Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Memory of Despair



Seluruh tubuhnya gemetaran, Alzent berusaha untuk bangkit berdiri. Wujudnya telah kembali seperti semula, namun sebuah perasaan aneh terbentuk di hatinya. Alzent mengepalkan kedua tanan dengan kuat, berusaha bertahan dari perasaan tersebut sembari melangkah, mencari jalan keluar dari reruntuhan di sekitarnya.


Debu beterbangan di mana-mana, suara dari gemercik api membakar habis sesuatu, terdengar jelas di telinga. Bau dari sesuatu yang gosong, tercium di udara. Alzent berharap itu bukanlah bau dari para Elf yang terbakar hidup-hidup.


Perasaan itu kembali lagi, perasaan yang sama saat ia menang berhadapan dengan murid bertampang preman d sekolah. Tak ada kebahagiaan maupun lega karena berhasil memenangkan sebuah pertarungan. Rasa bersalah, kebencian, amarah, kesedihan, semuanya bercampur-aduk menjadi satu, sulit untuk dihilangkan. Dengan langkah tertatih-tatih serta napas yang tak beraturan, Alzent berjalan keluar dari dalam keputusasaan ini, tapi yang ditemukannya dari balik reruntuhan hanyalah akibat dari pertarungan.


Daratan indah dengan daun keemasan itu kini berupa tanah kosong. Kehancuran selalu datang di setiap tempat ia berpijak, bahkan sekarang setiap langkah Alzent meninggalkan sebuah bekas kehitaman, mengeluarkan uap ungu sebelum redup menjadi cahaya keunguan yang tampak samar.


Alzent memerhatikan sekitarnya, berpikir 'apakah ini yang dimaksud oleh Zeon sebagai 'Pembawa Kehancuran'?' genggamannya semakin erat hingga mengeluarkan darah dari kuku menusuk masuk telapak tangan "Mengapa ini terjadi? Aku hanya ingin membawa kedamaian, bukan keputusasaan. Sebelumnya aku berhasil, mengapa sekarang tidak?" tanya Alzent, emosi mulai mengendalikan dirinya.


Di pinggir hutan, tepat di depan bibir tanah kosong, Veron serta Lucan melihat sahabat mereka yang mulai dikelilingi oleh aura gelap. Mereka terus meneriakkan namanya selagi berlari mendekati Alzent. Namun langkah mereka terhenti, begitu Alzent mengangkat wajah dan yang tampak di matanya adalah api berwarna ungu, setiap ujung tubuhnya berubah hitam pekat dengan api hitam membara terbentuk di sisi gelap tersebut. Mereka merasa dia bukanlah sahabat mereka lagi, namun seseorang yang jauh berbeda dari Alzent, seseorang yang dipenuhi kebencian, amarah, keputusasaan serta kehampaan.


Tiba-tiba reruntuhan di belakang Alzent bergerak, Darkoth ternyata masih hidup, ia bangkit dari pingsannya, tak terlihat sebagai sosok naga kegelapan, kini sekujur tubuhnya berwarna putih bersih, ia tampak berwibawa dan jauh berbeda dibandingkan sebelumnya.


Saat Alzent menerjang kedua sahabatnya, Darkoth dengan cepat berubah ke bentuk manusianya, melindungi mereka berdua menggunakan lingkaran sihir keemasan sebagai perisai. Kemudian ia mendorong Alzent dengan lingkaran sihir tersebut, "Cepat pergi dari sini, teman kalian itu sementara dalam pengaruh sihir gelap milik Erza. Aku akan menahannya hingga kalian tiba di tempat tuan putri berada dan beritahukan ini, Lightnar telah kembali"


Veron dan Lucan berpandangan, lalu mengangguk dan bergegas pergi sesudah mengatakan "Tolong jangan membunuhnya, ia adalah seseorang yang berharga bagi kami"


Lightnar mengangguk mengerti, berbalik menatap Alzent yang telah hilang dari pandangan dan muncul di belakangnya, mengayunkan cakar besarnya, melukai bahu kanan Lightnar yang sudah menghindar cukup cepat, namun tampaknya masih belum berhasil menghindari serangan dia dengan sempurna.


Dikendalikan oleh amarah, Alzent menyerang Lightnar tanpa berhenti. Lightnar terus menghindar dan menghindar selagi memerhatikan setiap pola serangan laki-laki itu yang masih teratur, dengan kata lain kesadaran Alzent masih ada di dalam, namun harus cepat dikembalikan sebelum sepenuhnya termakan oleh kegelapan.


Lightnar mencari kesempatan, perlahan serangan Alzent mulai tidak beraturan, sebuah situasi yang baik dan juga buruk. Ia harus dengan cepat membuat laki-laki itu sadar, kalau tidak ia akan menjadi boneka bagi Erza, boneka dengan kekuatan besar yang bahkan dirinya sendiri tak dapat menahannya dan mungkin adalah pertanda hancurnya dimensi Elf.


Masih berusaha mencari sela untuk menyerang balik, Lightnar mengumpulkan tenaga di kepalan tangan kanannya, tinggal menunggu momen yang pas.. "Sekarang!" dengan cepat ia meninju tulang rusuk kanan Alzent sampai terdengar suara retakan yang begitu nyaring, membuat tubuh bagian belakang merinding mendengarnya.


Mau tidak mau, Lightnar bersikap sedikit keras, membanting Alzent di tanah, mematahkan salah satu lengannya, kemudian memukul kuat punggung Alzent menggunakan telapak tangan kanan, di mana sebuah lingkaran sihir sudah terbentuk disitu, lalu menyegel seluruh tubuh Alzent dengan rantai keemasan sekaligus membuat kekuatan kegelapan di dalam dirinya sedikit melemah.


Kini Alzent tampak lebih tenang, meskipun masih meronta-ronta mencoba untuk membebaskan diri. Lucan, Veron serta Luna akhirnya muncul bersama Sang ratu dan ibunya. Mereka terkejut melihat sosok Lightnar, dan lebih terkejut lagi melihat sosok Alzent yang begitu baik serta ramah akan senyuman, dalam bentuk mahluk kegelapan tanpa adanya senyuman cerah di wajahnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi disini?" tanya Sang ratu.


Lightnar bertekuk lutut, memberi penghormatan pada ratu baru, lalu menjawab "Tampaknya dia sudah mengambil seluruh sihir kegelapan dari tubuh saya, namun sebagai gantinya ialah yang termakan oleh kegelapan itu sendiri" jelas Lightnar, bangkit berdiri, meminta Veron maupun Lucan untuk tak datang mendekati Alzent sebab ia masih berbahaya.


"Apa yang bisa kita lakukan untuk membebaskannya?" tanya Luna. Ia tampak begitu khawatir sampai air mata mulai menumpuk di matanya.


Lightnar menatap raut wajah Alzent, lalu menjawab sesudah berpikir sejenak "Akan sangat sulit untuk membebaskan ia dari kegelapan yang setiap detiknya menggerogoti jiwamu sampai tak bersisa, meninggalkan sebuah tubuh dengan kegelapan pekat di dalamnya" Lightnar menghela napas, melanjutkan "Hanya ada satu cara untuk menyelamatkannya, yaitu membawanya ke Shrine of Light yang terletak cukup jauh dari sini"


Sang ratu dan ibunya tampaknya terkejut mendengar hal tersebut "Shrine of Light? Bukankah tempat itu hanya ada di legenda?" tanya mereka bersamaan.


Lightnar tersenyum samar melihat ibu dan anak ini memiliki rasa penasaran di hal yang sama "Aku juga adalah sebuah legenda. Dengan kata lain, Shrine of Light itu juga nyata. Namun perjalanan ke sana memakan waktu yang tidak sedikit, lalu pemuda itu membutuhkan sesuatu untuk menahan agar kesadarannya tak menghilang, sesuatu yang membuatnya dapat mengenang memori paling dalam, di kisah hidupnya"


Luna merogoh ke dalam kantungnya, kemudian memberikan Lightnar sebuah kalung perak dengan permata Ruby sebagai hiasannya "Mungkin ini dapat membantunya" ucapnya.


Lightnar kaget melihat kalung tersebut, kemudian dengan cepat mengembalikan ekspresinya "Ah, baiklah. Kalung yang indah" katanya, selagi melihat kalung itu seakan sebuah benda yang teramat penting.


"Ya, kalung yang indah untuk memori yang penuh dengan keputusasaan" balas Luna.