
"Makanan sudah siap! Silahkan..." Ucap kakak pelayan dengan senyumnya yang super lebar.
"Wah!!"
Mata Fuu berbinar-binar, gadis cantik itu sumringah memandangi beberapa piring makanan yang di tata rapi oleh kakak pelayan. Rasa senang yang di alami Fuu benar-benar terpancar dari wajahnya.
"Sepertinya kau senang sekali ya?" Tanya Moa setengah meledek Fuu.
"Eh? Tentu saja! Fuu sangat bahagia melihat piring-piring ini"
"Melihat piring atau isinya??" Mod menyenggol bahu Fuu pelan.
"Hehe"
"Kau benar-benar menggemaskan!" Puji Mod senang.
Setelah selesai menata piring di meja, kakak pelayan meletakkan empat buah gelas ukuran kecil di meja, dekat dengan ceret minuman gratis.
"Kecil sekali tempat air ini?" Gumam Fuu pelan.
"Anu, maaf... Ini untuk apa?" Tanya Densha yang ikut penasaran dengan gelas kaca ukuran super mini.
"Ah! Itu untuk minum ini..." Kakak pelayan menunjukkan dua botol kaca berwarna hijau yang kemudian ia letakkan di atas meja.
"Memang harus menggunakan gelas sekecil ini untuk minum itu?" Densha mengangkat sebelah alisnya menatap si pelayan.
"Hahaha, kakak tampan ini lucu sekali ya??" Puji sang pelayan, wajahnya memerah tersipu malu.
"Eh??"
"Dasar bodoh!! Sindir Mod ketus, ia melotot menatap Densha.
"Apa sih??"
"Itu untuk minum sake!"
"Apa itu Sake??"
"Minuman ala-ala jepang, yang mengandung alkohol" ujar Mod menerangkan.
"Hei, Fuu! Jangan minum ini ya? Bisa repot aku nanti!!" Densha menatap Fuu dengan tajam.
"Okay, baik!!"
"Hei, tidak bisa begitu dong! Ini kan dapat dua botol, kalau Fuu tidak ikut minum, siapa yang akan minum?" Gerutu Mod kesal.
"Kau tidak tahu bagaimana jika dia mabuk! Jadi diam saja!"
"Cih!" Mod melipat kedua tangannya ke dada, ia membuang muka kesal.
Fuu melirik pada Mod, ia merasa bersalah. Padahal ini semua Mod yang membayar, bagaimanapun juga Fuu harus menghormati nya kan?
"Anu... Fuu akan minum, tapi sedikit. Hehe"
"Ah! Begitu dong!!" Sorak Mod kegirangan.
"Baiklah, jika ada yang di perlukan tinggal panggil saja ya??" Ucap kakak pelayan lalu pergi meninggalkan meja mereka.
"Bagaimana cara makan ini?? Apa kita harus memasaknya terlebih dahulu?" Moa mencoba menggunakan sumpit untuk mengambil lembaran daging.
"Sialan!! Kenapa susah sekali sih? Tidak ada garpu ya disini?" Moa celingak-celinguk di sekitar mejanya.
"Dasar kampungan!" Ledek Densha.
"Anu, Fuu tidak bisa makan dengan dua lidi ini!" Fuu menggenggam masing-masing sumpit dengan kedua tangannya.
"Dasar kampungan!" Ledek Moa meniru kalimat sahabatnya, yang disusul dengan lirikan matanya pada Densha.
"Mau mati ya??" Sindir Densha sambil menatap tajam Moa.
"Hahaha, sudahlah... Aku mau minta garpu sebentar" Moa berdiri dari duduknya dan hendak pergi.
"Fuu juga ingin pakai garpu" pinta Fuu pada Moa.
"Iya-iya..."
Moa pergi meninggalkan meja menuju pelayan yang sedang tidak bertugas untuk meminta garpu. Mod di sibukkan dengan memanggang daging, Densha yang tidak mengerti hanya meniru aksi Mod saja. Ia (Densha) ikut-ikutan memanggang daging.
"Cih! Merepotkan sekali, ingin makan saja harus memasaknya terlebih dahulu! Lalu untuk apa kita membayar jika ujung-ujungnya kita yang masak sendiri"
Densha mengomel-ngomel tidak karuan, ia tidak terima dengan perlakuan restoran jepang ini. Bukannya tinggal makan malah disuruh masak sendiri.
Hap!
Hap!
Hap!
"Hei, pelan-pelan makannya!" Densha melirik ke arah Fuu yang sedang makan sate cumi dengan lahap.
"Ini enak sekali... Kenapa Densha tidak pernah membawa Fuu kemari?"
"Bisa bangkrut aku kalau membawamu kemari!"
"Fuu tidak begitu kok"
"Tidak begitu bagaimana? Baru kemarin aku mengisi penuh kulkas'ku, tadi pagi sudah hampir kosong"
"Itu karena setiap malam Fuu lapar, daripada membangunkan Densha jadi Fuu makan sendiri saja"
"Perampok makanan!!" Ujar Densha geram.
Mod memindahkan beberapa daging yang telah matang ke piring. Gadis itu memberikan piringnya pada Fuu, lalu mengajari Fuu cara makannya.
"Begini Fuu..." Mod mempraktekkan tata cara makan dengan benar. Gadis itu menyuapi Fuu, karena menunggu garpu dari Moa yang tidak kunjung kembali.
"Okay, baik!" Ucap Fuu lalu tersenyum.
Hap!
"Bagaimana??"
"Wah, enak sekali!" Fuu menyipitkan kedua matanya saking senangnya.
"Enak kan?? Aku waktu kecil sering ke tempat ini"
"Uhm" Fuu menganggukkan kepala senang.
"Hei, aku juga dong!" Densha menyerahkan piringnya pada Mod.
"Dih! Lakukan sendiri"
"Aku tidak bisa, ini pertama kalinya aku makan di restoran seperti ini"
"Astaga! Anak orang kaya tidak pernah makan di tempat seperti ini?" Sindir Mod lalu tersenyum.
"Berisik!! Lakukan saja yang aku perintahkan!"
"Baiklah, tuan muda Mikaelson... Hehe"
Cih! Padahal dia yang menyarankan makan di tempat seperti ini... - Mod.
"His, jangan panggil aku begitu!"
"Hahaha, kenapa? Wajahmu memerah loh!" Mod menyerahkan piringnya pada Densha.
"Berisik!!" Densha membuang muka ke sisi lain.
Ia (Densha) sedikit risih jika orang yang sudah di anggap sebagai temannya memanggil dirinya dengan sangat formal, itu sungguh tidak di perlukan baginya. Densha lebih suka jika temannya langsung memanggil namanya.
"Ini..." Moa menyerahkan garpu pada Fuu, pria berambut pirang itu kembali duduk di tempatnya.
"Terima kasih Moa" ucap Fuu lalu tersenyum.
"Jangan tersenyum begitu di depan Moa" Densha menatap tajam Fuu. Pria ini sedang cemburu.
"Eh?? Kenapa aku??" Moa menoleh ke arah Densha dengan bingung.
"Kenapa? Fuu kan hanya senyum" ucap Fuu polos.
"Kalau aku bilang jangan ya jangan!!" Tegas Densha.
"Mau mati ya??"
"Hahahahaa"
"Apa itu cemburu??" Tanya Fuu sambil terus memakan makanan di piringnya.
"Cemburu itu..."
"Diam Mod!!"
Belum selesai Mod berbicara, Densha sudah menghentikan Mod agar gadis itu tidak meneruskan kalimatnya. Mod yang melihat reaksi Densha hanya terkekeh, baginya mereka (Densha dan Fuu) sangat manis sekali.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku sudah tidak kuat lagi untuk minum" Mod memelas, ia menyandarkan kepalanya pada meja.
"Masih ada setengah botol loh! Hehe" Moa menenteng botol kaca berwarna hijau dan menuangkannya pada gelas Densha.
"Baru beberapa hari yang lalu bibi mengajakku minum dan aku bilang bahwa aku masih di bawah umur, entah kenapa dengan kalian yang bisa membuatku minum di tempat seperti ini!" Densha memaki-maki Moa, tapi pria itu tetap meminum minuman tersebut.
"Sudah jangan cerewet! Cepat habiskan!!" Perintah Moa tegas.
"Hei, kau juga dong!!"
"Aku kan sudah habis banyak! Kau baru tiga gelas kan??"
"Aku tidak suka minum-minum seperti ini! Aku harus tetap menjaga kesadaran'ku"
Densha merebut botol yang di pegang Moa lalu menuangkan isinya pada gelas Mod dan Moa.
"Biar Fuu saja!" Fuu mengambil gelas milik Mod, karena ia khawatir dengan teman perempuan nya itu.
"Kau masih sanggup?? Tidak mabuk kan??"
"Tidak, Fuu masih baik-baik saja!"
"Ya sudah! Satu gelas saja ya??" Pinta Densha tenang.
"Uhm" Fuu menganggukkan kepala pelan lalu meminum minuman itu dengan sekali teguk.
Fuu mengernyitkan dahinya, menahan sensasi rasa yang keluar di dalam mulutnya.
"Hei Moa wajahmu memerah loh!" Densha menyentuh wajah Moa dengan kedua tangannya.
"Aku baik-baik saja!"
"Benarkah? Sepertinya kau mabuk! Sudah lah... Minuman ini tidak perlu di habiskan"
Moa yang hendak menuangkan minuman lagi langsung di rebut paksa oleh Densha, ia (Densha) meletakkan botol itu jauh-jauh dari tangan Moa.
"Ayo kita pulang! Hei Mod?? Kau baik-baik saja kan??"
"........"
"Fuu, coba kau bangunkan Mod"
"Okay, baik!"
Fuu menggoyang-goyangkan tubuh Mod tapi gadis itu tidak bergeming sama sekali, Mod mengerjapkan matanya namun ia terlihat seperti orang linglung.
"Dimana ini??" Gumam Mod pelan.
"Serius? Kau juga mabuk?" Densha menepuk jidatnya sendiri, dia panik bagaimana cara membawa dua orang yang sedang mabuk.
"Hei, aku tidak mabuk kok! Kalian pulang saja dengan hati-hati... Aku akan mengantar Mod" kata Moa dengan mata setengah merem.
"Tidak mabuk bagaimana? Wajahmu itu merah sekali! Seperti om-om m*sum!" Ledek Densha keras.
"Sst! Jaga bicaramu!! Hehe"
"Fuu kau tuntun Mod, aku akan mengurus Moa"
"Okay, baik!"
Fuu membopong tubuh Mod yang lebih tinggi darinya pelan-pelan, gadis itu juga membawakan tas sekolah milik Mod namun Mod menolaknya dan memilih untuk membawanya sendiri. Karena Mod sedang mabuk, jadi Densha lah yang membayar semua makanan yang telah di pesan.
Mereka berempat keluar dari restoran dengan susah payah karena dua dari mereka sedang tidak sadarkan diri (mabuk).
"Kenapa terik sekali mataharinya" omel Moa kesal.
"Matahari darimana?? Ini kan sudah malam!" Bantah Densha tegas.
"Malam?? Kok badanku terasa panas"
Moa beneran mabuk gak sih? - Densha.
"Jangan banyak bicara! Ayo pulang!!"
Cih! Padahal jalanan ini melewati rumahku, apa aku betulan harus mengantar mereka sampai ke rumah masing-masing?? - Densha.
Densha menghela nafas panjang, ia sangat kesal dengan Moa dan Mod. Kenapa mereka berdua harus mabuk hari ini? Dan kenapa Densha harus terlibat di dalamnya! Sesekali Densha menoleh ke belakang untuk mengawasi Fuu, ia takut Fuu tidak sanggup menuntun tubuh Mod.
"Kau baik-baik saja Fuu?"
"Iya, Fuu bisa kok!"
HUWEKKK! HUWEKKK!!
Moa yang merasakan rasa tidak enak di perutnya langsung muntah-muntah di tengah jalan. Densha refleks melepaskan tubuh Moa, takut kena muntahan Moa. Ia trauma dengan seseorang yang sedang mabuk gara-gara Fuu.
"Hah... Hah.... Hah..." Moa mengusap mulutnya sendiri dengan seragam sekolahnya.
"Sudah selesai??"
"Iya, aku baik-baik saja! Sedikit mendingan"
"Masih mabuk??"
"Hei, sudah kubilang kan? Aku tidak mabuk!" Ujar Moa ketus.
"Tadi kau bilang malam ini ada matahari tuh!"
"Eh?? Aku mengatakannya??"
"Kalau memang sudah sadar, dan karena ini sudah malam, aku dan Fuu akan langsung pulang ke rumah! Kau antar Mod ya??"
"Hei, bagaimana bisa begitu?"
"Bisa, kenapa tidak bisa? Sebentar lagi sampai rumahku, aku tidak harus mengikuti kalian sampai ke rumah kalian masing-masing kan?"
"Cih! Sesekali khawatirkan temanmu dong!" Gerutu Moa kesal.
"Jika aku tidak memperhatikan temanku, aku tidak akan membawamu keluar dari restoran itu!"
"Iya-iya... Aku yang akan antar Mod. Puas kan??"
"........"
Densha menatap Moa tajam sebelum melanjutkan perjalanannya menuju rumah, sesampainya di depan rumah Densha mereka berpisah. Kini giliran Moa yang menuntun Mod untuk pulang ke rumah.
"Sampai besok di sekolah!" Ucap Fuu dan melambaikan tangannya.
Bersambung!
Halo, Terima kasih sudah membaca! jika kalian menyukai Novel ini tolong dukung saya dengan Like, komentar, favorit, rating dan Share ya?? dukungan kalian sangat berarti bagi saya! terima kasih 🙏😊