini sudah di lakukan secara turun temurun. Meskipun mereka tidak mau, mereka harus tetap melakukannya karena ini adalah peraturan yang sudah dibuat oleh Poseidon, melanggar berarti melawan Poseidon.


.


.


.


.


.


"Fiuh!"


Fuu mengelap keringat yang mengucur di dahinya, hari ini ia telah mengeluarkan segelas darah segar dari pergelangan tangannya untuk ayah Mod.


Mod mengalami kendala saat berusaha mengeluarkan ayahnya dari rumah sakit, karena kondisi ayahnya yang cukup parah. Dokter sudah berusaha dengan keras melarang gadis itu, tapi Mod tidak mendengarkan. Sebagai gantinya Mod harus menandatangani kontrak bahwa dirinya berjanji tidak akan mendatangi rumah sakit yang sama jika ayahnya ingin berobat lagi. Sungguh peraturan yang di buat seenaknya sendiri oleh pihak rumah sakit, begitu pikir Mod.


"Sudah?? Apa aku harus memberikan ini pada ayahku?"


"Iya"


Serius?? - Mod.


"Bagaimana jika dia menolak?" Tanya Mod ragu.


"Tinggal kau paksa saja kan?!" Sahut Densha ketus.


Mod mengambil gelas yang berisi darah Fuu, gadis itu mengendus aroma darah yang di keluarkan oleh Fuu. Tidak ada bau amis disana, malahan sepertinya tidak menimbulkan bau sama sekali. Dan warnanya sangat merah, benar-benar merah.


"Tidak berbau"


"Sudah sana berikan!" Perintah Densha.


"Baik! Kalian tunggu disini ya?"


"Okay, baik"


Gadis itu pergi meninggalkan Densha dan Fuu di dapur rumahnya. Densha memandangi pergelangan tangan Fuu dengan luka yang masih terbuka di sana.


"Apa itu tidak sakit?"


"Sakit"


"Coba sini lihat!"


"....." Fuu menyodorkan tangannya pada Densha, pria itu meniup luka Fuu yang terbuka.


"Merasa lebih baik?"


"Fuu merasakan ada udara"


"Tentu saja! Kan aku tiup!!" Maki Densha kesal.


"Mm.. Anu, Fuu ingin...."


"Ingin apa?"


"Setelah dari rumah Mod, bisakah Fuu dan Densha pergi ke laut sebentar"


"Eh! Untuk apa? Bukankah kemarin sudah?"


"Lihat!!" Fuu menunjukkan luka di pergelangan tangannya yang menganga lebar, harusnya luka itu perlahan akan menutup dan tidak meninggalkan bekas.


"Kenapa?"


"Regenerasi sel Fuu melambat, Fuu ingin melakukannya di dalam air"


"Begitu ya? Baiklah, hari ini kita akan pergi ke laut"


"Terima kasih" ucap Fuu senang.


Tok!


Tok!


Tok!


Mod mengetuk pintu kamar ayahnya, perlahan gadis itu memasuki kamar sang ayah, ia duduk di samping ranjang ayahnya.


"Ayah... Bangun" panggil Mod lembut.


"Ng... Ada apa sayang? Ayah pusing sekali"


"Maafkan aku ayah, gara-gara menuruti aku ayah harus di rawat di rumah"


"Tidak apa-apa, ayah lebih nyaman disini"


"Ayah... Aku membawakan obat untuk ayah"


"Obat?" Ayah Mod merubah posisi tidurnya, pria itu duduk menyender ke dinding kamar.


"Iya, ini herbal. Temanku yang menyarankan"


"Temanmu? Si pria bodoh itu?"


"Pria bodoh?"


"Moa Collin" jawab ayah Mod kesal.


"Apa ayah membenci Moa?"


"Tidak, hanya saja... Ayah takut kau salah pilih orang"


"Ayah... Yang terpenting untukku saat ini adalah kesembuhan ayah" Mod memberikan gelas itu pada ayahnya.


"Nah! Sekarang minum ini sampai habis ya?"


"Baik, ini semua demi putriku!"


Glek!


Glek!


Glek!


"Ini" ayah Mod memberikan gelas kosong pada putrinya.


"Eh! I.. iya... Anu, ayah..."


"Apa?"


"Ba.... Ba.... Bagaimana rasanya?" Tanya Mod ragu.


"Enak! Tidak ada rasa apapun! Ayah pikir bakal pahit atau apa gitu karena herbal"


Enak katanya? - Mod.


"Ah! Haha, berarti ayah suka ya? Sehari harus minum satu gelas sampai ayah betul-betul sembuh"


"Ya, kalau obatnya tidak ada rasa seperti itu, walaupun satu hari satu galon pun ayah bisa!"


"Hehee..."


Terima kasih Fuu... - Mod.


Fuu melamun menatap luka di pergelangan tangannya yang tidak tertutup, gadis itu berpikir keras kenapa hal seperti ini bisa terjadi, harusnya tidak ada pengaruh apapun pada regenerasi sel miliknya. Darahnya memang sudah berhenti tapi lukanya tidak mau menutup, lebih tepatnya melambat dalam proses penutupan luka.


"Fuu!" Panggil Mod senang, gadis itu memeluk Fuu dengan erat.


"????"


"Ayahku! Ayahku mau meminumnya"


"Hei! Kau tidak bilang itu darah kan?" Tanya Densha penasaran.


"Tentu saja tidak! Aku sungguh berterima kasih padamu Fuu"


"Syukurlah..." Jawab Fuu pelan, ia tersenyum tulus memandang Mod.


"Kalau begitu, kami pulang dulu ya?"


Densha mendekati Fuu dan menggandeng gadis itu.


"Lho? Cepat sekali, kalian tidak ingin makan malam disini? Akan aku buatkan sesuatu"


"Ah! Tidak perlu, aku akan mengajaknya makan diluar"


"Begitu ya?" Ucap Mod murung.


"Lain kali, Fuu ingin makan dirumah Mod" sahut Fuu antusias, ia tidak mau Mod memasang wajah sedih.


Kau sedang berusaha menyenangkan hatinya ya? - batin Densha, ia melirik Fuu di sampingnya.


"Benarkah? Janji ya??"


"Iya"


"Oh iya! Kira-kira kapan reaksi darahmu bekerja pada ayahku?"


"Harusnya tidak lama, tapi mungkin Fuu harus melakukan tiga sampai lima kali pengobatan"


"Ah! Baiklah, apapun itu... Aku sungguh berterima kasih"


"Baiklah! Kami pulang dulu ya? Sampai jumpa Mod"


"Iya, hati-hati ya di jalan!"


Mod mengantar Densha dan Fuu hingga ke depan pintu rumahnya. Ia tersenyum lebar dan melambaikan tangan ke arah mereka berdua, lambaian tangannya disambut hangat oleh Fuu.


(Di perjalanan menuju laut)


"Kau mau kemana? Di bawah tebing atau di pantai?"


"Di bawah tebing saja"


"Kau yakin tidak kedinginan? Masuk ke dalam air malam-malam begini?"


"Kan ada Densha" ucap Fuu polos.


Hah?! Apa maksudnya itu? - Densha.


Wajah Densha memerah membayangkan yang iya-iya. Pria itu membuang muka ke arah lain, lalu menghela nafas panjang.


"Kau suka sekali membuat orang olahraga jantung ya?"


"Eh? Apa maksudnya itu? Fuu tidak mengerti"


"Bodoh!"


Dia bahkan tidak tahu bahwa kata-kata polos yang keluar dari bibirnya terkadang membuat orang berdebar, bisa kena serangan jantung di usia muda kalau begini terus!! - Densha.


"Bodoh?"


"Sudahlah! Lupakan saja! Kenapa tempat itu jauh sekali sih?!" Omel Densha.


"Karena kita berangkat dari rumah Mod, jadi tempat itu terasa benar-benar jauh"


"Iya, kau benar!"


Fuu melirik ke arah tangan Densha yang menggantung begitu saja, perlahan gadis itu mendekatkan tubuhnya ke samping Densha lalu menggenggam tangan Densha erat.


"Duh! Kaget!!" Densha terkejut karena Fuu tiba-tiba menggenggam tangannya.


"Hehe, Fuu suka bergandengan"


"Lain kali jangan tiba-tiba menyentuhku! Ingat?!"


"Kenapa?"


"Aku bisa saja terkena serangan jantung tahu!"


"Serangan jantung?"


"Ck! Menjelaskan padamu juga percuma saja!"


"Hehe" Fuu tersenyum riang memandangi wajah Densha yang bersemu merah.


Jika Fuu meminta darahnya, pasti di berikan kan? - Fuu.


Bersambung!!


Jika kalian menyukai Novel ini, mohon bantuannya untuk klik Like ❤️, komentar, follow, vote dan rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya. Terima kasih... 😘