Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
A Feast For Separation



Malam itu, pesta dimulai dengan penuh sukacita. Tarian, lagu, dansa, perjamuan serta duel berlangsung tanpa adanya iri hati, menyimpan kenangan berharga di dalam hati.


Seisi balai desa di penuhi canda-tawa, gosip para perempuan yang jatuh cinta pada ketiga pemuda Gate serta undangan untuk berduel dari para laki-laki muda desa.


"Apa kau yakin ingin melanjutkan ini Hector?" tanya Lucan dengan senyuman penuh kemenangan di wajahnya, melihat lawan dia terjatuh ke tanah namun masih berusaha bangkit.


Pemuda yang bernama Hector itu membalas senyuman Lucan dengan seringaian kepuasan telah membuat Lucan lengah, sehingga tanpa disadari oleh Lucan, Hector menerjang, menjatuhkannya ke tanah. Para penonton bersorak.


Saat akan meninju wajah Lucan, tiba-tiba tubuh Hector sudah melayang tinggi di udara karena tendangan dari Lucan. Semua orang bersorak makin kencang sambil menyerukan nama Lucan yang keluar sebagai pemenang, sebab Hector sudah berada di luar lingkaran arena.


Sementara itu, dari arah meja makan panjang tepat di tengah-tengah balai desa, Alzent serta Veron tertawa melihat kelakukan sahabatnya itu.


"Ia masih saja tidak mau mengalah oleh orang yang lebih lemah darinya" kata Veron sembari meneguk anggur dari gelas kaca berukiran indah.


"Begitulah Lucan, asal kepopuleran dirinya tidak menurun, ia akan berusaha bagaimanapun caranya untuk meraih hal tersebut" jelas Alzent, kemudian bangkit berdiri melihat Lucan sudah berjalan ke arah mereka.


Lucan menunjuk arena di belakang tubuhnya dengan ibu jari sambil tersenyum khas dirinya saat akan menantang "Bagaimana kalau kita bertiga saling bertarung disana, kebetulan para gadis sudah menunggunya semenjak pesta dimulai"


Alzent menghela napas, tahu ini akan terjadi. Ia menoleh pada Veron yang hanya menaikkan bahu dengan senyuman yang mengatakan 'terserah dirimu saja'.


Alzent melipat lengan, menjawab "Baiklah, tapi kami tidak akan menahan diri melihat dirimu yang juga tidak menahan diri menghadapi laki-laki tadi. Siapa namanya?" Alzent berpikir sejenak lalu menjentikkan jari "Ah! Hector. Dan jangan ngambek jika kalah"


Lucan menaikkan satu alis, kini senyumannya berubah menjadi senyuman penuh semangat "Haha, baiklah. Tapi, kalau aku menang, akulah yang akan memimpin misi kali ini"


"Oh? Aku pikir kau akan meminta hal-hal aneh dan tidak masuk akal seperti sihir, buku mantra dan hal semacam itu" Alzent mengangguk pelan "Baiklah, asal dirimu dapat memimpin dengan baik, jangan sampai membuat diriku menyesal" pintanya.


Gate berambut pirang itu mengangguk cepat dan berlari duluan menuju arena, dimana para orang desa bersorak, tidak sabar untuk menonton tiga pemuda asing akan saling bertarung menunjukkan kekuatan masing-masing, bahkan yang menontonpun semakin banyak.


"Baiklah semuanya, Alzent serta Veron sudah menyetujui duel ini. Mari kita sambut keberanian mereka dalam menghadapi Master Lucan ini!" sahutnya, membuat orang-orang desa tertawa sekaligus menyorakkan nama Alzent serta Veron.


"Jadi? Bagaimana kita akan bertarung?" tanya Veron.


Lucan menaikkan ujung bibirnya, berlagak seperti seseorang yang baru saja memecahkan misteri besar "Karena ini adalah duel, bagaimana kalau kita suit terlebih dahulu? Yang kalah tidak ikut dalam duel"


Veron menggaruk alisnya yang tidak gatal melihat keputusan absurd Lucan, mengangkat tangannya dan berdiri di antara para penonton "Biar kalian saja yang bertarung, aku tidak ingin jika terlalu kelelahan" katanya.


Dengan begitu, Alzent serta Lucan memposisikan diri masing-masing di tengah-tengah arena, memasang kuda-kuda, menunggu hitungan mundur dari para penonton berakhir.


"Oh ya, aku lupa" ucap Lucan "Aku juga tidak akan menahan diri"


2... 1..


Alzent dan Lucan saling menerjang hingga tertahan di tengah-tengah arena menciptakan kumpulan debu tebal akibat hempasan kekuatan keduanya yang saling berhantaman. Mereka saling mencengkram telapak tangan satu sama lain, berusaha mengambil momen dengan kekuatan tubuh, namun karena tak berhasil, mereka bersamaan melompat ke belakang dan menyerang menggunakan beladiri masing-masing. Alzent berfokus pada serangan kombo dari Muay-thai dan Kick boxing, sementara Lucan dengan Capoeira dan Sambo. Mereka tidak ingin menggunakan beladiri Krav-Maga karena tahu akan sangat berbahaya bagi lawannya.


Penampilan keduanya memukau para penonton hingga mereka terdiam, tak mampu memberikan komentar atau sekadar pujian. Kombinasi serangan cepat dan cukup berbahaya ditambah gerakan mereka yang gesit karena ras Vampire, membuat para pemuda desa mengurungkan niat untuk duel, mengetahui Lucan ternyata sudah menahan diri namun tetap saja mereka tak mampu mengimbanginya.


Pertarungan itu berlangsung cukup lama, dimana tak kelihatan rasa lelah di kedua pihak, menunjukkan ketrampilan sebagai pasukan elite.


"Benarkah kau bertarung dengan serius Alzent? Aku tahu kau menahan diri" pancing Lucan sambil menghindari tendangannya.


Alzent mengambil jarak, menunggu Lucan untuk mendekat lalu melancarkan kombo dari tangan yang berhasil ditahan oleh Lucan "Aku sudah mengeluarkan seluruh kemampuanku, dirimu saja yang sudah terlalu meningkat sehingga merasa seranganku ini biasa saja"


Alzent melihat adanya kesempatan, melompat tinggi lalu menendang kepala Lucan menggunakan tendangan Round House. Seketika para penonton bersorak.


Lucan kembali bangkit berdiri, tersenyum penuh percaya diri, datang menerjang Alzent. Namun yang berikutnya terjadi, sungguh di luar dugaan dirinya, Lucan sudah berada terbaring di atas tanah dengan tinju Alzent seinci lagi menyentuh wajah sahabatnya itu.


Para penonton terdiam sejenak hingga akhirnya menyoraki Alzent sebagai pemenang. Alzent bangkit berdiri sembari membantu Lucan untuk bangkit. Ia menepuk pundak Lucan yang masih tercengang "Aku bangga padamu, kau sudah meningkat pesat di banding sebelumnya. Tolong pimpin aku dan Veron dengan baik, Captain"


Senyuman menghiasi wajah Lucan, ia mengangguk pelan "Aku akan mengusahakan itu dan terima kasih, Alzent"


"Apapun untuk dirimu sahabatku"


Dengan begitu, pesta berakhir. Sesudah membereskan segalanya, warga desa kembali ke rumah masing-masing, sementara ketiga pemuda tersebut telah berada di dalam kamar, duduk di kasur masing-masing, memikirkan tantangan yang akan menunggu di hari esok.


"Andai saja kita masih memiliki anggota lengkap Fox 1, mungkin perjalanan ini akan terasa lebih menyenangkan" ucap Lucan.


Veron mengangguk setuju "Ya, itu benar. Tapi, kita tidak tahu dimanakah mereka berada sekarang, mencari masing-masing dari mereka akan memakan waktu yang cukup banyak sementara waktu kita sendiri sudah terpakai untuk mencari uang"


"Siapa yang bilang waktu kalian telah terbuang banyak?" kata Gerald yang tiba-tiba masuk dalam kamar "Selama enam bulan kalian berada disini, hanya sedetik yang telah lewat di dunia nyata"


Perkataan Gerald itu membuat ketiganya terkejut tak mengerti "Apa maksudmu hanya lewat sedetik?" tanya Veron curiga.


Gerald tertawa lantang "Sampai sekarang kalian belum menyadarinya? Desa ini terpisah dari bumi, dapat dibilang kalian sudah berada di dalam dimensi lain, itulah alasannya kalian pingsan sebab sebelumnya kita bergerak sangat cepat, hampir secepat cahaya dan tiba di dimensi tersembunyi tempat dimana Watcher sepertiku berada"


"J-jadi maksudmu, ini adalah dunia para Watcher?" tanya Lucan penasaran.


Gerald menggeleng pelan "Tidak, ini adalah dimensi manusia namun manusia dari dimensi yang berbeda dan kami para Watcher dapat memperlambat waktu, namun tidak untuk mempercepat maupun menghentikan waktu dan para manusia yang berada di dalam dimensi ini tidak akan bertambah tua seiring waktu itu melambat, kecuali jika kami telah mempercepatnya kembali"


"Daritadi kau menggunakan 'kami', siapa lagi Watcher disini selain dirimu?" tanya Veron.


Gerald kaget karena mereka bertiga masih belum sadar sementara mereka bertiga sudah tinggal di dalam rumahnya selama enam bulan terakhir "Itu Louisiana, istriku. Kalian juga tidak menyadari itu?"


Mereka bertiga dengan polosnya menggeleng "Karena kami juga punya seseorang yang sekuat dan semengerikan Lou jika sedang marah" jelas Alzent dengan senyuman sedih.


Gerald berusaha mencari topik pembicaraan lain, melihat keadaan yang mulai canggung dan terselamatkan oleh sahutan Lucan mengenai dimensi bumi "Oh, yah jika kalian kembali ke bumi, waktu disana akan kembali berjalan seperti biasa" Gerald menepuk tangan, hampir melupakan sesuatu "Untung saja aku mengingat ini, jika nanti kalian mencari desa ini kembali, kalian tidak akan menemukannya, cuma akulah yang dapat membawa kalian kesini, jadi mungkin inilah malam terakhir bagi kita untuk yahh... bersama"


Alzent, Veron serta Lucan saling berpandangan, lalu bersamaan menatap Gerald dengan mata berbinar seperti seorang bocah "Ceritakan pada kami mengenai dimensi lain yang pernah kau awasi" pinta mereka.


Malam itu, Gerald menceritakan soal dimensi indah dimana hal-hal berbau fantasi yang hanyalah sebuah dongeng semata di dunia ini, adalah sebuah kenyataan. Sebuah dunia damai dimana semua mahluk hidup dalam harmonis tanpa adanya peperangan.


Esok harinya, begitu akan dibawa pergi oleh Gerald, warga desa mengantarkan kepergian mereka, berterimakasih karena dalam enam bulan ini, mereka sudah membantu pekerjaan yang begitu berat. Para gadis desa sedih melihat mereka harus pergi dan entah kapan kembali, sementara para pemuda desa menghormati mereka sebagai panutan dan mereka akan berusaha keras untuk menggapainya.


Perpisahan berakhir menjadi sebuah kenangan, yang dimana kenangan itu akan selalu tersimpan di bagian hati paling dalam.