
Cukup lama Luna berdiri, mendengarkan senandung penuh perasaan tersebut, sebelum akhirnya Alzent sadar dan segera mendekatinya. Ia paling tidak bisa melihat seorang perempuan menangis "Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
Luna dengan cepat menghapus air mata yang juga baru disadarinya "Seharusnya akulah yang menanyakan hal tersebut, bodoh" jawabnya sambil tertawa kecil.
Alzent tersenyum, melihat gadis di hadapannya ini begitu mirip dengan sosok yang telah hilang dari kehidupannya "Mengapa kau tidak ikut bersama mereka? Bukankah dirimu lapar? Aku mendengar perutmu terus bergemuruh dalam rapat tadi"
Sebuah pukulan dilayangkan oleh Luna ke tubuh Alzent. Siapa yang sangka, ternyata pukulan gadis itu mampu membuat Alzent terpental ke belakang, menghantam dinding. Seketika Alzent melupakan rasa sedihnya, tergantikan oleh sebuah kebahagiaan "Bahkan kekuatanmu itu, sangat mirip dengannya" kata Alzent, lalu air matanya mengalir turun.
"A-aku minta maaf!" sahut Luna panik, membantu Alzent berdiri, namun laki-laki itu terus terisak. Entah mengapa, Luna merasa harus merangkulnya dan ia membiarkan perasaan tersebut mengalir, mengendalikan tubuhnya. Luna memeluk Alzent sembari mengelus pelan belakang kepalanya "Sudah, sudah. Aku ada disini" katanya pelan. Ia tak lagi memikirkan rasa malu yang kini berkumpul, ia hanya ingin agar sosok dalam dekapannya itu kembali ceria.
Alzent tak mengerti, rasa sakit di dadanya ini jauh berbeda dengan rasa sakit karena Cursed Heart ataupun kegelapan yang berusaha memakan dirinya. Memang kedua hal itu terasa begitu nyeri, seakan bagian dalam dadanya akan meledak, namun rasa sakit ini, lebih pedih, seperti beribu jarum menusuk masuk. Ia bahkan sampai gemetaran merasakannya.
Berada dalam rangkulan Luna, membuat Alzent kembali mengingat bagaimana rasa ketika Yuna masih ada. Suaranya, sentuhannya, perasaannya, semua itu membuat Alzent sedikit lebih tenang sekaligus berusaha menahan rasa rindu yang begitu berat. Ia tak pernah ingin membunuh Yuna, tak pernah ingin kehilangan sosok yang paling berharga itu. Alzent bahkan sempat mengutuk takdir yang membuatnya melakukan itu dan kali ini takdir memaksanya untuk menjadi mahluk pembawa kehancuran sementara ia pecinta damai?
Apakah memang jalan cerita hidupnya sudah dipenuhi oleh cobaan berat? Jika saja ia tak memiliki teman, mungkin Alzent benar-benar sudah akan pindah ke sisi kegelapan, bersama Zeon menghancurkan setiap dunia yang ada. Ia sangat membenci takdir yang sudah begitu kejam pada dirinya. Harus bagaimana lagi ia berusaha demi mencapai sesuatu yang begitu sederhana? Ia hanya menginginkan kedamaian. Ia juga ingin merasakan hidup seperti manusia biasa, bersenang-senang bersama teman, menghabiskan waktu bersama keluarga yang ia bahkan tak dapat ingat.
"Shh.. tenanglah, aku disini" ucap Luna.
Lightnar yang mengintip dari balik pintu, tersenyum melihat mereka berdua, menutup kembali pintu dengan pelan, mengisyaratkan mereka untuk diam. Ia sebenarnya tak ingin mengganggu, namun paksaan dari Lucan yang terus mengatakan bahwa ia khawatir, membuat Lightnar mau tidak mau harus ikut dengannya agar tak terjadi hal buruk dan mereka semua malah ikut.
"Apa yang terjadi di dalam?" tanya Lucan penasaran.
"Sesuatu yang bocah sepertimu tak akan mengerti" jawab Lightnar santai.
"Apa-apaan itu?" keluh Vampire muda tersebut.
Veron melipat lengannya, memikirkan sesuatu yang tampaknya begitu berat sampai dahinya berkerut "Aku benar-benar bingung. Gadis ini tiba-tiba muncul dan ikut bersama kita, gadis yang sangat mirip, bahkan dapat dibilang kembaran dari Yuna, namun ia sama sekali tak pernah menceritakan soal dirinya pada kita. Sekarang, Alzent merasa begitu dekat dengannya. Bukankah itu sedikit mencurigakan?"
Lucan memikirkan hal tersebut, lalu mengangguk setuju "Memang benar, namun kita melihat dengan mata kepala sendiri, Alzent benar-benar menusuk Yuna di jantung, kita bahkan- eh?"
"Ada apa?" tanya Veron.
Veron mencoba untuk mengingatnya. Ia terbelalak begitu tahu Lucan benar "Aku tidak percaya ini, bagaimana bisa kita melupakan pemakaman seseorang yang berharga bagi kita?" ia kemudian terpikirkan sesuatu "Kecuali.. pemakaman tersebut tak pernah terjadi dan jasad Yuna.. menghilang? Ahh, aku benar-benar pusing. Sudah masalah di dunia ini, tugas sebagai Gate, nasib seluruh dunia di punggung kita"
"Jadi kalian Gate? Pantas saja misi kalian begitu berat. Jujur saja, jika itu diriku, aku tak akan sanggup menahan bebannya sendiri. Baru kali ini aku melihat terdapat Gate dengan jumlah lebih dari satu dalam sebuah dunia" ucap Lightnar, mengejutkan Veron serta Lucan.
"Aku curiga, jangan bilang Gate pada dasarnya hanya satu?" tanya Veron. Lightnar mengangguk dan Veron mengucapkan sumpah serapah, mendapatkan teguran dari Sang ratu "Maafkan aku, hanya masalah ini membuatku sungguh sakit kepala. Jika memang benar Gate hanya satu, lalu Key juga satu, itu masuk akal. Mengapa Gerald mengatakan bahwa kita bertiga adalah Gate?"
Lucan meregangkan lengannya "Mungkin agar misi ini jauh lebih mudah, mengingat kita bertiga selalu bekerja sama dan dunia di ambang kehancuran, itu masuk akal. Namun, aku juga masih mempertanyakan mengapa Alzent tak dapat mengingat masa lalunya, maupun sosok mahluk kegelapan terus saja bertarung dengan dirinya"
Lightnar mengatakan "Aku sudah jarang melihat mahluk kegelapan seperti mereka. Aku mengira mereka sudah dimusnahkan oleh para Watcher, tapi ternyata mereka masih ada. Ini memang sedikit aneh, Alzent yang kehilangan ingatan masa kecil, selalu bertemu dengan mahluk kegelapan, dapat merasakan kegelapan, perang yang terjadi semenjak kemunculannya di dunia ini, bukan berarti aku menyalahkannya. Tapi, tak mungkin semua ini hanyalah kebetulan, kebetulan yang direncanakan terlalu sempurna jika dilihat"
Terdengar suara tepuk tangan. Zeon bersandar di dinding lorong yang sementara mereka lewati "Hebat juga. Tak kusangk kalian lebih pintar dibanding teman kalian itu, eits" Zeon menangkap pedang yang dilemparkan oleh Lucan dengan mudah, kemudian membakarnya menjadi abu "Aku tidak datang untuk bertarung maupun mencari masalah"
"Kau sudah mencari masalah begitu menginjakkan kaki di istana ini" tukas Veron, mengambil pedangnya.
"Hadehh" Zeon menjentikkan jari. Seketika api hitam mungil muncul di senjata mereka masing-masing, terbakar tak tersisa "Sudah kubilang, aku tidak mencari masalah. Kalau kalian benar-benar ingin melihat istana ini terbakar tanpa menyisakan apapun, bilang saja" tak seorangpun bergerak karena ancaman dari Zeon, jadi ia melanjutkan "Memang benar apa yang baru saja kalian katakan, semua ini bukanlah kebetulan, melainkan sebuah rencana. Aku tak bisa memberitahukan siapa seseorang tersebut, ia mengawasi kita saat ini" Zeon menghancurkan dinding, menunjuk sesuatu yang memantulkan sinar rembulan, di langit.
Mereka terkejut menemukan ada seseorang sementara melayang, jauh di atas tanah. Lightnar menggunakan penglihatan naganya "I-ia tersenyum?" lalu merasakan sesuatu yang begitu panas, membuat ia menjerit kesakitan, menutup matanya dengan erat.
"Aku cuma bisa memberitahu, berhati-hatilah pada Alzent. Tak seorangpun disini mengenal dirinya. Bahkan Veron maupun Lucan, kalian hanya mengenalnya dari peperangan yang membuat kalian bersama. Apa kalian tak menyadari, warna mata miliknya.. sama sepertiku?" melihat raut wajah sekelompok orang di depannya, Zeon tertawa kecil, lalu menghilang dalam portal "Itu saja yang harus kalian ingat, selamat berjuang. Aku harap kalian dapat bertahan menghadapi tiga bangsa bersamaan"
"Apa!?" Lightnar ingin menanyakan itu, namun Zeon sudah terlanjur tiada "Ini benar-benar gawat. Tidak hanya Orc, Syren juga akan datang menyerang"
"Tapi bagaimana caranya mereka berjalan di atas tanah? Mereka kan tak memiliki kaki" ucap Lucan.
"Aku tidak tahu, sepertinya mereka berhasil mendapatkan sihir terlarang. Dengan begitu sudah dua bangsa, tapi siapa yang ketiga?" tanya Lightnar bingung.
Bersamaan, para Gigant sementara melangkah menuju Risenland, menggetarkan tanah dengan langkah berat serta membuat mahluk apapun yang menghalang, lari ketakutan mendengar raungan amarah yang terdengar berat serta menyeramkan.