Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Rise of The New Soldier



Tak lama, mereka sampai sebuah markas besar yang tampak berbentuk seperti penyu jika dilihat dari atas. Markas yang penuh akan persenjataan baru, kendaraan perang canggih serta pertahanan yang sulit ditembus, bahkan oleh pasukan Arkbyss dengan kekuatan besar mereka.


Pesawat mendarat di tengah-tengah antara pesawat lain dengan bentuk sama. Pesawat ini sudah tak membutuhkan landasan lagi, ia dapat mendarat di mana saja dengan mudah dan lepas landas tanpa membutuhkan waktu lama.


Team Wolf bergegas masuk ke dalam ruang meeting, dimana sudah banyak anggota team lain bersama kapten masing-masing, duduk di kursi, menunggu kedatangan Sang jenderal. Begitu team Wolf mengambil tempat, bersamaan juga jenderal memasuki ruangan, diikuti oleh dua orang berkostum robot dari kepala sampai kaki. Senjata yang mereka pegang, sama sekali belum pernah dilihat oleh anggota pasukan lain, dimana lampu neon pada senjata tersebut kini tak berupa satu bangun datar poligon, melainkan sebuah garis panjang di tiap sisi dengan warna ungu. Sang jenderal berdiri depan podium, sementara kedua orang tersebut berada di belakang, berdiri tegap, membaca ekspresi tiap orang menggunakan informasi yang diberikan oleh helm.


"Sebelum aku memulai, mari kita ucapkan selamat pada team Wolf yang telah berhasil mengalahkan pasukan Arkbyss di area Beta" ucap Sang jenderal sembari menepuk tangan diikuti anggota lainnya. Beberapa bahkan sampai bersorak dan bersiul. Sang jenderal menunggu hingga seluruh anggotanya kembali diam, lalu melanjutkan "Namun, tak ada waktu untuk merayakan, belum lama ini- tepatnya sepuluh menit yang lalu satelit kita mendapatkan informasi bahwa ada beberapa dari mereka, menyusup masuk ke dalam kota Cyber, kota yang seharusnya aman dari segala bentuk ancaman pasukan asing serta kota dengan penduduk terbanyak di dunia saat ini" Sang jenderal memperlihatkan gambaran dari satelit yang menangkap sosok aneh beraura gelap di sebuah lorong. Terdapat sekitar lima orang di belakangnya "Kota Cyber, seperti yang kalian tahu, adalah sebuah kota yang muncul tepat sesudah penyerang pertama Arkbyss, penyerangan yang menghabisi setengah dari populasi manusia. Kita tidak siap untuk menghadapi mereka, tak ada pemberitahuan dari satelit, tak ada tanda, tak ada peringatan.. sebuah kekalahan telak. Namun, manusia adalah mahluk yang cepat berevolusi. Kita cepat mengambil tindakan, sehingga terciptalah sebuah kota yang rasanya hanya muncul dalam film, sebuah kota masa depan, Cybercity dan sudah menjadi tugas kita, Legion untuk melindunginya"


Dua orang di belakang jenderal, melangkah maju ke depan, mengokang senjata hingga terdengar sebuah suara asing dan lampu neon pada senjata itu menjadi makin terang "Mereka dinamakan Cerberus, pasukan yang baru saja dibentuk dan dipilih dari pasukan khusus, pasukan yang nantinya akan menjadi senjata rahasia kita. Yang mereka gunakan itu adalah sebuah senjata model terbaru, pengembangan dari EPS (Energy Pulse Sniper) dengan tiga kali tembakan, menjadi sebuah EPR (Energy Pulse Rifle). Senjata ini dapat menembakkan energi plasma sebanyak lima belas kali dalam tiga detik"


"Dengan kata lain, kami dapat menghancurkan Arkbyss lebih mudah lagi" sahut salah seorang kapten.


Jenderal mengangguk setuju "Itu benar, kapten Collin, tetapi aku tidak memintamu untuk memotong. Empat puluh lima kali push-up, sekarang" perintahnya, diikuti tawa dari anggota lain "Tugas kalian adalah mengawal Cerberus untuk mencapai Cybercity dengan aman, kemudian biarkan mereka menghabisi para penyusup itu- jangan mengeluh" ucap jenderal cepat "Kalian tidak akan menggunakan jalur biasa, melainkan sebuah daratan berbahaya yang baru-baru ini muncul dan belum sempat di eksplorasi. Mahluk-mahluk besar mengerikan itu berada disana, satelit baru saja mendapatkan video ketika sebuah pesawat Falcon melewati daratan tersebut dan jatuh dimakan oleh salah satu dari mereka"


Di layar terputar sebuah rekaman memperlihatkan pesawat yang sama seperti yang digunakan oleh team Wolf, bergerak dengan kecepatan suara, namun masih dapat dimakan oleh mahluk-mahluk berukuran besar tersebut. Mahluk-mahluk dengan wujud seperti manusia, tetapi berakal seperti binatang, mahluk yang menjadi penyebab utama umat manusia tak dapat melangkah lebih jauh dibanding sekarang. Untungnya para Arkbyss bermusuhan dengan mereka, sehingga menjadi keuntungan sendiri untuk mempelajari keduanya dari jauh selagi bertarung sampai mati.


"Ingat, tugas kalian adalah mengeksplorasi tempat tersebut, bawa sebanyak mungkin informasi, lalu Cybercity dan kembali ke markas dengan aman. Jangan memaksa diri jika situasi tak memungkinkan, kita sudah kehilangan terlalu banyak manusia serta pasukan, jangan sampai markas ini kehilangan kalian juga, kalian paham?"


"Pertemuan dibubarkan"


Baru saja kapten team Wolf akan bangkit berdiri, Sang jenderal sudah datang menghampiri, meminta ia untuk ikut dengan dirinya ke sebuah tempat rahasia, dimana hanya orang-orang berpangkat tinggi yang dapat memasuki tempat tersebut. Mereka turun ke dalam tanah menggunakan lift, diikuti oleh dua orang Cerberus dan pemandangan yang tampak pertama kali dari kaca lift tersebut, sungguh membuat Sang kapten sulit berkata-kata, terpukau akan kehebatan manusia dalam menciptakan sesuatu untuk memusnahkan.


"Selamat datang di Hive" ucap Sang jenderal.


Pintu lift terbuka. Mereka mulai berjalan mengelilingi tempat itu. Tatapan Sang kapten mirip seperti seorang anak kecil yang sedang berjalan-jalan di toko penuh akan mainan, berbinar-binar penuh kegembiraan. Sang jenderal hanya tersenyum melihatnya, lalu membawa mereka ke sebuah ruangan dimana terdapat sebuah baju besi yang terlihat jauh lebih canggih dibandingkan milik para Cerberus, berwarna hitam pekat, tersimpan di dalam sebuah tabung penuh uap dingin.


Tanpa disadari, Sang jenderal sudah menekan password di samping tabung. Uap-uap dingin turun keluar, menutupi lantai. Sang kapten melangkah mendekat, mencoba melihatnya dengan lebih detail hingga perkataan jenderal mengejutkan dia "Maksud jenderal, akulah pemilik baju robot ini? Mengapa?"


"Mudah saja, kau adalah seseorang dengan kinerja terbaik dan tak pernah memberi hasil mengecewakan, selalu menyelesaikan misi tepat waktu dan tak takut untuk mengambil kesempatan, meskipun dirimu tahu itu akan membahayakan nyawa. Seseorang yang tepat..." hening sejenak, lalu Sang jenderal mengucapkan "Namun, apakah kau siap?"


Sang kapten kembali menatap baju tersebut, merabanya dengan tangan, merasakan tekstur halus dari besi asing yang bahkan lebih kuat dari Tungsten. Ia menarik napas, menghembuskannya perlahan, lalu menjawab "Aku siap"


Sang jenderal tersenyum, mengirim sebuah rangkaian nomor padanya menggunakan tab "Itulah password milikmu. Gunakan ini dalam misi dan satu hal yang perlu kau ingat" jenderal melangkah keluar ruangan, diikuti dua Cerberus, lalu berhenti tepat di depan pintu "Waktunya berpesta"