Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Dark Path #16



Seluruh orang terdiam menyaksikan dua orang yang sedang bertarung, mengerahkan segalanya. Tanah ikut bergetar setiap kali mereka bertukar serangan, angin kencang tercipta dari tiap ayunan pedang dan rantai. Rintik-rintik hujan mulai turun perlahan, membasahi seluruh area kerajaan. Tak seorangpun bisa memalingkan muka dari pemandangan memukau tersebut, pemandangan yang seakan melambangkan perjuangan di sisi Yuna dengan langit dipenuhi sinar mentari, lalu sebuah akhir di sisi Zeon, berhias awan badai gelap dengan petir yang terus menyambar.


Tak lagi dapat terlihat kerajaan yang tersusun rapi dengan model bangunan era Victoria. Hanya terdapat kehancuran disana-sini. Puing-puing bangunan, api yang membara serta tubuh tak bernyawa. Bukanlah sebuah perang besar, tetapi sudah dapat menciptakan sesuatu yang sama parahnya seperti perang itu sendiri, itulah jadinya jika kekuatan besar jatuh digunakan dengan salah. Namun, apakah ada peraturan di dunia yang mengajarkan cara memakai kekuatan? Tidak ada. Cuma membutuhkan sebuah hati dan ketetapan diri yang kuat untuk dapat menahan nafsu berbahaya dari sebuah kekuatan. Dengarkanlah kata hatimu dan berjalanlah dengan jiwamu, hanya begitu caranya. Mudah dikatakan, sulit dilaksanakan. Sebab tak seorangpun memiliki hati yang benar-benar baik dan jiwa yang bersih. Namun, hal itu tak berlaku pada sosok Yuna sekarang. Tatapan matanya sendiri sudah memberitahu, ini adalah keinginan dari hatinya yang terdalam, perasaan tulus tanpa sebuah paksaan.


Baru kali ini Zeon merasa kesulitan menghadapi seseorang, selain Alzent tentunya. Tiap ayunan serta serangan sihir yang diberikan oleh gadis itu, penuh akan pengorbanan. Bukannya Zeon merasa kasihan atau bagaimana, ia hanya tak ingin melihat sosok gadis yang dulunya ceria, sosok gadis yang pernah mewarnai kehidupan tiap orang dalam akademi mesti berakhir seperti ini. Terkadang, Zeon bertanya pada dirinya sendiri, 'mengapa dunia ini terlalu kejam?' dan tanpa sadar, ia pun menjadi bagian dalam dunia tersebut. Kalah akan keputusasaan... dimenangkan oleh kebutaan.... tapi, apalagi yang bisa ia lakukan untuk bertahan hidup di dunia yang lemah binasa dan yang kuat berkuasa? Tak ada jalan lain selain menghancurkan tatanan dunia seperti itu, kemudian membangunnya kembali dari awal. Tanpa kekuatan, tanpa perbedaan dan tanpa peperangan.


Dua Scythe berhantaman dengan pedang milik Yuna, saling beradu kekuatan hingga masing-masing mulai gemetar. Zeon dan gadis itu saling bertatapan, berbicara melalui tatapan tersebut, sebab mereka telah hidup bersama sebagai seorang teman dan partner dalam misi. Mereka tak perlu menggunakan mulut untuk berkomunikasi dan Yuna yakin, Alzent juga memahami isi hatinya sekarang. Karena itu, Yuna sengaja membuat Zeon berpikir ia lengah, lalu menembakkan sebuah bola api hitam besar. Yuna menggunakannya sebagai pengalihan, melesat cepat ke bawah saat bola api itu meledak mengenai bayangan dirinya, kemudian mengayunkan pedang dengan kuat ke arah Zeon yang telat bereaksi, tersayat di bagian dada kanan hingga pinggang kiri, sebuah sayatan yang besar dan dalam. Zeon terhempas jatuh ke bawah, sementara Yuna mendarat, berjalan beberapa langkah lalu berhenti di jarak yang menurutnya aman dari jangkauan rantai.


Perlahan Zeon bangkit berdiri, ia menyunggingkan sebuah senyuman yang sudah lama tak terlihat di wajahnya. Senyuman tulus saat mereka masih sebagai murid akademi "Tampaknya, kau sudah benar-benar yakin ingin meninggalkan Alzent. Boleh aku tahu alasannya?" tanya Zeon, menyeka darah yang mengalir dari kedua sisi mulut.


"Sudah kukatakan padamu, mencintai bukan berarti memiliki. Melihat Alzent bersama Luna, membuatku sadar dia telah memiliki seseorang yang berhasil melelehkan hati dinginnya itu" Yuna tersenyum membayangkan wajah Alzent saat mereka pertama kali bertemu di akademi "Aku jadi ingin kembali ke masa-masa itu, masa dimana semuanya tak seperti ini. Ketika mata kita masih tertutup akan kebenaran kejam dunia dan betapa kerasnya untuk bertahan hidup"


"Itu benar. Aku juga tak tahu sejak kapan diriku berubah seperti ini. Namun, aku sadar aku bukanlah orang yang sama seperti dulu" balas Zeon. Ia tampak kecewa untuk sesaat, lalu kembali menatap Yuna dan menoleh pada seorang laki-laki yang muncul di samping gadis tersebut "Akhirnya kita berkumpul lagi seperti dulu"


Yuna dengan cepat berbalik, menemukan Alzent sementara berdiri sambil melipat lengan. Matanya mulai berubah kembali seperti semula, tetapi wujud Hellraiser masih belum menghilang dari tubuh "Aku sudah mulai mengingat masa yang kalian sebut semenjak kami muncul di dunia ini. Aku tak menyangka diriku pernah berada di dunia yang melambangkan kegelapan dan kekejaman. Aku mengira, aku selama ini berasal dari sebuah dimensi dimana para Vampire hidup, namun tampaknya aku salah" Alzent menghela napas panjang "Aku adalah salah satu mahluk eksperimen kalian bukan?" perkataannya itu membuat mata Yuna terbelalak lebar.


Zeon kembali tersenyum seperti biasa, senyum khas dan menyebalkan miliknya "Tampaknya kau tak hanya menemukan ingatan masa akademi, namun ingatan ketika dirimu berada di laboratorium Arkbyss dan dijadikan sebagai kelinci percobaan. Aku salut padamu" ucapnya sambil menepuk tangan "Tak seorangpun bisa menahan diri ketika mengetahui mereka 'bekas' kelinci percobaan" katanya, sengaja menekan kata 'bekas', "Jadi? Apa kau menemukan sesuatu yang lain? Mungkin mengenai... bangsamu?"


"Tunggu sebentar!" sahut Yuna "Kau tak pernah menjelaskan ini padaku. Apa maksudmu Alzent adalah kelinci percobaan?"


"Sesuai namanya, Alzent adalah kelinci percobaan bagi bangsa Arkbyss yang saat itu sedang mencari cara untuk menciptakan mahluk dengan kekuatan tak terbatas. Lalu, ditemukanlah Alzent, terombang-ambing di pesisir pantai, dalam sebuah perahu kecil tanpa seorang pun bersamanya. Yang terakhir di bangsa Hellraiser. Ia ditemukan oleh salah satu profesor, kemudian dibawa ke dalam laboratorium untuk diteliti dan mulailah ia menjadi kelinci percobaan, diberi begitu banyak suntikan kekuatan dari tiap bangsa yang ada, namun yang paling dominan adalah bangsa Vampire entah mengapa, hingga kekuatan itu mulai menutupi kekuatan Hellraiser yang juga lemah di dalam diri Alzent.


Oleh karena itu, aku memiliki sebuah impian untuk menghancurkan dunia yang telah rusak ini, kemudian membuatnya ulang kembali tanpa adanya kekuatan, perbedaan dan peperangan. Itulah mengapa aku membantu Alzent untuk membuka segel agar ia dapat menggunakan kekuatannya, mengarahkan kalian untuk menjadi sosok yang siap menerima kenyataan dunia bahwa kita semua hanyalah sebuah alat bagi mereka yang berkuasa... Immortal"


"Apa maksudmu Immortal?" tanya Yuna.


"Para Gods dan Goddess di sebuah dunia lain, dunia yang hanya bisa kita datangi jika kita telah sekuat mereka. Dunia dimana, mereka melihat kehancuran yang terjadi pada dunia kita hanyalah sebuah permainan belaka bagi mereka, sebuah pertunjukkan untuk dinikmati!" jawab Zeon marah. Ia menghela napas, mencoba meredakan amarah "Semenjak aku mengetahui mereka, aku memulai riset dan mencari tahu apa saja kelemahan mahluk-mahluk itu, sayangnya aku tak menemukan apa-apa, seakan mereka adalah mahluk yang berbeda, mahluk dengan kekuatan tak terbatas tanpa sebuah kelemahan. Apakah ini berarti.. kita adalah mahluk dengan kasta berbeda, yang pantas untuk dijadikan sebuah tontonan, ketika kita sedang menderita? Tentu saja tidak! Dan hanya Alzent lah yang mampu membantuku untuk menyelesaikan semua ini"


"Aku takkan membantumu menghancurkan tiap dunia yang ada" tukas Alzent.


"Ohh, siapa yang bilang aku perlu bantuanmu, kau hanya perlu menjadi alatku" Zeon menjentikkan jari. Sebuah rantai muncul dari dalam punggung Alzent, rantai yang langsung terikat pada jantungnya dan siap meremukkan organ dalam itu jika Alzent melawan "Melihat kau yang telah mampu mengendalikan kekuatanmu, sepertinya dugaanku memang benar. Para profesor itu terlalu tak sabaran untuk segera menguasaimu sehingga mereka membuat sebuah kesalahan, dimana bangsa Hellraiser jika jiwanya merasa tertekan, maka mereka akan mengamuk tanpa henti hingga jiwanya tersebut tenang kembali. Lalu, kekuatan Vampire milikmu, bercampur kekuatan kegelapan milikku berhasil mengendalikan kekuatan besar Hellraiser dan kini kau tak bisa mengamuk sepuasnya, terlebih ketika kau merasa dilema harus menghancurkan tempat yang pernah menjadi masa lalumu ini. Tampaknya memang sudah waktunya aku menyelesaikan tahap pertama dari rencana besarku"


"Tidak secepat itu Zeon" Gerald, Veron, Lucan dan Reyla muncul dari belakang, berjalan ke samping Yuna lalu berhenti tepat di sebelahnya "Apa kau yakin ingin membuat para Immortal marah? Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau melakukan itu bukan?" tanya Gerald.


Zeon mengangguk pelan "Tentu saja. Itulah yang dinamakan sebagai Ragnarok. Masa ketika para Immortal turun ke dunia para Mortal dan membuat kehancuran. Apa kau takut aku tak memiliki cukup kekuatan untuk melawan mereka?" ia tertawa kecil, kemudian menarik Lucan mendekat menggunakan rantai dan mencekik lehernya "Aku juga memiliki dia, seorang Immortal yang memiliki kekuatan untuk menghapuskan jiwa para Immortal. Mereka tidak akan bisa beregenerasi kembali atau lahir kembali, jiwa mereka akan menghilang untuk selamanya. Dan itulah alasan aku memberikan sedikit kekuatan pada mereka bertiga... kekuatan yang terhubung dengan jiwa mereka. Ia menggunakan rantainya yang lain untuk menarik Veron "Agar aku bisa memanfaatkan mereka di waktu yang akan datang, sama seperti mereka yang memanfaatkan kekuatanku saat pertama kali melawan diriku di bumi"


"Apa yang akan kau lakukan pada mereka?!" tanya Gerald marah.


"Santai saja, mereka takkan terluka selama tak melawan perintah" jawab Zeon "Alzent, dari bangsa Hellraiser dengan kekuatan tak terbatas, lalu Lucan Sang pembunuh Immortal dan Veron, seseorang yang memiliki kekuatan Immortal, dimana ia dapat meniru kekuatan orang lain dan membuatnya menjadi berkali-kali lipat lebih kuat. Bayangkan jika aku dapat memanfaatkan mereka, tak ada Immortal yang berani memandang rendah para Mortal kembali"