Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
An Icy Journey #8



"Lightnar!"


Lucan memanaskan kedua lengannya, memecahkan es yang memerangkap, kemudian melesat cepat namun tiba-tiba, tubuhnya seakan ditarik oleh sesuatu. Ketika ia berbalik, ia menemukan raja Feraz menggunakan energi birunya untuk membentuk sebuah tangan raksasa, menggenggam kuat tubuh Lucan dan membantingnya ke tanah.


Ligthnar berusaha bertahan dari tiap serangan es yang diberikan oleh Sang pangeran. Seluruh bagian tubuhnya mulai mati rasa akibat hawa dingin menusuk perlahan membeku dalam tubuh. Ia mengalirkan jauh lebih banyak energi untuk mengkompres sihir es tersebut, namun tampaknya Lightnar tak dapat menahannya untuk waktu yang lama, sebab ia mulai merasa pusing, terlalu banyak menggunakan mana yang seharusnya ia simpan sedikit untuk bertahan dalam badai ini.


Mereka berdua bertarung menghadapi lawan dengan susah payah. Disini mereka sadar, selama dalam peperangan, mereka selalu dibantu oleh teman-teman, sehingga pertarungan terasa jauh lebih mudah ketimbang menghadapi pertarungan seorang diri. Tanpa disadari, karena selalu memenangkan perang, kesombongan mulai menguasai hati mereka, bahkan Lucan hampir menunjukkan dirinya yang asli pada Lightnar karena terlalu percaya diri dengan kekuatan yang bahkan bukan miliknya.


Badai semakin terasa dingin dan merusak. Tidak lagi menghasilkan bunga salju sebagai hujan, melainkan bebatuan es sebesar kepalan tangan. Langit benar-benar berubah, berputar ke tengah-tengah lembah para Frosgant. Petir mulai bermunculan disana, menyambar dengan suara menggelegar.


Lucan dan Lightnar tahu, sudah saatnya mengakhiri ini dengan cepat, mereka tak bisa menunda lagi, mereka akan mengeluarkan semua yang mereka punya untuk menghabisi dua orang tersebut. Lucan sengaja membiarkan raja Feraz menyayat dadanya, kemudian memberikan beberapa tinjuan kuat di dada raja tersebut hingga zirahnya pecah berkeping-keping, lalu mengumpulkan mana di seluruh tubuhnya, hingga membuat kedua matanya bersinar makin terang. Raja Feraz menyadari hal buruk akan terjadi, namun ketika ia mendekati laki-laki itu, tubuhnya langsung terpental oleh energi besar oranye-kemerahan besar yang mengelilingi tubuhnya.


Lightnar menghindari tiap serangan jarak jauh yang diberikan oleh Sang pangeran sembari berlari mendekat. Sang pangeran yang kelebihannya adalah pertarungan jarak jauh, akhirnya berhasil dipukul mundur oleh serangan Lightnar, membuat ia memuntahkan darah segar ke salju. Lightnar lalu mengumpulkan seluruh energi yang didapatkannya dari gelang pemberian Veron, menggunakan sihir gelap. Tak lama, seluruh tubuh Lightnar tertutupi oleh sisik hitam yang sama seperti Darkoth, kedua matanya berubah merah dan ia memancarkan kekuatan yang  jauh lebih kuat dari sebelumnya. Sang pangeran sampai harus melangkah mundur, untuk menghindari pancaran energi berwarna ungu yang dapat menyayat kulitnya.


Sang pangeran juga tak ingin kalah, ia memaksa seluruh kekuatan dalam cincin untuk masuk dalam tubuh, yang dimana merubah seluruh permukaan kulitnya menjadi es dengan dua mata bersinar biru terang. Hawa dingin merembes keluar dari dalam tubuhnya, setiap langkahnya mengubah apapun yang berada di belakang menjadi duri-duri es menjorok keluar seperti sebuah ombak menerpa batu karang.


Raja Feraz menggunakan kartu as miliknya, merapalkan sebuah mantra terlarang yang telah lama hilang dari daratan Frozenland. Sihir tersebut membuat kekuatannya meningkat berkali-kali lipat, namun jiwanya juga dikendalikan oleh kegelapan. Tak lama, sepasang tanduk biru bersemu hitam muncul di kepala, tatapannya tak lagi terlihat seperti seorang manusia, melainkan iblis. Setiap gigi miliknya berubah runcing dan sepasang sayap es muncul di punggung.


Saat Lucan selesai mengumpulkan energi, terjadi ledakan kuat menghancurkan puncak dari gunung di sekitarnya. Ia menggunakan darah yang terus mengalir dari dada, menciptakan ribuan pedang darah berwarna keemasan seukuran tubuh manusia. Lightnar berubah menjadi sosok manusia Darkoth. Bersisik gelap serta keras, kembali saat ia masihlah seekor mahluk kegelapan dalam kendali ratu Ezra.


Mereka saling bertatapan, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Ketika saling bertukar serangan, gelombang energi yang bertabrakan, menciptakan gelombang yang sangat kuat hingga menghancurkan apapun di sekitar. Pertarungan mereka sungguh menakutkan dan membuat siapapun yang menonton, berharap tak berada di dekat ataupun di daratan yang sama.


Esrene menyaksikan empat kekuatan hebat itu saling bertarung, ia tak pernah menyangka akan ada kekuatan sebesar ini dalam dunia Mortal. Jika mahluk Mortal sekuat ini, bagaimana dengan mahluk Immortal? Ia sulit membayangkan kekuatan macam apa yang dimiliki oleh mahluk tersebut, kalau mahluk Mortal masihlah di bawah derajat mereka.


Namun, gadis itu juga bertanya-tanya. Kedua orang tuanya pernah mengatakan kalau kekuatan para Immortal mampu mengguncang langit dan dunia, bukankah apa yang ia lihat dapat dikategorikan sebagai kekuatan para Immortal? Jika begitu, apakah Mortal masih di bawah derajat Immortal? Bagaimana kalau sebenarnya para Immortal adalah Mortal yang memiliki kekuatan besar sehingga menjadi sosok Immortal?


Kepala Esrene menjadi pening memikirkan hal tersebut. Ia tak bisa membayangkan, andai apa yang ada dalam pikirannya ini benar, maka setiap mahluk Mortal memiliki kesempatan untuk menginjakkan kaki di daratan para Immortal dan Immortal juga tak jauh berbeda dengan para Mortal. Mungkinkah, bagi para Mortal untuk menyerang para Immortal?


Tiba-tiba, muncul sosok bertopeng yang sama di Risenland. Ia berdiri di samping Esrene, tampak tak takut dengan kekuatan besar yang disaksikannya, bahkan ia sendiri memancarkan kekuatan yang jauh lebih besar lagi "Apa yang kau pikirkan itu.. tampaknya aku harus membawamu pergi. Jika kau dibiarkan terlalu lama di dunia Mortal ini, akan sangat berbahaya bagi kami para Immortal" ucapnya pelan, namun terasa begitu mengancam hingga Esrene tak mampu membalas, diam di tempat seperti patung dengan raut wajah penuh ketakutan.


Sosok tersebut tersenyum di balik topengnya, ia paling senang melihat wajah mahluk Mortal yang ketakutan dan akan meminta ampun padanya, sebuah hobi yang dimiliki oleh hampir semua Immortal "Hoho.. tak perlu takut gadis kecil. Aku akan menjagamu disana.. jangan khawatir. Selama dirimu memohon, aku akan menurutinya" ia mendekati Esrene, merangkul pundaknya, lalu membawanya pergi sambil mengucapkan "Kami akan menunggumu disana, Lucan, bersama sahabatmu itu" memperhatikan sosok berambut pirang yang sementara bertukar serangan dengan raja Feraz, lalu mendengus geli "Hmph! Menyedihkan!"


Mereka berempat terus bertarung keras tanpa menyadari Esrene yang telah menghilang. Perlahan, mulai terlihat pihak yang akan kalah. Lucan menggunakan tiap tetes darahnya yang terciprat mengenai tubuh raja Feraz, menggunakan darah tersebut membentuk duri-duri tipis dan tajam, menusuk masuk kulitnya, kemudian berubah kembali menjadi cairan, bercampur dengan darah dalam nadi raja Feraz dan meledakkannya di dalam, menghancurkan lengan kiri raja tersebut. Ia juga menjentikkan jari, menutup seluruh kekuatan yang diberikan oleh Frost Ring, tepat saat Lightnar akan meninju dada Sang pangeran. Pangeran tersebut kini terluka parah dengan tulang rusuk menusuk kedua paru-parunya, ia memuntahkan begitu banyak darah segar. Lucan sengaja membiarkan sedikit kekuatan Frost Ring berada dalam dirinya, agar tubuh pangeran itu tak langsung hancur menerima tinjuan Lightnar tadi.


"Kau sudah tak bisa melakukan apa-apa lagi, semenjak awal, akulah yang memegang kendali. Aku hanya ingin melihat sejauh mana bangsa Arkbyss memberikanmu kekuatan, ternyata hanya selemah ini. Apanya yang sihir terlarang, aku bahkan dapat menghancurkan tubuhmu sekarang juga" ancam Lucan.


Raja Feraz menatap laki-laki itu dengan tatapan penuh amarah. Ia sangat ingin menghancurkan, menginjak-injak, mempermalukan laki-laki tersebut hingga dirinya puas. Raja Feraz tersenyum terpaksa, ingin melihat apakah Lucan masih menggertak "Hah! Kau pikir aku akan termakan oleh gertakanmu? Hancurkan saja tubuhku kalau kau berani!"


"Oh?" Lucan menjentikkan jarinya sekali lagi, meledakkan lengan kanan raja Feraz "Masih butuh bukti?"


"Bagaimana bisa!? Kau bahkan terdesak saat melawan kami!" jerit Sang raja, kini tatapan dia dipenuhi rasa takut melihat sosok mengerikan di hadapannya.


"Sudah kubilang, aku sengaja. Aku ingin melihat sejauh mana kekuatan yang diberikan oleh bangsa Arkbyss pada kalian. Aku sengaja berpura-pura terdesak.. aktingku hebat'kan?" tanya Lucan, melipat lengan sambil tersenyum bangga "Tapi.." tatapannya berubah serius lagi "Asal kalian tahu, bangsa Arkbyss hanya memanfaatkan kalian. Mereka tahu kami akan ke dunia ini, sehingga mengadu domba kita. Aku pikir kalian jauh lebih pintar dibanding itu, sayang sekali ekspektasiku terlalu tinggi. Inilah buah yang akan kalian tuai dari hasil yang perlakuan yang kalian tabur. Kalian terlalu dibutakan oleh kekuatan besar, melupakan bangsa sendiri, hanya melihat dari satu sudut pandang, yaitu sudut pandang keserakahan.


Padahal aku ingin mengajak kalian bergabung" Lucan menghela napas kesal "Sudahlah, aku bukan tipe orang yang suka terlalu serius. Terlalu merusak moodku. Selamat tinggal" Lucan menjentikkan jarinya, meledakkan tubuh Sang raja dan pangeran hingga menjadi kepingan-kepingan kecil "Oh, aku lupa mengatakan, kekuatan yang kalian anggap sangat kuat itu, tak seberapa dengan kekuatanku. Hm! Lagipula kalian sudah mati, untuk apa aku mengatakannya"


Lucan melesat turun mendekati Lightnar sambil mengacak-acak rambutnya "Ahhhh! Aku benar-benar benci dunia ini. Benar-benar merusak mood!" lalu memanyunkan bibir ke depan dan langsung tersenyum "Oh! Berarti sudah bisa kembali ke Risenland! Yeayyy Reyla! Aku datang!!" sahutnya gembira.


"Lucan! Lucan!" panggil Lightnar ketika ia sudah mendarat dengan aman "Reyla dalam bahaya!"


Senyuman di wajah laki-laki itu langsung menghilang "Baru juga senang!" keluhnya.