Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Identitas




"Deryne Mikaelson" ujar Katrina lantang.


Mata Mod semakin terbuka dengan lebar, ia terkejut dengan sebuah nama yang di lontarkan oleh bibir kejam Katrina.


Deryne Mikaelson? Jadi dia dari keluarga yang sama dengan Densha?? Begitu kah?? - Mod.


"Hahaha, siapa nama panggilanmu? Leah hah?! Yang benar saja! Nama'mu itu Deryne atau lebih tepatnya nama akrabmu itu Ryn Mikaelson!!" Gerutu Katrina.


Katrina menjentikkan jarinya untuk menghilangkan ikatan sihir yang mengikat tubuh Ryn. Gadis itu tertawa terbahak-bahak dan kabur begitu saja meninggalkan Ryn dan Mod.


(Mulai episode ini, kita panggil Leah dengan nama aslinya ya? Yaitu Deryne Mikaelson atau lebih akrabnya Ryn)


Setelah ikatan sihir di tubuh Ryn menghilang, gadis itu jatuh lemas karena tak mampu menahan beban tubuhnya sendiri. Mod dengan sigap memeluk Ryn, agar gadis itu tak jatuh di atas jalanan yang kotor.


Aura Katrina gelap sekali! Ada apa ini sebenarnya?? Ini bukan kekuatan Hybrid kan? - Ryn.


"Kau baik-baik saja?!" Tanya Mod khawatir.


"Iya, aku tidak apa-apa..." Ryn mencoba menguatkan kedua kakinya untuk berdiri, ia mendorong tubuh Mod agar gadis itu tak perlu membantunya lagi.


"Anu... Terima kasih"


Mod menundukkan wajahnya, ia sungguh berterima kasih karena Leah atau siapapun namanya itu datang menolong dirinya.


"Bagaimana kau tahu aku disini?" Tanya Mod lagi.


"Ah... Itu... Aku tidak sengaja melihat kalian"


"Bohong!" Bantah Mod tegas.


"Eh???"


"Aku tahu setiap kali kau berbohong! Leah katakan padaku! Ah! Maaf maksudku Ryn... Apa itu benar namamu?"


Ryn melirik ke arah Mod bingung, gadis itu hanya mengernyitkan dahi dan hendak pergi meninggalkan Mod namun tangan kanannya di genggam erat oleh Mod.


"Ryn...." Ucap Mod lembut.


Sial! - Ryn.


"Siapa kau sebenarnya?? Dan kenapa nama belakangmu Mikaelson??"


"Lepaskan tanganku!" Pinta Ryn pelan.


"Tidak akan! Katakan sejujurnya padaku, siapa kau sebenarnya? Apa kau betul-betul gadis brengsek yang menyukai dua orang pria sekaligus??"


"Apa??" Ryn memandang Mod sinis.


"Iya! Maaf kalau aku mengatakan ini, tapi aku melihatmu memeluk Densha di kecelakaan beberapa hari yang lalu"


Ryn semakin menenggelamkan wajahnya, ia mencoba melepaskan genggaman tangan Mod. Tapi Mod semakin kuat menahan pergelangan tangan gadis itu.


"Apa kau sungguh gadis yang seperti itu?" Tanya Mod lagi.


"Tidak"


"Benarkah? Lalu apa benar nama keluargamu Mikaelson?"


"......."


"Jawab aku Ryn?!"


"Biarkan aku pergi!" Pinta Ryn kesal.


"Tidak bisa! Apa hubunganmu dengan Moa dan Densha sebenarnya? Hah?! Ayo katakan!" Paksa Mod kesal.


"........"


"JAWAB AKU RYN!!!" Bentak Mod yang di penuhi dengan emosi.


"KUBILANG JANGAN PAKSA AKU MAMA!!!"


Mata Ryn membulat, ia segera menutup mulutnya rapat-rapat. Gadis itu tak sadar bahwa ia sudah terbawa suasana melalui percakapannya dengan Mod. Ryn memejamkan kedua matanya, mencoba menenangkan diri. Mod juga sama terkejutnya dengan makian Ryn, dan kalimat Ryn yang memanggilnya mama.


"Mama????"


"........" Ryn diam membisu.


"Apa maksudnya?" Perlahan Mod melepas genggaman tangannya pada Ryn.


"Maaf... Aku salah bicara!" Gumam Ryn pelan.


"Tidak! Aku tahu dari matamu, kau jujur mengatakan hal itu" bela Mod tegas.


Mod berjalan menjauhi Ryn, ia mengambil tas sekolahnya yang tergeletak di atas jalan. Gadis itu menghela nafas berat dan mendekati Ryn lagi.


"Ayo ikut aku!" Pinta Mod tegas.


"Eh? Kemana??"


Mod menarik tangan Ryn dan membawa gadis itu menuju suatu tempat. Selama perjalanan Ryn menundukkan kepalanya sedih, ia sedang bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Mod.


Bagaimana ini?? - Ryn.


Mod membawa Ryn pergi ke atas tebing, tempatnya dulu terjatuh dan di selamatkan oleh Fuu. Gadis itu mendudukkan Ryn disana, ia ingin berbicara serius dengan Ryn.


"Ini bukan sekolah kan?? Bukannya kau harus ujian?" Ryn mencoba mengalihkan perhatian Mod.


"Aku bisa mengikuti ujian susulan, identitas mu jauh lebih penting untukku saat ini! Dan apa hubunganmu dengan Katrina??"


"Aku tak memiliki hubungan apapun dengan Katrina" jelas Ryn.


"Oh iya? Lalu kenapa kalian saling bermusuhan?"


"Suatu hari kau akan tahu..." Ungkap Ryn sedih.


Mod mengusap bahu Ryn lembut, hal itu membuat Ryn terkejut dan menoleh ke arah Mod. Gadis itu segera membuang muka ke arah lain, ia tak ingin air matanya keluar di depan Mod.


"Nah! Sekarang... Bisa jelaskan? Nama keluargamu?"


Apa aku sungguh boleh melakukan ini?! - Ryn.


Mod tersenyum tulus dan menunggu jawaban dari Ryn, angin laut berhembus lembut menyentuh kedua wajah gadis cantik itu.


"Seperti yang kau dengar sebelumnya, namaku bukanlah Leah"


"........."


"Katrina benar! Namaku Deryne Mikaelson atau biasa di panggil Ryn Mikaelson"


Mod menutup mulutnya dengan kedua tangan, ia tak menyangka bahwa ucapan Katrina benar adanya.


"Lalu kenapa Katrina ingin menyakitiku?"


"Aku tidak tahu, Aku rasa Katrina ingin menyakiti semua orang yang dekat denganku" ungkap Ryn sedih.


"Tunggu! Tunggu! Apa kau duyung?" Mod menunjuk tubuh Ryn dengan jari telunjuknya.


"Aku... Aku banyak hal, aku tidak tahu bagaimana caraku menjelaskannya"


"Pelan-pelan saja" ucap Mod lembut.


Mata Ryn berkaca-kaca, ia tak kuasa menahan air mata yang sudah ia sembunyikan semenjak datang ke tempat ini. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia menangis hingga sesenggukan.


Melihat itu Mod jadi merasa iba, ia mengambil sapu tangan yang selalu ia bawa kemanapun dan memberikan nya pada Ryn, Mod juga menepuk-nepuk bahu Ryn agar gadis itu sedikit tenang.


"Maaf... Aku tak bermaksud membuatmu menangis" ujar Mod.


"Tidak apa-apa..." Ungkap Ryn menguatkan diri.


".........."


Ryn menghapus air mata yang membasahi pipi mulusnya, hidung dan mata gadis itu terlihat begitu merah dan sedikit bengkak.


"Aku tidak tahu pasti aku ini apa" Ryn tersenyum renyah menatap Mod.


"Apa?! Kenapa begitu?" Mod mengangkat sebelah alisnya bingung.


"Ayahku adalah seorang manusia normal..."


Mod menganggukkan kepalanya pelan, ia menunggu kalimat Ryn selanjutnya.


"Ibuku adalah pemimpin bangsa duyung"


Merasa menemukan jawaban yang ia cari Mod segera membuka mulutnya namun Ryn menahan bibir Mod dengan jari telunjuknya. Ryn menggelengkan kepala pelan, menyuruh Mod agar diam dan mendengarkan.


"Dan... Kakekku adalah seorang dewa, lebih tepatnya ibuku itu setengah dewa setengah duyung, lalu lahirlah aku"


"Jadi... Kau gabungan dari tiga eksistensi yang berbeda?"


Ryn menganggukkan kepala pelan, ia kembali menangis. Ia sudah mencoba menahan dirinya agar tak terlihat rapuh di depan Mod tapi tidak bisa.


"Setengah manusia, setengah dewa dan setengah duyung?"


"Benar"


Mod menggelengkan kepalanya tidak percaya, ia ikut bingung memikirkan identitas Ryn yang sebenarnya.


"Tunggu dulu! Nama keluargamu Mikaelson kan?? Apa kau??"


Jantung Mod berdegup kencang menunggu jawaban dari Ryn, ia menyentuh bagian dadanya yang berdegup tak karuan itu.


"Iya... Aku adalah putri Fuu dan Densha Mikaelson"


"HAH?!" Teriak Mod kencang.


"Sebentar! Beri aku waktu untuk bernafas" pinta Mod bingung.


Mod berdiri dari duduknya, ia berjalan mondar-mandir sambil menyentuh dagunya sendiri. Gadis sempat kesal sampai mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Apa mereka semua tahu akan hal ini?"


"Tidak!" Ryn menggelengkan kepala pelan.


"Oke, oke tenang Mod! Tenang..." Mod mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Setelah dirasa cukup tenang, Mod kembali duduk di samping Ryn. Dari sorot matanya sudah jelas Mod terlihat sangat bingung.


"Kenapa kau memanggilku mama?"


"Karena kau memang orangtuaku"


"Apa?! Kau bilang kau putri Densha dan Fuu kan??"


"Mereka memang orang tua biologis'ku tapi kau dan Moa yang merawat'ku semenjak aku dilahirkan"


"Apa?! Kenapa?!" Mod semakin di buat bingung dengan kalimat Ryn.


"Aku tak bisa menceritakannya... Aku membutuhkan seseorang disini untuk menolongku, aku datang kesini tak berniat buruk" ungkap Ryn sedih.


"Kau harus memberitahu mereka semua" pinta Mod.


"Tidak! Semakin banyak yang tahu, semakin banyak yang akan berubah di masa depan nanti, aku juga harus menghemat kemampuanku untuk menghapus ingatan seseorang kan?"


"Tunggu! Kau akan menghapus ingatanku ini?"


"Tidak sekarang... Aku rasa lebih baik satu orang tahu kebenarannya"


"Jadi maksudnya jika nanti saatnya sudah di tentukan, kau akan menghapus ingatanku begitu??"


"Benar! Aku akan membuat sampai kalian tak mengingatku lagi"


Mod terlihat sedih dengan ucapan Ryn, gadis itu memeluk Ryn erat.


"Kau tidak sendirian Ryn..." Mod mengusap punggung Ryn lembut.


"Terima kasih... Kumohon jangan beritahukan ini pada siapapun!" Pinta Ryn lembut.


"Iya..."


Bersambung!!


Halo, Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, Komentar, Favorit, Follow, Rate dan Vote ya? dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😊🙏