Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
New Problem



Di sebuah pangkalan militer Internasional...


"Mengapa alarm itu masih saja berbunyi? Bukankah katamu itu hanyalah sebuah false alarm?" tanya Capt.


Anak buahnya yang mengetik dengan cepat di laptop yang terus-menerus berbunyi itu, mengatakan "Tampaknya ini bukanlah false alarm Capt, satelit menunjukkan adanya aktifitas di dalam kawah raksasa itu"


Capt terbelalak, mengecek layar laptop "Kita harus memberitahukan ini pada Commander" katanya cepat sembari berlari keluar ruangan "Tetap kabari aku jika terjadi sesuatu" perintahnya.


Anak buah tersebut mengangguk, kembali menatap layar laptop "Sebenarnya apa yang tersembunyi didalam kawah besar tersebut?"


Sebuah Thermograp, menunjukkan warna merah dalam kawah dengan ukuran 300km tersebut, kawah yang tercipta akibat fenomena alam yang terjadi 2 miliar tahun sebelumnya. Di kawah inilah peperangan antara umat manusia dan Vampire selesai, kawah yang menjadi bagian dari sejarah umat manusia dimana kematian seorang Vampire mengubah dunia.


Di dalam sekolah...


Alzent duduk di sebuah bangku di salah satu rooftop sekolah. Pandangannya mengarah pada langit biru berhias awan yang saling menumpuk seperti kapas halus.


Sebuah kenangan pahit terputar dalam kepalanya, kenangan yang sudah lama ingin ia lupakan. Sayangnya kenangan itu selalu kembali ke permukaan meskipun telah dikubut sangat dalam.


Ia masih dapat mengingat isak tangis gadis itu, sebuah air mata kebahagiaan karena dapat mengorbankan diri demi umat manusia serta vampire dan dibunuh oleh sosok yang dicintainya.


Alzent terus memasukkan belati perak itu jauh ke dalam jantungnya, air mata terus mengalir deras, namun dia masih dapat tersenyum, meminta Alzent untuk melupakan semuanya, melupakan dirinya.


Setiap kenangan yang telah mereka jalani bersama, melewati neraka hidup selama bertahun-tahun. Hanya karena suara... tawa... serta senyuman gadis itulah Alzent dapat mempertahankan dirinya agar tidak berubah menjadi sebuah mesin pembunuh tak berperasaan.


"Bagaimana caranya aku melupakan dirimu?" Air mata mulai mengalir di wajah tampannya "Jika kalimat terakhir yang kau ucapkan padaku adalah 'Aku Mencintaimu'... Bagaimana bisa aku melupakanmu? Aku bahkan belum membalasnya"


Alzent merapatkan kedua kakinya, membenamkan kepala dan berusaha mengeluarkan semua beban yang ditanggunggnya, namun tetap saja, itu tidak berhasil.


Bel sekolah telah berdering cukup lama sebelumnya, namun saat ini Alzent tidak ingin masuk ke dalam kelas, ia hanya ingin sendiri, mencoba menenangkan pikiran.


Tiba-tiba terdengar seorang murid melangkahkan kaki dari tangga. Alzent dengan cepat menghapus air mata, memasang headphone.


Seorang murid perempuan dengan tinggi 178cm, berambut pirang keemasan berhias mata sehijau zamrud. Ia tersenyum, senyuman yang mirip seperti gadis itu, namun tatapannya tajam sekaligus menggoda laki-laki. Terlebih ia memiliki tubuh seorang model dan dengan caranya melangkah, Alzent sempat tergoda hingga akhirnya menyadarkan diri.


Mengapa ada murid diluar kelas di jam pelajaran begini? Dia bolos? Pikirnya, padahal sendirinya juga bolos.


"Oh, aku tidak menyangka seorang murid baru bolos di jam keduanya belajar" katanya dengan tatapan merendahkan.


Alis Alzent terangkat satu, melihat tatapannya itu. Ia melepas headphone, membalas "Apa bedanya dengan dirimu yang juga bolos di jam pembelajaran?"


Gadis itu tertawa kecil, melangkah mendekat "Tentu saja berbeda, sebab aku" menundukkan tubuh agar kepalanya sejajar dan sangat dekat dengan Alzent "Bisa melakukan apa saja di sekolah ini"


Ia bangkit, melipat lengan "Mungkinkah kau belum tahu aku siapa?"


Cih, kenapa aku harus bertemu gadis sombong sepertinya? Moodku jadi makin hancur.


"Namaku Julian Vendetta, keluargaku adalah penyalur terbesar bagi sekolah ini sehingga aku bebas ingin melakukan apa saja" jelasnya dengan ego tinggi menyebalkan.


Alzent bangkit berdiri, melangkah menjauh menuruni tangga tanpa memedulikan sahutan gadis cantik itu. Sudah cukup kenangan menghancurkan mood, jangan sampai seorang manusia juga ikut menghancurkannya lagi.


"Ck, lihat saja Alzent Montaque, akan aku buat kau jatuh cinta padaku. Belum pernah ada laki-laki yang tidak jatuh hati padaku" katanya mantap, tersenyum percaya diri.


Tanpa sengaja, ia menemukan sebuah ruang musik saat berjalan menyusuri lorong. Pintunya tidak terkunci. Tatapan Alzent langsung jatuh pada sebuah piano di tengah ruangan. Dengan cepat ia duduk di bangku, meraba piano tersebut seperti seorang pelukis memberi sentuhan manis pada karya masterpiece.


Jarinya menekan salah satu not dan tanpa disadari, ia sudah memainkan sebuah melodi indah, melodi yang begitu dalam.. perpaduan antara rasa cinta dan kehilangan.


Yang tidak disadarinya adalah, salah satu mic disana masih terhubung dengan setiap speaker sekolah, sehingga saat ia bermain piano seisi sekolah dapat mendengarnya.. merasakan setiap emosi yang saat ini bergejolak.


Para guru terdiam mendengar permainannya, murid-murid menutup mata, membiarkan melodi indah itu masuk dalam jiwa, sehingga mereka dapat merasakan rasa sakit yang entah telah ditanggung oleh siapa, namun satu hal yang mereka tahu, siapapun sosok ini, ia adalah sosok yang begitu kuat.


Ketika melodi mulai menunjukkan tanda-tanda akan selesai, murid-murid mulai berlarian untuk mencari tahu siapa orang tersebut.


Alzent menghapus butir air mata terakhir, sebuah senyuman terbentuk di wajahnya dan dalam sekejap ia sudah menghilang dari ruangan itu, merasakan getaran kuat serta langkah kaki yang begitu banyak.


"Jangan sampai aku terperangkap dalam lautan murid-murid itu lagi, terlebih yang perempuan, bisa-bisa aku habis di tangan mereka" katanya lega.


"Berat yah jadi seseorang yang begitu populer"


"Suara itu.. "


Alzent berbalik, menemukan seorang murid laki-laki yang tak kalah tampannya seperti dia, dengan rambut pirang cokelat berhias mata hazel yang dapat menyihir siapa saja, seorang teman lama dari masa perang kejam...


"Lucan? A-apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau ditugaskan di garis depan?" tanya Alzent bingung sekaligus bahagia.


Lucan menaikkan bahunya "Yah, karena perang sudah berakhir, aku ditugaskan untuk bersekolah disini, meskipun aku sendiri masih bingung apa tujuannya Capt meminta aku berada disini. Awalnya aku tidak terlalu percaya seorang Alzent akan mau bersekolah, sehingga aku tidak mencarimu, namun begitu mendengar melodi tadi, aku langsung tahu itu adalah dirimu yang sedang meluapkan kenangan mengenai Yuna bukan?"


Alzent tertawa kecil, tatapannya berubah sedih "Jujur saja, meskipun dua tahun telah terlewati aku masih belum bisa melupakan dirinya"


Lucan tersenyum lembut, melangkah mendekat, memegang kedua bahu Alzent erat "Tenang saja Zent, aku akan menemanimu sebagai seorang sahabat lama, lagipula sekolah ini memperbolehkan kita membawa senjata serta bertarung bukan?"


Tatapan Alzent yang tadinya berbinar kini berubah cemberut melihat senyuman jahil di wajah sahabatnya itu, ia sudah tahu ini akan berakhir ke mana.


"Ayolah, kau belum melupakan janjimu saat itu bukan? Ini belum selesai oke? Aku akan menunggumu di arena sepulang sekolah nanti" ia meninju pelan bahu Alzent sambil tertawa.


Alzent menghela napas "Setidaknya aku masih memiliki dirimu"


"Hah? Kau mengatakan sesuatu?"


"Tidak" jawab Alzent sambil tersenyum.


Di dalam pangkalan militer...


"Capt! Capt!"


"Ada apa? Apakah kau menemukan sesuatu?" tanya Capt khawatir.


"Anda harus melihatnya sendiri... a-aku sulit menjelaskannya" kata anak buahnya gemetaran.


Begitu Capt melihat apa yang terjadi di layar laptop, kerutan di dahinya semakin dalam "Apa-apaan ini?"