
Lightnar berbalik, menemukan satu-satunya Gigant yang berada di lapangan luas di tengah-tengah hutan tersebut. Gigant tersebut berbentuk seperti seekor singa dengan suara berat menggelegar. Lightnar melangkah ke hadapan Gigant itu, berkata "Salam kepada Elder bangsa Gigant, Uhro. Bolehkan aku bertanya, apa alasan kalian menyerang kami?"
Sang Elder menatap laki-laki di hadapannya "Sebelum aku menjawab itu, sebaiknya aku menjelaskan mengapa bangsa Gigant memilih untuk diam beristirahat dibanding mengurusi urusan dunia yang penuh dengan kekacauan ini, agar membuatmu mengerti, apa yang sedang kalian lakukan itu tidak ada gunanya"
Lightnar meskipun sedikit tidak senang, ia mengangguk pelan.
"Bangsa Gigant, beberapa ratus tahun yang lalu sebelum bangsa Elf dan Dark Elf bertikai, kami adalah bangsa yang paling dihormati di tanah ini. Bangsa yang selalu melindungi dunia ini dari ancaman dunia lain. Kami memiliki wilayah yang besar serta tanah terbaik, keenam bangsa selalu menjunjung tinggi Gigant, menganggap Gigant seperti bangsa terhormat. Namun, manusia, bangsa yang dipenuhi sifat buruk dalam hati, menemukan sebuah dimensi lain, dimensi yang jauh lebih baik dibanding dimensi ini, dimensi yang membangkitkan ketamakan dalam hati mereka dan memaksa masuk dimensi tersebut sesudah melalui perang panjang melawan kami. Seharusnya, bangsa manusia tak pernah bisa menang, mereka tak memiliki kekuatan, tak memiliki sihir, mereka hanya memiliki otak yang jauh lebih cepat berevolusi dibanding lima bangsa lainnya.
Tetapi, saat itu seseorang dengan kekuatan kegelapan yang besar membantu dan kini bangsa Gigant tak lagi sebanyak dahulu. Manusia akhirnya pindah ke dimensi tersebut, menutup gerbang dimensi secara paksa dengan membunuh seorang Key yang di mana adalah manusia itu sendiri. Aku bersyukur mereka tak lagi berada di dunia ini, mereka adalah mahluk yang paling berbahaya, paling kejam, tak memiliki hati jika telah dikendalikan oleh nafsu. Lucunya, berkat mereka juga bangsa Gigant tak lagi perlu melindungi dunia ini dari serangan dimensi lain, seseorang telah menutup setiap gerbang dimensi pada dunia ini serta dunia mereka, karena itulah kami dapat beristirahat dengan tenang"
"Sebentar, aku tidak melihat adanya hubungan manusia yang telah pindah dari dimensi ini ke dimensi lain, yaitu bumi. Aku juga tahu hal tersebut" bantah Lightnar.
Uhro menghantam keras tanah di bawah menggunakan cakar batunya "Jangan berani memotongku, Alpha muda! Hanya karena kami tertidur selama beberapa abad, bukan berarti kami akan membiarkan bangsa lain merendahkan kami!" bentaknya, lalu melanjutkan "Apa yang sedang kalian lakukan, memicu sesuatu yang jauh kebih besar dibanding hal tersebut. Manusia adalah mahluk yang serakah! Mereka sudah tidak pernah berpindah dimensi, mereka bahkan tak tahu jika kita benar-benar ada. Bayangkan jika mereka tahu kita ada dan mereka mencoba untuk mengambil keuntungan dari hal tersebut!. Manusia adalah mahluk yang paling cepat berevolusi, mungkin saja saat ini mereka sudah jauh lebih kuat dan banyak! Lalu kalian ingin menyelamatkan dunia tersebut? Dasar bodoh!"
Lightnar menahan amarahnya "Justru yang bodoh itu dirimu, kau takut pada masa lalu. Kau takut melihat masa yang akan datang. Sampai kapan kau ingin terbelengu oleh masa lalu seperti itu? Apa kau tidak capek terus bersembunyi dalam tanah sementara kalian ada dulunya adalah mahluk yang paling dihormati? Meskipun manusia serakah, tidak semua dari mereka seperti itu, ada yang berani berkorban demi yang lain" jelasnya.
"Maksudmu bocah Vampire bernama Alzent itu?" Uhro tertawa lantang "Alpha muda, kau masih tidak tahu apa-apa mengenai dirinya, mengenai kegelapan yang berada di dalam jiwanya. Kegelapan yang berada di dalam laki-laki itu, bukanlah kegelapan biasa seperti milik ratu Ezra. Kegelapan dalam hatinya adalah sesuatu yang kita anggap sebagai mimpi buruk, sebuah bencana besar yang tak lama lagi membawa kehancuran. Memang benar, dia sudah berkorban cukup banyak untuk membuat setiap bangsa dalam dunia ini berdamai, namun pernahkah kau berpikir mengapa ia selalu berhasil melakukannya?"
Seketika Lightnar terdiam.
"T-tapi, itu sama sekali tidak penting. Aku tahu Alzent menggunakannya untuk menyelamatkan setiap dunia, ia hanya tidak ingin ada lagi peperangan" jelas Lightnar pelan, ia mulai kehilangan kepercayaan pada Alzent, namun masih mencoba untuk bertahan.
"Bagaimana kalau begini saja. Sesudah perang ini berakhir, perhatikan apakah tingkah laku Alzent. Jika kau merasa ia bertingkah aneh, kau tahu aku sudah mengatakan hal yang benar, namun jika tidak, maka aku akan bergabung bersama kalian untuk menyelamatkan bumi" ucap Uhro.
Kemudian, Lightnar sudah kembali ke medan peperangan, dimana setiap Gigant kini terdiam, permata dalam dada mereka bercahaya redup dan medan perang di sisi itu, kini menjadi hening, hanya medan perang antara Elven dan Orc melawan Syren lah yang masih tampak kacau.
Lucan terkejut, lalu bertanya "Wow, apa yang terjadi?"
"Sudah berapa lama aku menghilang?" tanya Lightnar balik.
"Sekitar 3 detik" jawab Tern "Bagaimana caramu melakukan.. ini?" tunjuk Tern pada salah satu Gigant yang terdiam, lalu menyentuhnya dengan palu sambil sesekali mendorongnya pelan.
"Aku berbicara pada pemimpin mereka dan... inilah yang terjadi" jawab Lightnar, membuat Lucan serta Tern memasang wajah bingung "Sudahlah, sedikit sulit dijelaskan. Lebih baik kita membantu mereka yang berada di sisi lain medan perang"
Dengan begitu, mereka bertiga bersama pasukan yang tersisa, bergegas menuju medan perang selanjutnya, di mana Veron mulai terdesak oleh ratu Syren. Dalam perjalanan Lightnar terus memikirkan perkataan Uhro, ia mengepalkan tangan dengan kuat, takut mengambil langkah yang salah. Namun, tak ada salahnya untuk membuktikan hal itu juga bukan?
'Aku harus memastikannya' ucapnya teguh, dalam hati.