Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Clue



"Katrina??"


"Iya ayah?"


"Bisa kita bicara sebentar"


"Tapi, aku ingin berangkat sekolah"


"Sebentar saja" Tuan Shawn menatap putrinya dengan hangat.


"Baik ayah"


Katrina duduk di ruang tamu, ia menundukkan kepalanya. Gadis itu berharap agar ayahnya tidak mencurigai beberapa luka di tubuhnya.


"Berapa umurmu?"


"Tiga bulan lagi, umurku 18 tahun ayah"


"Delapan belas ya?"


"Iya ayah"


"Apa kau bisa menjelaskan kata-kata ibumu? Ibumu bilang kedua tanganmu terluka"


"Eh? Tidak kok! Lihat!" Katrina menunjukkan kedua tangannya yang hanya terdapat beberapa plester di sela-sela jemarinya.


"Plester di setiap sela jari? Ada apa Katrina?"


"Aku.. aku hanya tidak sengaja terkena cairan keras ayah"


"Lalu bagaimana dengan luka di kakimu?" Tuan Shawn menatap kaki putrinya yang penuh dengan luka gores.


"Aku terjatuh di tangga kemarin, hehe"


"Katrina! Jangan mencoba berbohong!"


"Aku tidak berbohong ayah"


"Kau berbohong! Apa kau mengalaminya?"


"Mengalami apa?"


"Ayah pikir kau tidak akan mengalaminya karena saat umurmu 15 tahun, kau tidak menunjukkan reaksi apapun"


"...."


Katrina mengalihkan pandangannya, tubuhnya bergetar karena takut, mata gadis itu terpejam dengan erat.


"Ayah, aku takut"


"Katrina.. jadi kau sungguh mengalaminya?"


"Aku tidak mau seperti ini ayah! Aku tidak mau"


"Katrina.."


"Tolong hentikan perubahan ini ayah!"


Katrina berlari ke arah ayahnya, ia memeluk ayahnya dengan erat. Gadis itu menangis, ia takut.. takut bahwa dia akan mengalami hal itu, bagaimana caranya beradaptasi disana. Dan bagaimana cara dia bertahan hidup di dalam sana.


"Katrina, jangan khawatir"


Tuan Shawn berusaha menenangkan putrinya, ia memeluk Katrina agar gadis itu tenang, sesekali tuan Shawn mengusap lembut kepala Katrina.


Jadi.. Hybrid akan mengalami keterlambatan ya? - Tuan Shawn


"Apa aku harus tinggal di dalam laut ayah?" Katrina mengusap bulir air matanya yang menetes.


"Hanya untuk tiga tahun sayang"


"Apa ayah akan menemaniku?"


"Ayah tidak mungkin meninggalkan pekerjaan ayah yang ada disini, itu akan membuat ayah kesusahan saat kembali"


"Lalu? Apa yang akan terjadi denganku saat aku di dalam sana?"


"Maafkan ayah Katrina.." Wajah Tuan Shawn nampak murung.


"Aku tidak mau ayah, aku tidak mau! Aku tidak mau menjadi menjijikan seperti ini.. hiks.. hiks.."


"Kau tidak menjijikan sayang"


"Hiks.. hiks.. hiks.."


"Jangan menangis Katrina, ayah yakin kau pasti bisa melewatinya"


"Ayah.. Hiks.. hiks"


Katrina mengingat kata-katanya pada Fuu, gadis yang awalnya ia sukai karena mereka sama. Namun karena dibutakan oleh cintanya pada Densha, Katrina jadi sangat membenci Fuu, bahkan saat ini ia merasa bersalah karena telah mengatai tubuh Fuu menjijikan, memang waktu itu dia tidak berfikir apapun saat memperjuangkan cintanya pada pria yang bahkan tidak mengetahui perasaan Katrina.


Sudah tiga hari Densha, Fuu, Moa dan Mod tidak datang ke sekolah. Hal itu membuat banyak siswi yang bergosip tentang mereka, ada yang bilang bahwa mereka pergi berlibur berempat, ada juga yang bilang bahwa Fuu dan Mod sudah melakukan itu dengan para pria tersebut. Pil salah satu siswi yang menyukai Densha merasa khawatir dengan ketidakhadirannya di sekolah.


Pil selalu datang ke kelas Densha dengan alasan menemui Lil kembarannya namun di sisi lain ia juga mencari keberadaan Densha dan Moa, bahkan Fuu si murid baru juga tidak ada di kelasnya.


Sebenarnya mereka semua pergi kemana? Katrina juga tidak datang ke sekolah.. bukankah mereka semua berhubungan? - Pil.


Pil kembali ke kelasnya dengan kecewa, ia ingin sekali bertanya tapi bertanya pada siapa, Jennie pun sudah tidak datang ke sekolah dari kemarin, saat ia memasuki ruang kelasnya. Mata gadis itu terbuka lebar, ia tersenyum karena Katrina datang ke sekolah. Dengan jiwa yang penasaran Pil mendekati Katrina dan duduk di bangku depan Katrina.


"Katrina! Selamat pagi!"


"Pagi.. ada apa Pil?"


"Tidak ada! Aku hanya mengkhawatirkan mu, kemana saja kau selama ini?"


"Aku di rumah!"


"Sungguh?"


"Iya"


"Tidak ada acara apapun?"


"Acara?"


"Kau tidak ada kaitannya dengan Densha, Moa, Mod, Jennie dan siapa itu si murid baru yang cantik itu?!" Pil memejamkan matanya mencoba mengingat nama Fuu.


"Maksudmu Fuu?"


"Ah! Iya itu dia!!"


"Memangnya kenapa aku harus berkaitan dengan mereka?"


"Aku pikir kau tahu!"


"Tahu apa?"


"Densha, Moa dan Mod sudah tidak datang ke sekolah tiga hari lalu"


"Terus?"


"Kalau Fuu aku tidak tahu sudah berapa lama dia tidak datang ke sekolah, tapi kalau Jennie sudah dua hari ini tidak datang. Bersamaan dengan hari pertama kau tidak datang ke sekolah"


Mendengar kalimat Pil, Katrina jadi berpikir dengan keras, ia tidak tahu dengan apa yang terjadi dengan mereka.


"Aku tidak tahu Pil, aku baru mendengarnya darimu"


"Kau sendiri kenapa tidak datang ke sekolah selama dua hari?" Pil memperhatikan tangan Katrina yang penuh dengan plester luka.


"Ya Tuhan! Katrina kau kenapa?"


"Ah, ini.. bukan apa-apa!"


"Kau terluka? Apa kau mengalami kecelakaan? Jadi karena itu kau tidak datang ke sekolah?"


"Ehm.. ya begitulah" jawab Katrina bohong.


"Apa itu sakit?"


"Tidak kok!"


"Kau jadi terlihat aneh dengan luka sebanyak itu"


"Tenanglah Pil.. ini akan segera sembuh"


"Ya.. ya.. terserah kau saja!"


Pil kembali ke tempat duduknya sendiri, gadis itu mengambil earphone di saku seragam sekolahnya lalu memasangnya, ia menghibur diri dengan mendengarkan musik kesukaannya di ponsel.


Apa aku benar-benar harus tinggal di dalam laut selama tiga tahun? Bagaimana dengan sekolahku? - Katrina muram menatap kedua tangannya yang penuh dengan luka.


~


Trak!


Trak!


Trak!


Trak!


Trak!


Trak!


"Cih! Sial! Bagaimana cara menyalakan ini?"


Densha membanting dua batu di tangannya dengan kesal, pria itu menyerah untuk membuat api dari gesekan batu.


"Densha.. kenapa?"


"Di film-film yang aku tonton rasanya orang-orang itu dengan mudah membuat api"


"Api?"


"Ya, untuk membakar ikan hasil buruan mu itu!"


"Kenapa perlu api? Fuu tinggal makan saja"


"Aku tidak memikirkan bagaimana caramu memakannya! Aku memikirkan diriku sendiri, aku tidak bisa memakannya dengan mentah Fuu"


"Mm.. Fuu lupa"


"Baiklah! Kita coba sekali lagi"


Densha mengambil dua batu lain untuk membuat api, kali ini batu yang ia gunakan sedikit lebih besar dari yang sebelumnya.


Trak!


Trak!


Trak!


Trak!


Trak!


Trak!


"KEPARAT SINTING!!" Teriak Densha penuh emosi, ia benar-benar tidak bisa membuat api unggun untuk memasak ikan yang di dapatkan Fuu. Pria itu merebahkan tubuhnya, kali ini ia sangat menyerah dengan usaha yang telah di lakukan nya.


"Biar Fuu yang coba! Seperti ini kan?" Fuu mencoba menggesekkan kedua batu itu dengan lembut.


"Ya.. jika kau menggesek batunya secara halus seperti itu sampai tahun depan pun apinya tidak akan me.."


BLAARR!!


"Densha! Lihat? Fuu berhasil"


"Nyala??"


Densha mendelik menatap api yang keluar entah darimana dan membakar seluruh ranting kayu yang sudah ia kumpulkan saat Fuu sedang sibuk menangkap ikan.


"Bagaimana bisa?"


Reputasiku untuk jadi keren di depannya sepertinya hancur.. - Densha.


"He.. hebat sekali Fuu!"


"Hehe, terima kasih!"


"Nah! Sekarang bantu aku menusuk ikan-ikan ini dengan ranting"


"Okay, baik"


Sesaat Densha menghentikan aktifitasnya, ia melirik ke arah Fuu dan tersenyum lebar saking senangnya.


Okay, baik?? Aku hampir lupa kalimatnya yang itu.. Hehe - Densha.


"Densha??"


"Hmm"


"Apa ikannya masih lama?"


"Mm.. sepertinya sebentar lagi. Kenapa?"


"Fuu lapar"


"Hei, kau sudah habis sepuluh ikan mentah masih berani bilang lapar? Aku bahkan belum makan satu ekor pun!"


"Biasanya Fuu makan lebih dari sepuluh di dalam air"


Pantas isi kulkas ku selalu cepat kosong! Jadi dia penyebabnya.. - Densha.


"Tunggu sebentar lagi! Jika memang tidak tahan, kembalilah ke air"


"Kembali ke air?"


"Iya, pergilah berburu lagi. Ini sudah jamnya kan?"


"Bagaimana Densha tahu hal itu?"


"Aku membaca buku milik mama"


"....."


Buku?? - Fuu.


"Hei, coba ceritakan tentang kedua orang tuaku! Mereka ada hubungannya denganmu kan?"


"Apa nona Isabella memberitahu Densha?"


"Tidak! Aku mengetahui semuanya sendirian, aku menemukan buku jurnal mamaku di dalam tas bibi"


"Begitu ya?"


"Jadi.. menurutmu bagaimana kedua orangtuaku?"


"Tuan Derick sangat baik, begitu juga nona Mikaelson"


"Apa kau masih mengingat wajah mereka?"


Fuu menganggukkan kepala pelan.


"Tuan Derick sangat mirip dengan Densha, tinggi dan tampan"


"Haha, benarkah?"


"Uhm.." Fuu menganggukkan kepala dengan semangat.


"Bagaimana mamaku?"


"Cantik"


"Hanya itu?"


"Dan baik"


"Kau hanya tahu satu sifat manusia saja ya?"


"Ng???"


"Kau hanya tahu baik dan tidak baik"


"Karena kata-kata itu lebih mudah untuk Fuu mengerti"


"Ah! Kau benar! Bisa repot kalau aku harus menjelaskan setiap hal yang membuatmu bingung"


"....."


"....."


"Anu.. jadi Densha sudah lama tahu bahwa Fuu adalah duyung?"


"Belum lama kok"


"Maafkan Fuu, Fuu tidak berniat untuk tidak memberitahu Densha"


"Tidak apa-apa Fuu, semua orang punya masalah masing-masing"


"Apa Densha marah?"


"Tidak! Kenapa aku harus marah?"


"Terima kasih" Fuu tersenyum manis.


Whuss..


Densha merasakan dingin di sekujur tubuhnya.. merinding dimana-mana, bagaimana tidak? Pria itu sudah tiga hari bertelanjang dada karena kaos yang ia kenakan di pakai oleh Fuu.


"Densha kenapa?"


"Eh? Tidak apa-apa"


"Badan Densha gemetar"


"Aku sedikit kedinginan"


Fuu memperhatikan kaos milik Densha yang ia kenakan.


"Apa Densha mau memakai kaos ini?"


"Yang benar saja?! Lalu kau mau telanjang bulat di depanku?"


"Fuu akan kembali ke air! Dan saat pagi Fuu akan datang"


"Tidak, jangan pergi lagi"


"Tapi.."


"Aku tidak apa-apa! Sungguh!"


"Fuu akan mencari ranting dan kayu lagi, agar apinya semakin besar!"


"Eh? Kenapa?"


"Agar Densha tetap hangat"


Manisnya.. - Densha.


Fuu berdiri dan pergi meninggalkan Densha, ia mencari beberapa ranting pohon dan kayu yang telah kering, ia juga memungut dedaunan kering untuk membuat api unggun semakin besar.


"Ah! Aku lupa dengan ponselku!"


Densha berlari menuju batu tempatnya meletakkan ponsel, ia mencoba untuk mengaktifkan ponselnya lagi. Namun tetap tidak bisa.


"Apa aku letakkan di dekat api ya? Agar hangat" gumam Densha seorang diri.


Cih! Teori bodoh apalagi ini? Kenapa hal-hal bodoh selalu muncul di kepalaku secara tiba-tiba sih? - Densha.


Meskipun Densha tahu bahwa yang dilakukannya merupakan sebuah kebodohan, ia tetap mengikuti apa yang pikirannya katakan.


"Ini ponsel mahal.. harusnya baik-baik saja kan?" Gumam Densha kesal, pria itu menepuk-nepuk punggung ponselnya dan mencoba untuk mengaktifkan ulang ponselnya.


"Densha sedang apa?" Sapa Fuu yang tiba-tiba muncul di belakang Densha.


"Ah! Ini.. aku mencoba menghidupkan ponselku"


"Menghidupkan?"


"Ya, agar aku bisa menghubungi bibi"


"Jika Densha ingin, Fuu bisa berenang ke kota dan meminta bantuan pada nona Isabella"


"Hah?! Lalu kau mau meninggalkan aku disini sendirian??"


"Hanya untuk satu hari saja kok, Fuu akan kembali"


Densha menatap Fuu dengan serius, pria itu berdiri dan mendekati Fuu, secara tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya ke wajah Fuu yang refleks membuat mata gadis itu membulat besar.


"Ng.."


"Ingat ini baik-baik! Jangan pernah meninggalkan aku lagi"


"Uh-uh"


"Meskipun itu hanya satu hari, aku tidak ingin kehilanganmu lagi"


"Mm.."


Fuu memeluk Densha dengan erat, gadis itu membenamkan wajah cantiknya di dada bidang milik Densha, ia tersenyum. Wajahnya merona merah karena senang.


"Eh? Kau kenapa?"


Fuu menengadahkan kepalanya, ia menatap Densha lalu tersenyum manis.


"Fuu tidak tahu, Fuu hanya merasa senang! Terima kasih"


"Haha, dasar kau ini!"


Densha tersenyum lebar, pria itu membalas pelukan Fuu di tubuhnya. Ia mengusap kepala Fuu pelan, untuk sesaat jantungnya berdegup dengan kencang.


Jadi.. begini ya? Rasanya menyukai seseorang? - Densha.


Jika Moa menyukai Mod maka sekarang Densha yang menyukai Fuu, kedua pria ini akan menyatakan cintanya suatu saat nanti. Entah itu Moa atau Densha yang akan menyatakan perasaannya duluan, yang terpenting adalah bagaimana usaha mereka agar perasaan mereka tersampaikan kepada gadis yang mereka sukai.


TRING!!!


"Eh??"


Fuu dan Densha menoleh secara bersamaan ke arah ponsel yang tiba-tiba menyala.


"ASTAGA!! MENYALA??" Teriak Densha senang.


"Iya!" Fuu tersenyum dan menganggukkan kepala pelan.


"Hore! Syukurlah!!"


Densha mengangkat tubuh Fuu saking senangnya, ia menggendong tubuh Fuu ke pelukannya dengan erat.


"Ehh!" Fuu terkejut dengan tingkah Densha yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Lepaskan! Fuu takut jatuh"


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi"


"Apa?!"


"Aku tidak akan menjatuhkanmu, hehe"


Bersambung!


Jika kalian suka Novel ini, tolong bantu saya dengan Like, comment and Vote. Dukungan kalian sangat berarti bagi saya, Terima kasih 🙏😊