
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Ellis, wanita paruh baya itu jatuh duduk karena terkejut. Wanita itu menyentuh pipi kirinya yang terasa panas, dengan cepat ia memandang ke arah depan. Mencari tahu siapa gadis yang menyerangnya secara tiba-tiba.
"Hah.. hah.. hah.."
Nafas Mod terengah-engah, disusul Moa di belakangnya. Pemandangan aneh itu menjadi tontonan yang menarik bagi pejalan kaki lainnya.
"Mod??" Panggil Ellis pelan.
PLAKK!!
Mod menampar pipi kiri Ellis dengan sangat keras untuk kedua kalinya. Gadis itu menangis tidak karu-karuan, sesekali ia sesenggukan memandangi wajah ibunya yang tengah menyentuh pipinya sendiri. Moa hanya menduga-duga apa yang sedang terjadi saat ini, ia terpaku tanpa bicara. Karena menurutnya ini adalah urusan pribadi Mod.
"Nak.. ada apa ini?!"
"Jangan ganggu saya tuan!"
Tuan Collin terdiam, ia menatap bingung ke arah putranya. Namun Moa hanya mengangkat bahu tanda tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini.
"Wanita jal*ng!!"
"....."
"Kenapa kau melakukan ini?"
"Mod.."
"Jangan menyebut namaku dengan mulut kotormu itu!!"
"Mod?? Anakku.. tolong dengarkan"
"AKU BILANG TUTUP MULUTMU!!" Teriak Mod kesal, ia hanya bisa menangis dan menatap benci kepada ibunya.
Mod teringat bagaimana ayahnya yang selalu bangun pagi untuk membuat sarapan. Bagaimana ayahnya sibuk bekerja sebagai pelayan restoran! Air mata mengalir deras di pipi gadis cantik itu. Di kepalanya hanya ada wajah ayahnya, meskipun ayahnya sibuk dan letih bekerja. Ayahnya tidak pernah lupa membuat makan malam untuk Mod putri tunggalnya. Ayah Mod adalah pria hebat, yang mampu mengurus rumah dan mampu mencari nafkah untuk menyekolahkan putrinya.
"Wanita brengsek!"
"A.. apa?? Kau memanggil ibumu apa?"
"Kau bukan ibuku!"
"Berani sekali kau?!"
"KAU ITU IBLIS!!"
PLAAKK!!
Hah?! - Mod.
Tamparan Ellis yang di tujukan untuk Mod malah mengenai Moa, pria itu dengan sigap berdiri di depan Mod. Ia memang berniat menggantikan posisi Mod agar tidak menerima tamparan dari ibunya.
"Mo.. Moa? Sayang.. kenapa kau.."
"Cih! Sial!! Akhirnya kau berhasil menyentuhku?" Ledek Moa.
"Mo.. Moa.. mama tidak bermaksud.."
"Kau bukan mamaku!! Jadi ini alasan mengapa aku bertemu dengan mu di sekitar rumah Mod?? Kau bilang waktu itu rumah temanmu di sekitar sana kan??"
"Tunggu! Ayo kita pulang! Kita bicarakan ini baik-baik"
"Bagaimana bisa di bicarakan baik-baik? Ayah dan wanita sial ini baru saja keluar dari hotel kan?"
"Moa!!" Tuan Collin berusaha mengingatkan Moa.
"Ayah! Ellis ini adalah seorang ibu rumah tangga. Dan gadis ini adalah putri semata wayangnya!!" Moa menggenggam tangan Mod dengan erat.
"Apa?! Ellis??" Tuan Collin menatap kekasihnya ragu.
"A.. aku.. aku bisa jelaskan! Aku sudah bercerai"
"Heh.. Haha.." Mod tertawa geli mendengar ucapan ibunya.
Semua mata tertuju pada Mod, menunggu gadis itu mengucapkan sesuatu.
"BERCERAI DARIMANA *******?! KAU YANG BILANG TIDAK INGIN BERCERAI KARENA MASIH INGIN MEMANFAATKAN KEBAIKAN AYAHKU!! KAU MENGHABISKAN UANGNYA UNTUK MINUM ALKOHOL!! KAU PIKIR SIAPA YANG SELALU MEMBERSIHKAN BEKAS MUNTAHAN MU DI LANTAI KEPARAT??!!!
Mod meledak-ledak, meluapkan semua emosinya yang tertahan. Gadis itu hampir jatuh karena lemas, namun Moa menangkap tubuh nya.
"Ellis??" Tuan Collin menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sa.. sayang.. itu tidak benar!"
"Kita harus bicara soal ini!!"
"Tapi.. aku mencintai mu"
"Kau bisa menghancurkan satu keluarga yang menyayangimu! Lalu bagaimana kau akan mengurus keluargaku?"
Tuan Collin berjalan cepat, meninggalkan Ellis. Wanita itu mengikuti kemana kekasihnya itu pergi. Sebelum pergi, Ellis memandang rendah ke arah Mod putrinya. Bahkan wanita itu tidak meminta maaf atas kesalahan yang telah ia perbuat, atas pengkhianatan nya terhadap ayah Mod.
"......"
Moa menatap Mod dengan sedih, pria itu bingung tidak karuan. Ia bimbang, andai saja hal ini tidak terjadi. Dan kenapa kekasih ayahnya itu harus ibunya Mod? Begitu pikir Moa.
Tut! Tut! Tut! Tut!
"Mmm.. Mod, handphone mu bunyi tuh!"
"Biarkan saja!" Ucap Mod pelan, gadis itu mencoba berdiri. Ia di bantu oleh Moa, pria itu memapah Mod agar bisa berjalan dengan baik.
"Terima kasih Moa.."
"Aku tidak pantas mendapatkan itu, aku minta maaf atas nama ayahku"
"Bukan ayahmu yang salah.."
"Tidak, ayahku juga ada hubungannya kan?"
Tut! Tut! Tut! Tut!
Tut! Tut! Tut! Tut!
"Yakin tidak kau angkat?"
"Ehm, coba aku periksa dulu.."
Eh? Nomor tidak di kenal.. - Mod.
"Ini, nomor siapa ya?"
"Mana? Nomor asing ya?"
"Iya.. apa tidak usah di angkat saja?"
"Terserah kau saja!"
"Ya.. mungkin ini ibuku"
"Hah?! Dia kan baru saja pergi. Kenapa harus menelponmu?"
"Ah! Kau benar"
Tut! Tut! Tut! Tut!
Tut! Tut! Tut! Tut!
"Aku rasa kau harus mengangkatnya Mod.."
"Baik! Sebentar ya?"
Mod berjalan sedikit menjauhi Moa, gadis itu menoleh ke arah Moa dan tersenyum. Lalu mencoba menerima telpon dari nomor yang tidak ia kenali.
"Ha.. Halo?"
"Benar ini dengan nona Roosevelt?"
"Benar, ini siapa?"
"........."
"Apa?"
"........."
"Menurut saya beliau tidak pernah sakit apapun!"
"........."
"Ba.. Baik!"
Mod menutup telponnya terburu-buru, ia harus pergi ke suatu tempat. Gadis itu menghampiri Moa dan berniat untuk pamit pada pria itu.
"Moa, aku harus pergi! Terima kasih sudah membawaku jalan-jalan hari ini"
"Pergi?? Kemana?"
"Aku harus ke rumah sakit, ada urusan yang harus aku urus"
"Apa ayahmu sakit?"
"....."
"Kenapa diam? Benar ya?"
"Aku juga baru mengetahuinya hari ini" wajah Mod mendadak murung.
Apa salah gadis ini di kehidupan sebelumnya? Kenapa banyak sekali masalah di hidupnya.. - Moa.
"Jika kau tidak keberatan, apa aku boleh ikut?"
"Eh? Kenapa mau ikut?"
"Aku tidak mungkin pulang ke rumah kan? Pasti di rumah ayah sedang ribut dengan Ellis"
"......"
"Ah! Maaf! Aku lancang memanggil nama ibumu"
"Tidak, tidak apa-apa. Bagaimana caraku memberitahu ayah?"
"Aku rasa.. Sebaiknya nanti saja kau memberitahunya, kita belum tau kondisi ayahmu kan?"
"Ah! Benar.."
"Ayo berangkat!" Moa menggandeng tangan Mod dengan lembut.
Tangan Moa hangat... - Mod.
Masih bolehkah aku menyukainya? Sedangkan di lain sisi ibuku berselingkuh dengan ayahnya.. - Mod.
Moa menatap gadis di sampingnya yang tampak melamun memikirkan sesuatu. Moa menghela nafas berat dan semakin erat menggenggam tangan Mod.
"Apa?"
"Jangan berpikir yang aneh-aneh!"
"Aku tidak berpikir aneh-aneh"
"Itu perintah bukan pertanyaan untuk di bantah!!"
"Aku sungguh tidak memikirkan hal aneh apapun"
"Sungguh?"
"Iya.."
"Kau jelas sedang memikirkan sesuatu"
Mod melirik ke arah Moa, gadis itu ingin menanyakan hal yang ia dengar dari Moa sebelum ia memergoki ibu dan ayah Moa berada di sebrang jalan depan sebuah hotel. Mod yakin bahwa ia mendengar bahwa Moa menyukainya, masih pantaskah Mod untuk menanyakan hal ini? Bagaimana jika pikiran Moa berubah setelah mengetahui bahwa Ellis adalah ibunya? Begitu pikir Mod. Gadis itu sedang merasakan dilema yang begitu besar.
"Haahhh.."
"His! Bikin kaget saja! Tiba-tiba menghela nafas sekencang itu!"
"Maaf.. aku rasa kau benar! Aku sedang banyak pikiran. Dan pikiranku aneh-aneh"
"Dasar mesum!!"
"Dasar idiot!! Bukan hal-hal berbau itu yang aku pikirkan" Mod menepuk lengan Moa pelan.
"Lalu?"
Mana mungkin aku bilang kalau aku memikirkan hubungan kita yang bahkan belum ke tahap apapun.. - Mod.
"Kau tidak perlu tahu!"
"Eh?? Kenapa?"
"Ini urusan perempuan!"
"Cih! Bilang saja kalau tidak berani mengatakannya!"
"Mengatakan apa?"
"Hal yang ingin kau katakan"
"Memangnya aku ingin mengatakan apa?"
"Kau ingin mengatakan kalau kau mencintaiku juga kan? Tapi kau takut karena ibumu berselingkuh dengan ayahku. Kau tidak yakin dengan perasaanmu karena kau merasa malu atas sikap ibumu!"
"......" Mata Mod membulat tidak percaya, rasanya seperti di tusuk dari belakang. Kata-kata Moa terlalu menohok untuknya.
"Apa aku benar??" Moa menatap mata Mod lekat-lekat, pria itu tetap menggenggam tangan Mod lembut.
"A.. apa?"
"Aku benar kan?"
"Dasar bodoh!" Wajah Mod memerah, gadis itu memeluk Moa erat, ia menangis. Menangis karena malu, tapi juga menangis karena ucapan Moa benar adanya.
"Menangis saja! Jika memang itu bisa meringankan sedikit rasa sedih dalam dirimu" Moa membalas pelukan Mod, pria itu mengusap-usap punggung Mod pelan.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.."
"Awas ingusmu loh! Kalau itu air mata aku masih bisa mentolerir"
"HUWAAA.."
"Astaga! Mod jangan kencang-kencang" bisik Moa di telinga gadis itu.
"Hiks.. kenapa.. Hiks.. Kenapa kau baik sekali?"
"Hmm? Kenapa ya?? Mungkin karena aku memang baik dari bayi"
"Bodoh! Hiks.. hiks.. kau tahu bukan itu alasannya"
"Jadi.. kau tau apa alasannya?"
Mod mengangguk pelan, ia menengadahkan kepalanya menatap Moa. Wajah Moa terlihat tampan dari sudut pandang Mod saat ini.
Aku mencintaimu Moa.. - batin Mod.
"Katakan saja, hehe" goda Moa.
"Dasar licik! Biar aku simpan kata-kataku sendiri"
"Eh?? Ayolah.. katakan!"
"Aku benci Moa!!" Sindir Mod ketus, gadis itu melepas pelukannya, ia berjalan mendahului Moa.
"Ha?? Aku yakin bukan itu yang ingin kau katakan"
"Aku memang ingin mengatakan itu kok!"
"Bohong! Ayolah.. katakan"
"Tidak mau!"
"Mod??"
"Berisik!!"
"Cih! Sial"
Hehe.. maaf Moa.. - Mod.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, Mod menemui ayahnya yang terbaring lemah. Jarum infus terpasang di tangan kanan ayahnya, gadis itu memasuki ruangan dengan hati-hati agar ayahnya tidak terbangun dari istirahatnya.
GUBRAK!!
"????"
Mod mendelik ke arah Moa yang baru saja terpeleset, pria itu jatuh tersungkur di lantai rumah sakit yang licin.
"Sakit.." pekik Moa dan menyentuh siku tangannya.
"Mod?? Itu kamu?"
"Ah! A.. ayah?? Kenapa ayah bangun?"
"Bagaimana ayah tidak bangun? Jika mendengar sesuatu yang besar jatuh"
"Ah! Maaf.. itu Moa. Dia terpeleset"
"Moa??"
"Hei, berdirilah!!"
Moa berdiri, ia mendekati ranjang tuan Roosevelt dan meletakkan beberapa paper bag berisi roti dan buah-buahan.
"Kita pernah bertemu sebelumnya tuan, hehe"
"Apa dia pacarmu Mod?"
"Iya! Benar" sahut Moa antusias.
"Tidak! Bukan!! Jangan percaya dia ayah.. dia bukan pacarku"
Tuan Roosevelt melirik ke arah Moa yang tengah tersenyum menatap Mod.
"Hei bung! Jaga matamu!"
"Ah! Maaf tuan.. putri anda cantik sekali" puji Moa senang.
"Moa!! Mau di hajar ya??"
"Haha"
Sepertinya Mod menyukai pria ini.. - Tuan Roosevelt.
"Anu.. tuan sakit apa?"
"Ah! Tidak parah kok! Hanya kecapekan saja!"
"Ayah! Jangan mencoba membohongiku"
"Ayah tidak berbohong!"
"Dimana para perawat meletakkan catatan kesehatan ayah?"
"Entahlah ayah tidak tahu!" Ayah Mod mencoba untuk membohongi putrinya.
"Ehm, biasanya mereka meletakkan di dalam laci meja pasien" sahut Moa.
"Cih! Terima kasih anak muda" ucap Ayah Mod pada Moa ketus.
Padahal tuan Roosevelt berusaha menyembunyikan catatan kesehatannya, tapi Moa malah memberitahu tempatnya pada Mod.
Eh?? Dia bermaksud merahasiakannya ya? - Moa.
Mod menarik laci meja, benar saja ia menemukan catatan kesehatan milik ayahnya. Ia membaca catatan itu dengan seksama, sepertinya gadis itu tidak terlalu memahami apa yang tertulis disana. Jadi dia memutuskan untuk pergi keluar menemui perawat yang tengah berjaga hari itu.
"Moa.. titip ayahku ya?"
"Oke"
"Hei, aku sedang sakit. Kenapa aku malah kau titipi bayi tidak berguna ini?!"
"Ayah.. yang sekarang jadi bayi itu kau!" Jawab Mod lalu menutup pintu ruangan itu.
Dih.. - Tuan Roosevelt.
Bersambung!!
Jika kalian menyukai Novel ini, mohon klik Like ❤️, komentar dan rating ya? Jangan lupa vote juga! Dukungan kalian sangat berarti bagi saya.. Terima kasih 😊🙏