Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Best Duos



Uhro tampak tak memedulikan setiap serangan tersebut, meskipun tubuhnya hancur berantakan, ia tahu dirinya tak dapat mati. Lucan dan Veron tersenyum lebar melihat Uhro tampaknya mengira mereka hanya menantang dirinya, oleh karena itu, begitu Uhro sudah melompat tinggi dan mengayunkan cakar besinya, Lucan mengarahkan setiap pedang menghancurkan kaki kanannya tersebut, membuat ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terseret ke bawah. Veron menembakkan sebuah bola energi ungu ke langit, di atas Gigant tersebut, membuat sebuah lingkaran sihir besar dengan delapan lingkaran sihir berukuran lebih kecil berputar mengelilinginya, sangat cepat, perlahan terangkat ke bagian atas lingkaran sihir utama, membentuk sebuah pilar tinggi.


Begitu Uhro bangkit, sebuah sinar panas berwarna ungu terang tercipta, menghancurkan bagian atas tubuhnya, namun sesuatu tampak berhasil menahan serangan besar tersebut, membuat tubuh Uhro hanya hancur di permukaan punggung. Begitu sinar tersebut menghilang, Uhro tertawa keras, ia mengguncang-guncang tubuhnya, membersihkan sisa-sisa permukaan hancur, memperlihatkan sebuah tubuh besi berwarna hitam mengilap "Sudah kukatakan, kalian takkan bisa menghancurkan diriku. Tubuh batu ini hanyalah tubuh bagian luar saja, sementara tubuh besi ini, adalah tubuhku yang sebenarnya. Ketika tubuhku sudah menerima begitu banyak kerusakan, maka tubuh asli akan menampakkan dirinya, tubuh dengan kekuatan pertahanan terkuat di dunia ini, bahkan lebih kuat dari seekor Alpha" sahutnya bangga.


Lucan tak memedulikan hal itu, ia maju menerjang, menggunakan pedang-pedangnya sebagai pengalih perhatian, lalu melompat tinggi bersamaan dengan Veron. Lucan kemudian melemparkan tubuh Veron ke atas tubuh Uhro, lalu lanjut menyerang wajah Gigant itu untuk memberi kesempatan bagi sahabatnya meniru kekuatan tubuh besi tersebut.


Saat Veron meletakkan telapak tangannya ke tubuh besi, tangannya terasa begitu panas hingga mengeluarkan asap. Dengan cepat ia menariknya kembali, melompat ke sisi Lucan sembari memegang tangannya yang kini melepuh. Wajah Uhro tersusun kembali, setengah dari wajah tersebut kini menjadi besi hitam "Hahaha.. kalian pikir bisa meniru kekuatan tubuh asliku ini? Asal dirimu tahu, hanya seseorang yang memiliki kekuatan besar serta mampu menahan rasa sakit yang diberikan, bisa menggunakannya" ucap Uhro.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Veron.


"Mengalihkan perhatiannya sebisa mungkin, hanya itu yang bisa kita lakukan untuk sekarang" jawab Lucan sambil tersenyum terpaksa, melihat mahluk tak terkalahkan di depan mereka.


"Berarti, kita harus menggunakan segenap kekuatan kita bukan?" tanya Veron lagi, ikut tersenyum pasrah saat Lucan mengangguk mengiyakan "Baiklah, aku akan mengeluarkan kekuatan yang tersisa"


Sebelum mereka sempat melangkah maju, ratu Ezra memegang kedua pundak Vampire muda itu, melangkah maju dengan anggun sambil memainkan pedang hitamnya "Jangan khawatir, aku rasa tugas kalian sudah selesai, sekarang biar kami yang maju menyerangnya, jangan terlalu memaksakan diri" ucap Sang ratu sambil tersenyum lembut "Lagipula, aku sudah malas mendengar ocehannya dari awal. Bagaimana Lightnar? Bukankah kau juga sedikit tersinggung?"


Lightnar melangkah dari samping kiri Lucan, memutar-mutar lengan kanannya "Berhenti bersikap sok baik padaku. Aku masih belum menerimamu, jangan karena Alzent menjadikanmu sebagai partnernya, kau tiba-tiba beranggapan setiap orang melupakan masalah yang telah kau ciptakan sebelumnya" tukas Alpha tersebut, meregangkan kedua tangan, menciptakan lingkaran-lingkaran api berputar, mengelilingi setiap lengannya "Tapi, untuk sekarang, tampaknya aku terpaksa bekerja sama denganmu"


"Oh? Lightnar Sang Alpha, ternyata memiliki sisi pemalu juga" ejek Sang ratu lalu tertawa. Ia menghela napas, senyumannya berubah tipis, tatapan mata berubah tajam "Sudah cukup bercandanya, ayo kita hadapi mahluk sombong ini" perintah Sang ratu, lalu berlari cepat menuju Uhro yang juga sudah berlari ke arah mereka.


"Padahal dia yang terus bercanda" keluh Lightnar, kemudian mengikuti Sang ratu.


Keduanya menggunakan kekuatan gabungan antara cahaya dan kegelapan untuk merusak tubuh Uhro hingga sisi luarnya kini tersisa sedikit, menampakkan tubuh dari besi hitam dengan setiap pergelangan berwarna merah menyala. Setiap tulang rusuknya tergantikan oleh sebuah besi-besi merah terang yang tampak dari luar kulit, lalu ekornya kini mengobarkan api. Uhro membersihkan sisa-sisa tubuh bagian luar, tertawa kecil menatap kedua orang yang tak jauh darinya "Kalian masih ingin melawan diriku bahkan sesudah mengetahui wujudku seperti ini?" tantangnya "Kalian memang bodoh" ia melepaskan energi besar berwarna merah, menyebar hingga seluruh bagian medan perang. Mereka yang terkena, dapat merasakan hawa panas menusuk tiap kulit dan membuat mereka kesulitan bernapas.


Lightnar mengumpulkan tenaga di kepalan kanannya, sembari menunggu Sang ratu mengalihkan perhatian Uhro menggunakan permainan pedang serta energi gelapnya yang tampak tak melakukan apa-apa pada kulit besi Gigant itu, tapi setidaknya berhasil mendorong mundur Uhro akibat daya ledak yang besar. Begitu Lightnar sudah siap, ia menyahut "Pergilah dari sana!" pada ratu Ezra, melesat cepat ke arah Uhro, memukulkan tinjunya di sisi badan singa raksasa itu hingga tercipta retakan kecil, mengeluarkan cahaya kemerahan yang membuat serangannya berbalik menyerang dirinya. Lightnar terlempar jauh hingga menghantam dinding kerajaan, bangkit berdiri kembali berusaha menghentikan ratu Ezra yang sudah berada dekat dengan Uhro, mengumpulkan sihir pada ayunan pedang miliknya yang begitu mengenai kulit besi, berbalik menyerang Sang ratu. Lucan menangkap tubuh ratu Ezra yang terlempar, perlahan membantunya berdiri.


"Terima kasih" Ucap Sang ratu.


"Kita tidak akan bisa menggunakan serangan fisik pada mahluk tersebut, kita hanya bisa menggunakan serangan projektil seperti bola api, plasma air dan semacamnya. Setiap serangan fisik yang mengenai Gigant itu, akan terpantul kembali pada penggunanya dengan kekuatan dua kali lipat lebih besar" jelas Lightnar, melangkah mendekat sambil memegangi lengan kanannya yang terasa sakit.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Lucan.


"Kita bisa saja menggunakan kekuatan meniruku, memakai plasma air, bola api atau apapun itu, sayangnya kutakutkan itu takkan bisa menghadapi besi keras tersebut" ucap Veron. Ia berpikir sejenak, kemudian mendapakan ide "Bagaimana kalau menggunakan kekuatan ratu Ezra yang dapat membelah langit tersebut, aku yakin dilihat dari kekuatannya, kau bisa mengubahnya menjadi Black Hole bukan?"


Ratu Ezra menghela napas pasrah "Kau ingin setiap orang yang berada di Risenland terhisap masuk? Aku memang bisa melakukan itu, sayangnya aku tak bisa mengontrol daya gravitasinya"


Lightnar dengan kuat mengepalkan tangan "Pilihan yang tersisa, kita mengerahkan setiap kemampuan yang kita miliki, namun jangan sampai menggunakan kekuatan fisik, gunakan saja kekuatan sihir"


"Aku bisa melakukannya, tapi.. bagaimana dengan Lucan?" tanya Veron.


"Tenang saja, senjata milikku mungkin bersifat fisik, namun serangannya kan seperti sebuah projektil. Aku hanya membayangkannya sebagai sebuah misil, lalu menggunakannya untuk menyerang dalam bentuk pedang" jelas Lucan yang mengejutkan tiga orang di sekitarnya "Ada apa?" tanyanya bingung, melihat wajah tiga orang tersebut.


Veron menggeleng-geleng "Aku tidak tahu kau ini sebenarnya jenius apa bodoh. Namun, mengapa kau tidak mengimajinasikannya sebagai misil saja? Meskipun tak dapat menembus pertahanan tubuh besi Uhro, daya ledaknya mampu mendorongnya dan membuat ia kehilangan keseimbangan, lalu kami bertiga akan menyerangnya dengan segala yang kami miliki"


"Oh, benar juga" Lucan menutup kedua mata, bernapas perlahan sambil membayangkan setiap pedang miliknya berubah bentuk menjadi sebuah misil dan berhasil "Sudah siap"


"Aku tidak tahu senjata macam apa yang kalian gunakan, tapi aku harap itu lebih berguna dari pedang sebelumnya" ucap Sang ratu, memperhatikan bentuk misil yang seperti tabung itu.


Lucan tersenyum lebar "Oh, kau tunggu saja. Aku yakin ini akan memukau kalian, bahkan setiap orang yang melihatnya"


"Aku berharap memiliki kekuatan seperti Lucan" keluh Veron, lalu memunculkan dua lingkaran sihir di tiap telapak tangannya "Baiklah, Lucan, kami serahkan padamu"


"Kau tidak perlu mengatakannya lagi" Lucan meluncurkan tiap misil tersebut yang kemudian meledak, membuat Uhro terpaksa mengambil langkah mundur, berlari menghindar kejaran tiap senjata tabung yang berhasil memukau tiap orang yang melihatnya. Tak hanya karena suara ledakan yang menggelegar, tapi juga karena serangan tersebut tampak tak pernah habis dan tanpa lelah mengejar Gigant yang tadinya bersikap sombong, kini tampak khawatir.