
Tubuh-tubuh tak bernyawa bergelintangan, bersimbah darah, arti dari sebuah kekalahan. Di antara puing-puing bangunan, hujan panah dengan ledakan di sana-sini, terdapat seorang anak kecil penuh akan air mata, meratapi kedua orang tuanya yang telah tak bernyawa. Ia menangis tersedu-sedu, meraih tangan ibu dan menggenggamnya. Bocah itu terus memanggil "Ibu! Ibu! Ibu!" namun ia tahu, dia telah tiada. Rasa dingin dari tangan tersebut, mengirim rasa takut yang membuat sekujur tubuhnya merinding. Ia bangkit berdiri, memerhatikan sekitar, tak percaya melihat tempat tinggalnya telah berubah menjadi neraka. Tanpa ia sadari, sebuah panah melesat cepat akan mengenai punggung, tetapi seorang ksatria menangkap panah tersebut tepat sebelum menusuk tubuhnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya ksatria itu.
Si bocah kecil hanya mengangguk pelan, lalu naik ke atas punggung dan dibawa pergi menjauh dari medan pertempuran. Begitu sampai di tempat aman, dimana tiap warga kerajaan yang tak ingin ikut dalam perang, bersembunyi. Sepasang mata polos tampak berbinar-binar menatap ksatria berzirah aneh, mengucapkan terima kasih dan menyaksikan Sang ksatria kembali ke medan perang untuk menghadapi seseorang. Semenjak itu, dalam hatinya telah terukir sebuah impian bahwa ia ingin menjadi sosok seperti laki-laki tadi. Ksatria yang tak ragu untuk menyelamatkan orang lain serta terlihat begitu tampan dan tangguh.
Yuna tersenyum memperhatikan sosok Alzent yang baru saja menyelamatkan seorang bocah kecil di tengah-tengah pertarungan berbahayanya. Itulah yang membuat Yuna mencintai laki-laki tersebut, keteguhan hati serta kelemah-lembutannya.
"Jadi kau sengaja membuat pengalihan hanya untuk menyelamatkan seorang bocah?" tanya Zeon tak percaya "Aku jadi bertanya-tanya, kau itu sebenarnya memang baik atau bodoh?"
"Kau bisa bilang keduanya. Aku bodoh ketika sudah menetapkan hati untuk menyelamatkan orang lain, namun aku sudah baik padamu, tidak menggunakan kekuatanku sepenuhnya"
Zeon berdecak kesal, memanggil lebih banyak petir untuk menghujani Alzent yang ia hindari dengan gesit dan cepat.
Langit kini terpisah menjadi dua, berwarna kemerahan dan berwarna biru. Satu sisi milik Alzent dan satunya milik Zeus yang dimana ada dalam tubuh Zeon saat ini. Petir-petir terus menyambar tanah, tampak ikut saling bertarung bersama kedua pemilik kekuatan terbesar. Muncul begitu banyak retakan tanah akibat getaran-getaran kuat dari tiap serangan yang dilepaskan serta kawah-kawah besar dari sihir ledakan milik kedua pasukan. Pasukan di pihak Alzent dan pasukan Arkbyss.
Sudah tak tampak lagi sinar mentari, terhalangi oleh awan badai sejauh mata memandang. Pulau-pulau apung di atas kerajaan masih diam tak melakukan apa-apa, membuat semua orang di pihak Alzent bertanya-tanya, pulau apakah sebenarnya itu, mengapa berada di atas kerajaan Arkbyss dan kenapa sebuah aura menyeramkan dapat terasa keluar dari dalamnya. Tak seorangpun dapat melihat bagian dalam pulau tersebut, karena terhalang oleh awan badai di sekitar pulau, namun mereka semua dapat mendengar raungan keras mahluk besar, terdengar begitu emosi dan penuh akan amarah.
Zeon yang semakin lama semakin terpojok, akhirnya memanggil kembali kapten Leo dan raja Arslaz untuk membantunya. Dengan cepat kedua orang itu muncul di samping, menghempaskan beberapa pasukan yang mengarah ke mereka menggunakan gelombang energi. Lestra pun berhasi melepaskan diri dari Lucan, bergabung bersama mereka. Tapi, dapat dilihat ia tak mampu bertarung untuk lebih lama lagi. Wajahnya sudah memucat dengan napas terputus-putus serta darah mengucur deras.
"Apa yang akan kita lakukan Alzent?" tanya Lucan.
"Aku bukanlah Alzent yang kalian kenal, panggil saja aku Alter dan tak ada waktu untuk terkejut sekarang. Tenang saja, Alzent sedang melihat kita semua dari ruang bawah sadar" ucap Alter cepat "Melihat Lestra yang tak lama lagi kehilangan nyawa, kalian akan fokus pada dirinya, sementara aku, Gerald, Veron dan Lucan akan berusaha menghadapi ketiga orang itu. Tak perlu menggunakan kekuatan besar, cukup mengulur waktu hingga Lestra mati kehabisan waktu, lalu kalian akan bergabung bersama kami, menyerang mereka dari belakang menggunakan sihir jarak jauh terbesar yang kalian miliki, kemudian kami melancarkan serangan secara bersamaan"
"Apakah aku ada mengatakan bahwa ini tak akan berhasil?" Alter berbalik menatap mereka yang langsung ciut ketika melihat tatapan tajam mengerikan itu, sesuatu yang tak pernah dimiliki oleh Alzent, bahkan Gerald sampai menelan ludah "Kalian ingin membantu bukan? Jika kalian ingin membantu, berusahalah sekuatnya dan berhenti menanyakan hal tidak penting. Masih ada waktu untuk mundur, bagi kalian yang tak berani, silahkan pergi" Alter menunggu, namun tak seorangpun beranjak dari tempat "Itu yang ingin kulihat, sekarang, kerahkan seluruh tenaga kalian!"
Sebuah petir besar menyambar Zeon, petir yang mampu membuat tanah bergetar hebat dengan aliran listrik menjalar sejauh seratus meter, menyetrum siapapun hingga mati, bagi yang tak kuat untuk menahannya, sementara membuat tubuh terasa sedikit lemas bagi yang mampu bertahan. dengan kepala terasa sedikit pusing. Begitu petir tersebut menghilang, tubuh Zeon telah sepenuhnya berubah menjadi sosok seorang Immortal, dimana terdapat garis-garis neon kebiruan tampak menyala di sekujur tubuhnya. Sepasang mata itu telah berubah menjadi cahaya biru dengan percikan-percikan listrik.
Tubuh milik kapten Leo dan raja Arslaz juga ikut berubah seperti sosok seorang Immortal. Muncul garis-garis neon bercahaya di sekujur tubuh mereka, putih untuk kapten Leo dan abu-abu untuk raja Arslaz. Mereka berdua dapat merasakan kekuatan besar mengalir dalam tubuh, kekuatan yang terasa sedikit menggelitik kulit dan saat mereka menghempaskannya keluar, dapat terlihat gelombang energi petir, menyetrum tiap pasukan di sekitar, tak peduli mereka pasukan musuh maupun pasukan Arkbyss.
"Akhirnya kau menunjukkan dirimu yang asli, Zeus" kata Alter.
Zeus tersenyum, membalas "Dan ingatlah, ketika aku sudah menggunakan wujudku yang sebenarnya, kehancuran besar akan terjadi"
Tak hanya sampai disitu, Zeus menembakkan sebuah petir dari telapak tangan ke udara, membentuk sebuah portal besar dimana begitu banyak pasukan Immortal bermunculan, berbaris rapi dengan aura keagungan memancar dari dalam tubuh mereka. Pasukan berzirah emas itu, melangkah menuju tempat Zeus berada, membawa melodi kehancuran yang sebentar lagi terjadi dengan tiap hentakan kaki serta nyanyian dalam bahasa asing, lebih terdengar seperti lagu pemujaan, membuat sekujur tubuh merinding saat mendengarnya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Luna panik.
Alter tersenyum, kedua matanya mengeluarkan cahaya merah. Langit ikut bergemuruh keras, secara perlahan, sebuah spiral terbentuk di antara awan-awan badai, membukakan jalan bagi sinar mentari untuk menyinari Alter yang perlahan melayang ke atas. Langit di sisinya tampak makin memerah dan dapat terdengar seruan perang di kejauhan. Kabut kemerahan mulai terbentuk di atas permukaan tanah, kabut yang disertai bara-bara api. Sebuah lambang asing terbentuk di bawahnya, lambang yang tercipta dari lampu neon kemerahan. Tak lama, seruan-seruan perang tersebut dapat terdengar jelas, suara dari hentakan-hentakan kaki dan senjata yang sengaja digesek satu sama lain, membawa rasa takut di hati tiap orang.
Saat kabut perlahan menghilang, dapat terlihat warna dari lampu-lampu neon kemerahan pada zirah robotik mereka. Mata Zeus terbelalak menyaksikan terdapat lebih dari jutaan pasukan Hellraiser di sisi Alter, sebuah jumlah besar dibanding pasukan miliknya yang hanya berjumlah puluhan ribu, sementara masing-masiing pasukan Hellraiser itu sama kuatnya seperti pasukan elite miliknya.
Tak hanya Zeus yang terkejut akan banyaknya pasukan Hellraiser Alter, tiap orang dalam pasukan kedua belah pihak pasukan ikut terkejut menyaksikan pasukan yang jumlahnya sulit dipercaya, terlebih masing-masing dari mereka terlihat tak jauh lebih lemah dari seorang Immortal kelas atas. Dengan pasukan sebanyak itu, tentu saja mudah untuk menghancurkan tiap dunia yang ada, bahkan dapat menaklukkan daratan para Immortal.
"Ada apa? Kau kaget melihat betapa banyaknya pasukanku?" Alter tertawa kecil "Ini bukanlah apa-apa dibanding seluruh bangsa Hellraiser yang secara misterius menghilang dari dunia. Lagipula, bisa dibilang mereka ini adalah ciptaanku sendiri yang menggunakan sebagian dari kekuatanku, namun karena ini tampak tidak adil" ia menjentikkan jari, menghilangkan pasukannya menjadi hanya sepuluh orang saja "Bagaimana kalau sepuluh pasukanku melawan puluhan ribu pasukan elitemu itu? Kita lihat siapa yang akan memenangkan perang kali ini" Alter dan sepuluh pasukannya maju menerjang dengan mata bercahaya merah terang dan menakutkan "Saatnya berpesta!"