
Peperangan yang telah berlangsung entah berapa lama, kini semakin mendekati akhir. Suara-suara menggelegar dari pulau apung makin terdengar dan tampaknya sesuatu akan lepas tak lama lagi. Para pasukan mulai kelelahan, perlahan jumlah mereka berkurang dengan mengganasnya pasukan Arkbyss, sesudah diberi kekuatan tambahan oleh raja Arslaz. Tiga orang remaja berusaha keras memberi luka parah pada Zeus agar setidaknya portal yang terus-menerus mengeluarkan pasukan Immortal itu tertutup. Pasukan Hellraiser Alzent pun terlihat makin melemah semenjak pemilik aslinya tertidur. Begitu banyak luka terdapat pada tubuh Gerald dan Reyla. Lalu, tubuh Yuna makin bercahaya terang, menandakan waktunya tak lama lagi habis, sementara Luna masih terlihat baik-baik saja setelah menghindar dan menghindar tanpa henti sambil sesekali melihat ke arah portal.
Siapapun dapat menyadari, kekalahan berada di pihak Alzent. Mereka membutuhkan dirinya, membutuhkan seorang pahlawan yang akan membawa keajaiban seperti biasa, tetapi ia masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan membuka mata. Alter pun telah menyerah mencari tahu penyebabnya, lebih memilih untuk tidur berbaring, menunggu sesuatu terjadi.
Zeus tertawa melihat tiga orang remaja di depan. Napas mereka sudah terputus-putus dengan tubuh gemetaran, tak sanggup untuk melanjutkan pertarungan "Bagaimana? Apa kau sudah merasakan kekuatan seorang Immortal?" ia tertawa lagi "Sudah kukatakan, selama ini kami hanya menahan diri. Jangan harap kami akan berlaku sama sesudah perjanjian dibatalkan" tiba-tiba sebuah rantai besar mengikat kedua tangan Zeus, tetapi ia telah tahu kelemahan rantai-rantai tersebut dan berhasil mematahkannya "Tidak akan mempan untuk kedua kalinya. Masing-masing rantaimu itu sengaja memasukkan kekuatan asing dalam jumlah besar untuk membuat badan kami kelebihan energi dan mudah untuk dihancurkan, bahkan meledak hingga merusak jiwa, lalu kami takkan bisa beregenerasi kembali di tubuh yang baru. Sayangnya.." Zeus muncul di depan Lucan, menghantamkan sebuah tinju ke perut remaja itu "Jika aku dengan sengaja menonaktifkan kekuatan, maka aku bisa memanfaatkan kekuatan asing mu itu untuk merusak rantai" Lucan terlempar ke belakang, terputar dan terseret di tanah, memuntahkan darah segar "Senjata makan tuan, bukan?"
Zeon mengeluarkan api hitam, menundukkan badan, berniat menjegal kaki Zeus, namun ia melompat menghindar. Zeon masih belum menyerah, ia berlanjut menembakkan beberapa bola api ke arah Zeus, kemudian melompat ke arahnya menggunakan bola-bola api tersebut sebagai pengalihan, mengepal kuat tangan dan akan memberikan sebuah tinju keras ke wajah. Namun, justru dialah yang mendapatkan tinjuan di wajah ketika tinju miliknya hanya menembus tubuh Zeus. Zeus yang asli tiba-tiba muncul dari atas dan berlanjut memberikan tendangan keras hingga Zeon menciptakan retakan baru di tanah.
"Apa hanya sampai disini sajakah perlawanan para Mortal? Apakah cuma begini kekuatan yang ingin kalian tunjukkan pada kami?" Zeus mencekik leher Veron yang muncul dari dalam portal hitam, mengayunkan Scythe, tapi tidak mengenai tubuh Zeus "Kau ingin menyerangku secara diam-diam?" ia tersenyum sinis "Dasar tikus kecil" Zeus menghantamkan kepala Veron ke tanah dan mengalirkan listrik ke kepala remaja tersebut. Ketika melihat Veron tak mampu bangkit lagi, Zeus melepaskan kepalanya yang langsung jatuh lemas ke tanah, lalu melangkah ke tengah-tengah medan perang dimana tubuh Alzent berada "Perhatian!" sahut Zeus dengan suara menggelegar hingga ke langit.
Seketika medan pertempuran terdiam, tak seorangpun melanjutkan pertarungan hidup-mati. Mereka berbalik menatap ke arah Zeus yang berdiri angkuh di samping tubuh seorang remaja berambut putih kotor karena tanah, debu dan abu.
"Kini pahlawan kalian telah tiada, bahkan teman-temannya juga telah kukalahkan" ucap Zeus menyombongkan diri sembari melebarkan kedua tangan "Namun, karena aku merasa kasihan pada kalian mahluk Mortal, bagaimana kalau kalian datang maju menyerang diriku secara bersamaan? Atau..." ia memasang senyum lebar yang membuat seluruh pasukan naik darah "Jangan bilang kalian takut sesudah menantang Immortal? HANYA SAMPAI DISITU SAJAKAH KEBERANIAN KALIAN!!?"
Hanya dengan perkataan seperti itu, para pasukan yang sudah kelelahan, dipenuhi amarah dan dikendalikan rasa takut, mulai berlari sambil bersorak "Bunuh dia! Bunuh mahluk sombong itu! BUNUH!!" mereka tak tahu malapetaka telah menunggu dibalik senyuman lebar dengan tatapan mematikan.
"Ratu Ezra?" tanya Lucan.
Gadis itu tersenyum, kemudian menjentikkan jari "Dan tak hanya diriku"
Seketika dari balik awan badai yang gelap, muncul begitu banyak portal berwarna ungu-kehitaman. Masing-masing portal itu membawa keluar sebuah pasukan yang belum pernah terlihat sebelumnya, pasukan yang berhasil membuat wajah Zeus tampak bingung serta panik. Ratu Ezra tersenyum melihat reaksinya, lalu mengatakan "Kau tentu saja tidak lupa pada mereka bukan? Bangsa yang sudah lama kau segel, bangsa kedua yang tak termasuk dalam kategori Mortal maupun Immortal, bangsa yang merupakan lambang dari kehancuran dan malapetaka, Titan"
Seorang laki-laki muncul dengan tubuh tampak tercipta dari bebatuan bara dan lahar turun dari langit, menghantam tanah begitu ia mendarat, menciptakan gelombang energi besar yang langsung mengubah seluruh tanah di medan perang menjadi berupa bebatuan panas serta lahar membara. Ia bangkit berdiri, menatap Zeus "Apa kau merindukanku, Zeus?"
Kedua mata Zeus terbelalak. Ia tak pernah menyangka si mahluk yang dijuluki malapetaka kini kembali muncul di hadapannya, dengan wujud yang sama sesudah beribu-ribu tahun berlalu. Ia masih dapat mengingat masa ketika ia berhasil membunuhnya, namun mengapa mahluk itu dapat kembali hidup? Bukankah jiwanya telah ia hancurkan? Namun yang pasti, selama mahluk ini berada di dunia, setiap kali ia melangkah, kehancuran pun mengikuti dari belakang.
Perasaan itu kembali lagi, perasaan yang begitu dirinya benci, sebuah perasaan yang seharusnya ada hanya pada para Mortal! Ia tak bisa menerima ini, ia harus menyelesaikannya dengan cepat dan segera mengatur strategi untuk para Immortal. Zeus berdecak kesal, ia memasang tatapan tajam dan mengeluarkan tiap energi listrik dalam tubuh. Tak ada waktu untuk bermain-main selama berhadapan dengan dirinya atau bisa-bisa Zeus akan mati.
"Kronos"