Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Dark Path #1



Alzent dan Luna yang mengikuti Zeon menuju sebuah kerajaan besar dengan dinding tercipta dari bebatuan abu-abu bersemu hitam mengilap. Kerajaan tersebut terletak di tengah-tengah dua gunung berapi besar dengan hutan lebat memenuhi lereng gunung. Dapat terdengar suara hewan-hewan gaib, meraung keras menandakan wilayah kekuasaan masing-masing. Di sekitar kerajaan banyak terdapat kota-kota berukuran lebih kecil, namun termasuk besar jika dibandingkan dengan kota yang berada di bumi, dengan sedikit sentuhan struktur modern yang mengejutkan Alzent, sebab seharusnya tak seorang pun bisa masuk ke dalam bumi jika tanpa seorang Key. Tetapi, pemikirannya itu langsung ditepis mengingat bangsa Arkbyss telah berhasil masuk ke bumi.


Alzent juga masih ragu menyetujui Zeon dan ikut bersama laki-laki itu ke sini, namun saat Zeon menyebut soal masa lalunya yang menghilang, Alzent setuju sebab siapa tahu masa lalunya dapat membantu ia menyelesaikan semua ini tanpa harus melalui sebuah peperangan besar.


Hanya saja, Zeon seketika menghilang saat mereka baru sampai di perbatasan luar sebuah kota besar yang menurut penjelasan Zeon terkenal dengan orang-orang yang haus akan darah, membunuh sebagai hobi. Alzent dan Luna terjebak di sebuah gang sempit, tempat mereka bersembunyi untuk sementara dari para pengejar yang terus menyahut-nyahut, meminta mereka keluar sambil tertawa keras. Bukannya Alzent tak bisa melawan, namun menurut Zeon, jika ia menggunakan kekuatan gelapnya disini, maka raja Arslaz akan langsung menyadarinya dan memerintah pasukan berskala besar untuk segera menangkap Alzent. Oleh karena itu, Alzent cuma bisa berlari sambil terus melindungi Luna dengan apapun yang bisa ia temukan di dekatnya, sebagai sebuah senjata.


Mereka berdua terimpit di dalam gang sempit tersebut, gang yang tak memiliki jalan keluar di sisi lain, sebuah keputusan buruk untuk bersembunyi disana, tapi apalagi pilihan yang mereka punya, menghadapi lebih dari sepuluh orang yang kekuatannya mendekati pasukan Arkbyss. Jangankan melawan mereka, memberi luka segores saja Alzent tak mampu, kecuali ia berhasil membangkitkan kekuatan Hellheim yang kini tertidur sesudah bangkit untuk beberapa menit.


"Apa yang harus kita lakukan? Mereka terlalu banyak" tanya Luna panik, berusaha untuk tidak menatap wajah Alzent yang hanya berjarak lima senti dari wajahnya. Ia dapat merasakan napas hangat Alzent yang berbau seperti sebuah mint itu, membuat Luna tak tahu harus bersikap seperti apa.


Alzent menjulurkan kepalanya sedikit ke luar, memperhatikan para pengejar yang tampak sudah semakin menjauh "Untuk sekarang, kita hanya bisa mencari tempat aman dan menurutku, kita harus berhasil kabur dari kota ini terlebih dahulu untuk menemukannya. Aku tidak yakin ada tempat aman bagi kita di kota yang dipenuhi para orang gila membunuh ini" jelas Alzent, menggenggam tangan Luna, memerhatikan sekitar sekali lagi, lalu beranjak keluar.


Selagi mengendap-endap di antara kotak-kotak yang entah menyimpan barang apa di dalamnya, Alzent lumayan kagum melihat kota yang tampak seperti dari era 18-an, dimana mesin uap masih banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ia tak menyangka, bangsa Arkbyss termasuk bangsa yang cukup cepat berevolusi hanya dengan mendatangi bumi, meskipun mereka masih jauh dari kata dunia modern. Namun, benar-benar membuat Alzent merasa seperti kembali di dunia lamanya itu.


Luna menarik Alzent kembali ke dalam gang sempit yang berada di samping. Sedikit lagi, bibir Alzent akan menyentuh bibir Luna, namun dengan cepat ia menahan kedua lengannya di kiri-kanan kepala gadis tersebut dan mendengar suara langkah beberapa orang. Orang-orang ini terdengar lebih teratur serta profesional. Alzent mengumpat pelan, sudah cukup hanya orang gila membunuh, menyudutkan mereka sampai seperti ini, tidak perlu ada tambahan dari seseorang yang profesional, bahkan lebih dari satu.


"Mereka makin dekat" ucap Luna, melihat salah satu dari mereka dengan topeng yang tampak memiliki bekas cakaran besar di bagian wajah kiri, berjalan pelan sembari memerhatikan gang sempit serta gelap. Salah satu keuntungan berada di dalam dunia Arkbyss, yaitu semua tempat sempit atau kecil, pastinya takkan mendapatkan cahaya matahari, sebab awan kelabu setiap detiknya menutup cahaya tersebut dan mengganti mereka menjadi sinar berwarna hitam pekat. Sesuatu yang aneh jika dilihat untuk pertama kali.


Mau tidak mau, Alzent berlari keluar, menendang orang tersebut dan merebut crossbow miliknya, lalu meminta Luna untuk berlari duluan selagi ia menembakkan panah yang tercipta dari energi hitam di dalam sebuah tabung besi bersisi kaca, di bawah crossbow. Alzent menggunakan kemampuan menembaknya yang selalu mengenai target dengan tepat, melukai kaki kanan masing-masing orang itu, sebab menilai dari kekuatan yang ada pada panah energi ini, lalu daya pertahanan topeng mereka, Alzent dapat menilai topeng-topeng tersebut hanya sedikit lebih lemah dari zirah milik para Holy Knight dan kekuatan panah ini sebanding dengan panah sihir para Elven yang tak mampu menembusnya.


Alzent langsung berlari menyusul Luna, menoleh ke belakang sekali, melihat enam orang itu menyuntikkan sesuatu ke bekas luka mereka dan seketika mereka sudah mampu berdiri tegap, mengejar Alzent dengan tatapan tajam yang dapat dilihat dari topeng berbentuk tengkorak itu.


Baru saja melihat jalan keluar, tiba-tiba orang-orang yang gila membunuh muncul, menutup jalan mereka sambil tersenyum lebar, menjulurkan lidah dan menjilat bibir, seakan Alzent serta Luna adalah mangsa yang siap untuk diterkam. Keenam orang tadi juga sudah menghentikan langkah mereka, mengarahkan crossbow bukan pada kedua orang di depan, namun pada kumpulan orang-orang hobi membunuh.


Alzent memerhatikan situasi, mungkin saja ini bisa menjadi kunci bagi mereka untuk kabur, selagi mereka berperang satu sama lain. Cuma, ia tak yakin Luna dapat kabur tanpa luka. Ia sudah menyaksikan sendiri secepat dan setepat apa para orang gila membunuh itu, menembakkan crossbow berdaya ledak tinggi mereka dan kemungkinan besar ia harus ikut bertarung sembari membuka jalan.


"Mereka milik kami, apa yang pembunuh profesional dari persatuan 'Dark Souls' seperti kalian inginkan dari mereka?" tanya seseorang dari kelompok orang-orang hobi membunuh.


"Kalian tak berhak mengetahuinya. Serahkan mereka pada kami atau kalian akan menjadi makanan bagi Howlfang milik kami dan tentunya kalian tak ingin itu terjadi, bukan?" ancam laki-laki yang mengenakan topeng tengkorak dengan bekas cakaran, yang tampaknya adalah pemimpin grup enam orang tersebut.