
Esok harinya, terdengar ledakan keras tepat diluar gerbang kerajaan. Begitu dilihat, benar saja, portal milik para Arkbyss kembali terbuka, kali ini berada lebih dekat dengan pintu gerbang, namun yang keluar hanya beberapa orang saja, salah satunya Zeon dengan seorang gadis berambut putih.
Alzent dan yang lainnya langsung muncul di hadapan mereka, bersiap dalam posisi jika mereka menyerang, namun Alzent terdiam di tempat dengan kedua mata terbelalak, tak menyangka sosok yang berada di depannya itu. Lightnar, orang paling pertama menyadari Alzent, kemudian disusul oleh yang lainnnya, di mana Lucan serta Veron mengernyitkan dahi tak mengerti.
"Y-Yuna!? Mengapa kau masih hidup?" tanya Lucan.
Begitu mendengar nama tersebut, mereka semua terkejut, kemudian menatap satu-satunya gadis Arkbyss itu, gadis cantik yang seakan bukanlah mahluk hidup, melainkan seorang dewi karena kecantikannya yang tidak manusiawi. Tatapan tajam menggodanya, bibirnya yang penuh serta sensual, lalu cara ia memasang pose menunjukkan lekuk-lekuk tubuh sempurna.
"Itu mantan Alzent!?" tanya Tern kaget, matanya masih belum bisa beralih dari gadis tersebut "Tak heran dia sulit melupakannya" ucap Orc itu, tak menahan diri, lebih tepatnya tak mampu menahan diri.
Tatapan gadis itu tertuju pada Alzent, ia melangkah mendekat, berhenti ketika jarak mereka hanya dua langkah lagi "Hai Alzent, sudah lama kita tidak bertemu. Aku benar-benar rindu padamu" ucapnya lembut, merangkul Alzent erat, membuat Luna mengepalkan kedua tangannya.
"Eh? Kau tidak mau membalas pelukanku?" Ia menatap wajah laki-laki itu, menyentuh hidungnya dengan manja "Apa kau malu dilihat oleh orang-orang banyak ini? Kenalkan mereka padaku" ucapnya gemas, lalu kembali merangkul Alzent.
"Berhentilah Yuna, Alzent takkan mau membalasnya" tukas Zeon.
Yuna mundur selangkah, menatap wajah Alzent yang masih tampak shock "Benarkah?" raut wajah Yuna berubah sedih "Apa kau benar-benar sudah melupakanku? Padahal aku selalu mengingat dirimu semenjak kita berpisah" ucapnya menahan tangis.
Alzent menggelengkan kepala, menghela napas dalam, mencoba menenangkan dirinya "Tolong jelaskan padaku, mengapa kau muncul di hadapanku setelah dua tahun terlewati? Dan aku melihat bahkan merasakan dirimu! yang ditusuk olehku!" sahutnya, berusaha menahan gejolak emosi.
Gadis itu menoleh ke samping, tak mampu melihat mata Alzent "Aku memiliki alasan yang tak bisa kukatakan padamu, tapi!" Yuna menatap kedua mata Alzent, menggigit bibirnya, lalu mengatakan "Aku benar-benar memikirkanmu selama berada dalam Arkbyss! Aku tak pernah sekalipun melupakanmu! Aku mencintaimu, kau tahu?" air mata mulai mengalir di kedua pipinya.
"Hey Alzent, apa kau tidak malu sudah membuat seorang gadis menangis?" sahut Zeon.
Lucan maju menerjang laki-laki itu, namun hanya dengan satu tangan, Zeon menahan tinjunya, lalu mementalkan Lucan mundur. Veron mengeluarkan ombak, siap menyerang, namun Zeon menjentikkan jari, menghilangkan ombak tersebut "Apa kalian lupa? Kekuatan kalian hanyalah kekuatan pinjaman dariku, tentu saja aku bisa menghilangkannya. Jangan berlagak kuat, jika masih mengandalkan kekuatan orang lain"
"Alzent.." panggil Yuna.
Alzent mengepalkan kedua tangannya, menatap Zeon tajam "'Apa sebenarnya maumu? Jika ingin bertarung, lebih baik katakan sekarang"
"Mengapa kau tidak bertanya padanya?" tanya Zeon balik, menunjuk Yuna dengan anggukan.
Yuna menghapus air mata, menarik napas, menghembuskannya "Aku ingin kau bergabung bersama kami, aku ingin kita kembali seperti dulu, bekerja bersama, menyelesaikan segala sesuatunya bersama, tertawa dan bercanda bersama" pintanya.
Sebenarnya, Alzent sangat ingin melakukan itu, namun ia teringat janjinya pada Gerald serta janji yang baru semalam ia buat bersama Luna. Tentu saja Alzent tak bisa mengingkari hal itu, terlebih nasib seluruh dunia berada di pundaknya, namun itu adalah Yuna "Ck! Maaf, aku harus menolaknya" jawaban tersebut mengundang reaksi berbeda dari kedua belah pihak "Tetapi aku juga tidak akan melawan Yuna, aku.. tidak bisa melakukannya"
Begitu Alzent mendengar hal itu, dengan cepat ia berdiri di depan Luna, membentangkan kedua tangannya "Jangan lakukan apa-apa padanya, dia tak bersalah. Jika kau menginginkanku, bilang sekarang dan aku akan melawanmu sekuat tenaga"
"Yuna?" tanya Zeon.
Yuna memalingkan muka "Ya, aku ingin melihat sekeras apakah perjuangan Alzent terhadap gadis itu"
"Holrast, silahkan melawan Alzent. Oh, pastikan ia hanya terluka parah" ucap Zeon pada seorang laki-lai berzirah hitam serta menggunakan topeng sebatas hidung. Mata merahnya menatap tajam Alzent. Ia meregangkan tubuh, melangkah maju, lalu memberikan sebuah pukulan keras pada rahang Alzent hingga membuat Alzent terlempar tinggi ke atas.
Begitu Alzent meluncur kembali ke bawah, ia langsung menendangnya begitu kuat, menimbulkan suara keras dari dorongan udara. Tubuh Alzent menghantam dinding kerajaan hingga tembus menghancurkan beberapa bangunan. Sosok itu melompat tinggi melewati dinding, menerima tiap panah Elven yang terasa bagai sebuah lemparan kertas baginya, menarik kerah Alzent, melemparnya keluar dinding, kemudian menendangnya dengan kuat ke tanah hingga menimbulkan gempa.
Tanah tersebut rusak, retak menjadi sebuah kawah besar. Holrast muncul di atas Alzent, berlutut, memberikan tinju demi tinju ke wajah Vampire muda tersebut. Holrast bangkit berdiri, mencekik leher Alzent, melemparnya ke atas, lalu menariknya kembali, menendang ulu hati Alzent dengan zirah di bagian lutut, lalu menendangnya kembali ke tempat Alzent berdiri semula, yaitu di depan Luna.
Semuanya, kecuali Luna, tak dapat menggerakkan tubuh akibat sihir dari Zeon. Ketika Alzent terbatuk mengeluarkan darah segar, mereka meronta berusaha melepaskan diri sambil menyahut-nyahut penuh emosi. Luna berlutut, memegang kepala Alzent, meletakkannya di atas pangkuan, kemudian mengalirkan sihir penyembuh yang entah mengapa tak dapat berguna kali ini, meskipun telah begitu banyak mana yang dikeluarkan, membuat cahayanya sangat terang.
"Percuma, kau hanya akan membuat mana dalam dirimu habis. Alzent juga telah kusegel, ia tak mampu menerima sihir apapun dari luar tubuhnya serta tak mampu menggunakan kekuatan untuk sementara. Kami hanya butuh bukti apakah ia benar-benar sanggup bertahan demi dirimu" jelas Zeon, merasa tak bersalah sama sekali.
Alzent berusaha bangkit berdiri, sesudah mengucapkan "Tenang, aku baik-baik saja" sembari menghapus air mata yang mengalir turun mengenai wajah Alzent. Vampire muda itu masih mampu berdiri tegap meskipun ulu hatinya benar-benar terasa nyeri dan darah segar terus mengalir keluar dari kedua sisi mulutnya.
"Ohh, hebat juga. Holrast, lanjutkan"
Tanpa menunggu lagi, Holrast kembali memberikan beberapa pukulan pada tubuh Alzent, lalu melemparnya tinggi. Ia ikut terbang ke sana, kemudian meluncur cepat ke tanah sambil menginjak tubuh Alzent. Di saat itulah, Lightnar, Lucan, Veron, Tern, Merith, Reyla, Nerta dan Luna dapat melihat begitu banyak darah keluar dari mulut laki-laki itu serta mendengar jeritannya yang tampak begitu tersiksa.
Yuna bahkan sampai memohon pada Zeon untuk menghentikan Holrast, air mata kembali mengalir deras pada pipinya, namun Zeon hanya menggelengkan kepala, mengucapkan "Tunggu saja, kau akan melihat sesuatu yang menarik nantinya"
Holrast melangkah ke samping, mengangkat kerah yang telah bersimbah darah itu. Alzent tampak mulai kehilangan kesadaran, tetapi tiba-tiba, kedua mata Alzent menatap tajam Holrast. Ia mencengkram tangan Arkbyss tersebut dengan kuat, menariknya paksa untuk melepaskan kerah. Sembari melakukan itu, aura-aura gelap mulai mengelilingi mereka.
"Alzent jangan!!" teriak Yuna, tahu apa yang akan terjadi.
Alzent tak mendengar peringatan tersebut, ia terus membiarkan sesuatu yang baru masuk dalam dirinya. Kedua matanya tiba-tiba berubah putih, ia menyerap seluruh kekuatan pada Holrast hingga laki-laki itu terhisap kering, tak bernyawa.
"Sudah dimulai"