Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Kembali



"Apa itu sakit Fuu??"


"Uhm.. Iya, sakit"


"Ba.. ba.. bagaimana cara menghentikan darah yang terus keluar dari tubuhmu?"


"Densha tidak perlu khawatir, darahnya akan berhenti sendiri"


"Eh?? Benarkah?? Jadi aku tidak perlu melakukan apapun?"


"Ini hal alami yang Fuu alami saat berubah wujud" ucap Fuu dan tersenyum ke arah Densha.


"....."


"Anu, apa Densha bisa berbalik badan?"


"Ng?? Untuk apa?" Densha mengangkat sebelah alisnya penasaran.


"Anu.. itu.. itu.. Fuu akan telanjang"


"Hah?? Memangnya kemana kaos ku yang kau pakai??"


"Di sana!" Tunjuk Fuu pada sebuah batu besar dekat dengan air.


"Jadi.. saat kau berubah menjadi duyung, kau akan melepas bajumu?"


Fuu menganggukkan kepala pelan, ia melirik ke arah Densha dengan ragu.


Pantas saja! Waktu itu dia juga memakai kaos ku kan? Saat dia lompat dari atas tebing? Dan saat Katrina menemukannya di dekat pantai.. - Densha.


"Apa Fuu boleh minta tolong??" Ucap Fuu pelan hampir tidak terdengar oleh Densha.


"Ya.. ya.. aku akan berbalik, tenang saja!"


"Bu.. bukan! Bukan itu" Fuu menyentuh bahu Densha, membuat pria itu menoleh ke arah Fuu.


"Lalu apa?"


"Sebelum berbalik, bisa tolong ambilkan kaos itu.."


"Cih! Kenapa kau letakkan sejauh itu sih?! Dasar!!" Densha menyentil dahi Fuu gemas, pria itu berdiri lalu berjalan menuju batuan yang di tunjuk oleh Fuu.


Fuu tersenyum memperhatikan Densha, ia sungguh menyukai pria itu. Apalagi saat ini Densha hanya bertelanjang dada, tubuhnya sangat bagus dan enak di pandang. Dada yang bidang, perut yang rata, kulit yang putih bersih, sungguh pemandangan yang sangat indah.


Kepala Fuu benar-benar hanya berisi Densha.. - Fuu.


TTEETTT!!


TTEETTT!!


TTEETTT!!


"Uhm??"


Fuu terkejut dengan suara klakson kapal yang seperti sedang mendekati pulau tempatnya berada. Fuu mengedarkan pandangan kesana-kemari dan mencari sumber suara, benar saja! Ada satu kapal kecil yang sedang mendekat ke tempatnya. Karena panik, Fuu terpaksa menyeret tubuhnya yang penuh luka untuk bersembunyi di balik pepohonan rindang yang ada di pulau itu. Gadis itu juga tengah mencari-cari keberadaan Densha, namun ia tidak berani untuk menghampiri pria itu.


"Kapal??" Gumam Densha pelan.


TTEEETT!!


TTEEETT!!


TTEEETT!!


Dari kemarin-kemarin tidak ada kapal yang lewat sini, kenapa sekarang ada kapal?? Dan sepertinya menuju pulau ini.. - Densha.


Densha memicingkan mata untuk melihat kapal kecil itu, pria itu juga menoleh ke tempat Fuu berada tapi gadis itu sudah tidak lagi ada di tempatnya.


"Lho?? Fuu kemana??"


Karena panik akan terjadi sesuatu pada Fuu, Densha berlari mendekati tempat terakhir ia melihat Fuu. Belum sempat sampai ke tujuannya, Densha di hentikan oleh suara seseorang yang ia kenal. Bahkan suara itu sangat keras untuk di bilang suara seorang wanita.


"HEI!! APA ITU BENAR KAU?! KEPARAT KECIL??"


Teriak seseorang menggunakan alat bantu pengeras suara, hal itu sukses membuat Densha membalikkan badan untuk menatap ke arah kapal itu.


Sepertinya aku kenal suara ini.. - batin Densha kesal.


"EH?? ITU BENAR KAU YA?? HOI.. AKU DI SEBELAH SINI?!"


"WOY!! BOCAH!! LIHAT KEMARI!!"


Teriak Isabella berulang kali, wanita itu melambaikan tangan terus menerus ke arah pria yang sedang memandangnya dengan kesal.


Bibi bodoh!! - Densha.


"Berikan speakernya!!" Ucap Moa ketus berusaha merebut speaker aktif dari genggaman Isabella, namun tidak bisa.


"TIDAK BOLEH!! DASAR SIALAN!!" Teriak Isabella kencang menggunakan speaker tepat di depan Moa.


Astaga! Rasanya telingaku berdarah!! - Moa.


Moa menutup telinganya rapat-rapat, pria itu meringis menahan rasa sakit dan dengungan di telinganya.


Cih!! Kenapa Densha bisa betah punya bibi seperti ini?! - Moa.


Isabella, Moa dan di bantu oleh dua orang detektif menuruni kapal dan langsung berlari menuju ke arah Densha. Karena begitu bahagia Isabella sampai melompat ke arah keponakannya, ia memeluk Densha dengan erat, bahkan Isabella mencium pipi kiri dan kanan Densha secara berulang-ulang. Tanpa sadar wanita itu menangis, ia kembali memeluk Densha yang tampak kebingungan.


"Hen.. hentikan bibi! Kau membuatku malu!" Densha berusaha melepaskan pelukan Isabella.


"Malu katamu?! Aku sampai tidak tidur memikirkan mu bodoh!!"


BUG!!


Tinjuan keras mengenai perut rata milik Densha, Isabella sangat bahagia tapi juga kesal dengan dirinya sendiri yang butuh waktu berhari-hari untuk menemukan keponakannya.


"DASAR SINTING!! SAKIT TAU!!" Teriak Densha protes.


"Huh?! Biarkan saja!!" Isabella membuang muka ke arah lain, wanita ini benar-benar tidak mau menunjukkan rasa khawatirnya yang begitu luar biasa di depan Densha, sebisa mungkin ia ingin menjadi sosok yang sangat kuat di depan keponakannya itu.


"Hei, aku pikir kau tidak akan selamat! Setelah mendengar cerita dari dua pria itu"


"Moa?? Kau juga disini?"


"Yahh, Isabella memaksaku untuk ikut!"


Sebenarnya Moa lah yang memohon dengan sangat untuk ikut, kapal itu tidak bisa di isi banyak orang jadi setelah mereka berkumpul di bibir pantai, mereka berunding siapa yang akan berangkat. Saat itu Moa dan Mod seharusnya tidak bisa ikut ke kapal, namun Moa tidak terima dan bersikukuh untuk ikut mencari Densha.


"Eh?? Benarkah??"


"Iya! Aku tidak mungkin bohong kan?"


"Cih! Sulit di percaya!"


"Berisik!! Biarkan aku memelukmu untuk memastikan ini bukan mimpi"


"Apa?! Peluk??" Densha mendelik mendengar kalimat Moa yang terkesan kurang enak jika di lakukan sesama pria.


"Ya! Sini!"


PLAKK!!


"Hei! Apa-apa'an? Kenapa kau menamparku??" Gerutu Moa kesal, ia melotot pada Densha.


"Aku hanya memastikan bahwa ini bukan mimpi"


"Brengsek! Itu kan kalimatku"


"Daripada harus melakukan pelukan untuk membuktikan ini mimpi atau tidak, lebih baik di lakukan dengan tamparan!" Tegas Densha.


"Dasar sinting!! Bisakah kau menamparku dengan pelan?"


"Aku akan menamparmu habis-habisan jika kau mau!"


"Aku rasa terdampar di pulau selama tiga hari membuatmu tidak waras!"


"Kau bilang apa?!"


"Siapa yang kau sebut tidak waras?!"


"Tentu saja kau!!"


"BERISIK!! NANTI SAJA NGOBROLNYA AYO KITA KEMBALI KE KOTA!!" Teriak Isabella, wanita itu menarik telinga Moa dan Densha lalu menyeret kedua pria itu untuk menuju ke kapal.


Eh?? Tunggu! Bagaimana dengan Fuu? - Densha.


Densha menatap sekeliling, ia mencari keberadaan Fuu. Sesaat matanya tertuju pada sebuah pohon besar yang di sekelilingnya banyak di tumbuhi rerumputan, dari balik rerumputan itu seolah-olah Fuu memberikan isyarat untuk diam, agar Densha tidak bilang siapapun bahwa ada dirinya di sana.


Benar juga! Kalau aku bilang disini ada Fuu, maka mereka akan memintaku menjelaskan bagaimana bisa Fuu berada disana! Mungkin Moa bisa paham, tapi dua orang detektif ini akan mengusut masalah ini sampai tuntas. Lalu jika aku mengatakan yang sebenarnya, Fuu akan dalam masalah.. - Densha.


Pria itu menatap ke arah Fuu yang sedang bersembunyi, ia menganggukkan kepala pelan dan melambaikan tangannya ke arah gadis duyung itu.


Semoga dia mengikuti aku sampai rumah - Densha.


Sesampainya di atas kapal, detektif itu menanyai Densha berbagai macam pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana ia bisa lolos dalam tragedi malam itu, Densha hanya mengatakan bahwa apa yang di katakan dua pria bayaran itu benar adanya. Densha juga menjelaskan caranya bisa lolos dari ikatan rantai itu, dia bilang bahwa rantai yang di pasang Jennie sedikit kendur dan dia lupa menggembok ikatan rantainya jadi dia bisa melepaskan diri dari ikatan itu. Setelah itu Densha mengaku bahwa dirinya tidak sadar, lalu hanyut dan terdampar di pulau tidak berpenghuni itu.


Detektif juga menanyakan bagaimana cara dirinya bertahan hidup di pulau itu, Densha hanya menjawab bahwa ia mencari ikan lalu mengatakan hal-hal bodoh lainnya bahwa ia pernah menonton acara televisi tentang bagaimana cara hidup di alam dan pria itu benar-benar itu menerapkannya. Mau tidak mau detektif harus mempercayai kata-kata Densha, Isabella hanya meminta bantuan pada Detektif agar Jennie bisa mendapat hukuman seberat-beratnya, karena ini merupakan percobaan pembunuhan.


Moa yang mendengar penjelasan Densha sahabatnya awalnya sedikit kagum dengan kehebatan temannya itu, namun setelah di pikir bagaimanapun tidak mungkin Jennie sebodoh itu sampai lupa menggembok ikatan rantai Densha.


Apa dia bertemu dengan Fuu?? - Moa.


Moa hanya menduga-duga bahwa temannya ini mungkin saja di selamatkan oleh Fuu, ia harus mencari tahu kisah sesungguhnya. Jiwa penasaran Moa sudah mulai memberontak saat ini.


Tiba di rumah, mereka bertiga di sambut oleh Mod, yaahh.. Mod tidak pulang ke rumahnya. Gadis itu memilih untuk tinggal di rumah Densha untuk menemani Isabella selama beberapa hari. Untuk menyambut kepulangan Densha, gadis itu sudah memasak beberapa macam masakan rumah, ia senang akhirnya Densha di temukan dalam keadaan selamat. Namun di sisi lain gadis itu juga sedih, karena Fuu tidak berada di rumah Densha saat ini.


Setelah selesai dengan urusan rumah, Isabella menyuruh Densha untuk bersiap-siap. Mereka bertiga yakni Isabella, Densha dan Moa harus segera datang ke kantor polisi untuk membuat laporan. Di dalam hati Isabella, wanita itu tertawa lebar karena usaha Jennie untuk menjadi ahli waris akan gagal total. Wanita ini berpikir seperti Moa, ia juga menduga bahwa di balik selamatnya Densha pasti ada Fuu di baliknya.


Seperti yang ia duga, pengacara keluarga Isabella mengundur-undur pengalihan saham kepada Jennie. Gadis itu akan kalah telak dengan kehadiran Densha yang ternyata masih hidup. Detektif dan kepolisian bertindak cepat dalam mengusut masalah ini sampai tuntas, karena melawan pada akhirnya Jennie di bawa dengan paksa ke kantor polisi.


"Tunggu! Kenapa ini? Ada apa?" Jennie meronta-ronta, memaksa untuk di lepaskan.


"Lepaskan aku?! Kalian tahu siapa aku? Aku pewaris perusahaan XX yang terkenal itu?!"


"Ehem!" Isabella berdeham dengan keras, seringai licik terukir di bibirnya.


"Isabella??"


"Wah-wah.. tidak sopan sekali! Panggil aku bibi"


"Bibi? Untuk apa aku harus memanggilmu bibi?!" Jennie melotot ke arah Isabella.


"Bagaimana kalau untuk meringankan hukumanmu?"


"Hukuman?? Wanita bodoh! Kau tidak sadar sedang berbicara dengan siapa? Tidak ingat ya?! Bahwa aku sudah memegang surat ahli waris?!" Sindir Jennie ketus.


"Haha, kau hanya memegang surat ahli waris saja kan??"


"Apa?! Kenapa kau sesantai itu?"


"Karena aku ada disini!" Sahut Densha yang tiba-tiba muncul di depan Jennie.


Jennie terkejut, matanya tak berkedip sama sekali memandang Densha. Bahkan sepertinya ia lupa cara menutup mulutnya yang terbuka lebar. Tatapan Densha begitu dingin dan tajam, seolah ingin menyakiti tubuh gadis itu.


"Apa?! Kau.."


"Ya, ini aku!"


"Bagaimana bisa?" Gumam Jennie pelan.


"Apa kau lupa sedang berurusan dengan siapa?"


"....."


Pupil mata Jennie bergetar, gadis itu menundukkan kepalanya. Otaknya tengah berpikir keras.. bagaimana mungkin sepupunya itu bisa lepas dari ikatan rantai sekuat itu, malah dia tidak lupa untuk menggembok ikatan itu. Kalaupun benar bisa lepas, mana mungkin Densha akan selamat di tengah lautan seluas itu. Di pikir bagaimanapun juga akan sulit bagi manusia untuk berenang melawan ombak.


"Kenapa Jennie?? Ada yang kau pikirkan?"


"Kau..."


"Hmm????"


"KAU!! BAGAIMANA KAU BISA LEPAS DARI IKATAN RANTAI ITU HAH?! SEHARUSNYA MEMANG AKU MEMBUNUHMU TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBUANG MU KE TENGAH LAUT MALAM ITU!!" Teriak Jennie kencang, gadis itu tengah berapi-api saat ini.


"Wah-wah.. tanpa di suruh mengaku! Sudah mengaku dengan sendirinya ya?" Ucap Moa dengan alat perekam di tangannya.


"Apa?! Sejak kapan kau membawa alat itu?"


"Hmm.. sejak kapan ya? Aku rasa sejak tadi?! Bagaimana detektif?? Apa ini cukup untuk di jadikan bukti?" Moa berjalan mendekati Densha, ia merangkul bahu sahabatnya itu.


"Baik anak muda! Itu bukti yang cukup untuk memberatkan nona Jennie"


Moa memberikan alat perekam itu kepada salah seorang detektif kepolisian disana, ia tersenyum senang karena bisa berguna di saat seperti ini. Pandangan Moa beralih pada gadis bernama Jennie itu lagi, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu padanya.


"Oh iya! Hei.."


"...." Jennie tidak menjawab perkataan Moa, gadis itu hanya memandang kesal pada Moa dan Densha secara bergantian.


"Simpan tatapan tajam'mu itu untukmu sendiri!"


"Idiot!" Ledek Jennie ketus.


"Dengar ya? Tubuh mu memang bagus! Tapi sayang.. kau itu murah! Dan jangan pernah berpikir bahwa semua siswa sempat menyukaimu!! Mereka hanya ingin meniduri dirimu"


"Apa peduli mu?"


"Kau benar! Aku memang tidak peduli! Di pikir bagaimanapun juga.. badan Fuu jauh lebih ideal dan proposional daripada dirimu! Dan.. karena Fuu pendek, dia jadi lebih imut"


Eh?? Ba.. Ba.. Badan Fuu?? - Densha menoleh ke arah Moa yang sedang berbicara pada Jennie.


"Ayo nona! Cepat jalan!"


"Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!!"


Kedua detektif membawa Jennie ke ruangan lain, disusul dengan Isabella di belakang mereka untuk mengurus hukuman bagi Jennie. Tidak lupa.. Isabella juga memanggil kedua orang tua Jennie, bahkan ia juga menghubungi seluruh keluarga cabang. Isabella mengancam jika kejadian seperti ini terjadi lagi, dia akan benar-benar memutus hubungan keluarga dan tidak akan mengalirkan dana sepeserpun ke keluarga itu.


"Ayo pulang! Isabella bisa mengurus semuanya sendiri kan??"


"Hoi Moa.."


"Mm?? Ada apa?" Moa menoleh ke belakang, menatap Densha yang berdiri di sana.


"Hah?! Kenapa wajahmu menyeramkan begitu?!"


"DASAR CABUL!! KAU BILANG LEBIH BAGUS BADAN FUU??" Densha menarik kerah baju Moa dengan kencang, pria itu memaki-maki Moa.


Apa ini yang di namakan serangan cemburu?? - Moa.


"Itu.. aku kan hanya.."


"HANYA APA?? SEBERAPA SERING KAU MELIHAT BADANNYA?? APA KAU PERNAH BERUSAHA MENGINTIPNYA??"


"MENGINTIP??" Moa mendelik terkejut.


"KENAPA MALAH BALIK BERTANYA?! JAWAB MOA!!"


"Dasar gila! Mana mungkin aku melakukan hal itu?!"


"Lalu?? Kenapa kau mengatakannya??"


"Eh?? Kenapa ya??"


Sial.. aku tidak punya jawaban bagus! Aku kan hanya asal bicara!! Bagaimana ini.. - Moa.


"Tuh kan?? Minta di hajar ya??"


"HEI!! KALIAN BERDUA!! HENTIKAN! ATAU KU JEBLOSKAN KALIAN KE SEL JUGA!" Teriak Isabella dari jauh.


"Ma.. maaf"


Bersambung..


Jika kalian menyukai Novel ini! Mohon dukungannya untuk Like ❤️, Komentar 👇 dan Vote. Beri rating juga ya? Dukungan kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih.. 😉😘