Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Festival (H - 2) bag.5



Kalimat Densha begitu jelas dan tegas, Katrina tertawa terbahak-bahak. Ia berdiri dari duduknya, dan mengucapkan selamat tinggal tanpa memberitahu lokasi Fuu saat ini.


"Semoga beruntung!" Ucap Katrina.


Pintu rumah terbuka sedikit, Moa segera menarik Densha agar keluar dari rumah berhantu itu, pria berambut pirang itu beralih menatap wajah penuh emosi milik Densha.


"Sialan! Sial! Sial!!" Densha merutuki dirinya sendiri, ia mengepalkan tangannya karena saat ini ia tak mampu berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Fuu.


Melihatnya menyalahkan diri sendiri, Moa mengusap bahu Densha dengan lembut. Ia berusaha menguatkan Densha, dari sorot matanya Moa menjelaskan bahwa semua akan baik-baik saja.


Tut!


Tut!


Tut!


(Ponsel berdering)


"Eh?? Ini dari Mod"


Densha melirik Moa yang menatap layar ponselnya, pria itu mendengus kesal dan berjalan kearah mobil Moa.


"Halo?" Moa berjalan mengikuti Densha.


"Cepat pulang! Ada sesuatu yang harus kalian lihat!"


"Baik"


"Tunggu! Apa Fuu di rumah Katrina?"


"Sepertinya tidak" mata Moa nanar menatap Densha yang sedang kalut dalam kesedihannya.


"Cepat kemari! Aku menemukan petunjuk"


"Iya"


Tut!


(Ponsel dimatikan)


Moa berjalan menuju mobilnya, ia duduk di kursi pengemudi dan melajukan mobilnya secara perlahan.


"Kita mau kemana lagi mencari Fuu?" Tanya Densha sambil memejamkan kedua matanya.


"Kita akan pulang, Mod bilang dia menemukan petunjuk"


"Cih! Petunjuk apa?! Sudah dua hari aku tertidur, berarti sudah dua hari Fuu menghilang"


"Aku tahu kau sangat khawatir, tapi kita juga tidak boleh terlalu larut dalam emosi masing-masing. Aku akan terus membantumu" ucap Moa yang berusaha menghibur Densha.


"Terima kasih Moa"


Moa tersenyum tulus pada Densha, ia melajukan kendaraannya agar lebih cepat sampai ke rumah Densha. Para tukang sudah tidak ada, bahkan hanya tersisa mobil Isabella saja. Sepertinya sekertaris Isabella juga ikut pulang bersama bodyguardnya.


"Kemari!" Mod menunjukan layar ponselnya pada Densha.


"Apa ini??"


"Ini forum Q&A acara festival besok"


"Lalu??" Densha mengangkat sebelah alisnya bingung.


"Lihat komentar mereka!" Mod menarik ujung layar untuk membuka kolom komentar yang tersedia. "Baca dengan baik!"


Densha meraih ponsel milik Mod, ia duduk di sofa dan membaca seluruh komentar satu persatu. Ada yang begitu yakin bahwa akan ada pertunjukan putri duyung asli di festival itu. Mata Densha terbelalak membaca salah satu komentar yang bersungguh-sungguh bahwa besok akan ada duyung asli di acara tersebut.


"Apa-apaan ini??" Densha menatap Mod dingin.


"Benar kan?? Ini acara Sir Edmund, kita bisa menghubungi Sir Edmund untuk mencaritahu kebenarannya"


"Oh... OMG!!" Teriak Moa kencang, ia menepuk kedua pipinya dengan gemas.


"Kau kenapa??"


"Sir Edmund sangat tergila-gila dengan duyung! Bisa jadi forum itu benar adanya" Moa menunjuk-nunjuk ponsel Mod.


"Apa?!" Mod menatap tidak percaya.


"Aku bersungguh-sungguh, ingat kan saat aku bilang pada kalian aku sedang berbicara dengan Sir Edmund soal festival. Dia bilang dia sangat kagum dengan makhluk mitologi bernama duyung itu!"


Densha mengusap wajahnya dengan gusar, ia tak tahu apalagi yang harus ia lakukan. Bahkan ia tidak tahu dimana rumah Sir Edmund.


Isabella yang melihat keponakannya begitu sedih, langsung mengambil ponselnya. Ia menelpon sekretarisnya untuk membeli tiket Festival hari esok, namun keberuntungan tak berpihak padanya. Seluruh tiket habis terjual karena banyak orang penasaran dengan duyung yang dikatakan asli itu.


"BERAPA BANYAK PEGAWAI DI KANTOR KITA HAH?! TANYA PADA MEREKA PUNYA TIKET ATAU TIDAK?? BELI DENGAN HARGA TINGGI!!" Teriak Isabella lalu menutup telponnya.


Selang satu jam menunggu, dengan mudahnya Isabella bisa mendapatkan empat tiket untuk acara Festival tengah kota yang diadakan besok.


"Kita akan pergi ke festival itu! Sekarang kalian istirahat lah" pinta Isabella tenang.


Walaupun sebenarnya mereka tidak bisa tidur, mereka masih memaksakan diri untuk tidur meskipun sia-sia. Ketiga remaja itu tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Fuu... Aku pasti akan menemukanmu! - Densha.


Jika ternyata duyung di festival itu bukan Fuu bagaimana ya?? - Moa.


Maafkan aku Fuu, andai saja aku tidak mengajakmu pergi waktu itu! - Mod.


.


.


.


.


.


Drrr!


Drrr!


"Asal otaknya baik-baik saja, dia akan hidup lagi kan?" Edmund memasukan besi yang dialiri listrik ke dalam aquarium tempat Fuu berada.


Rupanya ia hendak membuat Fuu tak sadarkan diri lagi, agar ia bisa melihat Fuu merubah siripnya menjadi kaki.


"Sepertinya akan seru jika seluruh pengunjung melihat perubahan wujud'mu secara langsung! Dari kaki menjadi sirip!"


Drr!


Drr!


Drr!


Fuu menggelepar kesakitan menerima sengatan listrik yang merambat di sekujur tubuhnya. Gadis itu tak berdaya untuk melawan, dalam ketidaksadarannya yang ia lihat hanyalah wajah ibunya dan Densha.


"Katrina bilang kau keturunan Dewa? Apa itu benar?! Lalu kenapa kau tidak bisa menggunakan sihir seperti Katrina?" Sindir Edmund.


Mata Fuu nanar menatap Edmund, wajahnya beruraian air mata. Ia berharap Edmund akan mengasihani dirinya walaupun itu cuma sedikit. Semakin lama sengatan listrik di tubuhnya semakin tak sanggup ia lawan, gadis duyung itu menutup mata tak sadarkan diri.


Dengan hati-hati, Edmund membawa tubuh Fuu dan meletakkannya di atas kursi, ia mengikat tubuh Fuu kuat. Tentu saja ia sudah tahu bahwa duyung ini akan telanjang, maka dari itu ia memasang kaos berwarna putih miliknya yang sudah tidak ia pakai. Kaos itu hanya mampu menutupi bagian dada Fuu sampai bawah pangkal pahanya.


"Aku akan menunggu, sampai sirip-sirip itu berubah menjadi kaki"


Edmund tertawa senang, ia mengambil kursi lain dan duduk di depan tubuh Fuu yang lemah.


Tik!


"Sial! Bunyi ini..."


"Halo?"


Belum selesai Edmund mengutarakan kalimatnya, Katrina sudah berdiri di belakang pria itu. Ia tersenyum menyeringai menatap Edmund dan Fuu bergantian.


"Wow! Kau apakan dia?" Katrina menunjuk Fuu dengan gerakan matanya.


"Tidak aku apa-apakan, bukankah lebih bagus jika seluruh pengunjung melihat perubahan duyung ini secara langsung"


Wajah senang Katrina mendadak murung, ia menatap Edmund dengan kesal. Gadis itu menambah ikatan rantai di tubuh Fuu dengan sihirnya.


"Bodoh!" Katrina memaki Edmund gemas. "Kalau kau hanya mengikatnya dengan tali begitu! Kau akan mati saat dia bangun"


"Hah?? Lalu aku harus bagaimana??"


"Apa kau punya jeruji besi?"


"Maksudmu kandang??" Edmund terbelalak tidak percaya.


"Iya, kandang yang cukup besar! Jadi kau bisa memasang kamera pada kandang itu lalu kau hubungkan pada layar besar saat festival! Jadi saat kandang itu kau masukkan kedalam air, mereka semua akan melihat perubahan Fuu secara langsung"


"Darimana semua pikiran gila itu keluar?" Edmund menyentuh kepalanya sendiri bingung.


"Saat hatimu terluka, kau akan mampu melakukan apa saja untuk menyakiti orang" Katrina menyentuh bagian dadanya yang terasa sakit. Sakit atas cintanya pada Densha.


"Bagaimana? Kau setuju?" Timpal Katrina lagi.


"Baiklah! Sepertinya aku punya kandang anjing tidak terpakai di gudang"


"Apa tidak terlalu kecil?"


"Anjing yang ku pelihara besar, jadi jangan khawatir. Fuu pasti muat di dalamnya" jawab Edmund datar.


"Baiklah! Sementara kau mengambil kandangnya, aku akan menjaga gadis ini"


Dia benar-benar iblis ya?? - Edmund.


Katrina berjalan mendekati tubuh Fuu yang tak sadarkan diri, gadis itu mengusap lembut kening dan pipi Fuu secara bergantian.


"Sayang sekali ya? Ryn tidak ada disini!" Katrina tersenyum kecut. "Tapi, itu jauh lebih bagus! Karena Ryn pasti akan menyerangku jika dia disini"


Sebenarnya kenapa Ryn datang dari masa depan ke masa ini?? Apa ada masalah di masa depan? - Katrina.


Yahh... Jujur, Katrina tidak mengetahui alasan Deryne Mikaelson datang ke masa lalu. Ia sendiri sedang mencari tahu info tersebut dari Kraken, namun bukannya jawaban yang ia temukan. Kraken hanya tertawa menyeramkan memandang dirinya.


Ck! Aku harus mencari informasinya sendiri dong? - Katrina.


Jari telunjuk Katrina bersinar, ia memberikan sedikit mantra pada kepala Fuu. Entah mantra apa yang sedang ia berikan, namun gadis itu nampaknya bahagia dengan apa yang ia lakukan saat ini.


"Meskipun Ryn kembali, dia akan tetap kesusahan menyelamatkanmu"


Bersambung!!


Berikan cinta kalian dengan cara Like, Komentar, Favorit, Follow, Vote dan Rating ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya. Terima kasih 🙏😘