Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Zeon



Ketika mereka berkumpul di lapangan tempat berlatih para pasukan yang sekarang dijadikan sebagai markas sementara gabungan dari tiap bangsa, baru saja akan menjelaskan permainan pada yang lainnya, Zeon muncul di hadapan Alzent.


"Maaf mengganggu waktu kalian" ucapnya.


"Apa yang ingin kau lakukan disini?" tanya Alzent, sementara yang lain bersiap jika Zeon menyerang.


"Aku harus bicara padamu" jawabnya dingin. Ia kemudian memegang kerah Alzent, membawanya melesat cepat keluar dari istana, bahkan Lightnar tak dapat mengejar. Ia dibawa ke sebuah bukit yang tak jauh dari sana "Ada hal penting"


Alzent memunculkan pedang putihnya "Apa harus membawaku dengan cara seperti itu?" tanyanya marah.


"Apakah kau mau mereka mencurigaimu? Salah satu dari mereka sudah mencurigai dirimu semenjak peperangan dimulai, jangan sampai kepercayaan mereka semua hilang" jawab Zeon tanpa perasaan bersalah, lalu menunjuk gunung tempat bangsa Orc lewat "Lihat disana"


"Memangnya ada apa-" Alzent seketika terdiam. Ia melihat belahan langit kembali terjadi, namun bukan pasukan Arkbyss yang keluar dari dalamnya, melainkan seseorang, seorang gadis berambut putih panjang berkilauan. Ia juga berbalik menatap pada Alzent yang berada jauh, namun seakan menyadari kehadirannya.


"Kau mengenalnya bukan?" tanya Zeon, lalu melanjutkan penjelasannya sesudah melihat jawaban tersebut dengan jelas di raut wajah Alzent "Sekarang aku tanya pada dirimu, apakah kau masih ingin mengemban tugas sebagai penyelamat dunia atau ikut bersama dengan kami?"


Mata Alzent terbelalak "Apa maksudmu.. kami?"


Zeon menghela napas "Apakah kau masih belum mengerti? Beberapa orang telah menyebut dirimu sebagai pangeran, tiap orang itu kebanyakan berasal dari Arkbyss serta orang-orang yang memiliki kekuatan kegelapan. Apa kau masih belum mengerti dirimu itu siapa?" Zeon menggeleng sekali "Kau adalah pangeran dari bangsa Arkbyss, Sang pembawa kehancuran, anak dari raja Arzlas"


"Itu tidak mungkin" bantahnya.


"Apanya yang tidak mungkin? Kau mampu mengendalikan jiwa gelap yang berada dalam dirimu, mampu menahan sihir kegelapan milik Ezra yang kuakui cukup kuat. Butuh bukti apalagi? Kau adalah pangeran bangsa Arkbyss dan sudah seharusnya kau berpihak pada bangsamu sendiri, bahkan Yuna berasal dari sana"


Perkataan Zeon itu, sungguh membuat pukulan telak pada hati Alzent. Ia tidak mengerti, bagaimana seseorang yang rela mengorbankan diri, berasal dari bangsa yang ingin menutup seluruh dunia dengan kegelapan? "Aku yakin Yuna tidak berasal dari sana, dia terlalu baik untuk berasal dari dunia busuk itu"


Zeon menaikkan satu alisnya, tertawa kecil "Benarkah? Mengapa kau bisa menyimpulkan bahwa dirinya mengorbankan diri, bukannya seseorang yang membuat retakan dimensi di bumi?"


"Lalu jika dia mati? Dia tak ada gunanya begitu?" Zeon menyeringai dengan satu sisi lebih tinggi dari sisi lainnya "Alzent, tak ada yang tak berguna di dunia ini, di dunia manapun. Para manusia saja, jika mati jasad mereka dapat menjadi makanan hewan. Lalu seorang Key? Tentu saja jauh lebih berguna dibanding itu" ia menarik napas panjang, siap menjelaskan sesuatu "Kalau Key mati terbunuh atau membunuh dirinya sendiri, maka akan memicu terjadinya retakan dimensi, kecuali waktulah yang memang sudah mengharuskan dia untuk mati.


Dan permintaan Yuna padamu, kau sudah pasti bisa menebaknya. Kemudian, dia kini keluar dari dalam portal dunia kita, bukti apalagi yang kau butuhkan? Terimalah kenyataan Alzent, kau adalah pangeran dari bangsa Arkbyss, tugasmu untuk menutupi setiap dunia dengan kegelapan pekat, juga membawa kehancuran pada mereka"


Alzent menggeleng kuat "Tidak! Aku tidak akan menerimanya! Aku tidak peduli jika aku adalah pangeran kalian, Sang pembawa kehancuran atau apapun itu! Aku tetap akan melindungi tiap dunia dan menciptakan perdamaian bagi tiap dunia yang ada"


Zeon mendengus geli "Terserah dirimu" tiba-tiba ia lengannya sudah menusuk masuk jantung Alzent, lalu meremasnya dengan kuat hingga pecah "Asal dirimu tahu, Alzent, hanya karena dirimu seorang pangeran, bukan berarti aku tidak bisa membunuhmu, saudaraku"


"Aaaaaaaa!!!"


Alzent kembali terbangun di atas kasur rumah sakit, dimana tiap temannya masih berada di dalam, termasuk Luna dan gadis lainnya. Mereka semua bingung serta kaget mendengar jeritan yang seolah penuh penderitaan dan kehampaan itu. Luna langsung menarik Alzent dalam pelukannya, sementara Lightnar menanyakan apa ada yang salah.


Ya, memang ada yang salah. Asal muasal dirinya serta apakah tadi itu hanyalah mimpi atau benar-benar terjadi. Jika itu mimpi atau sebuah dunia ilusi, rasanya benar-benar nyata.. dan rasa sakit itu, sangatlah menyiksa, seolah jiwa dipaksa keluar dari dalam tubuh sementara diri kita masih berteriak untuk terus hidup.


"Tak perlu bingung Alzent, belum saatnya untuk mengambil nyawamu, meskipun kau sendiri tak memiliki nyawa" ucap Zeon dalam kepala Alzent, kemudian tertawa keras dan perlahan menghilang.


Luna dapat merasakan jantung Alzent yang berdetak begitu kencang, ia memeluknya makin erat sambil menenangkannya seperti seorang anak kecil. Luna benar-benar tak ingin kehilangan orang ini, seseorang yang telah hidup dalam hati terdalamnya, seseorang yang sudah pasti akan membuat Luna mengorbankan diri hanya untuk dirinya.


Setetes air mata jatuh. Luna tahu hari itu akan datang tak lama lagi, ia cuma berharap dapat terus bersama Alzent dan setidaknya, sekali saja mendengarkan laki-laki itu mengatakan 'aku sayang padamu', lalu ia dapat menerima takdir kejam tersebut.


Zeon dari atas bukit di belakang istana, menatap lurus ke dalam jendela yang terbuka itu, melihat sosok Alzent yang berada dalam pelukan Luna, bersama seorang gadis berambut putih yang menatap tajam gadis cantik itu "Saudaraku, sekuat apapun dirimu berusaha, kau tak dapat mengubah takdir yang telah ditentukan. Aku harap kita tak harus bermusuhan" ucapnya, kemudian masuk dalam portal Arkbyss bersama gadis tersebut, sesudah melemparkan sebuah jarum tipis berwarna hitam yang menusuk masuk punggung Alzent, kemudian menghilang.


"Kau baik-baik saja?" tanya Luna ketika Alzent sudah tenang.


Alzent mengangguk pelan. Ia dapat merasakan sesuatu menusuk punggungnya tadi, namun memilih untuk menghiraukan itu dan berbicara pada Lightnar mengenai permainan basket yang sebelumnya sempat tertunda, jika itu memang benar terjadi.