Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Allies or Enemies #2



"K-kau, kakek tidak waras yang waktu itu" tunjuk Lucan.


Si kakek tua mengangkat satu alisnya "Begitukah cara anak muda menyapa orang yang lebih tua? Aku ini sudah berumur, sopan sedikit" ceramahnya.


"Maafkan kami jika tidak sopan padamu, namun kami membutuhkan penjelasan lanjut mengenai cerita yang saat itu anda katakan. Kami khawatir cerita tersebut benar-benar akan terjadi" jelas Alzent cepat.


"Hoho, ternyata wakil ketua Fox 1 masih memiliki rasa sopan santun pada orang tua, baiklah, aku akan menceritakannya lebih lanjut namun ada syaratnya" si kakek tua menunjuk tiga pemuda di hadapannya dengan tatapan tajam "Kalahkan dulu diriku, jika kalian gagal, jangan harap dapat menyelamatkan dunia ini untuk kedua kalinya"


Kepalan tangan Lucan mengeras, ia paling benci jika ada orang tak dikenal meremehkan dirinya. Baru saja ia akan menerjang, Alzent mengangkat lengannya, menghadang "Alzent! Apa yang kau-


"Baru lewat 1 tahun lebih dan kau sudah kehilangan matamu untuk menilai situasi? Benarkah kau adalah Lucan mantan anggota Fox 1 dulu?"


Begitu ingin berkomentar, Lucan kaget melihat tatapan tajam Alzent, tatapan yang sudah lama tidak dilihatnya, dingin dan menakutkan.


"Perhatikan kakek itu, ia masih berdiri tegap disana meskipun tahu lawannya adalah mantan Fox 1 yang juga membuatku bingung darimana ia mengetahuinya sebab aku selalu menggunakan masker selama menjadi wakil ketua" Alzent mengganti posisi kaki, siap menerjang maupun menahan serangan "Kedua, apakah kau tidak menyadari, tak seorangpun dari kita sadar dengan kehadirannya?"


Si kakek tua, terkejut dan tertawa keras sembari menepuk tangan "Benar-benar seorang wakil ketua Fox 1, aku jadi penasaran jika wakilnya seperti ini, bagaimana dengan ketuanya? Mungkin jauh lebih hebat lagi" ia melepas pakaiannya, menunjukkan tubuh penuh otot besar tak terpengaruh oleh usia tuanya, bahkan ia terlihat jauh lebih tinggi sekarang"Agar tak membuang waktu lebih banyak, bagaimana kalau kita mulai sekarang?"


Dalam sekejap si kakek tua sudah berada di hadapan Alzent, melayangkan sebuah tinjuan keras yang berhasil ditahan oleh kedua tangan pemuda tersebut, tapi masih membuatnya terlempar ke belakang, menghantam reruntuhan bangunan.


Belum sempat Lucan serta Veron bereaksi, si kakek tua menjegal masing-masing kaki mereka, kemudian memukul kedua pemuda itu dengan telapak tangannya yang terasa seperti laju kencang sebuah truk delapan roda dan mendarat di sisi kiri-kanan Alzent.


"Begitu sajakah kemampuan kalian? Ayolah, Fox 1 tentu tidak semudah ini dikalahkan" pancing kakek tua dengan senyuman lebar di wajah seakan menikmatinya.


"Sial, mungkinkah dia Vampire? Tapi aku mencium bau darah manusia darinya" keluh Lucan, membersihkan debu dari seragam sekolah.


"Vampire atau manusia, kita tetap tidak bisa meremehkan kekuatannya, namun ada satu kekurangan yang ia miliki, yaitu jumlah. Jika kita bekerja sama, aku yakin kita bisa mengalahkannya" sahut Alzent mantap.


Veron dan Lucan tersenyum penuh semangat mendengar kata tersebut kembali keluar dari mantan wakil mereka. Masing-masing memasang kuda-kuda, menunggu momen tepat untuk menyerang.


"Hei Fox 1! Jangan bilang kalian berenca-


Belum sempat menyelesaikan omongannya, Lucan muncul di samping kakek tua, menendangnya beberapa kali memaksa kakek tua dalam posisi bertahan sementara Veron muncul dari belakang, menjegal kaki si kakek sehingga kehilangan keseimbangan kemudian Alzent melompat tinggi, menendang perut kakek tua menggunakan tumit hingga terbenam dalam tanah.


Tidak sampai 3 detik, si kakek melompat dari dalam lubang bekas tubuhnya, muncul di belakang Veron, menahan tinjuan dari pemuda tersebut, memutar lengannya ke belakang, lalu menahan tendangan Lucan yang hampir mengenai wajahnya, membanting Lucan ke tanah dan begitu Alzent datang menerjang, kakek tua menggunakan tubuh kedua pemuda tersebut sebagai senjata, menghantamkannya bersamaan dengan Alzent di tengah-tengah, memakai serangan beruntun tangan-kaki membuat ketiga pemuda itu terlempar cukup jauh di tempat yang berbeda.


"Kerja sama kalian cukup baik sebagai prajurit biasa, namun sebagai pasukan elite? Kalian masih sangat jauh dari gelar tersebut" si kakek tua kembali mengenakan bajunya "Namun karena kalian sudah berhasil membuatku sedikit serius, aku tetap akan menceritakan dongeng anak-anak itu"


Lucan mencibir "Cih, masih saja menyindirku"


"Sudahlah, masih baik dia mau menceritakannya" kata Alzent.


"Sepertinya kalian lebih membutuhkan pertolongan sekarang" kakek tua mengangkat Veron di tangan kiri serta Lucan di tangan kanan seperti menggotong karung beras.


"Turunkan aku! Aku masih bisa berjalan sendiri" teriak Lucan.


"Setidaknya aku tidak perlu bergerak terlalu banyak kalau begini" tatapan sinis Veron menghilang dan ia mulai menguap. Tatapannya berubah sayu.


Kakek tua tertawa melihat sikap mereka berdua yang begitu berbeda, lalu menoleh pada Alzent "Naiklah di punggungku, kita akan sampai lebih cepat dan masih ada waktu untuk menceritakan dongeng panjang itu" katanya, menunjuk punggung dengan anggukan.


Alzent menghela napas, melangkah pelan lalu memanjat dan duduk di punggung kakek tua "Kita sudah bisa pergi sekarang bukan?" tanyanya bingung melihat di kakek masih saja diam.


"Kau bisa jatuh jika tidak memegang leherku" jawabnya, tersenyum jahil.


Dengan terpaksa, Alzent mengalungkan lengannya di sekitar leher kakek tua "Sudah bisa kan?" tanyanya kesal.


Tanpa menjawab dan hanya dalam selangkah, kakek tua sudah berada jauh dari tempat mereka sebelumnya, terus berlari dalam kecepatan yang bahkan mengalahkan para Vampire serta lompatan yang membuat jantung serasa ingin meledak.


Dalam perjalanan si kakek tua terus tertawa mendengar jeritan minta tolong Lucan, Veron yang akan muntah serta Alzent yang tadinya menjaga jarak kini mengalungkan lengannya begitu erat seperti sebuah tas berwujud manusia.


Hanya dalam sepuluh menit, mereka telah sampai di sebuah desa yang cukup besar yang jaraknya 5km lebih.


"Bagaimana? Sangat cepat bukan?" si kakek memuji dirinya sendiri sembari tertawa keras, namun begitu melihat tiga pemuda yang tidak bersuara, pucat seakan jiwanya telah hilang, ia menjadi panik namun orang-orang desa di sekitar justru tertawa sebab sudah sering terjadi setiap kali si kakek tua membawa seseorang pergi atau pulang, keadaan mereka pasti seperti mayat hidup.


"Gerald, kau terlalu keras pada mereka, lihat wajah tampan mereka yang tidak teraliri darah lagi" tegur seorang wanita berumur yang masih terlihat kecantikannya, mengenakan pakaian desa biasa namun memancarkan aura kepemimpinan yang kuat.


"Hehe, tolong rawat mereka Lou, aku ingin mengambil 'The Vacuous Orb' untuk menceritakan semuanya pada mereka"


Wanita berumur bernama Lou itu tercengang, menatap ketiga pemuda yang di dudukkan di depan pintu rumah dan Gerald berulang kali, sebelum akhirnya sadar "Maksudmu, mereka adalah-


" Shhhhhh" Gerald menutup mulutnya dengan jari telunjuk, takut warga lain mendengar ini dan menjadi panik "Jangan mengatakannya dulu, aku masih belum tahu apakah mereka bertiga adalah 'itu', namun 'Milestone' terus bercahaya terang ketika mereka bertiga mendekat. Aku menyimpan Milestone di dalam kantung celana agar mereka tidak menyadari sinarnya, aku tidak ingin mereka melakukan sesuatu yang bodoh hanya karena pernah menyelamatkan dunia sekali"


"Bukankah kita harus percaya pada mereka?" tanya Lou.


"Lou, anak muda seperti mereka terkadang termakan oleh egonya dan itulah yang akan membuat mereka terbunuh terlebih lawan mereka kali ini bukanlah manusia, jika tidak berhati-hati, tidak butuh waktu lama bagi mereka kehilangan nyawa" jelas Gerald "Sebaiknya kau segera membawa mereka ke dalam atau kau lebih memilih membiarkan mereka duduk seperti orang bodoh diluar?" goda Gerald, mendapatkan pukulan kuat dari Lou di dada.


"Sudah pergi sana sebelum aku mematahkan tulangmu yang lain" sahut Lou, lalu mengangkat ketiga pemuda bergantian ke dalam rumah.


Gerald berjalan menuju gudang sambil menggosok dadanya "Pukulanmu masih saja berbahaya seperti dulu Lou" terdengar bunyi keras membuat Gerald mengernyit kesakitan sejenak sebelum akhirnya tulang rusuk dia tersambung kembali.